
πΏπΏπΏπΏ
Pagi yang cerah telah mengawaliku untuk melakukan kegiatan pagi ini. Namun, rasanya berbeda dan tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Karena, aku ingin pagi ini waktu berhenti untuk sejenak.
"Wajah yang tampan dan tubuh yang sempurna. Bukan hanya fisik sempurna yang kamu miliki, melainkan kepribadianmu pun juga sempurna. Dan kini, hanya aku yang pantas memiliki ke sempurnaan milikmu. Aku berdo'a, semoga kamu selalu di berikan perlindungan, kesehatan dan kesabaran dari-Nya." Ucapku yang enggan membangunkan suamiku.
Ya... Kebetulan aku memang sudah bangun sedari tadi untuk melakukan sholat subuh. Sedangkan Yulian, dia masih tertidur dengan pulasnya. Dan sekarang, aku malah menatapnya dengan lekat sambil tersenyum dengan senyuman yang merekah.
"Emmuuuaaaccchhh! Selamat pagi!" Ucapku sambil mengecup kening suamiku, tapi dia tidak kunjung terbangun.
"Abi, sayang!" Panggilku pelan.
Ku panggil-panggil namanya dengan pelan, namun tetap tidak ada sahutan dan dia pun juga tidak kunjung bangun dari tidurnya.
"Ya Allah, kamu kenapa sayang?" Tanyaku dengan rasa panik.
Aku sangat khawatir dan merasa begitu panik melihat Yualin, suamiku tidak kunjung bangun. Aku menitihkan air mataku secara perlahan, namun entah kenapa air mataku semakin mengalir deras.
"Ehm... Ehm...! Ternyata, sampai segitunya ya kamu takut akan kehilangan diriku." Ucap Yulian yang mengagetkanku.
" Apa? Jadi?" Tanyaku menyelidik.
"Emm.... Ma'a,, aku hanya bercanda. Jangan marah ya!" Ucapnya dengan begitu santai, padahal hatiku sudah berdebar dan merasakan ke khawatiran yang mendalam.
"Kamu jahat ya! Aku sudah benar-benar khawatir banget sama kamu. Kamu malah kayak gini sama aku. Nyebelin." Balasku dengan menyerka air mata yang membasahi pipiku.
Saat aku merasa sebal dan marah atas kelakuan Yulian, malah dia membuatku menjadi terdiam tak berkutik.
"Emmmuuuaaaccchhhh!" Yulian mencium bibirku yang tidak terbalut cadar.
Tiba-tiba aku terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa saat kedua bibir kita telah menyatu dalam sejenak. Rasa marah itu pun seketika telah hilang.
"Kamu suka?" Tanya Yulian dengan senyumannya yang menawan dan aku hanya bisa mengangguk pelan untuk mengiyakan. Karena aku berpikir, hal sederhana seperti itu yang paling di sukai seorang istri dan suami. Betul kan aku?
"Syukurlah, jadi istriku yang paling cantik ini tidak marah lagi kan?" Tanyanya lagi kepadaku sambil memelukku dengan erat dan seketika aku merasakan kehangatan yang mendalam.
"Sudah deh, shalat subuh dulu sana. Jangan merayu mulu." Ucapku yang melepaskan pelukannya secara perlahan.
Selain aku bahagia dan menikmati kemesraan di pagi hari, aku juga merasakan ke janggalan dalam hatiku. Saat aku melepaskan pelukan Yulian tidak sengaja aku memegang tangannya dan kurasakan badannya yang demam.
__ADS_1
"Sayang, kamu demam loh. Mana tinggi lagi. Kenapa kamu tidak bilang?" Tanyaku dengan ke khatiran lagi.
"Sayang, ini tuh demam biasa. Aku cukup beristirahat nanti juga sembuh." Jawabnya dengan begitu mudah.
"Kamu itu yah! Ya sudah, kamu istirahat saja dulu, aku panggil kak Maryam dan memintanya untuk memeriksa kamu. Ok!" Putusku kemudian.
Aku pun langsung keluar dari kamarku dan mencari keberadaan kak Maryam yang entah dia ada dimana. Apakah sudah bangun atau belum.
πΊπΊπΊπΊ
"Ma, nanti kalau aku sudah menikah boleh tidak aku manja seperti ini sama Mama?" Tanya Joko kepada mamanya.
"Apa? Mama tidak salah dengar nih? Biasanya nih ya, kalau sudah menikah itu manjanya sama istri loh, kamu kok malah mau manja sama Mama." Jawab bu Widia kepada Joko yang saat itu menyandarkan kepalanya di atas bahu bu Widia.
"Kamu itu ya. Kini saatnya Papa yang manja sama Mama kamu seperti dulu sebelum ada kalian berdua." Sambung pak Nugraha sambil tetap fokus dengan korannya.
Setelah mendengar apa yang di ucapkan pak Nugraha, bu Widia dan Joko pun saling menatap sambil menyerngitkan dahi.
"Eyaang... Opaaaaa... !" Teriak Juna.
"Pagi sayang, wah... Sudah wangi ya cucu eyang." Bu Widia menyambutnya dengan pelukan.
Yulian itu memang seorang ayah yang baik dan mampu mengajarkan putranya tentang agama sejak dini.
"Itu namanya keponakan pak de yang pintar. Tos dulu dong sama pak de!" Sambung Joko.
"Iya dong... Juna gitu!" Balas Juna sambil menyatukan telapak tangannya dengan Joko.
"Pak de, eyang, opa, kapan sih abi Yulian dan umi Aisyah pulang?" Tanya Juna tiba-tiba.
"Emm... Besok pasti pulang abi Yulian dan umi Aisyah. Kan besok adalah hari pernikahan pak de. Jadi, abi dan umi Juna pulang deh!" Jawab Joko dengan penuturannya.
Juna pun menganggukkan kepalanya pelan, seakan mengerti apa yang di katakan Joko, pak de nya. Berhubung matahari yang sudah mulai meninggi, kini sarapan pagi pun telah berlangsung di keluarga Nugraha.
ππππ
"Kak Maryam... Kak...!" Teriakku memanggil nama kak Maryam.
"Ya ampun Aisyah, kenapa kamu berteriak-teriak seperti itu sih? Ada apa memangnya?" Tanya kak Maryam penasaran.
__ADS_1
"Itu kak, Aisyah butuh bantuan kakak untuk memeriksa keadaan Yulian." Ucapku dengan panik.
"Yulian? Memangnya kenapa dengan Yulian?" Tanya kak Maryam lagi dengan rasa penasarannya.
"Iya, kenapa dengan Yulian?" Sambung kak Fadli ikut bertanya.
"Yulian demam kak. Aisyah takut dia kenapa-kenapa." Jawabku kemudian.
Ya, kebetulan kak Maryam dan kak Fadli masih berada di dalam kamarnya, jadi mereka masih bersama dalam satu ruangan. Pasti mereka juga habis bermesraan sepertiku tadi. Hohoho...!
"Ya sudah, dia dimana sekarang?" Tanya kak Maryam.
"Dia masih di kamar kak. Aku menyuruhnya untuk beristirahat." Jawabku.
Setelah itu aku, kak Maryam dan kak Fadli bergegas menuju ke kamarku untuk memeriksa keadaan Yulian. Namun, yang kami dapati adalah sesuatu yang mengejutkan.
"Ya Allah Ya Robbiku, aku hanyalah manusia yang tidak luput dari segala dosa-dosa-Mu. Maka dari itu berikanlah aku pengampunan-Mu.
Ya Allah Ya Robbiku, tolong sehatkanlah badanku seperti sedia kala. Angkatlah rasa lelah, suhu badanku yang tinggi dan rasa pusing di kepalaku ini. Agar, semua orang yang aku sayangi tidak merasa khawatir dengan keadaanku. Amin... Amin... Amin... Ya robbal alamin...!" Do'a Yulian yang mengharukan.
"Yulian, kami yakin kamu adalah lelaki dan suami yang kuat. Sekarang, berbaringlah agar aku bisa memeriksa keadaan kamu." Ucap kak Maryam.
Setelah mendengar penuturan kak Maryam, Yulian pun terkejut dengan sesaat. Tapi, setelah itu dia menuruti perintah bu dokter. Berbaring di atas kasur kembali dengan wajahnya yang pucat.
"Emm... Kamu hanya mengalami migrain dan demam biasa. Tapi, jika kamu tidak mengistirahatkan tubuhmu itu akan menjadi lebih parah dan membuatmu harus di rawat di rumah sakit. Jadi, kamu harus banyak-banyak beristirahat, makan dengan teratur dan jangan banyak pikiran dulu. Ini ada beberapa resep obat, nanti biar mas Fadli yang membelikan obatnya." Tutur kak Maryam dengan panjang lebar.
Aku dan kak Fadli hanya menganggukkan kepala secara pelan, mencoba memahami apa yang saat itu di jelaskan kak Maryam kepada kami. Aku pun bernafas lega, karena sakit yang di alami Yulian bukanlah sakit yang parah. Tapi, kami harus memerhatikan kesehatan Yulian meskipun itu tidak parah.
"Kalian ini ya, yang satu sembuh eh yang satunya gantian sakit." Gerutu kak Fadli yang kami dengar.
Seketika kami pun menatap kak Fadli dengan rasa yang aneh. Tapi, pusat perhatian kami teralihkan saat kak Maryam merasakan mual-mual. Ada apa dengan kak Maryam? Apa dia juga ikutan sakit?
BERSAMBUNG....
SAMPAI DI SINI DULU YA...! JANGAN LUPA LIKE, KOMENTAR DAN VOTE KALIAN.
MA'AF YA TIDAK BISA BALAS KOMENTAR KALIAN SATU PERSATU , TAPI AKU SANGAT BERTERIMAKASIH ATAS MASUKAN KALIAN DAN ITU SANGAT MENDUKUNGKU.
JANGAN LUPA JUGA MAMPUR DI CERITAKU YANG SATUNYA. HANAN & HANUM . ITU TIDAK KALAH SERU KOK! HEHE...!
__ADS_1