HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Terima Kasih Tuhan


__ADS_3

Arjuna seketika memeriksa kondisi Cahaya yang saat ini terbaring di atas ranjang. Pusing dan mual masih dirasakan oleh Cahaya, sehingga kami semua merasa khawatir dengan keadaannya. Namun, di dalam rasa khawatir itu ada juga harapan yang selama ini kami nanti. Dan kami semua masih setia menunggu hasil yang akan dituturkan oleh Arjuna.


"Sesuai yang aku prediksi, Umi. Hasilnya ... positif. Tapi, Cahaya harus pergi ke Rumah Sakit untuk melakukan pemeriksaan lanjutan agar kita semua tahu kalau itu benar-benar kabar yang kita harapkan." Titah Arjuna seraya menatapku.


"Apa harus sekarang juga untuk melakukan pemeriksaannya?"


"Iya, Umi." Arjuna mengangguk pelan.


"Tapi ... sepertinya Umi tidak bisa mengantar Cahaya. Karena Umi ada temu janji sama Jesica." Wajahku pun tertunduk karena sedih.


"Umi, jangan bersedih! Tidak apa kok kalau Umi harus bekerja. Cahaya bisa bareng sama Arjuna nanti." Cahaya meraih tanganku.


"Maafkan Umi dan Abi yang tidak bisa menemani kamu ke Rumah Sakit. Karena Abi hari ini harus berangkat ke Surabaya. Sedangkan Umi sendiri harus mengurus pernikahan Jesica yang akan dilangsungkan besok. Tapi, Umi janji akan segera menyelesaikan pekerjaaan Umi hari ini agar Umi bisa jemput kamu. Tidak mungkin kan, kalau kamu menunggu Arjuna di Rumah Sakit?"


Senyum manis yang kulihat dari bibir Cahaya membuatku merasa senang. Karena tidak ada rasa marah ataupun hal lainnya yang akan membenciku sebagai ibu mertua yang tidak baik untuknya. Dalam diriku pun ada sedikit rasa penyesalan, tetapi inilah jalan yang sudah diberikan. Yang harus tetap disyukuri dari sisi baik maupun buruknya.


Arjuna melangkah keluar untuk memberikan penjelasan kepada Yulian dan papa Adhi tentang kondisi Cahaya, di mana mereka sedari tadi masih setia menunggu kabar bahagia di luar ruangan ini. Setelah mendengar penuturan Arjuna, seketika mereka masuk untuk menemui Cahaya dan memberikan dukungan penuh kepadanya.


"Cahaya, Abi tahu mungkin kamu juga merasa sedih jika nanti hasilnya bukan seperti apa yang kita inginkan. Tapi, kamu harus percaya kepada Allah, Tuhan yang sudah menciptakan rasa kepercayaan-Nya kepada kamu dan Arjuna untuk menjadi orang tua yang pantas bagi anak-anak nya suatu hari kelak." Yulian memberikan senyuman tipis kepada Cahaya.

__ADS_1


Hal sama pun dilakukan papa Adhi kepada Cahaya. Dan lontaran setiap kata yang bermakna dari kami semua membuat Cahaya dan Arjuna semakin erat dalam menggenggam tangan satu sama lain. Yang membuatku merasa ternyuh bahkan teringat akan masa laluku dulu di saat menanti sang buah hati yang kurang lebih ada dua tahun lalu, hadirlah Ahtar dalam hidup kami semua. Dan itu pun penuh dengan perjuangan untuk bisa kembali berkumpul bersama.


"Terima kasih Tuhanku, karena Engkau sudah memberikan ketulusan hati mereka saat Engkau masih belum berpihak dengan mereka." Aku menatap kedua anakku yang saling setia.


"Sayang, bagaimana kalau kita berangkat sekarang? Jam terbangku tepat pukul sembilan dan saat ini sudah pukul delapan." Ajak Yulian seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Baiklah! Kalau begitu aku mau ambil tas dan beberapa berkas ku di kamar dulu, Mas." Aku pun bergegas menuju ke kamar.


Aku mengumpulkan beberapa berkas kumpulan desain yang menggambarkan sebuah gaun pengantin dan beberapa pakaian muslim lainnya. Tidak lupa aku memasukkan ponselku ke dalam tas yang kubawa. Setelah ku rasa sudah cukup dengan apa yang aku butuhkan, lalu aku kembali ke kamar Arjuna untuk menemui Yulian sekaligus berpamitan dengan yang lain.


"Ya sudah, kalian berdua hati-hati di jalan! Kalau ada sesuatu hal yang penting jangan lupa kabari Abi di Surabaya." Yulian menepuk lembut bahu Arjuna.


"Nanti Umi akan usahakan untuk segera menyusul kalian di Rumah Sakit. Sekarang Umi mau berangkat dulu mengantar Abi lalu ke Aisyah Galery." Tidak lupa kuberikan senyum manis kepada mereka dari balik cadar ku.


Setelah menaiki mobil yang sudah disiapkan, Yulian menyalakan mesinnya lalu melajukan dengan kecepatan sedang. Dan aku menikmati setiap perjalanan bersama dengan Yulian sebelum jarak, ruang dan waktu akan memisahkan kita berdua. Bahkan Yulian menggenggam jemariku dengan begitu eratnya, seolah ia tidak ingin berpisah denganku. Namun, inilah kehendak Tuhan yang akan kembali menguji kesabaran kami dan membuat cinta yang tumbuh dalam diri kami semakin besar.


"Jangan lupa kabari aku meskipun hal sekecil apapun itu! Jaga kesehatan kamu, Aisyah. Jangan sampai kamu terlalu kecapekan!"


Hal itu yang selalu diucapkan oleh Yulian sebelum kami berpisah dengan waktu yang cukup lama dalam menjalankan tugas. Dan setelah satu jam kami menempuh perjalanan, akhirnya kini kami memasuki area bandara. Lalu, aku mengantarkan Yulian sampai punggungnya pun tidak dapat aku lihat lagi setelah ia masuk ke dalam badan pesawat.

__ADS_1


"Terima kasih Ya Allah, Engkau telah menciptakan pasangan yang setia kepadaku, yang tidak akan pernah berpaling kepada wanita lain dan hanya aku yang menjadi sayapnya untuk terbang menuju surga-Mu." Tidak hentinya aku menatap Yulian.


Perlahan air bening keluar dari ujung pelupuk mataku. Seakan tak mampu kutahan lagi tentang jalan hidup yang sudah ditakdirkan untuk kami. Sering berpisah mungkin adalah hal biasa, tetapi hati ini seolah berubah menjadi hampa dan sepi. Akan tetapi, rasa itu tidak akan memudarkan bahkan menghilangkan rasa cintaku kepada-Mu, Tuhanku.


Setelah melihat pesawat lepas landas dan membawa Yulian ku pergi, aku kembali teringat akan janji temu ku bersama dengan Jesica di Aisyah Galery. Sehingga aku bergegas untuk menuju ke sana sebelum Jesica datang. Karena janji temu dengannya masih satu jam lagi. Sehingga masih ada waktu untuk melakukan shalat dhuha terlebih dahulu.


"Lebih baik aku mampir ke Masjid terlebih dahulu." Kulajukan mobilku dengan kecepatan sedang.


Aku tetap fokus dengan setiap jalan raya di kota Medan pagi itu yang masih di penuhi dengan kendaraan bermesin, entah itu roda dua maupun roda empat. Namun, sepasang mataku juga mencari sebuah Masjid yang ingin ku datangi untuk menjalankan shalat sunnah yang akan kupelihara. Hingga akhirnya aku pun menemukan Masjid, lalu aku segera memarkirkan mobil yang menjadi kendaraanku setelah memasuki area pelataran Masjid.


Shalat sunnah dhuha yang selalu menjadi pedomanku untuk meminta sebuah kelancaran dalam segala urusan kepada Allah SWT. Yang dilakukan mulai dari dua rakaat dan bahkan bisa lebih. Aku selalu berusaha menjadi seorang muslim yang selalu menjaga kewajibanku bahkan sunnah ku, setelah aku memutuskan berhijrah dalam hidupku. Dan itu selalu mengingatkanku kepada Almarhumah kak Maryam, yang selalu memberikan penuturan untukku ketika aku melakukan kesalahan.


"Ya Allah, lagi-lagi aku berterima kasih kepada-Mu. Engkau sudah mempertemukan aku dengan wanita penghuni surga-Mu. Meskipun kini kenyataannya Engkau pisahkan aku dengan kak Maryam dan juga keluargaku dalam hidupku untuk selamanya. Hanya bayangan mereka yang bisa kutatap dalam pelupuk mataku." Air bening kembali membasahi pipi ku.


Rasa kehilangan itu membuat diri ini kesepian dalam kenangan yang menyesakkan jiwa. Bahkan terkadang jantungku terasa tak berdetak ketika ingatanku terusik akan peristiwa yang menghantam ku. Ingin sekali melupakan, tetapi ingatanku tidak bisa. Yang membuatku semakin merasa sesak jika rasa rindu mengusikku tapi, rindu itu tak bisa aku gapai dengan jemariku.


Dalam sujud terakhirku aku pun melantunkan doa, "Allahumma inni as-aluka husnul khotimah.


Allahummarzuqni taubatan nasuha qablal maut.

__ADS_1


Allahumma yaa muqallibal qulubh tsabit qalbi'ala dinika."


Setelah itu, bacaan atakhiyat akhir aku lantunkan lalu, ku akhiri dengan bacaan salam. Dan setelah dua rakaat aku jalankan, tidak lupa aku melantunkan dzikir sebagai penenang hati. Sekitar dua puluh menit sudah aku ber iktikaf di dalam Masjid, setelah itu aku melanjutkan kembali perjalanan ku untuk menuju ke Aisyah Galery.


__ADS_2