
Yulian berusaha meminta ijin kepada Fadli dan Maryam untuk bisa menemani Aisyah malam itu. Dan andai kalian tahu bagaimana ekspresi wajah Fadli dan Maryam, mereka saling memandangi satu sama lain dan kemudian memandang lagi ke arah Yulian.
"Kamu siapa? Ada hubungan apa antara kamu dengan adik ku?" Tanya Fadli pada akhirnya.
"Kamu kan tahu, tidak mungkin kamu menunggu Aisyah. Bahkan kamu belum menjadi mukhrim Aisyah. Kamu harus menjaga kehormatan Aisyah." Sambung Maryam.
"Aku tahu, aku bukanlah siapa-siapa. Tapi, ijinkanlah aku untuk malam ini menemani Aisyah. Dan aku berjanji aku akan selalu menjaga kehormatan Aisyah." Balas Yulian dengan sedikit memohon.
Begitu terasa berat bagi Yulian untuk meninggalakn kekasih impiannya terbaring lemah tidak sadarkan diri di atas brangker. Dia terus memohon kepada Fadli dan Maryam untuk diberikan kesempatan. Hingga pada akhirnya, Yulian pun mendapatkan kesempatan itu.
"Baiklah, saya percaya akan janji yang kamu ucapkan. Kamu hati-hati, apabila ada sesuatu langsung kabari kami." Ucap Maryam dengan senyuman lembut, meskipun di dalam hatinya begitu terluka.
Setelah Maryam dan Fadli memberikan persetujuan , Fadli dan Maryam memutuskan untuk segera pulang dan memberi kabar tentang apa yang menimpa Aisyah. Ya... Walaupun itu sangat sulit untuk mengatakannya.
ππππ
Saat perjalanan berlangsung, sedikit percakapan di antara Fadli dan Maryam tentang putri kecilnya.
"Ayah, bunda merasa rindu sekali dengan Karina. Bunda merasa sudah mencampak kan dia hari ini." Ucap Maryam sembari menetaskan air matanya kembali.
"Sama bun, ayah juga merasakan hal yang sama. Tapi, mau bagaimana lagi. Ini semua di luar kendali kita bun. Kita harus bisa lebih kuat di hadapan Karina." Tutur Fadli memberikan sedikit semangat untuk istri tercintanya.
"Iya ayah, bunda akan melakukan yang terbaik untuk Karina." Balas Maryam sedikit tersenyum.
"Sebaiknya kita ke rumah ayah sama ibu saja. Bunda yakin, Karina ada disana." Ujar Maryam.
"Iya bun, ayah punya keyakinan seperti itu juga. Karena kan, putri kecil kita itu manja nya sama neneknya." Balas Fadli berusaha menghibur Maryam.
Suasana menjadi sedikit tenang dalam diri Maryam dan Fadli, walaupun masih sangat tidak di percaya kejadian yang baru saja mereka lalui.
ππππ
"Assalamu'alaikum Aisyah, ma'af kan lah aku jika aku baru menemui kamu sekarang. Aku merasa begitu bersalah kepadamu. Aku menyesal, a...A...Aku tidak sanggup melihatmu seperti ini. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk semua ini. Untuk kembali bersamamu." Yulian mencurahlan isi hati nya saat berada di samping brangker tempat Aisyah terbaring lemah.
__ADS_1
Yulian begitu terpukul. Dia tidak pernah berhenti menetaskan air matanya. Namun, saat menerima telfon dari seseorang dia langsung menyerka air matanya dengan kasar. Entahlah siapa dia.
"Halo, assalamu'alaikum!"
"Iya, memang benar saat ini Yulian sudah berada di Indonesia."
"Ma'afin Yulian, Yulian tidak bisa menemui papa malam ini. Yulian masih ada kerjaan yang harus Yulian selesaikan."
Ya...Ternyata yang menelfon adalah papa Yulian. Namun, Yilian terlihat tidak begitu senang dengan papanya. Malahan, dia merasa begitu acuh dan seakan tidak perduli dengan apa yang dikatakan papanya. Setelah berbincang sedikit di telfon, tanpa basa-basi lagi Yulian langsung menutup telfonnya dengan rasa marah.
"Tuan, mungkin anda merasa tertekan saat ini. Aku benar-benar merasa kasihan kepadamu. Namun, " Ujar Joko yang melihat kesedihan dalam raut wajah Tuan nya.
π¦π¦π¦π¦
"Ayah, bagaimana ini. Bagaimana caranya kita masuk ke dalam? Tidak mungkin kalau kita mengetuk pintu, karena ini sudah terlalu malam." Tanya Maryam kepada Fadli.
"Iya bun, rasanya tidak mungkin kalau kita membangunkan ayah dan ibu. Apa bunda mau tidur di mobil saja? Lagi pula beberapa jam lagi juga akan adzan subuh." Ucap Fadli memberi saran dan dibalas dengan angguk kan pelan oleh Maryam.
Karena tidak akan mungkin bagi Fadki dan Yulian untuk masuk ke dalam rumah, akhirnya mereka memutuskan untuk tidur di dalam mobil. Dan untuk memberi penjelasan kepada keluarga nya, mereka memutuskan akan memberikan penjelasan besok pagi.
"Ada apa dengannya? Apa dia sedang berkunjung di pemakaman mama nya? Atau dia juga berkunjung di pemakaman gadis itu?" Tanya papa Yulian dalam batinnya.
Ada rasa amarah dalam diri papa Yulian. Entahlah ada masalah apa di antara Yulian dan papa nya itu. Apalagi saat menyebut pemakaman seorong gadis.
ππππ
"Bismillahirrohmanirrokhim...! Semoga hatiku jauh lebih tenang Ya Allah. Berikanlah kekuasaan-Mu untuk seseorang yang aku cintai yaitu, Aisyah." Ucap Yulian seusai mengambil air wudhu untuk menjalankan sholat subuh.
Ya...jam sudah menunjukkan pukul 04.00 dimana suara adzan subuh sudah berkumandang. Seperti yang kita bayangkan saat ini , tidak mungkin bahwa Yulian bisa tertidur pulas untuk menghabiskan waktunya saat menunggu Aisyah. Dia hanya bisa menangis dan menyesali kejadian yang sudah terjadi.
"Alhamdulillah Ya Allah, akhirnya hatiku sudah sedikit tenang." Ungkap Yulian setelah menjalankan sholat dua rakaat sebelum matahri terbit dan kini dia lanjutkan untuk membaca ayat suci Al-Qur'an.
Begitu merdu lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang di baca kan oleh Yulian. Begitu baik pula dalam bacaannya. Itulah hasil dari hijrah yang dilakukan Yulian selama berada di pesantren dulu dan sampai sekarang dia terapkan dalam kehidupannya sehari-hari.
__ADS_1
πΏπΏπΏπΏ
Pagi ini diawali pagi yang cerah. Matahari begitu terang dalam memancarkan cahayanya. Namun, tidak secerah suasana hati dalam keluarga besar Fadli.
"Itu, seperti mobil Fadli. Tapi, dimana dia?" Tanya bu Laila dalam hatinya.
"Bu, ada apa?" Tanya pak Muchtar yang mengagetkan bu Laila.
"Itu loh yah, ibu melihat seperti mobil nya Fadli. Tapi, dimana dia ya yah ?" Bu Laila berbalik tanya.
"Coba kita keluar saja bu!" Ajak pak Muchtar.
Keluarlah pak Muchtar dan bu Laila untuk mendekati mobil Fadli dan mencari tahu dimana keberadaannya.
"Assalamu'alaikum ayah-iibu !" Ucap salam Fadli dan Maryam secara bersamaan dan itu membuat ke dua orang tuanya merasa terkejut.
"Kalian! Darimana saja kalian?" Tanya bu Laila menyelidik.
"Kami akan menjelaskan semuanya kepada ayah dan ibu, tapi ijinkanlah kami menemui putri kami terlwbih dahulu bu." Pinta Maryam dengan lembut dan sopan.
"Baiklah, sebaiknya juga seperti itu." Balas bu Laila dengan lembut pula.
Mereka semua melangkahkan kaki untuk menuju ke dalam rumah yang penuh dengan kedamaian. Namun, ada keraguan dalam setiap langkah Fadli dan Maryan. Karena seakan dada mereka tiba-tiba menjadi sesak dan langkah mereka seakan menjadi berat.
"Kita pasti bisa!" Isyarat yang di ungkapkan Maryam saat ke dua mata Maryam dan Fadli saling menatap.
ππΉππΉ
"Selamat pagi Aisyah ku sayang. Ma'af sebelumnya aku sudah memanggilmu seperti itu. Karena, aku tidak mau memanggil namamu dengan sebutan yang lain. Dan kamu juga harus tahu, aku hanya akan mencintaimu sampai kapanpun. Sekarang, aku akan menunggu keluargamu datang. Dan setelah itu, aku akan pergi untuk mengurus sesuatu hal yang penting."
Ucap Yulian di pagi hari kepada Aisyah untuk sekedar menyapanya. Ya....walaupun tidak sesuai dengan yang di harapkan Yulian, karena pada akhirnya Aisyah tidak mendengar apa yang di ungkapkan olehnya. Dan apa maksud dari perkataanya, bahwa dia akan pergi. Pergi kemana dia? Apa akan menghilang lagi? Seperti dua tahun lalu? Akh... Entahlah !
BERSAMBUNG....
__ADS_1
SELAMAT MALAM KEMBALI KAWANKU...
TERIMAKASIH UNTUK KALIAN. SEMOGA KALIAN TIDAK MERASAKAN BOSAN DALAM MEMBACA CERITA INI. JANGAN LUPA JUGA TETAP MEMBERIKAN LIKE , KOMENTAR DAN VOTE KALIAN YA !