
πΏπΏπΏπΏ
Setelah acara lamaran selesai, keluarga Nugraha kembali pulang. Dan di sana nampak wajah pak Nugraha dan bu Widia yang begitu bahagia.
"Akhirnya ya Ma, sebentar lagi kita akan punya anak perempuan lagi. Papa jadi tidak sabar menunggu dua hari lagi." Ucap pak Nugraha serasa bahagia
"Iya ya Pa, Mama juga senang sekali. Akhirnya Mama punya anak perempuan yang bisa bantuin Mama masak, belanja bareng dan semuanya. Pasti menyenangkan." Balas bu Widia.
"Ma-Pa, jangan berlebihan begitu lah!" Sambung Joko yang masih fokus menyetir.
"Apa sih kamu itu Joko, tidak apa-apa kan kalau Mama dan Papa bilang begitu!" Ucap bu Widia.
Selama perjalanan menuju kembali ke rumah, mereka hanya bercanda gurau membicarakan menantu mereka. Dan sesekali meledek putranya yaitu, Joko.
πΉπΉπΉπΉ
"Kenapa serasa membosankan tanpa kehadiran kamu di sini? Dan kenapa kamu belum kembali juga?" Tanya Aisyah dalam batin nya.
"Tut... Tut... Tut...!" Suara handphone berdering.
"Halo assalamu'alaikum kak!" Ucap Aisyah menjawab telfonnya.
"Wa'alaikumsalam Aisyah! Kenapa wajah kamu seperti itu?" Tanya Fadli.
Ya... Saat ini memang Fadli dan Aisyah sedang melakukan video call bersama. Karena kebetulan acara syukurannya sudah selesai. Jadi, Fadli memutuskan untuk menelfonnya.
"Tidak sih kak, Aisyah cuma bosan saja. Bagaimana acaranya kak?" Tanya Aisyah.
"Alhamdulillah acaranya lancar. Bosan kenapa kamu? Memangnya Yulian tidak sedang bersama kamu?" Lagi-lagi Fadli bertanya.
"Iya nih kak, Yulian memang tidak ada di sini. Memangnya Yulian tidak datang ke acara syukurannya, soalnya sudah dari tadi siang loh dia perginya." Jawab Aisyah merasa khawatir.
"Tidak tuh, Yulian tidak di sini sedari tadi. Memangnya dia tidak ngabarin kamu?" Tanya Maryam.
"Tidak kak. Aisyah merasa khawatir deh kak. Soalnya Aisyah telfon sedari tadi tidak di angkat juga." Jawab Aisyah.
"Ya sudah, kamu jangan khawatir seperti itu. Mungkin saja dia sedang sibuk dengan Juna atau dengan pekerjaannya. Kamu istirahat saja dulu." Tutur Maryam.
"Baiklah kak, aku coba tungguin saja dia dulu." Balas Aisyah sedikit tenang.
Obrolan mereka telah terhenti dengan ucapan salam sebagai penutup. Dan Aisyah kembali menanti suami tercintanya sambil membaca ayat-ayat Al-Qur'an.
π¦π¦π¦π¦
"Eyang...!" Teriak Juna saat melihat eyangnya.
"Sayang..! Juna sudah makan?" Tanya bu Widia sambil memeluk Juna.
__ADS_1
"Sudah eyang, tadi makan sama abi dan bibik." Jawab Juna.
"Emm...begitu! Terus abi kamu dimana?" Tanya pak Nugraha menyambungi.
"Assalamu'alaikum Pa-Ma!" Ucap Yulian tiba-tiba.
"Wa'alaikumsalam!" Jawab bu Widia dan pak Nugraha bersamaan.
"Bagaimana acaranya Ma-Pa?" Tanya Yulian berbasa-basi.
"Alhamdulillah, lancar acaranya. Dan hari pernikahannya pun akan di laksanakan besok lusa." Jawab bu Widia bahagia.
"Alhamdulillah! Oh iya Ma-Pa, Yulian harus pamit dulu ya! Yulian harus kembali ke rumah sakit, takutnya Aisyah sudah nungguin lama." Ucap Yulian sambil mencium tangan kedua orang tuanya.
Saat akan melangkah kan kakinya menuju keluar tiba-tiba tangan bu Widia memegang lengan Yulian dan hingga akhirnya, langkah Yulian pun terhenti.
"Ada apa Ma?" Tanya Yulian.
"Tatap mata Mama, katakan kalau kamu memang benar-benar sedang tidak baik-baik saja. Naluri seorang ibu tidak bisa di bohongi. Jawablah dengan jujur." Tutur bu Widia kepada putranya.
"Ma'afin Yulian M, memang saat ini Yulian kurang sehat. Tapi, Yulian tidak apa-apa kok. Mama tidak usah khawatirin Yulian. Ya sudah, Yulian harus pergi." Balas Yulian dengan senyum.
"Tunggu, Mama tidak akan mengijinkan kamu untuk pergi sendiri. Jadi, biarkan mas kamu yang mengantarkan kamu dan menemani kamu di sana." Ucap bu Widia dengan tegas.
"Joko.... Joko...!" Teriak bu Widia.
"Iya Ma...!" Balas Joko yang masih di luar.
Joko pun berlari masuk ke dalam dan mencari pusat suara yang memanggilnya. Hingga dia pun menemukan sosok ibunya dan adiknya yang berdiri di dekat ruang tamu.
"Ada apa Ma?" Tanya Joko.
"Mama mau minta tolong, tolong temani adik kamu di rumah sakit. Karena, Mama tidak tega melihatnya pergi dan di sana sendiri. Lihat lah, dia nampak begitu pucat." Jawab bu Widia.
"Ma... Mas... Tidak usah, Yulian bisa kok pergi sendiri." Sambung Yulian dengan keteguhannya.
Lagi-lagi tidak di gubris oleh Mamanya. Dan Joko pun menuruti permintaan Mamanya, hingga Yulian tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menuruti apa yang di perintahkan mama dan kakaknya itu.
ππππ
"Ya Allah, ku rasa dia memang lelaki yang baik. Terimakasih Engkau telah menghadirkan dia dalam hidup ku. Dan semoga saja Engkau lancarkan kami sampai hari pernikahan kami." Ucap Humaira dalam do'a nya.
Dia lah gadis berjilbab yang memiliki paras yang sangan cantik dan tubuh yang menarik. Dia pun gadis yang berpendidikan tinggi, bahkan dia baru pulang dari luar negeri untuk masa pendidikannya.
"Joko, dia lelaki yang unik. Padahal aku belum pernah mengenalnya, tapi dia sudah memutuskan untuk menikahiku." Puji Humaira kepada Joko.
Kini Humaira sedang di landa asmara. Dia pun juga merasakan ketidak sabaran untuk menunggu acara pernikahannya tiba. Dan sering kali dia memikirkan tentang Joko, lelaki yang akan menjadi imam dalam rumah tangganya.
__ADS_1
ππππ
"Bun...!" Panggil Fadli pelan.
"Hmmm...!" Hanya di jawab deheman oleh Maryam.
"Karina kan sudah tidur...!" Belum sempat melanjutkan kalimatnya sudah terpotong oleh Maryam.
"Terus kenapa ayah?" Tanya Maryam yang masih dengan kesibukannya.
"Bagaimana kalau kita merajuk cinta, menjalankan sunah rasul bun. Kan, sudah lama juga kita tidak melakukannya." Ucap Fadli dengan manja.
"Ayah mengajak bunda? Emm.... Dengerin bunda, ayah tidak perlu meminta ijin sama bunda. Ketika ayah mengajak bunda dan jika bunda mampu, bunda akan mengiyakan permintaan ayah. Karena, itu adalah kewajiban seorang istri untuk melayani suaminya." Tutur Maryam.
"Berarti bunda mau?" Tanya Fadli memastikan.
"Iya ayah!" Jawab Maria dengan senyum.
Ketika Maryam sudah mengiyakan permintaan Fadli, tanpa menunggu lama Fadli pun langsung membaringkan tubuh Maryam di atas kasur dengan pelan. Dan secara perlahan, Fadli juga membuka bajunya. Begitupun dengan Maryam, dia melakukan apa yang harus dia lakukan. Kini suasana menjadi bahagia dan penuh dengan kemesraan di ranjang mereka.
ππππ
"Assalamu'alaikum!" Ucap Yulian.
"Ternyata kamu sudah tidur sayang. Ma'af ya kamu pasti sudah lama menunggu kehadiran abi." Ucap Yulian sambil mencium kening Aisyah.
"Abi, abi sudah datang!" Aisyah terbangun.
"Kenapa kamu bangun sayang? Sudah, tidur lah kembali." Tutur Yulian.
"Abi, umi pengen abi tidur di samping umi. Mau kah abi melakukan itu?" Tanya Aisyah berharap.
"Iya umi, abi mau melakukan apapun yang umi minta selama abi mampu. Ya sudah, abi akan tidur disamping umi." Jawab Yulian dengan senyum.
Aisyah dan Yulian pun tidur dengan satu ranjang di malam itu. Untung saja brangker rumah sakit lumayan besar, jadi bisa deh buat tidur berdua. Tapi, tidurnya harus dekat banget. Hihi...!
"Kenapa badannya panas ya? Apa abi sedang sakit?" Tanya Aisyah dalam batin nya.
"Abi, abi sedang sakit?" Tanya Aisyah kemudian.
"Abi kurang sehat umi, tapi tadi sudah minum obat kok. Jadi, umi tidak usah khawatir. Pasti besok abi sudah sembuh. Sudah, sekarang umi istirahat saja, abi akan tidur di samping umi dan menemani umi." Jawab Yulian menjelaskan.
Kini Aisyah dan Yulian kembali merajuk cinta dalam satu ranjang, tapi cinta yang sedang mereka rajuk berbeda ya dengan Maryam dan Fadli. Hohoho...kini kemesraan sedang terjadi di antara dua sepasang suami istri.
BERSAMBUNG....!
SAMPAI DISINI DULU YA...! JANGAN LUPA LIKE, KOMENTAR DAN VOTE KALIAN !
__ADS_1