
"Arjuna, biar Umi saja yang membantu Cahaya. Kamu bisa masuk bersama Abi."
Aku pun meraih gagang kursi roda dan bersiap untuk membantu Cahaya masuk ke dalam Masjid Senteral Edinburgh atau Masjid pusat di Edinburgh. Begitupun dengan Arjuna yang mengiyakan perkataanku, karena kami sendiri mengetahui bahwa tempat yang digunakan untuk beribadah memang dipisahkan. Sehingga ada kebebasan ketika mengambil air wudhu dan lain sebagainya, seperti halnya diriku yang merasa bebas saat aku membuka cadar yang kugunakan sebagai penutup aurat.
"Cahaya, kamu bisa mengambil air wudhu terlebih dahulu! Tetapi, jika kamu tidak bisa Allah juga tidak memaksa umatnya, kamu cukup bertayamum saja!"
"Baik, Umi."
Cahaya pun melukiskan senyum di bibirnya dan begitupun dengan aku, seketika juga membalas senyum yang merekah itu. Setelah percakapan kami selesai, aku segera mengambil air wudhu untuk melakukan sholat dzuhur siang itu. Sesuai dengan ketertiban saat aku tengah mengambil wudhu yang ingin aku jaga sampai aku usai beriktikaf di Edinburgh Centeral Mosque. Kesegaran air yang mengalir dan membasahi wajah yang terasa penat, kini telah merasakan hati penuh kedamaian. Dan ingin rasanya aku segera menggugurkan semua dosa yang kuperbuat hari ini melalui gerakan sholatku. Bukan hanya itu saja, aku pun juga ingin mengadu kepada Allah SWT tentang apa yang terjadi padaku di hari ini.
"Bismillahirrahmanirrahim,"
Aku memulainya dengan bacaan basmalah sebagai awalan yang menurutku wajib untuk mengucapkannya dalam segala hal. Dan aku juga berusaha untuk tetap khusu' dalam shalatku sampai pergerakan salam aku lakukan sebagai pertandanya shalat telah usai. Tetapi, iktikaf ku berlanjut dengan bacaan dzikir yang kubisa untuk tetap mengingat Allah SWT dan juga Nabiku, Muhammad SAW. Karena, dengan berdzikir aku merasa begitu dekat dengan sang Pencipta dan hatiku pun merasa jauh lebih daripada saat gemuruh api cemburu telah membara di dalam jiwa.
"Astaghfirullah hal azim, astaghfirullah hal azim, astaghfirullah hal azim." Terus kubaca melalui ruas jemariku.
Beberapa menit kemudian akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri iktikaf yang serasa enggan untuk ku hentikan. Tetapi, aku mengingat bahwa cahaya tengah merasa lelah yang membuat kami semua harus segera bersinggah kembali di hotel. Namun, ketika aku membalikkan tubuhku terlihat Cahaya yang duduk di atas kursi rodanya tengah menantiku dengan sebuah tatapan yang dalam.
"Cahaya, apa Umi terlalu lama?"
__ADS_1
"Tidak, Umi. Tapi Cahaya ingin berbicara dengan Umi. Apakah bisa Cahaya mengobrol dengan Umi hanya berdua saja?"
"Tapi Cahaya ... bukankah tadi Arjuna mengatakan bahwa kamu merasa lelah dan kita harus kembali ke hotel?"
"Maafkan Cahaya, Umi. Cahaya sengaja mengatakan hal itu kepada kalian semua karena, Cahaya tahu tentang bagaimana Nyonya Arumi menatap Abi. Dan Cahaya merasa yakin bahwa Umi Aisyah tidak menyukai tatapan itu, bukan?"
"Ya Allah, bahkan Cahaya pun mengetahui bagaimana perasaanku tadi. Tak ingin aku rasanya menipu-Mu dari api cemburu yang merasuk dan sejenak singgah di dalam diri ini. Tapi ... aku akan berusaha untuk menenangkan Cahaya dan meluruskan kesalah pahaman tadi." Putusku dalam hati, lalu menatap lekat wajah Cahaya yang didepan mata.
Aku duduk berjongkok di hadapan Cahaya, "Jika itu alasan kamu untuk berbicara dengan Umi, maka Umi bersedia Cahaya. Tapi Umi rasa, tidak di sini untuk kita mengobrol. Karena tempat ini adalah rumah Allah yang tidak pantas untuk dijadikan sebagai tempat bergunjing antara manusia lain dengan manusia yang lainnya." Senyumku telah terlukis dari balik cadar yang menutupi wajahku.
"Tapi bagaimana cara kita bilang kepada Mas Arjuna dan Abi, Umi? Apakah mereka akan mengijinkan kita?"
"Percayalah! Hati yang lembut akan mudah diluluhkan. Jadi, Umi pastikan Arjuna dan Abimu akan mengijinkan kita untuk pergi berdua." Aku mengangguk pelan meyakinkan Cahaya.
"Assalamu'alaikum,"
"Waalikumsalam." Jawab Yulian bersamaan dengan Arjuna.
"Kalian sudah selesai shalatnya?" tanya Yulian memastikan.
__ADS_1
"Iya, kita sudah selesai. Akan tetapi, Umi dan Cahaya ingin pergi berdua ke suatu tempat yaitu, Nicolson Square Gardens. Apa Abi mengijinkan?"
"Apa ada sesuatu hal yang penting sehingga Umi dan Cahaya harus pergi hanya berdua saja?" sahut Arjuna.
"Arjuna, Umi hanya ingin meminta pengertian kamu sebagai seorang suami. Kalau ini hanya berdua, berarti ini urusan yang penting soal wanita. Jadi, Umi mohon sama kalian untuk mengijinkan kami pergi ke sana." Tatapku dengan manja.
Dua lekaki yang berada dihadapanku kini tengah saling menatap satu sama lain. Seolah mereka tengah memikirkan apa yang akan menjadi keputusan mereka. Dan akhirnya, kedua lelakiku mengangguk pelan secara bersamaan yang menandakan bahwa telah menyetujui jika aku dan Cahaya akan pergi ke Nicolson Square Garden. Setelah mengijinkan permintaanku Yulian pun berkata, "Apa kamu yakin tidak perlu ditemani untuk ke sana?"
"Tentu aku yakin, Mas. Aku tidak akan hilang atau pun kenapa-napa nantinya. Insyaa Allah, aku sudah hafal semua jalan di Edinburgh. Ya ... walaupun hanya melalui sebuah tulisan dari mbah google, tapi aku yakin aku hafal. Jadi, jangan khawatir tentang itu!"
Setelah berhasil meyakinkan Yulian, kini akhirnya kunci mobil pun berpindah tangan. Dan aku lah yang akan mengendarai mobil itu, yang akan mengantarkanku pergi ke Nicolson Square Gardens bersama Cahaya, sebuah taman yang dipenuhi dengan tanaman rumput hias. Sehingga memperlihatkan pemandangan yang menyejukkan, walaupun siang itu Edinburgh telah berkilau dan bersemangat. Dan bagiku, di sana lah aku dan Cahaya bisa berbincang secara empat mata.
"Aku akan menunggumu di sini, Aisyah. Jangan terlalu lama, yang nantinya akan membuatku merasa khawatir dengan keadaanmu." Pesan singkat pun telah masuk ke ponselku.
Aku mengangguk pelan ke arah Yulian yang tengah berdiri mematung di pelataran Masjid. Setelah itu, aku mengucapkan salam untuk berpamitan lalu, kunyalakan mesin mobil dan kulajukan dengan kecepatan sedang. Suasana kota Edinburgh membuatku merasa bersemangat untuk segera mengelilinginya bersama Yulian. Kota yang aku idamkan selama bertahun-tahun silam.
Beberapa jam kemudian akhirnya aku dan Cahaya sampai di Nicolson Square Gardens. Sebelum terjun ke taman itu, tidak lupa aku memarkirkan mobil yang ku kendarai. Setelah itu, aku membantu Cahaya untuk duduk di kursi roda kembali lalu, aku mendorongnya dan kita pun mencari duduk yang memberikan kenyamanan untuk berbincang bersama.
"Mungkin di sini kita bisa mengobrol." Kuhentikan langkah kakiku di depan kursi panjang yang berada di taman itu.
__ADS_1
"Sekarang bicaralah, Cahaya! Umi yakin di sini kita bisa lebih leluasa untuk saling mencurahkan isi hati." Senyumku terlukis kembali.
Cahaya pun memulai bersua dan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang sedari tadi disimpannya. Begitupun denganku, aku berusaha untuk menjawab dengan lembut dalam setiap pertanyaan yang dilontarkan Cahaya kepadaku. Dan yang pasti pertanyaan itu masih berliput tentang Arumi. Wanita yang secara tiba-tiba hadir dalam hidupku.