HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
BAB 24


__ADS_3

Aku mau kalian dukung aku lah! Aku membuat setiap episode penuh dengan pemikiran juga. Dan tidak gampang loh buatnya. Kasih like dan komentar kalian ya..biar aku makin semangat.


πŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•Š


Aku begitu terkejut dengan keputusan papa. Aku bingung harus menjawab apa dan bagaimana, walau sebenarnya hati ini menolak.


"Pa , apa papa serius dengan keputusan papa? Tanyaku yang hanya ingin memastikan.


"Papa serius Aisyah. Papa ingin menjadi orang tua yang bisa membuat bahagia anak-anaknya." Jawab papa yang masih belum aku mengerti dengan alasannya.


"Tapi pa, pernikahan itu bukan untuk permainan. Aisyah tahu pernikahan itu sekali seumur hidup, terkecuali kalau Allah berkehendak lain. Jangan permainkan hati anak-anak papa, terutama hati bu Maria." Ucapku memberi penjelasan.


Aku menjelaskan akan hal itu kepada papaku, tapi bukan berarti aku memiliki sifat ke egoisan dalam diriku. Melainkan aku tidak ingin ada yang terluka nantinya. Karena, yang aku tahu di antara papa dan bu Maria baru saling mengenal.


"Kamu benar Aisyah, tapi papa ingin menjalani hubungan yang serius dengan bu Maria. Ini sudah papa bicarakan dengan bu Maria sebelumnya dan bu Maria juga sudah menyetujuinya. Karena, kami merasa yakin bahwa sebuah cinta akan muncul setelah waktu silih berganti." Ucap papa dengan mantap.


"Baiklah, kita turun sekarang dan kita bicarakan diruang keluarga bersama-sama." Ucapku dengan tegas.


Kami pun turun untuk menemui kak Maryam dan bu Maria. Ya Allah, lagi-lagi aku menghadapi masalah yang penuh dengan kebimbangan. Namun, aku ingin menjadi insan yang bisa menahan segala hawa nafsu-Mu.


"Bu Maria, kini saatnya kita membicarakan apa yang sudah menjadi keputusan kita di awal." Ucap papa dengan lantang dan tegas.


"Baiklah pak!" Balas bu Maria dengan singkat.


Kita semua berkumpul diruang keluarga. Dalam setiap pandangan, nampak wajah saling bertatapan dan penuh dengan keseriusan. Papa memulai pembicaraan untuk menjelaskan tentang peminangan kepada sosok ibu yang belum pernah menikah sama sekali. Ya_bisa dibilang perawan tua. Namun, setelah menemukan kak Maryam sifatnya berubah menjadi sosok ibu yang penuh dengan kasih sayang dan kesabaran.


"Bagaimana Maryam, apa jawaban kamu tentang keputusan papa?" Tanya papa kepada kak Maryam.


"Emm...kalau Maryam terserah ibu dan papa saja. Karena yang akan menjalani semuanya itu ibu dan papa." Jawab kak Maryam .


"Kalau kamu nak Aisyah, bagaimana?" Tanya bu Maria kepadaku.

__ADS_1


"Aisyah setuju. Asalkan papa dan bu Maria bahagia. Dan lebih baik, pernikahan ini secepatnya dilaksanakan. Karena Aisyah tidak mau ada masalah baru, seperti halnya sebuah fitnah dari tetangga nanti." Jawabku dengan penuh kemantapan.


"Alhamdulillah!" Ucap papa, bu Maria dan kak Maryam secara bersamaan dengan senyuman yang begitu merekah.


Alhamdulillah, insyaallah aku pun siap menerima kedatangan sosok ibu kembali. Meski aku tak pernah mengenalnya, tapi aku yakin beliau mampu menjaga hati papa dan hijrah cinta mereka.


πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦


"Aisyah mana ya? Apa dia belum datang juga ya? Aku coba hubungin dia sajalah." Ucap Aida yang mencari Aisyah disekeliling taman.


"Kring...kring...!" Suara ponsel berbunyi, menandakan ada panggilan masuk di nomor Aisyah.


"Aida? Assalamu'alaikum Aida !" Ucapku memberi salam setelah membuka slide handphone ku.


"Wa'alaikumsalam Aisyah! Oh iya, kamu ada dimana sekarang? Sudah sampai apa belum?" Tanya Aida kepadaku.


"Astaghfirullah halazim, iya Aida aku lupa kalau aku ada janji sama kamu. Aku segera menuju ke taman kalau begitu. Ma'af ya!" Ungkapku yang tak mengingat sama sekali kalau aku ada janji dengannya. Hahaha, ma'afkanlah sahabatmu ini Aida.


"Assalamu'alaikum!" Aku mengucapkan salam sebelum melangkahkan kaki keluar dan mengayuh kembali sepedaku.


"Wa'alaikumsalam, hati-hati dijalan!" Ucap kak Maryam yang menjawab salamku dengan begitu kerasnya dan tak lupa dengan senyumnya yang mampu menjadi semangatku.


🌿🌿🌿🌿


Ku susuri dalam setiap perjalanan kota yang nampak ramai saat itu. Banyak debu ataupun polusi udara yang menghiasi setiap perjalanan. Rasanya sungguh membuatku tidak nyaman, namun bagaimana lagi mau protespun juga tidak bisa. Hohoho..!


"Assalamu'alaikum Aisyah!" Seorang lelaki yang manyapaku dengan mengucap salam. Dan sungguh itu benar-benar mengejutkanku.


"Wa'alaikumsalam." Jawabku dengan acuh tanpa memandang wajahnya, namun aku mengenali sudut suara yang berdesir disebelahku. Ya_itu adalah Fadli. Entah darimana datangnya dan mengapa dia mendekatkan sepedanya disebelah sepedaku, sehingga sepeda kami pun menjadi sejajar.


"Ma'af kalau aku sudah mengganggu perjalananmu." Ucapnya dengan nada yang sedikit kecewa dan tiba-tiba saja dia berganti mengayuh sepedanya dibelakangku. Mungkin saja dia merasa aku yang begitu acuh kepadanya. Akh_sudahlah, aku juga tidak mau tau.

__ADS_1


"Aneh juga rasanya sudah membuatnya kecewa seperti itu. Serasa hatiku terluka dan bersedih." Ucapku dalam hati yang menurutku perasaan aneh sedang melandaku.


****


Akhirnya sampai juga setelah beberapa menit aku mengayuh sepedaku. Secara perlahan, sepedaku ku parkirkan di parkiran taman. Ku cari keberadaan Aida dalam setiap sudut pandanganku. Hingga akhirnya aku menemukan sosok tubuh wanita yang sedang duduk di bawah pohon. Tapi kalian jangan berpikir kalau itu hantu atau semacamnya ya! Hohoho...!


"Assalamu'alaikum Aida!" Ucap salamku yang membuat Aida sedikit terkejut.


"Wa'alaikumsalam. Ma'af, siapa ya?" Ucapnya dengan ekspresi wajah datar, bengong dan bertanya-tanya. Kalian bayangin aja bagaimana ekspresi Aida. Hehehe...!


"Emm....aku Aisyah Aida! Masak kamu lupa sama sahabatnya sendiri." Ucapku meledek Aida dengan sedikit senyum.


"Masya Allah Aisyah, kamu cantik sekali! Aku kagum sama kamu. Aku tidak percaya kalau kamu sekarang sudah memakai pakaian yang seperti itu." Ucap Aida terkejut.


Aida merasa heran, kagum dan semacamnya lah yang dia ungkapkan dengan mata yang berkaca-kaca. Entahlah, ada apa dengannya. Ya_mungkin saja dia merasa terharu kalau sahabatnya ini sudah mau bertaubat. Hahaha, aku sih tidak bermaksud sombong atau percaya diri. Aku di sini sadar dan dengan sadarku aku masih banyak kekurangan.


"Alhamdulillah, ada hidayah untukku Aida. Aku ingin memperbaiki diri ini dengan berhijrah. Semoga aku menjadi insan yang lebih baik lagi." Ucapku dengan senyum merekah dan penuh semangat dibalik cadarku.


"Amin Ya Robbal Alamin Aisyah, semoga dan tersemogakan. Tapi, aku jadi penasaran awal mula kamu mau seperti ini." Ucap Aida dengan menatapku secara keseluruhan, yaitu dari atas sampai bawah.


"Hahaha....panjang kalau diceritain nanti. Tidak kelar-kelar deh pokoknya, karena saking panjangnya!" Ungkapku dengan tertawa terkekeh.


"Tapi, aku merasa bersyukur lo Aisyah dengan perubahan kamu. Semoga kamu bisa menjadi wanita sholehah dan istiqomah." Lagi-lagi Aida mengagumiku.


Akh_rasanya aku ingin terbang setinggi langit dan bisa melihat keberadaan Yulian. Tapi, ngomong-ngomong kamu dimana sekarang Yulian? Aku merasa rindu dengan setiap surat yang kamu tuliskan untukku.


Aku serasa kehilangan akan cinta sejatiku saat tidak pernah mendengar kabar lagi tentang Yulian. Di mana Yulian lah yang menjadi kekasih impianku dan pernah singgah dihatiku.


Bersambung...!


Ahai, gimana nih menurut kalian episode kali ini? Ma'af kalau belum nyambung. Jangan lupa yah kasih dukungan kalian untuk ku. Terimakasih!

__ADS_1


__ADS_2