
Aku pun mengangguk untuk menyetujui apa yang telah diucapkan kak Maryam. Kini aku dan kak Maryam kembali menuju mobil untuk pulang.
🕊🕊🕊🕊
Malam ini aku tidak kembali pulang ke rumah ayah dan ibu, melainkan ke rumah papa Brian dan mama Maria. Karena, aku ingin membantu acara pernikahan dari pihak wanita.
"Assalamu'alaikum!" Ucap kami bersamaan saat sampai didepan pintu rumah.
"Wa'alaikumsalam!" Suara Mama dari dalam yang membalas salam kami.
"Kalian sudah pulang! Ya sudah kalian bersih-bersih saja dulu. Terus makan dan bantuin kita semua." Ucap Mama setelah membuka pintu dan menampilkan senyuman bahagianya.
"Baiklah Ma!" Ucap kami bersamaan.
Kami akhirnya menuju ke kamar kami masing-masing dan membersihkan badan kami. Ya_seperti biasa, aku tidak membutuhkan waktu yang lama untuk berada di dalam kamar mandi.
"Enaknya pakai baju yang mana ya?" Ucapku yang masih berdiri di depan almari putih milikku.
Akhirnya setelah beberapa menit memikirkan apa yang ingin aku kenakan aku memutuskan memakai baju gamis yang dibelikan ibu waktu di toko baju kemaren.
"Akhirnya sampai juga. Sekarang tinggal sholat magrib nya yang harus dilakuin." Ucapku setelah selesai memakai baju dan berjilbab.
"Alhamdulillah, sekarang sudah jauh lebih baik. Aku pasti bisa!" Ucapku setelah usai sholat.
Sebelum aku keluar kamar dan turun, aku memilih bermain handphone sebentar. Dan ternyata, ada sebuah pesan dari Yulian. Entahlah apa yang dia kirimkan, rasanya aku malas untuk membukanya tapi aku penasaran juga.
"Assalamu'alaikum Aisyah. Mungkin apa yang kamu ucapkan di mana itu yang sudah menjadi keputusan kamu, pasti ada alasannya. Dan mungkin aku juga cukup tahu apa alasan kamu. Pasti kamu sudah merasa bosan kan dengan setiap janji-janji yang aku ucapkan tapi belum ada yang aku tepati. Sebelumnya, aku minta ma'af akan hal itu tapi sungguh aku tidak bermaksud untuk tidak menepatinya. Jujur, sampai saat ini dan sampai kapanpun aku akan selalu mencintamu.
Tapi jika keputusan kamu adalah berpisah denganku, aku akan terima. Dan aku yakin kamu pasti sudah mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik daripada aku. Pasti lelaki itu yang mengantar kamu waktu acara wisuda kan? Aku berdo'a supaya kamu dan pilihan kamu bahagia."
Itulah pesan dari Yulian yang membuatku semakin ingin kembali ke pelukannya. Tapi, aku tidak bisa membiarkan itu terjadi.
"Aisyah, kamu jangan goyah. Kamu pasti bisa melupakan Yulian dan membiarkan dia bahagia dengan yang lain." Ucapku untuk menguatkanku.
Tanpa ada balasan satu kata patahpun dariku untuk Yulian. Dan itulah keputusanku yang terbaik untuk semuanya.
"Tok...Tok...Tok...!" Suara pintu kamarku yang diketuk dari luar.
"Siapa?" Tanyaku .
"Ini bibi Non." Jawab bik Murni dari luar.
"Oh bik Murni, ada apa bik?" Tanyaku lagi dengan membuka pintu.
__ADS_1
"Itu Non, ada Non Aida dan suaminya mencari Non Aisyah." Ucap bik Murni memberitahu.
"Oh mereka, baiklah bik ayo kita turun kalau begitu." Balasku dengan senyum kecil.
Aku dan bik Murni melanhkahkan kaki untuk menuruni tangga dan menemui tamu spesialku. Iyalah spesial, dia kan sahabatku.
"Aida, sudah lama kah kalian?" Tanyaku berbasa-basi.
"Tidak juga Aisyah, kita baru saja sampai." Jawab Aida menjelaskan.
"Oh gitu, ya sudah kalian mau minum apa?" Tanyaku lagi.
"Terserah kamu saja deh. Aku haus juga soalnya." Jawab Aida dengan wajah manjanya.
"Hmm... Dasar bumil." Ucapku meledeknya.
"Ya sudah bik, bibik buatin jus buah saja buat mereka." Ucapku pada bik Murni.
Bik Murni pun bergegas ke dapur dan melakukan apa yang aku pinta kepada beliau. Beliau sungguh berjasa terhadap keluarga kami semua. Dan tanpa beliau, aku tidak tahu bagaimana aku dan papa merasakan enaknya kehidupan. Hehe..!
"Oh iya Aida, ngomong-ngomong ada tujuan apa kalian datang ke sini? Jarang-jarang loh kalian datang ke rumahku berdua." Tanyaku kepada Aida dan Fahri.
"Tidak ada tujuan apa-apa sih! Tadinya kita cuma lewat saja, terus kita memutuskan untuk berkunjung ke rumahmu." Jawab Aida menjelaskan.
"Sorry aku belum cerita sama sekali ya sama kamu. Hehe...!" Jawabku sedikit tertawa.
"Makanya sekarang kamu cerita sama aku." Ucap Aida merayu dengan ekspresi manjanya.
"Baiklah!" Balasku singkat.
Aku pun menceritakan semua yang berubah dari hidupku , termasuk tentang Yulian . Aida juga merasa bersedih dengan cerita hidupku . Namun , dia juga memberikan dukungan untukku dan itu insyaallah bisa menguatkanku.
"Aisyah , kamu wanita yang tegar dan kuat. Aku yakin kamu pasti bisa lebih kuat lagi dalam berhijrah untuk hidupmu dan cintamu." Sambung suami Aida.
"Terimakasih ya atas dukungan kalian." Ucapku dengan senyuman manis.
Kami bertiga begitu asik dalam obrolan kami. Namun, obrolan kami seketika terhenti saat kak Maryam memanggilku.
"Aisyah, kalau begitu kita pamit dulu ya! Kamu jaga diri kamu baik-baik." Ucap Aida yang berpamitan dan mengucap salam.
"Baiklah. Kalian juga hati-hati!" Balasku kepada mereka.
Aku mengantar Aida dan suaminya sampai di depan pintu. Dan setelah melihat mereka pergi jauh meninggalkan rumahku, aku kembali masuk dan menemui kak Maryam.
__ADS_1
"Ada apa kak?" Tanyaku yang berdiri didekat kak Maryam.
"Sebenarnya kakak tidak ingin memberitahu kamu tentang sesuatu hal, tapi kamu harus tahu itu. Bacalah!" Ucap kak Maryam yang menyodorkan handphonenya kepadaku dan itu membuatku penasaran.
"Assalamu'alaikum Dokter Maryam. Dok, pasien atas nama Kamila ingin melangsungkan pernikahannya besok di Rumah Sakit. Dan diharapkan Dokter menemani pasien selama pernikannya." Pesan dari seorang suster yang ikut menangani keadaan Kamila.
"Ma'af sus, mungkin saya tidak bisa hadir. Karena saya sendiri besok akan menikah. Tolong ucapkan permohonan ma'af saya kepada pihak keluarga pasien." Balas kak Maryam kemudian.
Aku hanya terdiam, mencerna dalam setiap ucapan yang ada di pesan. Senyum simpul yang ku ekspresikan dibalik cadar. Hanya berusaha untuk berpikir yang positif.
"Aisyah, apa kamu baik-baik saja?" Tanya kak Maryam yang melihatku hanya terdiam setelah membaca pesan dari ponsel kak Maryam.
"Aku baik-baik saja kok kak. Tenang saja, aku bukanlah wanita yang lemah. Insyaallah, aku biasa-biasa saja kok kak." Jawabku kemudian.
"Baiklah, kalau kamu memang tidak apa-apa. Ya sudah, sekarang kita harus mempersiapkan semuanya untuk acara besok." Ucap kak Maryam merasa lega.
Kini aku dan kak Maryam turun dari tangga dan menemui seorang perias untuk menrias tangan kak Maryam, mungkin namanya itu henna.
"Maryam, kamu sudah siap?" Tanya perias itu kepada kak Maryam untuk memastikan.
"Iya mbak, saya sudah siap." Jawab kak Maryam sedikit malu.
Aku menemani kak Maryam yang duduk di kursi dan melihat tangannya yang berhias henna. Ku foto wajah kak Maryam yang malu-malu dengan camera ponselku.
"Kak, aku sudah kirim ke kak Fadli." Ucapku menggoda kak Maryam.
"Aisyah, kamu jail ya." Ucap kak Maryam sedikit marah , namun juga terlihat malu-malu dalam tatapannya.
"Ma'af kak, sudah terlanjur!" Godaku kembali.
"Beneran, kamu sudah kirim ke Fadli?" Tanya kak Maryam memastikan.
"Emm... Bagaimana ya?" Ucapku yang masih menggoda kak Maryam.
Namun, kak Maryam tanpa meminta ijin dariku dia langsung mengambil handphoneku dan melihatnya sendiri. Mungkin aku terlalu jail, tapi aku juga tidak bermaksud seperti itu.
"Aisyah, kenapa kamu bohongin kakak?" Ucap kak Maryam yang tersipu malu dengan pipi yang nampak kemerahan, mungkin sih! Karena, kak Maryam kan selalu memakai cadarnya jadi tidak terlihat dengan jelas wajahnya.
"Tapi kan kakak hampir percaya!" Ucapku menggoda kak Maryam.
Kak Maryam menatapku dengan tatapan yang sedikit tajam, namun pada akhirnya kak Maryam juga tertawa kecil dan lalu aku juga mengikutinya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Alhamdulillah sampai juga episode 48. Terimakasih buat para temen-temen readers, semoga kalian tetap memberikan like, komentar dan vote kalian. 🙏😘