
🌹🌹🌹🌹
Musik mulai dimainkan secara seksama. Aku melihat Yulian dan Juna masih begitu santainya. Entahlah apa yang akan mereka lakukan di atas panggung sana. Mungkinkah mereka akan bernyanyi sesuai dengan permintaan semua orang yang berada di restoran ini?
"Juna, kita mau bernyanyi apa?" Tanya Yulian dengan berbisik kepada Juna.
"Emm... Itu rahasia anak muda abi. Pertama Juna yang akan bernyanyi sendirian, lalu yang kedua giliran abi yang bernyanyi." Jawab Juna sambil memberi saran.
"Baiklah kalau begitu." Ucap Yulian kemudian.
Musik kembali dimainkan. Alunan petikan gitar yang senada. Juna mulai memainkan gitar yang dipegangnya.
LAGU....
Waktu pertama kali...
Ku lihat dirimu hadir...
Rasa hati ini, inginkan dirimu...
Hati tenang mendengar...
Suara indah menyapa...
Geloranya hati ini...
Tak ku sangka...
Rasa ini tak tertahan...
Hati ini selalu untukmu...
Terimalah lagu ini, dari orang biasa...
Tapi cintaku padamu luar biasa...
Aku tak punya bunga, aku tak punya harta...
Yang ku punya hanyalah hati yang setia...
Tulus padamu...
Du..du..du..
Hari-hari berganti...
Kini cinta pun hadir...
Melihatmu, memandangmu bagai bidadari...
Lentik indah matamu...
Manis senyum bibirmu...
Hitam panjang rambutmu, anggun terikat...
Rasa ini tak tertahan...
Hati ini selalu untukmu..
Terimalah lagi ini, dari orang biasa...
Tapi cintaku padamu luar biasa...
Aku tak punya bunga, aku tak punya harta...
Yang ku punya hanyalah hati yang setia...
Tulus padamu...
selesai...
__ADS_1
Lagu yang dibawakan Juna sudah selesai. Juna oun menghentikan petikan gitarnya. Dan semua orang banyak sekali yang bertepuk tangan. Aku tidak menyangka bahwa Juna bisa bernyanyi dan bermain gitar sebagus itu.
"Wah Juna, ternyata bagus sekali suara kamu sayang!" Ucapku dalam batin.
Aku merasa terharu sekaligus bangga kepada putraku. Karena mampu menampilkan lagu yang membuat semua orang ikut menikmatinya.
Aku masih duduk terdiam melihat mereka yang masih di atas panggung. Dan sekarang apalagi yang akan mereka lakukan?
Lagi-lagi Juna memainkan gitarnya. Memetik satu persatu senar gitar itu dengan senada dan seirama. Aku semakin penasaran dengan apa yang akan mereka lakukan.
"Teruntuk istriku, aku cuma berharap semoga kita bisa menua bersama." Ucap Yulian.
LAGU...
Cinta kita memang tidak semudah yang dibayangkan...
Dulu kita saling menyakiti dan hampir menyerah...
Tapi kini kita ada tuk saling menyempurnakan...
Ku berdo'a untuk bisa hidup dan menua bersamamu..
Hanya kamu di hatiku yang mampu mengertiku...
Menjadikan diriku yang lebih baik...
Aku menyayangi kamu...
Kamu slalu setia menemani diriku...
Cinta kita memang tidak semudah yang di bayangkan...
Dulu kita saling menyakiti dan hampir menyerah...
Tapi kini kita ada tuk saling menyempurnakan...
Ku berdo'a untuk bisa hidup dan menua bersamamu...
Petikan gitar telah berhenti bersamaan dengan lagu yang dinyanyikan Yulian. Kekompakan anak dan ayah kini menjadi sesuatu hal yang membanggakan.
"Terimakasih buat semuanya yang sudah mendengarkan dan terimakasih atas tepuk tangan dari kalian semuanya." Ucap Yulian.
Setelah mengucapkan akan hal itu, Yulian dan Juna turun dari panggung dan kembali menghampiriku yang masih setia menjadi penontonnya.
"Emm... Emm... Sepertinya ada yang sedang terpesona nih dengan penampilan kita abi." Ungkap Juna menggodaku.
"Kamu benar sayang, buktinya orang itu sedang senyum-senyum sendirian." Sahut Yulian ikut menimpali.
Aku benar-benar heran dengan tingkah laku mereka yang semakin hari memiliki kesamaan. Apalagi kalau disuruh menggoda uminya ini. Pasti mereka jagonya.
"Hmm... Kalau umi memang terpesona lalu kenapa? Apakah umi akan mendapatkan hadiah dari kalian?" Tanyaku kepada mereka.
Mereka saling menatap dan seakan Yulian memberikan arahan kepada Juna. Juna pun melakukan hal yang sama. Ia menganggukkan pelan kepalanya yang seakan dia mengerti arahan Yulian. Lalu mereka mendekatiku dan.
"Emmmuuuaaaccchhh...." Ciuman pun melayang di kedua pipiku secara bersamaan.
"Kalian...! Malu tahu dilihat banyak orang." Ucapku merasa malu sambil melihat ke arah sekeliling.
"Biarin saja, biar semua orang tahu bahwa wanita yang sedang bersamaku ini adalah istri tercintaku." Ucap Yulian yang didukung anggukan oleh Juna.
Tiba-tiba pelayan datang menghampiri kami dan membawakan makanan yang sudah kami pesan. Dan seketika kami menghentikan canda tawa kami.
"Terimakasih ya mbak!" Ucapku berterimakasih.
"Iya mbak sama-sama." Balas pelayan itu.
Pelayan itu pun pergi setelah meletakkan dan menyajikan makanan kami. Setelah pelayan itu pergi, kami menyantap makanan yang sudah tersedia dimeja makan kami. Dan kami sungguh menikmatinya.
****
"Aku tidak menyangka bahwa suara kamu sebagus itu Juna. Aku semakin merasa tertarik dengan dirimu. Dan ternyata, dibalik sikapmu yang begitu cuek dan pendiam, kamu memiliki rasa penyayang." Ungkap Mentari mengagumi.
__ADS_1
Ya, kebetulan mentari juga sedang berada di restoran itu bersama keluarganya juga. Dan dia juga melihat Arjuna bermain musik dan bernyanyi. Sehingga dia merasa jatuh hati kepada Arjuna.
*****
"Bagaimana, kalian suka makan malam di sini?" Tanya Yulian kepadaku dan Juna.
"Iya abi, Juna sangat suka." Sahut Juna dengan senyumannya.
"Kalau kalian suka, umi juga suka." Jawabku kemudian.
"Baiklah, lain waktu kalau abi sudah pulang ke Indonesia lagi, abi akan mengajak kalian makan di sini." Ucap Yulian.
Dan kini kami kembali menikmati makanan kami. Ketika aku sedang menikmati makanan itu, tiba-tiba saja aku merasakan ingin buang air kecil yang tidak bisa ku tahan. Sehingga aku memutuskan untuk pergi ke toilet.
Setelah sampai ditoilet aku harus bersabar untuk mengantri. Karena kebetulan yang berada didalam sudah penuh. Dan alhamdulillah setelah bersabar, aku mendapatkan toilet yang kosong.
Ketika aku sudah merasa lega, aku putuskan untuk segera kembali dan bergabung bersama kedua orang yang aku cintai. Aku berjalan dengan sangat hati-hati, karena kebetulan lantainya sedikit licin.
"Awas tante...." Ucap seorang gadis.
Ya, ternyata aku kurang berhati-hati dan hampir membuatku terjatuh. Namun aku beruntung karena ada anak gadis yang menolongku untuk menahan tubuhku. Jadi, aku tidak sampai jatuh ke lantai.
"Umi, umi kenapa?" Tanya Juna.
"Tadi umi hampir terpeleset saat akan kembali ke sini. Tapi untung saja ada gadis manis ini yang menolong umi." Jawabku menjelaskan.
"Mentari?" Panggil Juna.
Ya, ternyata Mentari lah yang menolong Aisyah. Begitu sangat kebetulan bukan.
"Hai Juna," ucap Mentari kemudian menyapa Juna.
Aku merasa terkejut ketika Juna putraku mengenali gadis yang menolongku. Seketika aku bertanya kepada Juna tentang gadus itu. Dan ternyata mereka satu sekolah, bahkan mereka satu kelas.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Aku juga sudah merasakan lelah. Dan kini kami memutuskan untuk kembali pulang setelah aku mendapatkan omelan dari Yulian kerena kejadian tadi.
Yulian mengambil mobil yang terparkir ditempat parkiran. Dan setelah mobil itu berhenti dihadapanku dan Juna, kami berdua masuk ke dalam mobil. Setelah itu Yulian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Setelah perjalanan yang cukup lama, akhirnya kita sampai juga dirumah. Dan tiba-tiba kami dikejutkan oleh seseorang setelah kami membuka pintu.
"Assalamu'alaikum!" Ucap kami bersamaan.
"Wa'alaikumsalam." Balas mas Joko.
"Loh, ada mas Joko?" Ucapku terkejut.
Mas Joko tersenyum sambil menganggukan kepalanya secara pelan. Tiba-tiba mas Joko menanyakan keberadaan Yulian yang kebetulan masih memarkirkan mobil di garasi.
"Akh itu dia." Ucap mas joko setelah Yulian memasuki rumah.
"Mas Joko?"
"Iya Yulian, aku datang ke sini untuk mengantarkan kamu ke bandara. Bukankah dua jam lagi jadwal penerbangan kamu?" Jawab Joko.
"Iya mas. Baiklah, kalau begitu aku bersiap-siap dulu." Ucap Yulian mengiyakan.
Aku dan Yulian naik ke atas tangga untuk menuju ke kamar kami. Dan aku membantu apa yang harus dibawa oleh Yulian. Dan alhamdulillah, akhirnya semua barang-barang yang akan dibawa sudah siap.
"Ma'afkan abi, umi. Abi tidak bisa menemani umi disaat umi sedang mengandung. Insyaallah, abi akan segera menyelesaikan semuanya agar segera kembali ke pulang ke Indonesia. Ya sudah, abi harus berangkat sekarang. Umi jaga diri baik-baik." Ucap Yulian yang membuatku merasa terharu.
Yulian memelukku dengan erat setelah mengucapkan kata-kata yang hampir membuatku menitihkan air mata. Dan tidak lupa dia memberikan kecupan dikeningku.
Setelah itu, kami keluar dari kamar. Dan di kuar kamar kami ternyata ada Juna yang siap melayangkan pelukannya untuk abinya. Dan saat mereka berpelukan, tangisan Juna pecah.
"Sudah, jangan menagis. Abi kan cuma satu tahunan. Masak jagoan abi yang sudah besar ini masih menangis. Ingat, kamu harus menjaga umi dan dedek bayi." Ucap Yulian menyemangati Juna.
"Baik abi. Juna akan menjaga umi dan dedek bayi. Abi baik-baik di sana." Balas Juna sambil menghapus air matanya.
Setelah cukup tenang, kami bertiga menuruni tangga untuk turun mengantar Yulian berangkat ke bandara.
"Ya sudah, abi berangkat dulu. Kalian jaga diri baik-baik." Ucap Yulian.
__ADS_1
Aku dan Juna mencium telapak tangan Yulian secara bergantian. Dan setelah itu Yulian berpamitan untuk segera menuju ke bandara. Aku selalu berdo'a untuk kebaikannya dan kelancarannya dalam setiap perjalanan serta dalam setiap langkah kakinya.