HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
BAB 91


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹


Matahari sudah mulai meninggikan cahayanya. Kini aku beserta rombonganku sudah bersiap-siap untuk pergi ke Khan El Khalili. Dimana itu adalah kawasan perbelanjaan tradisional di pusat kota Kairo. Dan di sinilah kami para perantau, baik mahasiswa, pekerja migran atau karyawan perusahaan yang sedang berkunjung ke Kairo mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang ke Indonesia, termasuk aku.


Asal kalian tahu nih ya, di Khan El Khalili ini ada banyak toko yang menjual segala hal. Ya seperti, kaos, gantungan kunci, tempelan kulkas, jam dinding, kerajinan tangan dari logam, kaca, kayu, kaligrafi dll.


Pasti kalian bertanya-tanya bagaimana aku bisa tahu semua tentang Khan El Khalili. Padahal kan, kalian juga tahu kalau aku belum pernah sama sekali pergi ke kota Kairo. Nah, sebelum aku dan rombongan pergi ke Khan El Khalili, aku sudah browsing terlebih dahulu di mbah google. Jadi, ya aku tahu semuanya. Dan sekarang, tinggal aku yang semakin penasaran dengan tempat itu.


Rasanya sudah tidak sabar deh buat belanja di sana. Ini dia, kebiasaan seorang wanita yang kebanyakan tidak bisa menahan hawa nafsunya untuk berbelanja sesuatu hal yang menurutnya indah atau menarik. Hehe.. Termasuk aku juga.


"Bagaimana, kalian sudah siap semuanya kan?" Tanya kak Fadli memastikan.


"Insyaallah kami siap kak." Jawab Yulian mewakili.


"Baiklah, kalau begitu kita masuk ke mobil yang sudah kalian pilih sendiri mobilnya." Ucap kak Fadli.


Setelah kak Fadli memberikan intruksi, kami pun memasuki mobil kami masing-masing. Dimana kak Fadli dan kak Maryam yang selalu di antar oleh sopir, mbak Humaira dan mas Joko menaiki mobil yang sudah mereka pilih, sedangkan aku dan Yulian kami menaiki mobil yang sudah kami pilih juga.


Akhirnya mobil kami pun melaju dengan kecepatan sedang. Begitu ramai dan indah kota Kairo selama perjalanan di jalan raya. Banyak kendaraan berasap yang memenuhi jalanan kota, yang tidak kalah dengan Indonesia seperti kota Jakarta.


"Umi kenapa senyum-senyum sendiri seperti itu?" Tanya Yulian penasaran.


Mungkin Yulian melihatku saat aku membayangkan ketidak sabaranku untuk segera berbelanja.


"Akh, tidak apa-apa kok abi sayang. Umi cuma sedang membayangkan sedang berbelanja di Khan El Khalili, pasti menyenangkan. Tapi ngomong-ngomong, umi bolehkan belanja di sana?" Jawabku.


"Boleh lah umi sayang. Apa sih yang tidak buat istriku ini." Ucap Yulian sambil mengusap rambutku yang tertutupi dengan jilbabku.


Aku terbuai akan perlakuannya, sehingga aku memanjakan diriku dengan menggenggam lengannya dan ku sandarkan kepalaku di bahunya. Sungguh aku merasakan kenyamanan berada disampingnya.


Setelah beberapa jam kemudian, sampai lah kami ke tempat tujuan kami yaitu, Khan El Khalili.

__ADS_1


Begitu indah dan ramai. Serta memang banyak sekali pedagang yang menjual berbagai hal.


"Kamu mau beli apa Aisyah?" Tanya kak Maryam.


Berhubung aku bingung mau membeli apa, aku diam tidak merespon apa yang ditanyakan oleh kak Maryam. Aku memutar kepalaku dan kedua mataku untuk melihat-lihat barang apa saja yang harus aku beli. Biasalah wanita suka sekali bimbang diwaktu berbelanja. Hohoho...!


"Bagaimana kalau kita ke toko baju saja terlebih dahulu?" Tanya mbak Humaira memberi saran.


"Emm... Boleh juga itu." Balas kak Maryam.


"Kalau Aisyah terserah saja lah, Aisyah ngikut saja." Sambungku pasrah.


Ya, sesuai tujuan kami yaitu, ke toko baju terlebih dahulu. Banyak sekali berbagai macam motif serta model baju yang dijual di sana. Dan ingin rasanya aku membeli semuanya, tapi berhubung aku ingat untuk bisa menjaga hawa nafsu yang berlebih, akhirnya aku membeli baju untuk keluarga saja.


Dan setelah ke toko baju, kami mendatangi toko kerajinan. Ets, tapi kami hanya melihat-lihat saja di sana. Mungkin aku akan membeli beberapa benda lagi untuk mengenang bahwa aku pernah singgah di kota Kairo yaitu, kaligrafi.


Setelah usai kami berkeliling untuk membeli dan melihat berbagai benda yang dijual, kami pun berhenti disebuah restoran terdekat untuk mengisi perut kami yang sudah meminta jatah makan siang. Dan setelah itu, barulah kami mencari masjid terdekat untuk melakukan kewajiban kami sebagai umat islam.


"Bagaiman kalau kita melihat orang yang sedang melukis di depan kantor pos? Siapa tahu saja ada lukisan yang menarik di sana." Jawab kak Maryam.


"Boleh juga itu kak. Ayo kita ke sana saja. Kan, makannya sudah dan sholatnya juga sudah?" Balasku menyetujui.


Dan para suami-suami kami hanya mengikuti apa mau kami. Hehe, betapa mulia dan perhatiannya mereka semuanya kepada kami para istri-itri mereka.


Berhubung perjalanan dari masjid yang berada di Khan El Khalili ke tempat pelukis itu tidak terlalu jauh, akhirnya kini sampai lah kami. Kami pun menuruni mobil setelah mobil yang kami tumpangi dipinggirkan disisi jalan.


Kami menelusuri jalan untuk melihat-lihat lukisan yang sudah terpampang di pinggiran jalan, lebih tepatnya lagi didepan kantor pos. Begitu indah dan menarik dalam setiap lukisan itu.


"Assalamu'alaikum ya Akhwan (assalamu'alaikum saudara lelakiku)." Ucap Yulian kepada pelukis itu untuk menyapa.


"Wa'alaikumsalam." Balasnya dengan senyum.

__ADS_1


Kami pun saling menyapa dan bagi kaum lelaki mereka saling bersalaman, sedangkan kami sebagai kaum wanita kami hanya menangklupkan kedua tangan kami sambil menunduk untuk memberi salam kepada beliau.


"Hal hnak 'ayu shay' yumkinuni almusaeada (adakah yang bisa saya bantu)?" Tanya beliau kepada Yulian.


"Nem sayidi, hal li 'an atlub mink rusim zawjiti (iya pak, bolehkah saya minta bapak untuk melukis istri saya)?" Yulian berbalik bertanya.


"Mamkan 'akhi (boleh saudara lelakiku)." Jawab beliau dengan sopan.


Setelah beberapa jam kemudian, selesai lah beliau dalam melukisku. Kebetulan , kak Maryam dan mbak Humaira juga ingin di lukis. Jadi, kita semua harus menunggu beberapa jam lagi sampai proses lukis melukis benar-benar sudah selesai.


Hari sudah semakin sore, syukurlah pelukis itu mampu menyelesaikan tugasnya sebelum matahari mulai terbenam.


"Subhan Allah, hadhih allawhat jamilat jiddaan (Subhan Allah, begitu indah lukisan ini)." Ucapku setelah melihat lukisan wajahku.


Dan pelukis itu hanyalah tersenyum untuk membalas ucapanku.


"Shukraan lak ealaa rusim hdha bishakl jamil (terimakasih sudah melukis dengan seindah ini)." Sambung Yulian.


Aku kurang paham dengan apa yang mereka bicarakan, jadi aku lebih memilih untuk kembali melihat-lihat beberapa lukisan yang belum sempat aku lihat.


"Kam hi klu allawhat ya 'akhi (berapa harga semua lukisan tadi saudara lelakiku)?" Tanya Yulian seputar tentang harga lukisan kami bertiga tadi.


"Lays ealayk 'an tadfae, ya 'akhi, 'ana 'uhriruha lak (kalian tidak usah membayarnya wahai saudaraku, itu saya gratiskan untuk kalian)." Jawab beliau dengan senyum.


Setelah beberapa menit kami saling bercakapan, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Tapi, sebelumnya kami mengucaokan banyak-banyak terimakasih kepada beliau atas kebaikannya.


"Shukraan jazilaan ealaa kl shayy(terimakasih banyak untuk semuanya)." Ucap kak Fadli mewakili.


"Ealaa alrahab walsaeat 'akhi(Sama-sama saudaraku)." Balas beliau dengan senyum.


Kami pun memberi salam untuk berpamitan dan setelah itu kami menaiki mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang untuk menuju ke hotel.

__ADS_1


__ADS_2