HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Rasa Yang Menyelimuti Hati


__ADS_3

Acara pernikahan Jesica pun telah berakhir tepat pukul setengah satu siang. Dan aku meminta kepada Arjuna untuk mengajak Cahaya pulang terlebih dahulu, karena aku takut jika Cahaya akan kelelahan dalam keramaian seperti hari ini. Begitupun dengan Arjuna yang mengiyakan permintaanku. Sedangkan aku, aku harus bertahan sebentar di sana untuk mengurus sisa acara pernikahan mereka.


"Umi segera pulang, jangan terlalu capek juga!"


"Iya, Umi akan segera pulang jika pekerjaannya sudah selesai. Ya sudah, kasihan Cahaya yang perlu waktu untuk beristirahat. Karena bukan hanya Cahaya saja yang harus kamu jaga." Kulukiskan senyumku kepada Arjuna.


"Assalamu'alaikum." Arjuna mengucap salam. sesudah Dia mencium punggung tanganku.


Hal sama pun telah dilakukan oleh Cahaya. Setelah itu, mereka pergi meninggalkanku yang masih bergelut dengan acara pernikahan Jesica. Dan setelah kepergian Arjuna dengan Cahaya, seketika aku menemui Safira untuk membicarakan hal penting kepadanya, yang masih meliput tentang acara hari ini.


"Safira, nanti kamu urus semuanya bagian pemotretan yang tadi. Dan aku akan berbincang sebentar dengan Jesica." Terlihat Jesica yang menatapku.


"Baik, Bu Aisyah." Safira mengangguk pelan.


Dan aku mempercayakan segalanya kepada Safira. Setelah itu aku bergegas menuju di mana Jesica yang seakan sedang menantiku. Entahlah, apa yang ingin dibicarakan lagi denganku. Sedangkan aku merasa semua urusanku dengannya sudah selesai hari itu juga. Akan tetapi, tidak ada salahnya juga jika menemaninya sebentar saat dunianya terasa begitu indah. Bahkan kota Medan di hari itu seolah mendukungnya, membuat seluruh kota Medan menguning karena matahari telah memancarkan cahayanya dengan begitu terik. Sehingga tamu undangan banyak yang menghadiri acara pernikahan yang digelarnya.


"Thanks you so much, Umi Aisyah. I'm so happy, karena kepercayaanku kepada Umi benar-benar Umi pegang. Sehingga tidak ada satu pun yang membuatku merasa kecewa di hari spesialku." Jesica menatapku seraya memperlihatkan wajahnya yang sangat merasa bahagia.


"Alhamdulillah jika aku sudah membuatmu bahagia, Jesica. Karena bagiku, kepuasan customer Aisyah Galery harus diutamakan. Dan ... oh iya, sepertinya aku harus pergi sekarang, karena masih ada pekerjaan lain yang harus aku selesaikan segera." Aku berpamitan kepada Jesica.


"Oh baiklah, silahkan! Saya akan mengantarkan Umi sampai di depan gedung ini." Jesica melangkah tepat dibelakangku.

__ADS_1


Aku pun menuju di mana mobil yang menjadi kendaraanku telah terparkir. Setelah itu, aku menyalakan mesin mobilnya dan sebelum aku pergi meninggalkan Jesica tidak lupa untukku mengucapkan salam kepadanya. Meskipun aku tahu Jesica bukanlah yang menganut agama Islam. Tapi, mengucapkan salam sudah biasa aku lakukan, sehingga melekat dalam diriku saat hendak pergi ataupun masuk ke dalam rumah yang tidak kukenal.


Saat dalam perjalanan yang panjang tiba-tiba ponselku berdering. Sehingga aku segera memarkirkan mobilku di pinggir jalan, agar aku tahu siapa yang tengah menelponku waktu itu. Dan setelah aku merogoh tas ku, akhirnya aku menemukan keberadaan ponselku. Lalu, kubuka slide layar ponselku, di sana tertuliskan nama Arumi yang beberapa kali sudah melakukan panggilan masuk ke nomor ponselku.


"Assalamu'alaikum, Arumi." Ucapku salam setelah menerima panggilan Arumi.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Aisyah. Aisyah, bagaimana dengan sekarang? Apakah kamu sudah menyelesaikan pekerjaanmu?"


"Sudah, Arumi. Tapi, saat ini aku masih berada di jalan. Bahkan aku menepi di sini hanya untuk menerima panggilan kamu. Memangnya ... apa yang ingin kamu sampaikan kepadaku?"


"Aku rasa tidak tepat jika kamu masih berada di tempat seperti itu. Lebih baik, sekarang kamu pulang dan setelah sampai di rumah kamu bisa menghubungiku saja, Aisyah." Pinta Arumi setelah melihat keadaan di sekitar jalan raya kota Medan. Yang banyak sekali kendaraan bermesin lainnya melintas di sana.


"Ya Allah! Aku menyerahkan segalanya hanya kepada Engkau, karena hanya Engkau lah yang mampu menjaga umat-Mu dengan sebaik-baiknya. Dan hanya Engkau pula yang mampu melancarkan segala urusannya di sana." Kutenangkan hati yang merasa khawatir dan gelisah.


Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya aku sampai juga di kediamanku. Dan di sana, banyak sekali orang berlalu lalang untuk membantu setiap dekorasi dan yang lainnya dalam acara nanti malam yang ku gelar. Hatiku pun ternyuh ketika melihat apa yang saat itu membuatku terkejut.


"Assalamu'alaikum, Aisyah." Ucap salam dengan suara lembut.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Mas." Seketika aku melayangkan pelukan kepadanya.


Aku benar-benar tidak menyangka jika Yulian akan kembali tepat aku mengadakan pengajian untuk mereka yang aku rindukan. Dan rasa khawatir serta gelisah yang menyelimuti hatiku seketika terhempas lalu menghilang. Namun, air mata tiba-tiba membasahi pipi ku yang berbalut dengan cadar hitam.

__ADS_1


"Hei, kenapa kamu menangis, Aisyah? Aku ada di sini hanya untukmu." Yulian menepuk pelan punggungku.


"Rasanya campur aduk, Mas. Aku bahagia kamu hadir dalam acara penting ini, tapi sebelumnya aku merasa khawatir tentang kamu yang tidak memberikan kabar sama sekali kepadaku." Aku menatap Yulian dengan dalam.


"Maafkan aku, Aisyah. Aku melakukan itu demi kamu, sengaja. Karena aku ingin memberikan kejutan ini untuk kamu." Yulian kembali memelukku dengan erat.


Pelukan itu berlangsung cukup lama, sehingga mampu mengobati rasa khawatir yang sempat menyelimuti hatiku. Dan aku juga tidak mempercayai sebuah kenyataan di mana hanya aku yang tidak mengetahui bahwa hari itu Yulian akan pulang. Bahkan Arini pun juga mengetahuinya sebelum aku bertamu di kediamannya tadi pagi. Entahlah, apa yang sebenarnya terjadi dengan Yulian? Rencana apa yang akan dilakukannya lagi.


Setelah cukup lama dalam meluapkan kerinduan yang sempat menyiksa jiwa, kini aku dan Yulian harus kembali fokus dengan acara yang sebentar lagi akan digelar di rumah ini. Kami semua disibukkan dengan banyak hal, hingga sore menjelang senja kami baru bisa mengenyatkan pantat kami dengan nyaman. Setelah cukup untuk beristirahat kami segera menuju ke kamar masing-masing dan membersihkan tubuh kami sebelum acara pengajian akan dilangsungkan.


"Sebenarnya apa yang saat ini kamu rencanakan, Mas? Bagaimana bisa kamu melakukan ini kepadaku?"


"Aku benar-benar meminta maaf kepadamu, Aisyah. Rencana ini diluar pemikiranku, proyek yang akan aku laksanakan di Surabaya di tunda selama satu pekan ke depan. Dan tepat saat itu juga Ahtar dan Papa menelponku untuk memberitahukan semuanya tentang acara pengajian ini kepadaku. Jadi, aku langsung pulang untuk memberikan kejutan kepadamu, Aisyah." Pelukan itu pun berlanjut.


Ketika Yulian kembali memelukku tiba-tiba aku teringat dengan Arumi yang mungkin saja masih menantiku untuk menelponnya. Begitupun denganku yang sukses dibuat penasaran tentang kabar Khadijah, wanita yang masih belum ku ketahui asal usul bahkan tentang dirinya. Dan sepenting apakah kabar yang ingin disampaikan Arumi kepadaku?


"Mas Yulian mandi saja dulu! Aku masih mau menelpon Arumi sebentar,"


"Emm, ok. Tapi jangan lama-lama, karena kamu juga harus membersihkan tubuhmu sebelum waktu sholat maghrib tiba. Ingat itu!"


Aku mengangguk pelan untuk mengiyakan permintaan Yulian. Setelah itu, dengan segera Yulian menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sedangkan aku, aku mengambil ponselku yang berada di atas nakas lalu, mencari nama Arumi di dalam kontak yang sudah kusimpan sebelumnya untuk memanggil nomornya. Dan tidak lama kemudian terdengar suara Arumi yang mengucap salam setelah menerima panggilan dariku.

__ADS_1


__ADS_2