
🕊🕊🕊🕊
Pagi ini matahari telah memancarkan cahayanya dengan begitu terang sehingga menembus sela-sela dinding dikamarku .
Ku buka gorden coklat yang menghiasi kamarku dan ku pandangi pemandangan kota dari atas balkon . Banyak pohon yang memberikan kesejukan disetiap pagi dan suara burung saling berkicauan untung menghiasi pagi.
Setelah beberapa saat kurasakan hangatnya pancaran matahari , kini aku kembali ke dalam kamar dan mengambil ponselku yang berada di atas nakas.
"Assalamu'alaikum !" Aku mengucap salam untuk menyapa.
"Wa'alaikumsalam !" Jawab seseorang dari sebrang.
"Bagaimana kabarnya ? Ma'af kalau selama 1 tahunan ini saya tidak menemani kamu ." Ucapku meminta ma'af.
"Alhamdulillah bu , kami semua baik-baik saja . Bagaimana kabar ibu ? Oh iya bu , tidak apa-apa kok . Kami semua juga mengerti keadaan ibu seperti apa. Dan kapan ibu akan kembali ke sini lagi ?" Balasnya dengan sopan.
"Alhamdulillah , sekarang saya jauh lebih baik . Insyaallah hari ini saya akan pergi ke sana ." Ucapku dengan senyum .
"Baik bu , kami akan menunggu kehadiran ibu. Kami sangat merindukan ibu ." Balasnya dengan gembira.
Setelah sekitar lima belas menit kami mengobrol melalui ponsel , kini saatnya aku kembali bertugas sebagai seorang istri . Menyiapkan pakaian suamiku untuk pergi ke kantor.
"Jas abu-abu dan celana abu-abu kelihatannya cocok . Kalau dasinya yang mana ya ?" Ucapku sambil berpikir .
"Tidak usah terlalu bingung . Dasi biru tua itu juga bagus ." Sambung Yulian yang mengejutkanku.
Dia memang lelaki yang selalu membuatku merasa terkejut dengan hal-hal kecil yang dia lakukan kepadaku . Ya , misalnya seperti pagi ini. Setelah memberikan pendapatnya dia langsung memelukku dari arah belakang dan secara tiba-tiba dia juga mencium pipiku yang sudah tertutupi oleh cadarku.
"Abi , kamu itu ya selalu membuat umi terkejut. Bisa nggak sih kalau masuk kamar itu ketuk pintu dulu dan mengucap salam ." Gerutuku.
"Emm... Ma'afin abi deh ! Jangan marah dong !" Ucapnya dengan tatapan mata yang memohon .
"Tapi kalau dipandang-pandang nih ya , umi itu cantik juga disaat lagi ngambek gini sama abi . Lucu , abi makin cinta sama umi ." Sambungnya lagi dengan nada yang merayu.
"Hmm... Sudah deh , jangan mulai merayu dipagi hari . Oh iya , abi jadi pergi ke kantor hari ini kan ?" Tanyaku memastikan.
"Emm.... Pengennya sih abi itu dirumah saja sama umi terus buat dedek nya Juna. Tapi sepertinya itu harus ditunda dulu , karena abi harus bekerja mencari uang untuk menafkai istri dan anak abi ." Jawabnya dengan kekonyolan.
"Issshhhh , dasar abi . Sudah deh , lebih baik abi sekarang beraiap-siap ." Ucapku dengan ketus .
__ADS_1
"Ok deh permaisurinya abi ." Rayuannya muncul kembali.
Setelah kami saling menjahili satu sama lain , akhirnya Yulian kembali fokus untuk memakai pakaian yang sudah aku siapkan dan kembali bekerja ke kantor.
"Abi , boleh tidak umi nanti pergi ke butik ?" Tanyaku meminta ijin .
Ya , sebelum aku pergi ke butik dimana itu adalah tempatku bekerja dulu , aku harus meminta ijin kepada suamiku terlebih dahulu . Karena , seorang istri tidak baik mau melakukan sesuatu atau mau pergi kemana pun kalau tidak ijin sama suaminya dahulu . Berhubung aku mau menjadi istri yang sholehah insyaallah , aku wajib meminta ijin terlwbih dahulu kepada suamiku agar mendapat ridhonya.
"Emm... Boleh , kenapa tidak coba , lagian itu kan butik milik umi juga . Jadi umi berhak datang kapan saja sesuai mau umi ." Jawab Yulian dengan senyumnya.
Setelah hampir satu jam berada didalam kamar , kini aku dan Yulian keluar menuruni tangga untuk menuju ke ruang makan . Dan di sana sudah ada papa dan mama mertuaku . Dimana papa memiliki kebiasaan yang hampir sama dengan papa Brian yaitu , membaca koran sambil ditemani secangkir kopi hitam yang berada di atas meja makan. Sedangkan mama Widia , beliau menyiapkan makanan untuk sarapan .
"Assalamu'alaikum pa , ma !" Ucap aku dan Yulian untuk menyapa mereka.
"Wa'alaikumsalam ! Wah , kalian sudah rapi saja mau kemana ?" Tanya mama Widia yang melihat kami .
"Yulian mau berangkat ke kantor ma , sedangkan Aisyah mau pergi ke butiknya." Jawab Yulian dengan sopan.
"Oh seperti itu , ya sudah kalau begitu kita harus sarapan dulu sebelum memulai aktifitas." Ucap mama Widia mengerti.
"Tunggu , kalian tidak boleh kemana-mana . Tidak ada yang boleh memulai sarapan sebelum kakak-kakak kalian hadir dimeja makan . Dan tidak ada yang mengijinkan kalian meninggalkan meja makan sebelum papa mengumumkan sesuatu hal." Ucap papa Nugraha secara tiba-tiba dengan nada tegasnya.
"Apaan sih papa . Tidak lucu tahu kalau papa pasang wajah yang begitu menyeramkan." Balas Yulian merasa aneh.
Aku mendekati Yulian suamiku agar tidak membuat sebuah perdebatan diantara mereka dipagi ini. Hingga akhirnya , kami semua menuruti kemauan papa dan menunggu kak Joko serta Humaira yang kini telah menjadi istri kakak iparku hadir dimeja makan .
Beberapa menit kemudian muncul lah sepasang pengantin baru yang sedari tadi kami tunggu-tunggu kedatangannya .
"Selamat pagi pa , ma dan kalian berdua ." Ucap kak Joko menyapa kami .
"Pagi juga ." Balas kami bersamaan.
Setelah kami semua hampir menghabiskan hidangan yang sudah disiapkan oleh pembantu dikediaman keluarga Nugraha , papa mulai mengawali sebuah pembicaraannya.
"Papa mau bertanya sama anak-anak papa ." Ucap beliau sambil menatap ke arah kami .
"Papa mau bicara apa memangnya ?" Tanya kak Joko penasaran.
"Kalian kan belum berbulan madu , jadi kalian mau berbulan madu kemana ?" Tanya beliau yang membuat kami seketika berhenti makan.
__ADS_1
"Kalau Yulian sama Aisyah sepertinya tidak memiliki rencana untuk berbulan madu pa , karena kami tidak tega meninggalakan Juna . Dan tidak mungkin juga kalau kita mengajak Juna yang masih kecil." Jawab Yulian menjelaskan.
"Kalau kami belum memikirkan tentang itu pa ." Jawab kak Joko singkat.
Sejenak kami terdiam , karena papa tidak merespon jawaban kami masing-masing. Namun setelah beberapa menit kemudian papa memulai pembicaraannya lagi .
"Bagaimana bisa kalian tidak memiliki rencana untuk berbulan madu ? Kalian harus pergi untuk berbulan madu . Karena , papa sudah memesankan kalian tiket ke kairo untuk berbulan madu. Kalian harus pergi , jangan ada yang menolak perintah papa ." Ucap papa mertuaku dengan keseriusannya .
Kami pun terkejut dengan apa yang papa katakan dan yang telah kami dengar. Bagaimana bisa papa merencanakan itu semua diluar nalar kami. Sebenarnya apa keinginan papa ? Mengapa papa begitu berantusias untuk kami berbulan madu ?
"Tapi pa , bagaimana mungkin Yulian dan Aisyah meninggalkan Juna ?" Tanya Yulian .
"Kamu tenang saja , Juna akan bersama papa dan mama. Karena , papa dan mama juga akan berlibur ke korea. Dan mengapa papa memilihkan kota Kairo untuk kalian berbulan madu , yaitu agar kalian sekalian bisa mengurus perusahaan papa di sana yang baru saja papa mulai." Balas papa menjelaskan.
"Tapi , kenapa papa sangat menginginkan kami berbulan madu ?" Tanyaku memberanikan diri .
"Karena , papa ingin segera memiliki cucu dari kalian selain Juna ." Jawab papa Nugraha yang membuat kami terkejut.
Yulian dan kak Joko pun tersedak minuman dan hampir saja menyemburkannya , tapi untungnya itu belum terjadi . Sedangkan papa hanya tersenyum setelah mengatakan permintaannya. Dan mama Widia , beliau juga mengikuti papa Nugraha yang meminta kami untuk segera berangkat.
Kami menghela nafas panjang . Berhubung kami tidak bisa menolak perintah papa , kami pun berhasil dibuat tidak bisa apa-apa selain menuruti perintah papa . Dan asal kalian tahu , kapan kita akan berangkat ke Kairo ? Itu yang lebih mengejutkan untuk kami , karena keberangkatan kami dijadwalkan besok pagi . Bukan kah itu terlalu buru-buru ? Tapi apalah daya kami , kami hanya bisa menurutinya.
Hari sudah mulai siang . Jam sudah menujukkan pukul delapan . Aku pun bergegas untuk pergi ke butik . Sedangkan Yulian dan kak Joko harus pergi ke kantor . Kalau Humaira , sementara dia tinggal dirumah menemani mama dan Juna.
Waktu begitu cepat berlalu . Setelah aku selesai dengan pekerjaanku di butik , aku pun pergi ke tempat sahabatku yaitu , Aida . Sudah lama sekali aku tidak menjumpainya. Aku begitu merindukannya.
Aku mengobrol dengan Aida begitu lama , karena saking lamanya kami tidak bertemu . Obrolan kami pun dipenuhi dengan canda tawa.
Setelah usai berkunjung ke tempat Aida aku pun harus menemui suamiku ditempat yang sudah kami janjikan karena , kami ingin berkunjung ke tempat seseorang yang pernah kami kenal dengan sangat baik .
Tempat itu tidak bisa kami lupakan begitu saja karena , banyak sekali kenangan diantara kami bersama nenek Jubaidah . Seorang nenek yang pernah mambantu kami dan mengijinkan kami untuk berteduh digubuk tua miliknya.
"Assalamu'alaikum !" Kami berucap salam .
"Wa'alaikumsalam ." Balas beliau dari dalam.
"Nenek , apa kabarnya ?" Tanyaku sambil memeluk nenek Jubaidah.
"Kalian ! Ternyata kalian benar-benar datang kemari dan menepati janji kalian ." Ucap beliau dengan rasa rahu.
__ADS_1
"Iya nek. Karena kami sudah berjanji kepada nenek . Dan kami juga merindukan nenek Jubaidah." Balas Yulian yang tidak mengurangi rasa sopannya.
Kami mengobrol begitu lama dengan nenek Jubaidah . Dan kami juga memngatakan bahwa kami sudah menikah . Dan kami juga memutuskan untuk mengajak nenek Jubaidah tinggal dirumah kami . Karena , kami merasa kasihan kepada nenek Jubaidah yang tinggal dirumahnya sendirian . Alhamdulillah , nenek Jubaidah pun mau mengikuti perkataan kami dan tinggal bersama kami .