HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Finally


__ADS_3

Kurang lebih lima belas menit aku dan Jesica pun sampai di halaman rumahku, lalu aku pun segera memarkirkan mobil yang ku kendarai di bagasi. Setelah itu, aku mengajak Jesica untuk ikut masuk ke dalam bersamaku. Begitupun dengan Jesica yang mengikuti titahku, setia berjalan di sampingku sampai langkah kami terhenti ketika bertemu dengan Cahaya.


"Assalamu'alaikum, Cahaya!"


"Wa'alaikumsalam, Umi." Balas Cahaya lalu bergegas mendorong kursi rodanya hanya untuk mencium punggung tanganku.


Tatapan Cahaya pun tertuju ke arah Jesica yang masih berdiri mematung di sampingku. Bahkan Cahaya menatap Jesica dari ujung rambut sampai ujung kaki, karena mungkin cara berpakaian Jesica yang terlalu feminim, sehingga nampak tidak sopan jika itu sedang bertamu. Dan untuk mengalihkan tatapan Cahaya, aku pun memperkenalkan Jesica kepada Cahaya.


"Cahaya, perkenalkan ini adalah Jesica. Dan Jesica, ini adalah Cahaya." Ujarku seraya menunjuk ke keduanya.


Cahaya dan Jesica pun saling berjabat tangan seraya menyebut nama mereka masing-masing. Dan aku juga memperkenalkan siapa Jesica dihadapan Cahaya, begitupun sebaliknya. Sehingga mereka mampu mengenal satu sama lain. Bahkan Jesica terlihat menyukai Cahaya dan tidak melontarkan kata olokan kepada Cahaya yang tidak sepertinya, sempurna dengan bentuk tubuh bak gitar glitter. Begitu aduhai, tetapi sayang aku kurang menyukai akan hal itu. Namun, sebagai manusia biasa aku tidak pantas untuk berkomentar tentang kehidupan orang lain. Sehingga aku harus bisa menghargai siapapun itu dan entah bagaimana cara berpakaiannya bahkan apa agamanya.


"Oh iya Cahaya, di mana yang lain?" tanyaku penasaran.


"Ada kok, Mi. Abi masih berada di ruang kerjanya, Adek bermain golf sama Kakek dan ... itu, Mas Arjuna." Cahaya pun menunjuk ke arah di mana Arjuna berada.


Terlihat begitu rapi dengan kemeja biru, celana hitam panjang dan jas putih sebagai almamater pengenal. Itu lah Arjuna, yang selalu gagah dengan pakaian dokternya. Dan membuatku bangga sudah menjadikan dia sebagai orang yang berguna bagi orang lain. Arjuna pun melangkah ke arahku, tetapi aku seketika melontarkan pertanyaan untuk menyambutnya.


"Kamu mau kemana, Juna? Bukan kah, ini masih masa cuti kamu?"


"Maafkan Juna, Mi. Tiba-tiba ada telefon mendadak dari Rumah Sakit dan bilang bahwa ada pasien darurat yang harus segera dioperasi. Dan kebetulan hari ini Juna ada Jadwal, jadi mau tidak mau Juna harus hadir untuk menolong pasien." Jelas Arjuna seraya menatap Cahaya yang duduk di atas kursi rodanya.

__ADS_1


Sejenak aku terdiam, memutar kembali otakku untuk mencerna penjelasan Arjuna. Dan entah kenapa ada rasa sedih di hatiku jika masa pengantin barunya harus terganggu seperti ini. Akan tetapi, itu adalah tugasnya sebagai seorang dokter, sehingga aku harus bisa mendukungnya dalam kondisi apapun. Namun, hal tak terduga telah terjadi.


"Dokter, Arjuna?" ujar Jesica.


"Dokter, Jesica!" ujar Arjuna.


Aku terdiam dan tercengang melihat perkenalan yang mungkin sudah lama antara Arjuna dengan Jesica. Dan di dalam hati kecilku pun bertanya-tanya, bagaimana bisa Arjuna mengenal Jesica dengan Jesica yang seperti itu? Namun, aku tidak ingin terlalu egois dan mengatur siapa saja yang boleh berteman dengan Arjuna, bagiku ini adalah sebuah pertemanan yang harus bisa ditoleransi.


"Kalian sudah saling kenal?" tanyaku memastikan.


"Sudah, Mi. Dokter Jesica adalah Dokter kandungan juga. Dan Dokter Jesica ini satu angkatan dengan Juna, sehingga kami saling mengenal." Jelas Arjuna yang mengenalkan latar belakang Jesica yang tidak aku ketahui.


Aku pun mengangguk pelan sebagai tanda bahwa aku mengerti dengan yang dikatakan oleh Arjuna. Begitupun Cahaya yang melakukan hal sama denganku. Bahkan Cahaya nampak begitu tenang dan tak terlihat ada rasa cemburu yang membara ketika bertemu Jesica, yang tak lain teman Arjuna.


"Oh iya, itu ...."


"Aku ingin memesan gaun pengantin dengan Umi Aisyah. Dan aku tidak menyangka, bahwa Dokter Arjuna memiliki seorang Ibu yang cantik, perhatian, baik hati dan membuatku nyaman jika mengobrol dengan beliau. Pasti menyenangkan menjadi putra beliau!"


Aku menggelengkan kepalaku seraya tersenyum manis. Melihat seorang Jesica yang baru mengenalku tengah memujiku dengan apa yang dirasakannya. Mungkinkah senyaman itu aku baginya? Tetapi entahlah, hanya dia dan orang lain yang mampu menilai tentang diriku. Dan aku selalu berusaha untuk memberikan kenyamanan bagi orang-orang yang aku kenal, agar tak ada rasa dengki atau hal semacamnya yang akan merusak tali persaudaraan.


"Oh iya, begini saja ... bagaimana jika aku yang menggantikan jadwal Dokter Arjuna. Bukan kah, nanti malam mau berangkat bulan madu?" tawar Jesica.

__ADS_1


"Bulan madu? Bagaimana bisa Dokter Jesica mengetahui akan hal itu?"


"Of course. Tentu aku mengetahuinya, karena Umi Aisyah yang mengatakan padaku akan hal itu. Dan itu membuatku iri, dua pasangan yang saling cinta akan berlabuh bersama-sama. Pasti menyenangkan, yang satu pasangan kedua orang tuanya dan yang satu pasangan Dokter Arjuna. Sebelumnya aku ucapkan selamat akan pernikahan Dokter Arjuna dengan ... Ca-haya!"


"Emm ... terima kasih atas ucapan Dokter Jesica. Tapi, apakah Dokter Jesica tidak keberatan jika menggantikan jadwal saya?"


"Oh, no. Tidak sama sekali. Kalau begitu aku akan berangkat sekarang dan perbincangan di antara saya dengan Umi Aisyah bisa dilanjut nanti kalau sudah kembali. Apakah bisa, Umi?"


"Tentu, Jesica. Kita bisa bertemu di Aisyah Galery." Jawabku seraya tersenyum merekah.


Tidak lama kemudian Jesica pun berpamitan dengan kebiasaannya, lalu dia pun melangkah ke luar dan meninggalkan kediaman kami. Dan setelah kepergian Jesica, aku pun segera memberikan bingkisan yang ku genggam di dalam paper bag kepada Cahaya. Begitupun dengan Cahaya yang nampak senang setelah membuka paper bag tersebut.


"Terima kasih, Umi. Dan Cahaya ingin memakainya nanti malam. Apakah Umi mau membantuku?"


Aku mengangguk pelan dan mengiyakan permintaan Cahaya. Dan itu membuat Cahaya bahagia, bahkan Cahaya seolah tak sabar ingin segera memakainya. Sehingga ia pun pergi masuk ke kamarnya untuk mempersiapkan keberangkatan kami nanti malam. Bagitupun dengan Arjuna, yang ikut membantu Cahaya dalam mempersiapkan segala sesuatunya.


"Aku rasa ... aku harus menemui Mas Yulian terlebih dahulu. Setelah itu aku akan mempersiapkan segala kebutuhan kami nanti selama berada di sana." Putus ku kemudian, lalu melangkah gontai menuju ke ruangan Yulian.


Hari begitu cepat berlalu, siang pun berganti malam. Dan aku kini berdiri bersama Yulian, Arjuna dan Cahaya di tengah keramaian Bandara Kualanamu Internasional Airport, Deli Serdang. Bandara utama di kota Medan, sehingga banyak sekali orang yang berlalu lalang di bandara pusat. Beberapa jam kemudian akhirnya jam keberangkatan kami telah tiba dan kami segera mempersiapkan diri untuk masuk ke badan kapal. Namun, sebelum kami semua masuk ke dalam pesawat, tak lupa kami berpamitan dengan papa Adhi dan juga Ahtar yang sudah mengantarkan kami sampai di Bandara. Setelah itu kami menaiki anak tangga seraya melambaikan tangan kepada papa Adhi dan Ahtar yang berada di tengah keramaian Bandara Kualanamu Internasional Airport.


"Finally, aku dan Yulian kembali merencanakan bulan madu bak pengantin baru. Dan hanya satu harapan di dalam hati, semoga dengan adanya bulan madu yang ke dua, hubungan aku dan Yulian semakin di pererat, saling setia dan masih dalam. satu tujuan yang sama." Gumamku dalam. hati seraya menatap dalam Yulian.

__ADS_1


Pesawat pun lepas landas dan terbang setinggi mungkin. Meskipun ada rasa trauma, tapi aku tak ingin merusak segalanya, sehingga tak hentinya aku berkomat-kamit mengucapkan dzikir dan memohon perlindungan kepada Allah SWT.


__ADS_2