HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Melakukan Tugas


__ADS_3

Ketika aku membantu Yulian menyiapkan beberapa pakaian dan perlengkapan lainnya yang akan dibawa ke Surabaya nanti tiba-tiba suara adzan subuh telah berkumandang dengan serunya. Sehingga aku dan juga Yulian harus segera menghentikan aktivitas kami untuk melanjutkan shalat subuh berjamaah. Namun, sebelumnya kami membersihkan tubuh kami terlebih dahulu secara bergantian.


"Ya Allah, mungkin kini Engkau menguji kembali umat-Mu untuk lebih bersabar lagi saat jarak dan waktu akan memisahkan kami kembali. Semoga saja Engkau selalu melancarkan setiap urusan suamiku!"


Tidak hentinya aku menatap Yulian dari segela penjuru pandanganku dan kemanapun ia melangkah. Hatiku seakan telah patah ketika harus menerima perpisahan yang akan kami jalani selama kurang lebih satu bulan. Mungkin itu tidaklah lama, karena jauh sebelumnya aku berpisah dengan Yulian hampir satu tahun. Dan hal itu disebabkan bukan karena pekerjaannya yang lama, melainkan datangnya covid-19 yang melanda seluruh dunia. Virus yang begitu membahayakan sampai-sampai banyak warga Indonesia yang kehilangan nyawa akan virus itu.


Lima belas menit sudah berlalu, Yulian pun juga sudah selesai menjalankan ritualnya. Dan sekarang giliran aku untuk melakukan aktivitasku di dalam kamar mandi. Sedangkan Yulian, ia akan menungguku untuk melakukan shalat subuh bersama.


Seperti biasa, di mana aku tidak membutuhkan waktu yang lama untuk berada di dalam sana. Cukup lima belas menit untuk mengguyur tubuhku agar rasa kantuk dan lelah hilang, meskipun itu hanya sejenak. Dan kini aku bersiap untuk menjadi makmum dalam shalat. Begitupun dengan Yulian yang bersiap untuk menjadi seorang imam.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Salam dua kali.


Sebagai makmum aku pun melakukan hal yang sama dengan imam. Melakukan salam dua kali sebagai tandanya shalat telah usai. Setelah itu, kami melakukan iktikaf dengan saling membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Namun, iktikaf yang kami lakukan bersama tidak berlangsung lama, karena Yulian harus menyiapkan kembali beberapa berkas dalam pekerjaannya. Sedangkan aku, aku masih berlanjut membaca ayat-ayat suci Al-Quran.


"Shodakallahulazim."


Aku pun telah usai membaca ayat-ayat suci Al-Quran, lalu kututup kitab suci yang kubaca tadi. Setelah itu, aku melakukan aktivitas ku seperti biasanya, bertempur di ruang dapur. Memang tubuh ini merasa lelah setelah menempub perjalanan yang cukup jauh dan setelah itu tidak lekas beristirahat, tetapi tugas seorang istri dan ibu salah satunya menyiapkan makanan untuk keluarga.


"Enaknya masak apa ya?"


Aku pun membuka kulkas dan memastikan apa saja bahan masakan yang bisa aku masak untuk hari ini. Dan setelah kubuka, tidak ada bahan masakan sedikit pun untuk sekedar sarapan bersama. Sehingga membuatku kembali merasa bingung hendak memasak apa untuk mereka semua. Di saat aku dilanda kebingungan yang memutar otakku, tiba-tiba papa Adhi menghampiriku.


"Aisyah, kamu mau apa?"


"Eh, ada Papa. Aisyah sebenarnya mau masak sih, Pa. Tapi ... tidak ada bahan apapun untuk Aisyah masak." Aku menunjuk ke arah kulkas.


"Memang Papa sengaja meminta Bibik untuk tidak membeli bahan masakan selama kamu dan yang lainnya pergi. Begitupun dengan hari ini, jadi kamu tidak perlu repot-repot bertempur di dapur. Papa sudah mengaturnya, kamu tenang saja!"

__ADS_1


Setelah mengatakan akan hal itu papa Adhi main pergi begitu saja. Yang membuatku merasa aneh dengan tingkah papa mertiaku itu. Akan tetapi, aku merasa bersyukur memiliki papa mertua yang selalu menyayangiku bak putri kandungnya. Bahkan setelah keluargaku sendiri sudah tiada untuk hadir dan menemaniku. Papa Adhi selalu memanjakanku, seperti Yulian yang melakukan hal sama.


"Kalau begitu, sebaiknya aku membuatkan kopi untuk mereka." Tanganku bergerak mempersiapkan beberapa cangkir.


Setelah usai membuat minuman hangat di pagi hari untuk seluruh penghuni di rumah ini, aku pun membantu bibik yang bekerja di area depan seraya menghirup udara pagi yang menyejukkan dengan sejenak. Namun sebelum itu, aku memanggil mereka semua yang masih berada di tempat persembunyian mereka masing-masing, kecuali papa Adhi. Karena aku melihat beliau sedang berolahraga di depan rumah.


"Pa, diminum dulu kopi hangatnya!"


"Oh iya, Aisyah. Terima kasih untuk kopinya!"


Aku mengangguk pelan untuk mengiyakan papa Adhi. Setelah itu, aku melanjutkan tugasku sebagai ibu rumahtangga idaman. Yang selalu beberes rumah dan lain sebagainya, seperti halnya saat aku menyiram tanaman agar beberapa bunga yang tertanam di dalam pot subur kembali, bahkan melahirkan bunga yang baru. Yang akan memberikan keindahan sekaligus keharuman di taman ini.


"Paket." Teriak seseorang dari luar pagar rumah ini.


Setelah mendengar ada yang berseru aku pun segera melihat siapa yang datang sepagi ini. Dan itu tak lain adalah seorang lelaki muda yang bekerja sebagai pengantar makanan dari restoran yang mungkin sudah dipesan oleh papa Adhi tadi. Aku pun segera menorehkan tinta di atas kertas putih sebagai tanda penerimaan dari apa yang sudah dipesan. Lalu, dengan segera aku membawa beberapa bingkisan yang ku tenteng ke dapur. Namun, sebelum itu tidak lupa mengucapkan rasa terima kasih kepada lelaki muda itu.


"Baik, Bu. Saya akan mengambilkan beberapa wadah dan juga piringnya." Lalu, kaki pun melangkah dengan rasa semangat.


Sekarang aku menjalankan tugasku sebagai istri dan juga ibu, di mana aku mempersiapkan beberapa amunisi untuk mengisi perut mereka pagi ini. Meskipun itu bukanlah hasil jerih payah ku, tetapi tetap saja aku harus mempersiapkan dengan baik, yang dibantu oleh wanita kesayanganku. Dan setelah di rasa sudah siap, aku pun menghidangkannya di atas meja makan.


"Kita sarapan bersama dulu, sebelum semuanya akan kembali menjalankan tugas masing-masing." Ajakku seraya menghidangkan beberapa makanan di atas meja makan.


Mereka pun mengambil duduk masing-masing untuk segera melangsungkan acara pagi ini, kecuali Cahaya. Karena ia lebih nyaman duduk di atas kursi rodanya. Dan kita semua menghargai semua itu, karena kita menyadari akan kekurangan Cahaya. Sebelum kami memulai acara sarapan pagi, tidak lupa aku meminta bibik untuk ikut bergabung bersama kita semua. Setelah itu, yang paling muda lah yang memimpin doa sebelum makan.


"Bismillahirrahmanirrahim. Allahumma bariklana fiima rojaktana wakina adzabannar. Aamiin!"


Setelah pembacaan doa kami segera mengambil dan menyantap makanan yang sudah dihidangkan untuk mengisi perut yang terasa kosong. Kami menikmati hidangan yang ada tanpa ada sedikitpun suara yang berbunyi. Akan tetapi, ketika di pertengahan kami menyantap makanan tiba-tiba Cahaya mual-mual. Entah kenapa aku pun tidak tahu pasti? Sehingga aku segera menghapirinya untuk menanyakan keadaan tubuhnya. Mungkinkah Cahaya sedang sakit? Atau bahkan sedang hamil?

__ADS_1


"Cahaya, ada apa dengan kamu? Apa makanannya tidak enak? Atau ... bagaimana?"


"Uwek. Cahaya tidak tahu Umi, tapi rasanya mau muntah tapi tidak bisa keluar dan kepala Cahaya merasa pusing." Cahaya menundukkan pandangannya.


"Cahaya, kamu sedang sakit?" tanya Arjuna.


"Mungkin hanya kelelahan saja, Mas. Sebaiknya, aku kembali ke kamar saja dulu!"


"Iya, Cahaya. Wajahmu pucat, lebih baik kamu istirahat saja!" timbrung Yulian kemudian.


"Iya sayang, benar apa kata Abimu. Arjuna, antarkan istrimu ke kamar! Nanti Umi akan menyusul setelah membuatkan bubur untuk Cahaya." Aku memberikan senyum tipis.


Arjuna pun beranjak dari tempat duduknya dengan segera. Lalu mendorong kursi roda bersama Cahaya untuk menuju ke kamar mereka. Sedangkan aku, aku kembali bertempur di dapur dan segera membuatkan bubur untuk Cahaya. Namun, ketika kaki ini henfak melangkah tiba-tiba tangan Arjuna menghentikan langkah itu dengan memegang tanganku. Sehingga aku membalikkan tubuhku dengan segera untuk menatapnya.


"Pinta Arjuna memeriksa keadaan Cahaya sekarang juga! Kalau Dia sakit bisa beristirahat, tapi kalau Dia sedang mengandung, kita harus siaga menjaganya." Senyum tipis telah menarik dua ujung bibirnya.


Kedua mataku seketika terpancar, merasakan betapa bahagianya aku jika memang benar Cahaya tengah mengandung cucu pertamaku. Seketika aku mengangguk pelan untuk mengiyakan permintaan Yulian. Lalu, aku melangkah cepat menuju ke kamar Arjuna dan memintanya untuk memeriksa keadaan Cahaya. Karena Arjuna pasti tahu jika Cahaya memang benar tengah mengandung.


"Arjuna-Cahaya, Umi pengen berbicara dengan kalian sebentar saja." Kakiku pun melangkah dan masuk ke kamar mereka yang sengaja tidak ditutup.


"Iya Umi, ada apa?"


"Arjuna, sayang. Bukankah, kamu seorang Dokter kandungan, jadi tidaklah salah jika kamu memeriksa keadaan istrimu. Ya ... siapa tahu Cahaya sedang mengandung anak kalian berdua." Aku menetap mereka.


"Mungkin apa yang Umi katakan ada benarnya juga. Kalau begitu Arjuna akan menjalankan tugas Arjuna sebagai Dokter." Arjuna bergegas mengambil beberapa peralatan yang akan digunakannya.


Aku menunggu hasil yang akan menjawab permasalahan ini. Bukan hanya aku saja, melainkan mereka semua yang berada diluar juga tengah menunggu kabar yang akan menjawab ini semua. Rasa dihatiku bercampur aduk, ada rasa cemas dan juga ada rasa harap. Kabar bahagia selalu ingin aku dengar, tetapi jika itu belum waktunya kami semua akan menanti dengan hati yang sabar. Karena kami tahu itu akan hadir atas kehendak Allah SWT. Jika Allah sudah mempercayai umat-Nya, maka Allah akan berkata, "Kun fayakun." Maka umat islam akan mempercayainya bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT.

__ADS_1


__ADS_2