
ππππ
10 tahun kemudian....
Sepuluh tahun sudah berlalu. Masa-masa sulit yang harus dihadapi oleh Aisyah bersama Yulian, kini sudah terlewati. Dan kini kebahagiaan mereka pun bertambah setelah kehadiran Suci dan Fatir.
Suci adalah putri dari Joko dan Humaira. Sedangkan Fatir, ia adalah putra kedua dari Maryam dan Fadli.
"Abi-umi, Juna berangkat sekolah dulu!" Ucap Juna berpamitan.
Ya-Kini Juna sudah berumur tiga belas tahun. Di mana ia sudah kelas satu SMP dan ia juga sudah beranjak remaja.
"Iya sayang, hati-hati!" Balas Aisyah dengan lembut.
"Assalamu'alaikum!" Ucap Juna sambil mencium telapak tangan kedua orang tuanya.
"Wa'alaikumsalam!" Balas Aisyah dan Yulian bersamaan.
Juna pun berangkat ke sekolah bersama pak supir yang sudah dipekerjaan oleh abinya untuk mengantar dan menjemput Juna saat ke sekolah. Bukan hanya Juna saja, melainkan Karina juga. Karena, Juna dan Karina satu sekolah.
Sosok Juna yang dulu mungil, kecil dan lucu, kini sudah beranjak remaja. Banyak gadis satu sekolah menyukainya. Karena wajahnya yang begitu tampan, berkulit putih, berhidung mancung dan memiliki tinggi badan 185cm serta bertubuh sedang.
Karina pun tak kalah populer dengan Juna, adik sepupunya itu. Karina juga berubah menjadi gadis remaja yang berkulit putih, berhidung mancung, memiliki tinggi tubuh 175cm dan berbadan kurus, tapi masih berisi. Namun, kecantikan wajahnya itu tertutupi oleh cadarnya. Karena, semenjak berusia tujuh tahunan Karina sudah diajarkan oleh bundanya untuk menutup auratnya.
Karina dan Juna adalah murid yang sangat cerdas. Sering sekali mereka mendapatkan juara lomba apapun dan mereka juga selalu mendapatkan juara nomor satu di kelas mereka masing-masing. Maka dari itu, bapak-ibu guru begitu mengagumi mereka.
πΊπΊπΊπΊ
"Abi berangkat ke kantor dulu!" Ucap Yulian.
"Umi barengan ya sama abi! Soalnya umi mobilnya lagi di bengkel." Sahuhku dengan buru-buru.
"Ya sudah, ayo kita berangkat sekarang. Soalnya abi ada rapat penting." Ujar Yulian kemudian.
"Baiklah abi!" Balasku.
Yulian pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dan aku menikmati itu. Di tambah lagi mendengarkan alunan musik favoritku. Sampai-sampai aku tidak menyadari bahwa aku sudah sampai di depan butik.
"Kenapa berhenti abi?" Tanyaku penasaran.
"Kok kenapa sih umi, kan ini sudah sampai di butik," jawab Yulian menjelaskan.
"Oh iya ya bi. Ma'af abi sayang, umi kurang fokus soalnya," ucapku kemudian setelah melihat sekeliling.
__ADS_1
"Umi kenapa? Umi melamun memangnya?" Tanya Yulian lagi memastikan.
"Emm... Tidak kok, cuma kurang fokus saja. Ya sudah kalau begitu, umi mau masuk ke butik dulu." Jawabku dengan buru-buru.
Aku mengucapkan salam dan mencium telapak tangan suamiku. Dan setelah itu, Yulian melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Assalamu'alaikum!" Ucapku menyapa.
"Wa'alaikumsalam mbak Aisyah!" Balas pegawaiku secara bersamaan.
Setelah menyapa mereka semua, aku melangkahkan kakiku untuk menuju ke ruanganku. Di mana itu adalah ruangan tempatku menggambar desain baju,gaun dan segala macam.
******
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Di mana rapat kantor akan segera dimulai. Pak Nugraha dan kedua putranya pun tengah bersiap-siap untuk memimpin rapat.
Sudah satu setengah jam telah berlalu. Rapat pun telah usai. Kini pak Nugraha, Yulian dan Joko pergi keluar bersama-sama untuk mencari makan diluar.
"Yulian, bagaimana?" Tanya pak Nugraha memulai pembicaraan.
"Entahlah pa, Yulian sendiri juga belum membicarakan masalah itu sama Aisyah dan Juna." Jawab Yulian bimbang.
"Kalau kamu tidak bisa, kita bisa menyerahkan tentang itu kepada orang pilihan papa," ujar pak Nugraha.
"Tidak usah pa, Yulian akan usahakan untuk membicarakan ini kepada Aisyah." Balasku meyakinkan.
Makan siang telah usai. Pak Nugraha dan Joko serta Yulian tidak segera kembali ke kantor, melainkan mereka menuju masjid dekat kantor mereka untuk melakukan sholat dzuhur terlebih dahulu.
******
"Juna, pak Agus kemana ya kok belum datang juga?" Tanya Karina.
"Entahlah kak, Juna juga tidak tahu." Jawab Juna dengan santai.
"Coba deh kamu telfon saja pak Agus. Siapa tahu saja pak Agus ketiduran ..." Ujar Karina.
"Itu bukannya mobil ayah Fadli ya kak?" Sahut Juna memotong kalimat Karina.
Mobil Fadli pun terlihat dari ujung jalan menuju ke arah mereka. Sedangkan Juna dan Karina merasa heran dan bertanya-tanya dalam batin mereka.
"Kenapa ayah yang menjemput ya?" Tanya Karina dalam batinnya.
"Kok tidak seperti biasanya ayah Fadli yang menjwmput? Kemana pak Agus ya? Kenapa perasaanku jadi tidak enak ya?" Tanya Juna dalam batinnya.
__ADS_1
Mobil Fadli semakin mendekat ke arah mereka. Dan pada akhirnya, mobil sedan hitam itu pun parkir di depan mereka, di mana mereka masih berdiri mematung.
"Assalamu'alaikum sayang!" Ucap Fadli menyapa.
"Wa'alaikumsalam ayah!" Jawab Karina dan Juna bersamaan.
"Ayo kita pulang sekarang! Kalian sudah tidak ada kegiatan apa-apa lagi kan?" Tanya Fadli memastikan.
"Tidak kok ayah." Sahut Karina dan Juna bersamaan.
Karina dan Juna membuka pintu mobil itu. Dan mereka duduk bersebelahan di tempat duduk belakang. Sedangkan Fadli, ia sudah pasti duduk di tempat sopir. Karena Fadli yang menyetir mobil itu.
"Kok ayah sih yang jemput kita? Pak Agusnya kemana?" Tanya Karina membuka pembicaraan.
"Oh itu. Iya sayang, ayah yang menjemput kalian berdua. Karena kebetulan saja ayah tidak ada jadwal mengajar sampai sore. Jadi ya, ayah menelfon pak agus saja." Jawab Fadli menjelaskan.
"Syukurlah kalau tidak ada hal apa-apa. Tapi, kenapa perasaanku masih tidak enak begini ya?" Ujar Juna dalam batinnya.
"Oh begitu yah, ya sudah kalau begitu. Karina pikir pak Agus ketiduran atau lupa begitu sama kita." Ujar Karina.
Suasana kembali sunyi. Tidak ada pembicaraan lagi di antara Fadli, Juna dan Karina. Karena, Fadli lebih memilih untuk fokus dalam menyetir. Dan Karina lebih memilih mendengarkan musik religi yang menjadi favoritnya. Sedangkan Juna, entah ada apa gerangan dengan dirinya. Dia hanya terdiam sedari tadi.
"Loh yah, kita kok kerumah eyang?" Tanya Juna penasaran.
Ya akhirnya, Juna pun membuka mulutnya untuk bertanya.
"Iya Juna, kita mampir dulu sebentar kerumah eyang. Soalnya, eyang sedang kurang sehat." Jawab Fadli menjelaskan.
Setelah memarkirkan mobil sedan hitam yang mereka tumpangi, kini mereka memasuki rumah eyangnya itu. Yang tak lain adalah rumah pak Brian dan bu Maria.
"Assalamu'alaikum!" Teriak mereka masih dengan nada sopan untuk mengucap salam.
"Wa'alaikumsalam!" Jawab pelan dari dalam.
Pintu berwarna outih itu pun telah terbuka. Ada seorang wanita yang berada dibalik pintu. Dan itu adalah pembantu rumah itu.
"Silahkan masuk Tuan, aden, non!" Pinta pembantu itu.
Fadli, Juna dan Karina pun masuk ke dalam rumah itu dan melangkahkan kaki mereka untuk menuju kamar bu Maria yang diantar oleh pembantu itu. Dan setelah memasuki ruangan persegi itu, ternyata di sana sudah ada Maryam yang sedang memeriksa keadaan bu Maria.
"Eh kalian sudah datang ternyata," ujar Maryam.
"Bunda sudah ada di sini ternyata!" Ucap Karina.
__ADS_1
"Iya, bunda kamu tadi yang meminta ayah menjemput dan meminta kalian untuk kesini." Sahut Fadli.
Juna dan Karina mengangguk pelan seakan mengerti apa yang dijelaskan oleh Fadli. Mereka pun kini duduk di samping eyangnya itu dan menanyakan keadaan eyangnya yang kurang sehat.