
🕊🕊🕊🕊
Malaikat kecil telah lahir ke dunia. Suara tangisannya yang terdengar membuat semua keluarga Aisyah merasa bahagia.
"Ma'af permisi, dimana ayah dari bayinya ya? Karena putra bu Aisyah harus segera di adzankan." Ucap seorang suster.
"Ma'af sus, ayah bayi itu masih di luar negeri. Jadi, biarkan saya yang mngadzankan." Sahut Fadli.
Suster itu pun mengiyakan perkataan Fadli. Dan Fadli mengikuti suster itu masuk ke ruangan baby untuk melantunkan adzan kepada bayi Aisyah.
Bayi Aisyah yang mungil dan memiliki tinggi lahir 145cm serta berat badan 4,5kg membuat semua keluarga Aisyah merasa bahagia. Namun, setelah dokter keluar dari ruang operasi dan mengatakan tentang kondisi Aisyah, seketika semua menangis karena bersedih.
"Dokter, bagaimana dengan Aisyah?" Tanya bu Laila yang sedari tadi masih merasa khawatir.
"Sebelumnya ma'afkan saya bu, tapi yang saya takutkan telah terjadi. Aisyah mengalami koma pasca operasi." Tutur dokter sari.
Seluruh keluarga Aisyah bagaikan disambar petir di siang hari. Setelah mendengar keadaan Aisyah yang lagi-lagi berujung koma.
"Apa?" Tanya Juna yang tidak sengaja mendengar pernyataan dokter.
Seketika Juna menangis histeris dan seakan ia berpikir bahwa itu tidak mungkin terjadi. Juna benar-benar merasa sesak dan sulit bernafas mendengar apa yang menimpa ibunya.
"Sayang, kamu yang sabar dan kuat ya! Kamu harus bisa menguatkan diri kamu demi umi Aisyah. Kamu tidak boleh menangis seperti ini. Coba kamu pikir bagaimana perasaan umi kamu jika beliau melihat kamu bersedih seperti ini." Tutur Maryam sambil memeluk Juna.
"Iya bunda Maryam, Juna akan berusaha menguatkan diri Juna untuk umi, abi dan dedek bayi serta untuk kalian semuanya." Ucap Juna yang masih menangis sesenggukan.
Sesaat tangisan histeris keluarga besar Aisyah telah menyelimuti mereka. Namun, kini mereka semua harus saling menguatkan dan mendo'akan yang terbaik untuk Aisyah.
Aisyah yang selalu mengayomi mereka, kini harus terbaring lemah tidak berdaya. Dan wajah pucatlah yang tergambar dari wajahnya. Begitu pun dengan alat-alat medis yang telah terpasang memenuhi tubuhnya.
__ADS_1
Alhamdulillah keluarga Aisyah mulai merasakan ketenangan setelah melihat bayi mungil yang tampan.
*****
"Ya Allah, kenapa ini terjadi lagi kepada Aisyah dan Yulian? Sebenanrnya apa yang telah Engkau rencanakan untuk mereka setelah mengalami masa sulit di masa lalu. Dan sekarang, di saat Yulian akan kembali ke Indonesia dia harus mendengar kabar seperti ini lagi." Ucap Joko bersedih.
Joko lebih memilih menyendiri dan berada di ruang tunggu. Sedangkan yang lain entah dimana mereka. Dan ada juga yang menemani bayi Aisyah.
Di saat Joko termenung sendiri, kebetulan ada sebuah tv yang sedang menyala dan memberitakan tentang sebuah pesawat telah hilang kendali yang mengakibatkan pesawat itu terjatuh entah dimana.
Betapa mirisnya hati Joko ketika melihat dan mendengar tentang pesawat yang terjatuh itu. Di mana pesawat itu telah membawa adiknya, Yulian. Karena pesawat itu telah diterbangkan dari bandara Cairo menuju ke bandara Soekarno-Hatta.
"Ya Allah, apalagi ini? Apa yang sebenarnya Engkau rencanakan?" Joko bertanya-tanya di dalam batinnya sambil menangis.
Seketika tubuh tinggi dan berbadan kekar itu hanya berdiri kaku sambil menitihkan air mata. Seakan sulit bernafas dan berkata-kata. Lalu, datanglah seorang perempuan yang menjadi pelabuhan hatinya datang menghampirinya.
Joko hanya terdiam dan tidak menanggapi pertanyaan Humaira. Sedangkan Humaira merasa geram dan kesal melihat suaminya yang tidak menjawab pertanyaannya sedari tadi dan Joko memilih menangis sambil membungkam mulutnya.
"Mas, jawab Ira. Kamu kenapa?" Tanya Humaira mendesak Joko.
Hingga pada akhirnya Joko pun memberanikan diri untuk menceritakan apa yang telah dia ketahui. Dan betapa terkejutnya Humaira setelah mendengar keluh pilu kisah kasih hubungan Aisyah dan Yulian.
"Aku harus bagaimana sekarang? Apa yang akan aku katakan kepada mereka? Bagaimana dengan mama dan Juna nanti. Sedangkan bayi yang mereka nantikan kehadirannya kini telah terlahir di dunia." Ucap Joko yang tidak bisa menahan air mata kesedihannya.
"Ira juga takut mas. Takut untuk menceritakan semuanya di kala seperti ini. Karena baru saja kita mendengar duka Aisyah. Dan sekarang, mereka harus mendengar kecelakaan pesawat di mana di dalam pesawat itu ada Yulian." Balas Humaira yang tak kuasa menahan air mata.
Tanpa sadar di saat Humaira berbicara dengan Joko, pembicaraan mereka telah terdengar oleh Fadli dan Maryam. Dan dengan segera Meryam beserta Fadli menghampiri mereka untuk memastikan akan sesuatu hal yang mereka dengar.
"Apa maksud kalian?" Tanya Maryam memastikan.
__ADS_1
"Kalian...." Ucap Joko terkejut.
"Jelaskan kepada kami tentang apa yang kalian bicarakan." Sela Fadli mendesak.
Joko dan Humaira menceritakan semua tentang Yulian dan pesawat yang terjatuh kepada Fadli dan Maryam. Dan sungguh itu bagaikan petir yang menyambar tubuh mereka untuk yang kedua kali.
Terasa hancur dan begitu menyedihkan yang harus keluarga Aisyah dan Yulian alami. Kini Maryam, Fadli, Joko dan Humaira mencoba menenangkan diri mereka masing-masing. Dan secara perlahan mereka mencertikan semuanya kepada keluarga mereka.
Lagi, dan lagi suara tangisan kesedihan menyelimuti mereka. Sehingga membuat bu Widia jatuh pingsan. Sedangkan Juna, dia keluar dari rumah sakit sambil berlari. Entahlah mau kemana dia.
"Juna, kamu mau kemana?" Tanya Maryam.
Ya, selain dekat dengan Aisyah Juna juga dekat dengan Maryam. Karena dua saudara perempuan itu memiliki jiwa ke ibuan yang membuat anak-anak mereka begitu dekat dengan mereka.
Karena merasa khawatir dengan Juna, Maryam pun berlari untuk mengejar Juna. Dan setelah mendapatkan keberadaan Juna, Maryam lagi-lagi merasa rapuh tidak berdaya.
"Ya Allah Ya Robbyku, kenapa Engkau melakukan ini kepadaku? Aku tidak mau kedua orang tuaku Engkau ambil Ya Allah. Satukanlah kami kembali menjadi keluarga yang utuh." Teriak Juna.
Juna berada di halaman rumah sakit dan berjongkok sambil berteriak mengutarakan kesedihannya. Sedangkan Maryam, dia tidak bisa mencegah apa yang dilakukan Juna.
Kesedihan yang mendalam telah menyelimuti Juna. Dan di saat Juna masih melampiaskan kesedihannya, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya membasahi tubuh Juna.
Maryam yang tidak ingin melihat Juna terus bersedih dan berada di dalam derasnya hujan, kini berlari dan bermaksud untuk menghampiri Juna. Tapi sebelum Maryam sampai ke Juna, tiba-tiba seorang gadis telah mendekati Juna dan membawa sebuah payung. Payung itu pun dipayungkan di atas tubuh Juna. Sehingga Juna tidak kehujanan lagi. Namun itu sudah terlambat, karena tubih Juna sudah terlanjur basah kuyub.
"Mentari?" Ucap Karina.
Itulah nama gadis yang saat ini bersama dengan Juna yaitu, Mentari. Mentari adalah teman satu kelas Juna. Dan mungkin Mentari lah yang menjadi penggemar rahasia Juna.
Mentari berusaha berbicara kepada Juna. Namun, Juna tidak mau mendengar apa yang dikatakan oleh Mentari. Sedangkan Mentari, ia masih tetap bersi kekeh untuk membujuk Juna. Hingga akhirnya, hati Juna pun mampu terluluhkan dengan sikap baik Mentari.
__ADS_1