HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
BAB 46


__ADS_3

Aku terkejut dan benar-benar terkejut setelah mendengar apa yang diucapkan kak Maryam.


🕊🕊🕊🕊


Aku dan kak Maryam bergegas untuk menuju langsung ke Rumah Sakit. Aku melajukan mobil dengan kecepatan sedang, karena aku harus bisa berhati-hati dalam berkendara.


"Kak, Aisyah boleh tanya sesuatu sama kakak?" Tanyaku kepada kak Maryam.


"Memangnya kamu mau bertanya apa dek? Sepertinya serius banget." Jawab kak Maryam yang menatapku.


"Aisyah mau tanya tentang Kamila." Ucapku yang membalas tatapan kak Maryam.


"Kamila? Memangnya kenapa dengan Kamila?" Tanya kak Maryam penasaran.


"Sebenarnya, berapa persen atau berapa lama Kamila akan tetap bisa bertahan hidup kak?" Ucapku yang membendung air mata.


"Sangat sulit untuk dijelaskan Aisyah. Kakak sendiri juga tidak begitu yakin dengan apa yang kakak ucapkan. Tapi, menurut analisa kakak, Kamila hanya memiliki waktu beberapa minggu untuk tetap bisa bertahan karena, penyakit yang di derita Kamila sudah menjalar keseluruh tubuhnya. Namun, itu semua hanya Allah yang bisa menentukan." Ucap kak Maryam menjelaskan.


Aku hanya bisa terdiam. Mencerna dalam setiap penjelasan kak Maryam. Hingga aku pun menetaskan air mata. Aku merasa bersedih dan seakan sikap serta perasaan yang ku inginkan terhadap Yulian itu semua adalah sebuah kesalahan.


"Kamu tunggu di sini saja Aisyah, biarkan kakak yang masuk." Pinta kak Maryam kepadaku setelah sampai di Rumah Sakit.


"Tidak kak, aku mau ikut dengan kak Maryam." Balasku dengan mantap dan tegas.


"Baiklah, ayo kita masuk bersama." Ucap kak Maryam menyetujui.


Aku dan kak Maryam masuk ke dalam Rumah Sakit bersama-sama. Dan kami bergegas menuju ruangan Kamila dirawat. Sesampai di sana, aku mendapatkan suasana yang begitu menyedihkan diantara kedua orang tua Kamila dan Yulian.


"Assalamu'alaikum!" Ucapku memberi salam kepada kedua orang tua Kamila.


"Wa'alaikumsalam." Balas mereka bersamaan.


"Kamu Aisyah kan?" Tanya Ibu Rina yang tak lain adalah ibu dari Kamila.


"Iya tante, saya Aisyah. Yang dulu juga satu sekolah bahkan satu kelas dengan Kamila." Ucapku menjelaskan.


Ibunya Kamila memandangiku dan memberikan senyumannya yang indah kepadaku. Lalu, beliau mendekatiku dan merangkulku dengan tangisan yang terisak-isak. Hatiku semakin pedih mendengar dan melihat kesedihan mereka, terutama ibunya Kamila.

__ADS_1


"Bolehkah saya masuk menemui Kamila sebentar tante?" Ucapku meminta ijin kepada ibunya Kamila.


"Silahkan nak! Pasti Kamila akan senag jika kamu menemuinya." Ucap ibunya Kamila yang memperbolehkanku untuk menemui Kamila.


"Terimakasih tante." Balasku dengan senyuman.


Aku pun masuk secara perlahan. Ku pandangi tubuh yang begitu lemah tak berdaya. Serasa dadaku begitu sesak, seakan tak bisa bernafas dengan lega. Entahlah!


"Bagaimana keadaan Kamila Dok?" Tanyaku kepada kak Maryam. Kenapa aku meminggalnya Dok, itu karena kak Maryam sedang bekerja.


"Sudah cukup baik untuk di ajak mengobrol. Tapi, usahakan jangan terlalu lama. Dia butuh istirahat yang cukup." Ucap kak Maryam menjelaskan, mungkin dia mengerti kalau aku ingin mengajak Kamila mengobrol.


"Baiklah Dok." Balasku dengan singkat.


Aku mencoba mendekati Kamila yang terbaring di atas kasur branker. Dan ku dekatkan diriku sambil duduk disebelahnya. Aku mencoba mengumpulkan seluruh tenagaku untuk memulai berbicara dengannya. Entah kenapa aku merasa sulit untuk berbicara dengannya.


"Assalamu'alaikum Kamila." Bisikku yang mendekati telinganya. Kebetulan, waktu aku datang dia sedang menutup matanya. Entah tidur atau apa aku tak tahu pasti.


"Wa'alaikumsalam." Balasnya dengan membuka kedua matanya secara perlahan.


"Aisyah, akhirnya kamu datang juga." Ucapnya kemudian dengan menampilkan senyumannya yang tulus.


"Aku... Aku ya beginilah sekarang Aisyah. Hanya bisa terbaring seperti ini." Jawabnya dengan wajah bersedih.


"Aku yakin, pasti kamu bisa melawannya. Seperti kamu melawanku dulu. Dan aku datang ke sini membawakan sesuatu untukmu." Ucapku dengan senyuman untuk menyemangatinya.


"Apa itu Aisyah?" Tanyanya kepadaku.


Kuberikan bingkisan yang sudah aku beli di toko tadi. Aku sendiri merasa tak yakin dengan keputusanku. Tapi, mungkin ini yang terbaik.


"Apa itu Aisyah?" Tanyanya penasaran.


"Ini baju pengantin untuk kamu. Kamu mencintai Yulian kan? Kamu pantas mendapatkan Yulian dan menjadi istrinya. Aku yakin, Yulian bisa membahagiakanmu." Ucapku dengan menahan air mata.


Kamila merasa terharu dan menetaskan air mata. Tapi, dia juga menampakkan kesedihan dalam wajahnya. Entahlah, apa yang sedang dia pikirkan.


"Apa kamu yakin Aisyah dengan ini semua? Bukankah kamu juga mencintai Yulian? Kenapa kamu melakukan ini semua?" Tanyanya dengan sekumpulan pertanyaan.

__ADS_1


"Insyaallah, aku yakin Kamila." Jawabku kembali.


"Aku tidak tahu harus berkata apalagi denganmu Aisyah. Aku sudah merebut semuanya dari kamu. Aku merasa bersalah denganmu. Ma'afkanlah aku Aisyah." Ucapnya dengan air mata yang lagi-lagi membasahi pipinya.


"Sudahlah, jangan bebani pikiran kamu Kamila. Jangan lagi bersedih, kamu harus bisa melawan semuanya. Oh iya, aku tidak bisa lama-lama. Dokter sudah memberitahuku untuk tidak mengobrol denganmu dalam waktu yang lama. Aku harus pergi! Assalamu'alaikum!" Ucapku dengan menghapus air matanya dan lalu, aku melangkahkan kakiku untuk keluar. Namun saat aku melangkah menuju pintu, aku dikejutkan dengan sosok yang tak asing bagiku.


"Yulian?" Ucapku dalam hati.


Aku mencoba menghindari tatapan matanya, namun lagi-lagi aku terjebak dalam situasi yang sulit.


"Ikutlah denganku. Aku ingin berbicara denganmu, sebentar saja." Ucapnya dengan menundukkan pandangannya.


"Baiklah, asalkan tidak lama-lama." Balasku dengan singkat.


Lalu, aku dan Yulian keluar ruangan secara bergantian. Karena, kami tak mau Kamila melihatnya dan bersedih.


"Bicaralah!" Ucapku singkat.


"Kenapa kamu melakukan itu semua? Kamu tahu perasaanku bagaimana terhadap kamu. Dan kamu juga tahu, bagaimana perasaanmu untukku. Kenapa kamu melakukan itu semua? Apa kamu sudah tidak mau lagi bersamaku? Memiliki impian hidup bersamaku?" Ucap Yulian dengan beribu pertanyaan.


"Ma'afkan aku, mungkin ini adalah keputusan yang terbaik untuk kita. Lihatlah, Kamila yang begitu mwncintaimu. Kamu harus bisa membalas perasannya juga. Kamu harus membuatnya bahagia. Lagi pula, kamu juga sering mengingkari janji-janjimu kepadaku. Dan inilah yang terbaik untuk kita. Assalamu'alaikum." Jawabku yang mewakili dari pertanyaan-pertanyaan Yulian.


Aku berusaha untuk bisa melawan perasaanku demi kebahagiaan temanku. Ku langkahkan kaki dan meninggalkan Yulian yang masih berdiri mematung.


"Aku mencintaimu. Namun, mungkin ini yang terbaik untuk kita." Ucapku dengan menghapus air mata yang sudah tidak bisa ku bendung kembali.


Aku kembali ke area parkir untuk mengambil mobilku yang terparkir di sana. Aku merasa lemah, tapi aku juga tak mau memperlihatkan semua kesedihanku kepada semua keluargaku.


"Aisyah!" Panggil kak Maryam yang ternyata sudah berada didalam mobil.


"Kak Maryam!" Ucapku dalam hati.


"Masuklah, ayo kita pulang." Ucapnya yang menyuruhku masuk ke dalam mobil.


"Baiklah kak." Balasku singkat.


Aku menuruti semua perkataan kak Maryam untuk masuk ke dalam mobil. Tapi anehnya, aku duduk bukan seorang supir melainkan, aku duduk sebagai penumpang dan kak Maryam lah yang akan menyetir mobilnya. Entahlah, apa mungkin iya kak Maryam tahu semua kejadian tadi?

__ADS_1


Bersambung...!


Assalamu'alaikum sahabat readers, mohon ma'af kemaren malam saya belum bisa up karena ada kepentingan yang mendesak dan sekarang baru bisa up lagi. Semoga kalian suka dengan ceritanya. Jangan kupa juga selalu berikan like, komentar dan vote kalian ya! Terimakasih!


__ADS_2