HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
BAB 45


__ADS_3

"Aisyah! Apakah benar itu tadi Aisyah? Tapi, dengan siapa itu? Bukankah lelaki itu yang bersama Aisyah di Rumah Sakit? Kenapa mereka menaiki motor berdua? Dan memegang pinggang pula lagi Aisyah. Apakah itu kekasih barunya?" Ucap Yulian bertanya-tanya setelah melihat Aisyah dan Fadli yang melintas di hadapannya.


Ya, mungkin Yulian telah lupa dengan sosok Fadli yang pernah menegurnya. Karena pertemuan diantara mereka waktu itu cuma sebentar. Dan kemudian, Yulian yang menghilang. Sehingga tidak ada pertemuan lagi diantara mereka di kampus.


🌿🌿🌿🌿


"Seperti Yulian, tapi kenapa dia ada di jalan itu? Akh sudahlah, mana mungkin juga Yulian ada di sekitar sini." Ucapku dalam hati.


Setelah hampir 1 jam perjalanan, akhirnya aku dan kak Fadli sampai di tempat wisuda. Banyak tamu dan mahasiswi maupun mahasiswa lainnya saling berdatangan. Termasuk, dia.


"Aisyah!" Seseorang memanggilku dan itu membuatku merasa terkejut.


"Aida! Kamu?" Ucapku yang memandangi Aida dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Iya Aisyah, aku sekarang sudah berbadan dua. Dan alhamdulillah, sekarang sudah hampir 7 bulan." Balas Aida menjelaskan.


"Wah, alhamdulillah kalau begitu. Semoga ibu dan dede nya sehat sampai lahiran nanti." Ucapku kepada Aida.


"Oh iya Aisyah, kenapa kamu datang sama pak Fadli?" Tanya Aida menyelidik.


"Oh itu, iya soalnya..." Belum sempat ku lanjutkan ucapanku, tiba-tiba datanglah sosok nya yang menyebalkan.


"Wah ada Aida ya ternyata! Selamat ya Aida atas ke lulusan kamu dan kehamilan kamu." Ucap kak Fadli dengan senyum yang mempesona.


"Iya pak Fadli, terimakasih!" Ucap Aida dengan sopan.


"Ayo...!" Ucap kak Fadli sambil menekuk lengannya yang diletakkan dipinggang, seakan sosok pangeran telah datang menjemput putrinya.


Begitu konyolnya kak Fadli dan itu membuatku malu. Bahkan mungkin, membuat Aida merasa aneh dan berpikir yang tidak-tidak. Bagaimana tidak coba, aku kan belum cerita apa-apa tentang hubunganku dengan kak Fadli.


🌹🌹🌹🌹


Aku dan kak Fadli kini duduk berjauhan, karena status kita yang berbeda. Aku sebagai mahasiswi, sedangkan kak Fadli seorang dosen.


"Aisyah, aku boleh bertanya sesuatu sama kamu?" Tanya Aida yang berbisik.


"Tanya apa Aida?" Balasku kemudian.


"Bagaimana hubungan kamu sama Yulian?" Tanya Aida yang tak ku duga.


"Yulian? Kenapa kamu tiba-tiba bertanya tentang Yulian?" Tanyaku merasa heran.


"Ya tidak apa-apa sih, cuma aku lihat tadi kamu nampak akrab dan dekat sama pak Fadli." Ucap Aida dengan ragu.

__ADS_1


Tuh kan, apa yang aku bilang padti benar. Bahwa Aida akan berpikir yang tidak-tidak tentangku dan kak Fadli. Dan aku membalas pertanyaan Aida dengan tertawa terkekeh, karena menurutku lucu saja. Tapi, mau bagaimana lagi coba namanya juga belum tahu cerita yang sebenarnya.


"Kok ketawa sih Aisyah. Jawab dong pertanyaanku. Aku kan sudah lama tidak mendengar kabar kamu juga." Ucap Aida sedikit merengek. Sebenarnya sih aku ingin sekali bercerita kepada Aida, tapi ketika aku mau memulai ceritaku eh malah terhenti karena seseorang memanggilku.


"Aisyah!" Teriak kak Maryam yang baru datang bersama rombongan.


Aku pun menghampiri mereka dan meninggalkan Aida yang duduk dengan ibu dan suaminya. Ma'afkanlah aku Aida, karena aku belum sempat bercerita kepadamu. Hohoho...!


"Assalamu'alaikum Ma-Pa, Ibu-Ayah dan kak Maryam." Ucapku sambil mencium tangan mereka.


"Wa'alaikumsalam sayang." Jawab mereka semua secara bergantian.


"Dimana kakak kamu?" Tanya ayah Muchtar yang mencari kak Fadli.


"Tuh, dia ada disitu bersama dosen-dosen yang lain yah." Jawabku sambil menunjuk kearah kak Fadli.


"Baiklah, ayah akan bicara sebentar dulu sama kakak kamu ." Ucap ayah dengan keseriusan.


Entahlah, ada apa dengan ayah. Dan apa yang akan dibicarakan dengan kak Fadli, aku pun tak tahu. Apa mungkin soal pernikahan yang akan diadakan besok? Akh entahlah, aku harus fokus dulu sama acara wisudaku hari ini.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Setelah beberapa jam telah berlalu, acara hari ini akhirnya sampai juga. Kini saatnya aku berfoto dengan keluarga besarku. Dan hari ini, hari yang tidak akan pernah aku lupakan.


"Baiklah kak, siap!" Balasku dengan senyuman.


"Tapi kak, kita naik apa? Aku kan dibonceng kak Fadli naik motor tadi." Sahutku lagi.


"Tenang saja, kakak tadi bawa mobil sendiri kok." Ucap kak Maryam sambil menunjuk sebuah mobil merah yang tak asing bagiku. Iyalah tidak asing, kan itu mobilku sendiri.


"Wah, ok lah kalau begitu ." Balasku yang mengiyakan.


Aku dan kak Maryam terpisah dari rombongan papa, mama, ayah dan ibu. Sedangkan kak Fadli, dia masih sibuk dengan urusan para dosen.


"Buat semuanya, kita berdua minta ijin harus pergi dulu karena, mau ambil gaun." Ucapku yang berpamitan dan tak lupa dengan mencium tangan mereka semua.


"Iya, kalian hati-hati." Balas papa.


Kami pun pergi menuju ke arah mobil namun, sebelum itu kami menguacpkan salam. Sekarang, aku dan kak Maryam akan memasuki mobil tapi, aku terhentikan saat akan membuka pintu mobil.


"Aisyah, bagaimana dengan pertanyaanku yang belum kamu jawab tadi?" Tanya Aida kembali.


"Eh, ada Aida. Assalamu'alaikum Aida." Ucap kak Maryam yang menyapa Aida.

__ADS_1


"Eh, ada kak Maryam. Wa'alaikumsalam kak. Kamu dan kak Maryam mau pergi kemana memangnya? Apa kalian mau pergi ke suatu tempat?" Tanya Aida semakin penasaran.


"Iya Aida, kita memang mau ke suatu tempat. Makanya kita buru-buru banget. Ma'af ya Aida, kita harus pergi dulu." Balas kak Maryam menjelaskan.


"Oh gitu ya kak, ya sudah kalau begitu." Ucap Aida dengan singkat.


"Oh iya Aida, ini buat kamu. Jangan lupa datang ya besok." Ucap kak Maryam sebelum masuk ke dalam mobil dengan menyodorkan sebuah undangan kepada Aida.


Mungkin, saat ini Aida semakin dibuat bertanya-tanya dengan undangan itu. Namun, aku tidak bisa memberikan penjelasan apapun saat ini kepada Aida. Karena, waktu sedang tidak berpihak kepadaku. Sekali lagi ma'afkan lah aku Aida.


"Aisyah, kamu tahu tidak bagaimana perasaan kakak saat ini?" Ucap kak Maryam saat perjalanan.


"Hmm... Iya-iya, yang besok mau menikah." Balasku dengan senyum.


Aku dan kak Maryam saling bercanda dan menggoda satu sama lain. Kak Maryam yang terlihat begitu bahagia, berbada lagi denganku. Aku, mungkin hanya bermimpi bisa memiliki hubungan yang harmonis dan tidak rumit.


"Terus kita kemana ini kak?" Tanyaku dengan menengok jalan-jalan sekitar.


"Kamu lurus saja sebentar. Ada butik dipinggir kanan jalan, kita berhenti saja disitu." Jawab kak Maryam menjelaskan.


Akhirnya aku dan kak Maryam sampai juga di tempat tujuan kita. Langsung saja kita masuk ke dalam butik itu dan melihat gaun yang kakak pesan.


"Wah, kak cantik banget." Pujiku kepada kak Maryam setelah melihat kak Maryam memakai gaun putih yang dihiasi pernak-pernik bagaikan mutiara di bagian dada.


πŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•Š


Ketika kami sedang sibuk dengan urusan pergaun nan, suara handphone kak Maryam berbunyi dan seketika itu membuat kami harus berhenti sejenak untuk meninggalkan aktifitas kami.


"Iya wa'alaikumsalam." Jawab kak Maryam setelah mengangkat telfonnya.


"Apa? Baiklah, saya akan segera ke sana." Jawab kak Maryam lagi dengan ekspresi wajah yang tegang.


Sekaligus itu membuatku bertanya-tanya. Ada apa dan kenapa? Kenapa kak Maryam nampak serius setelah menerima telfon itu. Apa yang sebenarnya terjadi?


"Kak, ada apa?" Tanyaku memastika .


"Emm... Teman kamu Kamila saat ini sedang kritis, dan kakak harus datang ke sana." Jawab kak Maryam menjekaskan.


Aku terkejut dan benar-benar terkejut setelah mendengar apa yang diucapkan kak Maryam.


BERSAMBUNG...!


Bagimana ya kelanjutan ceritanya? Penasarankan? Insyaallah nanti malam up lagi ya!

__ADS_1


__ADS_2