HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
BAB 37


__ADS_3

💖💖💖💖


Ya_Aisyah yang sekarang sudah banyak berubah daripada Aisyah yang dulu. Bukan berati aku menjadi gadis yang penuh dengan kesombongan atas perubahanku. Tapi, aku sendiri juga masih butuh untuk terus belajar dalam berhijrah dan bisa mendapatkan perubahan hijrah cinta dalam hidupku. Yang dulu begitu kelam, namun kini aku berusaha untuk mendapatkan cinta menuju jannah-Nya.


"Tapi, bolehkah aku bertanya sedikit kepadamu Kamila?" Tanyaku penasaran.


"Silahkan Aisyah, kamu boleh bertanya apapun itu dan aku akan menjawab jika aku mampu." Jawabnya dengan pelan.


"Kenapa kamu menemuiku secara tiba-tiba? Apa kamu ada masalah? Dan tampaknya, kamu lagi kurang sehat. Apakah kamu sedang sakit?" Ungkapku yang memberi pertanyaan kepadanya.


Sejenak Kamila terdiam dan sesekali ia menarik nafasnya dengan panjang. Seakan sedang mengumpulkan tenaganya untuk menjelaskan beberapa hal yang menjadi pertanyaanku.


"Kalau boleh jujur, aku memang sedang sakit Aisyah. Aku tak mampu hidup lebih lama lagi. Aku sakit parah Aisyah. Maka dari itu, aku memutuskan untuk menemuimu dan meminta bantuan kepadamu tentang berhijrah. Karena aku mau, sebelum aku meninggal nanti aku ingin menjadi seorang gadis yang mampu untuk berubah lebih baik lagi. Aku yakin, kamu bisa membantuku Aisyah." Ucapnya menjelaskan.


Aku begitu syok, terkejut dengan ucapan Kamila. Aku tak tahu pasti sakit apa yang sedang dideritanya. Ingin sekali aku membantunya. Namun, aku harus berpikir dua kali setelah ucapan permintaan nya yang terakhir.


"Aisyah, bolehkah aku meminta satu hal kepadamu? Itupun kalau kamu mau melakukannya." Tanyanya kepadaku dengan wajah yang begitu sedih dan pucat.


"Katakanlah kamila. Kalau aku bisa, aku pasti akan melakukannya." Ucapku dengan senyuman manis dibalik cadarku.


"Aisyah, aku dengar kamu dan Yulian masih bersama ya?"


"Emm... Kalau itu, aku tidak bisa mengatakan bagaimana aku dan Yulian saat ini. Hubungan kita menggantung. Namun, dia berjanji akan kembali kepadaku ." Jawabku dengan tetap tersenyum tapi, ada rasa sedikit mengganjal di dalam hatiku saat Kamila menanyakan tentang Yulian.


"Aisyah, aku tahu kalian saling mencintai. Tapi, apakah bisa aku memiliki Yulian? Apakah bisa aku berhubungan dengan Yulian? Aku juga mencintainya Aisyah, namun dia tidak mencintaiku. Sedangkan aku, aku ingin bersamanya disisa umurku yang tidak lama. Apakah bisa Aisyah?" Tanyanya kepadaku dengan sebuah harapan.


"Aku... Aku...!"


Belum sempat aku menjawab, seorang lelaki berlari menuju arah kami dan langkah kaki itu terdengar dengan kerasnya.


"Aisyah?" Lelaki itu memanggilku.


Aku begitu terkejut dan sangat terkejut dengan kehadirannya. Aku tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Serasa bibir ini terbungkam dan penuh tanya dalam hati.

__ADS_1


"Yulian?" Ucapku dalam batin.


🌧🌧🌧🌧


"Sejak kapan kamu ada di sini Kamila? Kamu harus banyak istirahat. Udara diluar sangat mempengaruhi kondisi kamu ." Ucap Yulian kepada Kamila dengan penuh perhatian.


"Apa ini sebuah penghianatan kembali? Apa memang Yulian tidak pernah serius dengan janjinya? Sebenarnya ada hubungan apa diantara mereka? Apa yang terjadi?" Tanyaku dalam hati kecilku yang amat terluka melihat apa yang sedang aku lihat saat ini.


"Yulian, aku tidak apa-apa kok. Aku datang ke sini, karena aku ingin menemui Aisyah. Aku ingin bantuannya untukku." Ucap Kamila dengan lembut.


"Memangnya kamu mau bantuan apa dari Aisyah?" Tanya Yulian yang memandangku dan hanya senyuman kecil yang bisa aku berikan untuk membalas pandangan Yulian.


"Aku kepengen seperti Aisyah. Dia cantik dan sholehah. Aku ingin berhijrah Yulian, makanya aku mau Aisyah mengajariku. Iya kan Aisyah?" Ucap Kamila yang menanyaiku untuk meyakinkan Yulian.


"Insyaallah, aku usahakan untuk bisa membantumu Kamila." Jawabku dengan lembut.


Jujur, hatiku hancur. Hancur sehancur-hancurnya. Tak bisa aku memandang tatapan yang meneduhkan untuk hatiku, walau aku sangat merindukan tatapan itu. Aku harus kuat dan tegar menghadapi cobaan yang bertubi-tubi. Mungkin, ini adalah ujian dalam hijrah cintaku.


"Kamila, kamu tunggu di sini dulu ya! Aku mau bicara sebentar dengan Aisyah." Ucap Yulian kepada Kamila.


Aku dan Yulian pun berjalan sedikit menjauh dari sisi Kamila. Kami berbicara hanya berdua, tapi aku masih tahu batasan-batasan yang tidak diperbolahkan dalam islam.


"Aisyah, ma'afkan aku. Ma'af jika aku kembali dengan kondisi seperti ini. Sebenarnya hati dan diri ini ingin menolak. Tapi, kedua orang tua Kamila menemuiku di pondok itu. Dan mereka memintaku untuk membahagiakan putrinya yaitu, Kamila. Entah darimana mereka tahu aku di sana." Ucap Yulian mengawali pembicaraan kami.


"Sudahlah Yulian, tak apa. Bahagiakanlah Kamila. Temani dia disisa hidupnya. Lakukanlah seperti apa yang diminta oleh kedua orang tuanya." Balasku dengan perasaan yang menyakitkan. Berat sekali mengatakan itu. Namun, aku hanyalah manusia biasa.


"Aisyah, apa kamu yakin dengan ucapanmu? Kamu tahu, aku hanya mencintaimu. Dan kita saling mencintai. Tapi kenapa kamu menginginkan aku untuk menemaninya dan membahagiakannya?" Ucap Yulian dengan pertanyaannya.


"Mau bagaiamana lagi Yulian? Tidak ada yang bisa kita lakukan saat ini." Jawabku dengan nada yang sedikit kecewa, namun aku tidak boleh memiliki sifat yang egois.


"Baiklah, kalau itu sudah menjadi keinginan kamu. Aku harap, kamu tidak salah paham dengan perasaanku kepada Kamila. Dan ingatlah satu hal Aisyah, kalau aku akan selalu mencintamu sampai kapanpun." Ucap Yulian pasrah.


"Aku harus pergi. Aku harap, kamu tetap menungguku." Ucap Yulian yang melangkahkan kakinya untuk menemui Kamila kembali.

__ADS_1


Ya_kalian pasti tahu bagaimana hancurnya hatiku. Aku ingin berlari dengan sekencangnya, tapi terasa berat kaki ini untuk jauh melangkah. Hingga akhirnya, diri ini tetap berdiri mematung dengan pandangan kosong yang ditemani dengan derasnya hujan.


"Aku sakit Yulian. Hatiku hancur." Ucapku dengan lirih.


"Aaaaaaaaaaaaaaaa!" Teriakku dengan berlutut dalam derasnya hujan.


🕊🕊🕊🕊


"Nomor yang anda tuju tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi." Suara operator yang menjawab.


"Kenapa kamu tidak mengangkat telfonnya Aisyah? Padahal, aku ingin memberikan kejutan untukmu. Apa kamu sibuk hari ini?" Ucap Fadli merasa khawatir.


"Ada apa denganmu Aisyah? Kenapa aku merasa khawatir dan tidak tenang?" Ucap Fadli dalam hati.


Ikatan batin itu semakin kuat. Fadli pun merasa khawatir dengan keadaan Aisyah. Dalam hatinya penuh dengan tanda tanya. Hingga dia memutuskan untuk menghubungi Aida sahabat Aisyah.


"Assalamu'alaikum Aida!" Fadli mengucap salam kepada Aida melalui telfon.


"Wa'alaikumsalam. Ini siapa ya?" Tanya Aida.


"Ini Fadli, Aida."


"Oh iya pak Fadli. Tapi, ada keperluan apa ya pak Fadli menghubungi saya?" Tanya Aida.


"Ma'af sebelumnya sudah mengganggu kamu, tapi saya mau bertanya apakah Aisyah sedang bersamamu?" Ucap Fadli.


"Oh itu pak, ma'af pak tadinya sih iya tapi, itu sudah 1 jam yang lalu." Ucap Aida menjelaskan.


"Oh, ya sudah kalau begitu Aida. Terimakasih, sekali lagi ma'af sudah mengganggumu." Ucap Fadli sebelum menutup telfonnya.


💖💖💖💖


"Seharusnya kamu tidak hadir dihadapanku dengan kedaan seperti ini Yulian." Ucapku dalam hati yang masih tidak bisa menerima semua ini. Namun, apalah daya. Aku tidak bisa apa-apa.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


MUNGKIN MENURUT KALIAN CETITANYA MASIH MENGGANTUNG, IYA KAN? TAPI, INI AKAN LEBIH MENARIK LAGI LOH! TETAP SETIA YA DI "HCA", NANTIKAN EPISODE SELANJUTNYA. JANGAN LUPA JUGA BERIKAN DUKUNGAN KALIAN DENGAN LIKE, KOMENTAR DAN VOTE KALIAN. TERIMAKASIH!


__ADS_2