
Ku tatap layar ponselku, seakan-akan penuh dengan keraguan. Namun, aku memang harus tahu siapa yang mengirim bunga itu. Hingga akhirnya aku mencoba memberanikan diri untuk menghubunginya dan memastikannya. Ku pencet nomor yang bertuliskan nama Yulian, lalu ku beranikan untuk menelfonnya.
"Tulalit...tulalit...! Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Cobalah beberapa saat lagi!" Hanya suara operator yang kudengar.
"Hati ini gelisah, karena tidak seperti biasanya nomor Yulian tidak bisa dihubungi. Ada apa dengannya? Apa dia sedang bersama wanita lain? Tapi kalau dia mencintaiku, dia tidak akan pindah kelain hati! Namun, apa yang aku lihat waktu itu sudah membuktikan bukan kalau dia sudah mendapatkan penggantiku, tapi kenapa dia menolongku? Ahhh...Entahlah!" Ucapku dalam batin yang merasakan kegelisahan.
Sudah hampir setengah jam kak Maryam juga belum kembali lagi ke ruangan. Sedangkan aku masih penasaran dengan pengirim bunga itu.
💦💦💦💦
"Aduh, sudah setengah jam lagi! Pasti Aisyah sudah menungguku terlalu lama. Mana antrinya kebangetan lagi, tidak seperti biasanya." Gerutu Maryam yang masih terjebak di dalam toko Indomart terdekat dari Rumah Sakit.
Setelah menunggu antrian yang cukup lama, akhirnya giliran Maryam untuk membayar beberapa barang yang dibelinya. Lalu, dia melangkahkan kakinya buru-buru keluar untuk menuju ke Rumah Sakit kembali.
Saat perjalanan menuju Rumah Sakit, dia melihat sosok ibu paruh baya yang dia kenal. Entahlah siapa...?
🕊🕊🕊🕊
"Ihhh...kak Maryam mana sih kok belum balik juga. Aku bosan tau disini sendirian." Gerutuku yang sudah lama menunggu kedatangan kak Maryam.
Sudah hampir satu jam kak Maryam meninggalkanku. Dan akhirnya, muncul lah dia dibalik pintu yang bercat biru muda. Yang sedikit menarik untuk dipandang sejenak. Hohoho...!
"Assalamu'alaikum Aisyah! Ma'af ya kakak lama, tadi tuh antrinya kebangetan tidak seperti biasanya." Ucap kak Maryam dengan lembut namun, ya sedikit mengekspresikan kekesalan dibalik cadarnya.
"Wa'alaikumsalam kak! Tidak apa-apa kok, sudahlah jangan ngomel gitu. Sabar...!" Balasku yang mencoba merubah kekesalannya dengan sedikit candaan.
"Astaghfirullah halazim...iya ya dek. Habis kakak sedikit gimana gitu." Ucap kak Maryam yang mengutarakan kekesalannya.
"Hmm...bukannya kakak yang ngajarin Aisyah untuk bersabar ya!" Ledekku pada kak Maryam.
"Iya juga sih dek !" Ucap kak Maryam dengan singkat.
__ADS_1
"Emm...kak, sudah waktunya sholat Dzuhur nih, Aisyah kepengen melakukannya. Apa Aisyah boleh? Sedangkan Aisyah belum mampu untuk berdiri di atas kaki Aisyah." Tanyaku kepada kak Maryam yang berharap aku mampu melakukan kewajibanku terhadap-Nya.
"Emm...Aisyah, Aisyah boleh kok melakukannya. Malahan Allah senang di saat hambanya sedang diuji kesehatannya, dia masih tetap mengingat-Nya dan memohon ampunan serta meminta kesembuhan.
Aisyah, kamu cukup membasuh di bagian yang wajib saja, yaitu bagian lengan, kaki dan muka. Tapi, kalau Aisyah belum diperbolehkan untuk terkena air, Aisyah boleh tayamum didebu tembok. Sedangkan Aisyah jika tak mampu berdiri bisa sambil duduk." Tutur kak Maryam dengan panjang lebar yang menjelaskan tentang diperbolehkannya melakukan sholat di saat kita benar-benar lemah.
"Wahhh...Allah itu maha sempurna ya kak! Kalau begitu, Aisyah bertayamum saja kak. Dan kak Maryam bisa bantu Aisyah kan memakai mukenanya?" Tanyaku dengan senyuman manis.
"Bisa dong...kakak siap untuk membantu kamu." Jawab kak Maryam yang dipenuhi dengan rasa semangat.
Akhirnya kami melakukan sholat Dzuhur, namun kita melakukannya di tempat yang berbeda. Aku duduk di dalam ruangan, sedangkan kak Maryam melakukan sholatnya di mushola Rumah Sakit.
"Alhamdulillah, selelsai juga sholatnya." Kataku yang sudah mengakhiri salam.
Setelah beberapa menit untuk melakukan sholat Dzuhur, kak Maryam hadir kembali menemuiku dengan seorang ibu paruh baya yang tidak pernah aku kenal. Jangankan kenal, melihatnya saja aku tak pernah.
"Assalamu'alaikum Aisyah!" Ucap kak Maryam mebuka pintu dan melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam ruangan bersama ibu paruh baya.
"Emm...maksud kamu ibu ini?" Jawab kak Maryam dengan menunjukkan tangannya kepada ibu itu.
"Iya kak!" Jawabku sedikit mengganggukkan kepalaku.
"Oh iya, kenalin_beliau ini adalah ibu Maria. Ibu Maria ini yang sudah menemukanku dan mengasuhku sejak umur 5 bulan." Jawab kak Maryam menjelaskan.
"Hah...ibu? Maksud nya bagaimana kak?" Tanyaku yang masih merasa bingung.
"Ahh...sudahlah, nanti saja kakak akan cerita sama kamu. Yang penting, ibu itu ibu aku. Malaikat tanpa sayap yang di kirimkan kepadaku untuk menolongku. Ya sudah, sekarang kamu makan dulu." Ucap kak Maryam.
Ya_mau bagaimana lagi, akhirnya aku menuruti semua ucapan kak Maryam. Begitu penuh kesabaran dan ketlatenan dalam diri kak Maryam untuk merawatku. Syukur alhamdulillah aku di kenalkan dengan sosok kakak perempuan yang begitu menyayangiku.
"Maryam, ibu pergi dulu ya nak! Lagi pula Aisyah harus banyak istirahat dulu! Agar tenaganya pulih kembali dan cepat sembuh. Insyaallah, lain kali ibu akan ke sini lagi." Ucap bu Maria sambil berpamitan.
__ADS_1
"Oh gitu ya bu. Ya sudah kalau begitu. Ibu hati-hati ya diajalan!" Balas kak Marya.
Ibu Maria pun pergi meninggalkan kami yang masih berada di dalam ruangan. Tak lupa juga mengucapkan salam sebelum keluar dari ruangan, begitupun kami_kami membalas salam bu Maria.
"Kak, aku masih penasaran sama cerita kakak! Kakak mau kan cerita tentang ibu Maria?" Tanyaku dengan ekspresi manja dan mengerdipkan beberapa kali kedua mataku.
"Emm...cerita nggak ya! Ahh..besok saja kakak akan cerita sama kamu. Sekarang, waktunya kamu harus minum obat dan istirahat yang cukup. " Jawab kak Maryam yang membuatku sedikit kecewa. Namun, apalah dayaku. Aku hanya bisa menuruti kemauan kak Maryam, toh itu juga demi kesehatanku.
"Ok lah kalau begitu!" Balasku yang mengiyakan.
Setelah meminum obat yang tak pernah aku sukai dengan baunya yang begitu tajam, aku pun mengikuti arahan kak Maryam. Dengan tidur sejenak, aku bisa segera pulih dari kondisiku yang cukup membosankan bagiku.
Kedua mataku terpejam dengan nyaman, tidurku begitu pulas. Kak Maryam yang disampingku pun ikut tertidur, karena kak Maryam yang kurang tidur semalam mengakibatkan dia merasa mengantuk berat.
Jam sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Kami masih saja tertidur dengan pulasnya. Entahlah, apa yang membuat kami bisa seperti ini. Hohoho...!
"Ya Allah, kasihan sekali kalian ini!" Ucap Papa yang mendekati kami dan mengusap kepala kami dengan lembut.
"Papa sudah datang?" Tanya Maryam dengan mengusap-usap kedua matanya secara perlahan.
"Papa!" Disusul pula denganku yang secara perlahan membuka kedua mataku.
"Kalian sudah bangun ternyata!" Ucap papa dengan senyuman yang melebar.
"Iya pa! Ma'afin kami ya pa, kami yang tertidur jadi tidak tahu papa datang." Kata kak Maryam.
"Ya sayang, tidak apa-apa lah kalau kalian tidak tahu kehadiran papa. Kalian juga harus istirahat. Papa juga tidak mau lah kalau kamu jadi ikut-ikutan jatuh sakit karena kurang istirahat." Balas papa penuh dengan kelembutan.
Setelah mataku beralih pandangan yang awalnya memandang papa dengan kak Maryam, kini mataku tertuju dengan sebuah bingkisan yang berada di atas nakas dekat denganku berbaring. Entahlah benda apa itu. Ingin segera aku mengambilnya dan mencari tahu apa itu.
AKU UP LAGI NIH TEMAN-TEMAN READRS, JANGAN LUPA KASIH VOTE, KOMENTAR DAN LIKE KALIAN YA 🙏🙏
__ADS_1