HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
BAB 107


__ADS_3

Juna kembali melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah sakit. Dan di saat akan memasuki rumah sakit, Juna bertemu dengan Maryam. Yang siap merangkul Juna ke dalam peluknya.


"Bunda, kenapa ini terjadi kepadaku? Apa umi dan abi akan meninggalkan aku dan dedek bayi?" Tanya Juna.


Juna memeluk Maryam dan melampiaskan kesedihannya dengan tangisan yang masih terisak. Begitupun Maryam, dia begitu erat memeluk Juna.


"Sayang, kamu tidak boleh berkata seperti itu. Kamu harus memiliki pikiran yang positif. Kamu do'akan agar umi Aisyah segera sadar dan abi Yulian ditemukan." Jawab Maryam.


"Baik bunda, Juna akan berusaha untuk selalu berpikir positif." Ujar Juna.


Setelah puas melampiaskan kesedihannya, Juna dan Maryam kembali menemui keluarga besar mereka yang masih berada di depan ruangan Aisyah.


*****


"Mentari, tunggu!" Teriak Karina.


Seketika Mentari berhenti dan menoleh ke pusat suara yang memanggilnya. Dan gadis semampai itu berdiri di saat Karina menghampirinya.


"Kamu kenapa ada di sini? Dan bagaimana kamu tahu kalau itu Juna. Kenapa kamu se perhatian itu kepada Juna?" Tanya Karina.


"Ma'afkan aku Karina. Sebenarnya aku selalu memantau tentang apa yang dilakukan Juna. Karena aku kagum terhadap Juna. Dan andai kamu tahu, aku penggemar rahasia Arjuna." Jawab Mentari mencurahkan isi hatinya.


"Aku sudah tahu semuanya. Karena aku pernah melihatmu menaruh sebuah amplop di dalam tas Juna. Tapi sebelumnya aku meminta ma'af jika perkataanku nanti akan melukai hatimu. Mentari, aku cuma mau kalian untuk tidak saling berpacaran. Karena kalian bukan mukhrimnya." Tutur Karina dengan nada lembut.


"Aku tahu itu Karina. Aku cuma akan menjaga dan menyembunyikan perasaan ini kepadanya." Ucap Mentari mengerti.


"Kenapa kita tidak menjadi sahabat saja? Bisakan kamu?" Tanya Karina.


"Insyaallah, aku bisa." Jawab Mentari sambil tersenyum.


Akhirnya jalinana terikat di antara mereka, yaitu persahabatan. Setelah saling tersenyum, Mentari dan Karina masuk ke dalam rumah sakit untuk menemui keluarga Karina.

__ADS_1


******


"Pa, sekarang kita harus bagaimana?" Tanya Joko kepada pak Nugraha.


"Kita harus mencari tahu pusat berita itu. Dan kita harus melapangkan dada untuk menerima kenyataan ini." Jawab pak Nugraha dengan tuturnya.


"Ya sudah kalau begitu pa, Joko akan mencari tahu informasi kecelakaan itu lebih lanjut." Ucap Joko sebelum melangkahkan kakinya.


Keterpurukan sedang dialami keluarga besar Yulian dan Aisyah. Bahkan cinta di antara mereka pun sedang diuji. Nyawa mereka juga sedang diambang kematian.


Arjuna, putra angkat mereka tidak henti-hentinya untuk selalu mendo'akan mereka dan berharap ada keajaiban yang mampu mengubah semua kesedihan ini menjadi kebahagiaan kembali.


*****


"Karina dan Juna, sebaiknya kalian pulang saja. Tidak baik jika kalian berada di sini. Apalagi kamu Juna, kamu harus mengganti baju kamu dan beristirahat. Do'a kan kedua orang tua kamu dari rumah." Tutur Maryam.


"Iya Juna, kalau kamu tidak segera mengganti baju kamu, nanti takutnya kamu malah sakit. Ayo kita pulang saja." Sahut Karina menyambungi.


Arjuna, Karina dan Mentari kini sudah berada di perjalanan menuju ke rumah mereka. Namun sebelumnya, Mentari harus di antarkan pulang terlebih dahulu oleh pak supir yang membawa mereka.


Tidak banyak perbincangan di antara mereka. Karena Arjuna yang sedari tadi melamun dan Karina yang sedari tadi memilih untuk membaca kitab suci Al-qur'an. Sedangkan Mentari, dia tidak bisa berkata apapun selain diam.


*****


"Aisyah, kakak yakin kamu adalah wanita kuat. Jika Yulian tidak bisa selamat dari kecelakaan itu, setidaknya kamu harus berjuang demi anak-anak kamu yang sangat membutuhkan kamu." Ucap Maryam yang duduk di kursi dekat dengan Aisyah membaringkan tubuhnya.


"Ya Allah, sekali lagi berikan keajaiban-Mu untuk pasangan sejati ini. Pasangan suami istri yang sering kali Engkau uji di dalam tumah tangganya dan hubungan percintaannya." Ucap Maryam dengan do'anya.


Karena tidak kuasa menahan air mata Maryam keluar dari ruangan dan saat akan membuka pintu ruangan itu, ia pun tidak sengaja menabrak Fadli yang tak lain adalah suaminya.


Maryam merasa terkejut dan seketika mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang sudah bertabrakan dengannya. Dan setelah mengetahuinya, Maryam seketika memeluknya dengan erat dan melampiaskan kesedihannya dengan menangis didalam pelukan Fadli.

__ADS_1


Fadli mendekap tubuh Maryam sambil mengusap pelan kepala Maryam yang tertutupi oleh khimarnya. Dan pada akhirnya keduanya telah melampiaskan kesedihan mereka dan secara bersamaan mereka menitihkan air mata mereka secara perlahan.


******


"Abi, apa itu adalah kenangan terakhir kita saat bersama?" Ucap Juna didalam batinnya.


Ya, saat masih berada didalam perjalanan Juna berusaha mengingat kembali kenangan bersama Yulian dan Aisyah.


Tatapan itu kosong, kehampaan dan rasa sesak didalam dada Arjuna tidak mampu tertahan. Sehingga ia pun menangis sampai sesenggukan didalam kamarnya.


"Kenapa kalian meninggalkan aku sendiri lagi? Kenapa kejadian 12 tahun lalu terjadi didalam hidupku? Apa salahku Ya Allah?" Teriak Juna dengan kesedihan dan amarah.


Terdengar suara benda terjatuh dari kamar Juna yang membuat Karina merasa khawatir akan keadaan adik sepupunya itu. Sehingga membuat Karina mendatangi kamar Juna dengan segera. Namun, pintu kamar Juna telah terkunci dari dalam.


"Arjuna, buka pintunya. Apa yang sudah terjadi?" Teriak Karina berulangkali, tapi tak ada sahutan sekalipun dari Juna.


Karina terus mendesak agar Arjuna segera membukakan pintu untuknya. Namun, masih dengan hal yang sama. Arjuna mengunci dirinya didalam kamar.


"Baik, jika kamu tidak mau membuka pintu ini. Aku akan membiarkan kamu tetap berada didalam kamar. Tapi kamu harus tau satu hal. Jika kamu berbuat seperti ini, apakah kqmu yakin bahwa abi Yulian dan Umi Aisyah akan mema'afkan kamu? Bukankah kamu tahu bahwa abi dan umi selalu mengajarkan kita untuk tidak menyerah dalam hal apapun. Jadi, lebih baik kita mendo'akan yang terbaik untuk mereka. Bukan seperti ini. Di mana kamu mengunci dirimu didalam kamar. Dan aku yakin, pasti abi dan umi merasa kecewa dengan sikap kamu yang seperti ini." Teriak Karina di depan pintu kamar Juna.


Karina masih setia menunggu Juna untuk membuka pintunya. Dan kesetiaan Karina tidaklah sia-sia. Karena beberapa menit kemudian Juna membuka pintunya secara perlahan.


"Akhirnya kamu membuka pintunya juga." Ucap Karina yang berdiri dihadapan Juna.


Juna hanya memberikan sedikit senyumannya untuk Karina. Tapi, tiba-tiba wajah Juna terlihat begitu pucat dan tubuhnya pun jatuh ke lantai. Seketika Karina merasa panik dan khawatir.


"Tubuh kamu demam Juna. Aku harus bisa membantu kamu. Dan aku tidak boleh menghubungi bunda serta yang lainnya untuk memberitahukan kejadian ini. Karena aku tidak mau pikiran mereka terbebani lebih. Jadi, aku usahakan untuk merawat Juna di rumah." Ucap Karina dengan sikap kedewasaannya.


Kini Karina berusaha merawat Juna. Dan ia memberi kompres pada dahi Juna untuk segera menurunkan demam yang dialami Juna.


Sikap kedewasaan dan perhatian begitu diberikan untuk Juna. Ketlatenannya yang membuat demam Juna kembali menurun.

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan pukul 00.30 malam. Suara takbir pun telah dihentikan. Karina pun yang merasa lelah berusaha untuk memejamkan kedua matanya di sofa kamar Juna.


__ADS_2