HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Remuknya Hatiku


__ADS_3

Perpisahan harus kembali terjadi dalam hibunganku dengan Yulian. Di mana dalam percakapan antara Yulian dengan pihak pemilik proyek di Surabaya telah meminta Yulian untuk segera kembali ke sana. Sehingga pagi itu juga Yulian harus berangkat kembali ke Surabaya meskipun baru kemaren ia telah tiba di rumah. Dan perlahan hari-hari akan terasa sepi ketika papa Adhi dan Yulian meninggalkan rumah murah ini.


"Aisyah, jaga kesehatan kamu di rumah! Karena kamu adalah seorang Ibu yang harus kuat dalam fisik maupun raga kamu. Dan jagalah anak-anak mu dengan baik, Papa pasti akan merindukan kalian semua!"


"Insyaa Allah, Pa. Aisyah akan berusaha untuk menjaga anak-anak Aisyah sebisa Aisyah. Papa hati-hati di jalan dan jangan lupa jaga kesehatannya!"


Papa Adhi akhirnya harus kembali ke kota Jakarta untuk menjalankan tugasnya di sana sebagai seorang pengusaha. Dan kini kedua lelaki yang aku cintai saling berpamitan untuk pergi ke kota tujuan masing-masing. Sejenak rasa tidak rela telah singgah dalam benakku, tetapi inilah takdir yang harus terjadi dan harus dijalani sebagai seorang hamba yang mengatasnamakan Allah yang berkuasa.


Tidak lama kemudian setelah berpamitan dan menciumku, Yulian pun pergi bersama papa Adhi ke bandara Kualanamu dan diantarkan oleh pak supir yang biasa bekerja di rumah kami. Setelah itu, Ahtar dan Arjuna ikut berpamitan untuk menjalankan tugas mereka. Di mana Ahtar harus pergi ke sekolah dan sedangkan Arjuna bertugas menjadi seorang dokter kandungan di rumah sakit yang cukup terkenal di kota Medan.


"Cahaya, kamu hati-hati di rumah bersama bik Inem. Umi harus ke Aisyah Galery untuk melanjutkan pekerjaan di sana. Kalau ada apa-apa kamu bisa menelpon Umi." Aku pun menatapnya.


"Baik, Umi. Umi hati-hati di jalan!"


"Ya sudah, Umi berangkat dulu. Assalamu'alaikum." Aku melangkah pergi.


"Waalaikumsalam." Cahaya terlihat tengah menatapku saat aku membalikkan tubuhku.


Setelah semua telah pergi dan melakukan tugas mereka masing-masing, sejenak hatiku merasa lega. Karena tidak akan pernah ada yang tahu apa yang saat ini aku alami, rasa khawatir dan gelisah yang beradu menjadi satu. Bahkan Cahaya tidak menaruh rasa curiga kepadaku jika, aku sedang membohonginya. Meskipun aku tahu kejujuran sangatlah penting dalam sebuah prinsip hidup, tetapi menurutku saat ini kejujuran itu harus kututup rapat agar menjadi sebuah rahasia.


Aku melajukan mobilku dengan kecepatan tinggi, karena aku ingin segera sampai di sana. Rumah sakit yang aku tuju saat ini yaitu, Rumah Sakit Columbia Asia Medan. Rumah sakit umum di kota Medan, yang memiliki beberapa alat canggih dalam proses penanganan para pasien. Dan beberapa jam kemudian akhirnya aku sampai di sana, lalu dengan segera aku memarkirkan mobilku dengan rapi seperti mobil lainnya.


Perlahan aku melangkahkan kakiku menuju pintu utama rumah sakit itu. Namun, kakiku seketika terhenti dan seakan rasanya enggan untuk terus melanjutkan sebuah langkah. Aku begitu takut, jika apa yang aku khawatirkan tentang memiliki suatu penyakit terjadi dalam hidupku. Bahkan aku merasa takut jika aku akan kehilangan mereka semua saat perpisahan untuk selamanya telah terjadi begitu saja. Namun, aku menyadari Allah lah yang berkehendak dan semua apa yang terjadi sudah di atas kuasa-Nya.


"Bismillahirrahmanirrahim." Lalu aku melanjutkan langkahku kembali.

__ADS_1


Aku melintasi banyak lorong di rumah sakit ini sampai aku menghentikan langkahku tepat di depan ruang seorang dokter yang ahli dalam. bidangnya. Dan kebetulan hari itu aku lah pasien pertama yang mengantri di ruang tunggu. Sehingga tanpa menunggu lama aku cepat bertemu dengan dokter yang hendak memeriksaku itu. Setelah masuk ke dalam ruangan itu, tiba-tiba jantungku berdebar hebat tak seperti biasanya. Kepalaku terasa begitu pening, bahkan rasanya aku tak mampu menahan sakit yang aku rasakan di kepalaku ini.


"Bruk!"


Tanpa kusadari tubuhku melemas seperti tidak memiliki tenaga sama sekali, pandanganku pun menggelap dan tidak bisa melihat dengan cahaya yang menyinari. Hingga akhirnya tubuhku jatuh ke lantai karena, aku tidak sadarkan diri. Dan aku tidak tahu lagi apa yang terjadi padaku, hanya saja aku merasakan bahwa tubuhku yang lemah ini dibopong oleh beberapa tim medis, lalu dibaringkan di atas branker, kasur yang di khususkan untuk pasien.


"Bu, apakah Ibu mampu mendengar suara saya?"


Perlahan aku membuka kedua mataku, lalu aku menyapu setiap sudut ruangan ini. Dan ketika kesadaranku belum pulih dengan sempurna, aku mendengar samar suara seorang lelaki yang menyapaku. Lalu, dengan tubuh yang masih lemah aku pun bertanya kepada lelaki yang mengenakan jas almamater seorang dokter.


"Dokter? Apa yang terjadi dengan saya, Dok?"


Dokter yang terlihat masih muda itu pun menjelaskan dan menuturkan banyak hal kepadaku. Namun, beliau tidak membahas apa yang terjadi kepada tubuhku. Karena saat itu aku masih dalam proses pemeriksaan dengan beberapa alat tes yang harus aku jalani untuk memastikan sakit apa yang sedang kuderita. Dan aku berharap sakit yang masuk ke dalam tubuhku ini hanyalah sakit biasa karena kelelahan.


"Apa masih lama, Dok?"


"Emm ... tidak kok Bu, mungkin sebentar lagi juga suster akan memberikannya." Lagi-lagi Dokter Farhan melempar senyum kepadaku.


Sejenak aku terdiam dengan tubuhku yang masih terasa sedikit lemas. Namun, entah kenapa aku merasa gelisah dan takut dengan apa yang sudah di dianogsa Dokter Farhan setelah melihat hasil tesku nanti. Akan tetapi, tak hentinya aku bershalawat untuk mengingat Nabi ku dan Allah sebagai tempat pelindungku. Ku serahkan semua apa yang akan terjadi tentang hidupku ke depannya.


Tidak lama kemudian seseorang mengetuk pintu dari luar ruangan ini. Dan dokter Farhan pun mempersilahkan orang itu untuk masuk ke dalam, lalu terlihat seorang suster sembari membawa selembar kertas yang tidak aku tahu apa isi di dalamnya. Setelah memberikan selembar kertas itu kepada dokter Farhan, suster itu pun berpamitan untuk meninggalkan ruangan ini. Begitupun dengan dokter Farhan yang mengangguk pelan seraya mengucapkan terima kasih kepada suster itu.


"Apa itu ... hasil tes saya, Dok?"


Aku bertanya dengan diri yang dipenuhi rasa keraguan. Bahkan untuk mempertanyakan hasil dari tes itu pun mulutku terasa kaku. Seolah begitu sulit untuk melontarkannya begitu saja. Namun, dengan sekuat tenaga aku akan berusaha untuk tetap tegar dalam menghadapinya. Menghadapi segala cobaan yang sudah di takdirkan untukku.

__ADS_1


"Bu Aisyah, apa bu Aisyah pernah merasakan sesak nafas atau jantung yang berdebar hebat sebelumnya?"


"Pernah, Dok. Tapi itu saya rasakan tadi, saat saya masuk ke ruangan Anda. Sebelum itu saya belum pernah mengalami seperti apa yang Anda tanyakan kepada saya." Ku tundukkan pandanganku.


"Tapi Bu Aisyah, dalam hasil tes Anda ... ada masalah besar yang harus segera ditangani." Dokter Farhan menatapku tajam.


"Memangnya masalah besar apa, Dok? Apakah itu artinya... saya memiliki penyakit?"


"Apakah ada keluarga yang bisa dihubungi saat ini, bu Aisyah? Karena saya harus menjelaskan kepada salah satu keluarga Anda." Dokter Farhan kembali menatapku dengan tatapan serius.


"Tidak ada, Dok. Bilapun ada, saya sangat memohon kepada Anda untuk tidak memberitahukan siapapun tentang apa yang saya derita. Dan saya ingin tahu seberapa jahatnya penyakit yang masuk ke dalam tubuh saya. Jelaskan saja kepada saya, Dok!"


Aku memberanikan diri untuk menatap wajah dokter Farhan yang seharusnya tatapan itu tidak aku lakukan kepadanya. Namun, apalah daya ini yang ingin tahu tentang kebenaran. Kebenaran yang nyata, yang harus kuterima dengan lapang dada jika suatu saat kematian akan menjemputku secara tiba-tiba. Dengan tatapan memohon kepada dokter Farhan, akhirnya beliau menjelaskan apa yang terjadi dalam tubuhku ini.


"Apa bu Aisyah yakin, siap untuk menerima penjelasan saya?"


"Saya siap, bahkan sangat siap untuk menerima apapun yang terjadi, Dok. Jadi, saya mohon jelaskan kepada saya dengan segera!"


"Baiklah bu Aisyah, saya akan menjelaskan semuanya kepada Anda. Dalam hasil tes yang saya diagnosa ini, Anda dinyatakan memiliki riwayat kanker jantung. Di mana Anda akan merasakan sulit bernafas ketika sedang tidur dengan posisi terlentang, tidak sadarkan diri, pusing, pening dan jantung berdebar dengan cepat." Jelas dokter Farhan dengan nada pelan.


"Dokter tidak salah dalam mendiagnosa kesehatan saya, kan? Tidak mungkin jika saya memiliki riwayat penyakit itu. Sedangkan saya tidak merasakan seperti apa yang Anda jelaskan tadi, Dok." Aku berteriak menyangkal pernyataan dokter Farhan.


"Maafkan saya, bu Aisyah. Tapi, itu kenyataannya." Dokter Farhan menatapku dengan kesedihan.


Aku seketika terdiam dan tercengang saat mendengar bahwa aku telah memiliki riwayat penyakit kanker jantung. Bahkan hatiku terasa remuk dan hancur berkeping-keping, seolah diri telah tertampar hebat untuk menjadi insan yang lebih baik lagi. Haruskah aku memendam dan merahasiakan semua ini kepada mereka? Atau aku harus melupakan apa yang kudengar agar semua orang tidak tahu tentang keadaanku? Mungkinkah ada harapan hidup untukku?

__ADS_1


__ADS_2