
Terdengar samar jam alarm yang berdering di ponselku. Dan seketika kubuka pelan ke dua mataku lalu, aku pun segera meraih ponsel yang masih berada di atas nakas. Setelah ku buka slide ponselnya, ternyata waktu sholat subuh sudah tiba. Di mana jam sudah menujukkan pukul 02.28 A.M di Edinburgh, Skotlandia.
"Ya Allah, kenapa ke dua mataku seakan tidak bisa diajak kompromi untuk menjalankan kewajibanku sebagai seorang muslim. Tapi Aisyah, kamu harus bangun sebelum jam sholat subuh berakhir." Aku pun menggerutu, dan tidak lama kemudian aku beranjak dari posisi ternyamanku.
Berhubung waktu sholat subuh pendek, aku pun segera pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhku sekaligus mengambil air wudhu. Agar tidak terus merasakan kantuk, aku pun mengguyur tubuhku di bawah percikan air shower. Seperti biasa, aku tidak membutuhkan waktu yang lama untuk berada di dalam ruang itu, dan setelah keluar aku segera menjalankan sholat subuh.
"Alhamdulillah, akhirnya aku sudah menjalankan sholat subuh!"
Setelah usai menjalankan sholat yang hanya dua rakaat, aku bergegas membangunkan Yulian agar ia jiga segera menjalankan kewajibannya sebagai muslim. Ku usap pelan pipinya dan kusebut lirih namanya agar ia segera lekas bangun dari tidurnya. Dan tidak lama kemudian Yulian pun perlahan membuka pelan matanya, lalu ia terlihat se sdikit linglung. Namun, setelah menyapu setiap sudut langit-langit di kamar kami ia pun seketika mengingat keberadaannya.
"Oh iya, aku lupa! Kita masih berada di Edinburgh, kan?"
"Jelas dong, sayang! Kita baru sampai lo kemarin. Dan sekarang waktunya bangun untuk sholat subuh." Aku pun membuka penuh selimut tebal yang menyelimuti tubuh Yulian.
"Baiklah! Tapi, entah kenapa aku masih merasa lelah dan mengantuk," ungkap Yulian.
"Aku juga merasakan hal yang sama, tapi tidak kurasakan lagi setelah mandi, mengambil air wudhu lalu sholat. Dan sekarang cepat bangun dan mandi!"
Aku meminta Yulian untuk segera bergegas ke kamar mandi dan menjalankan sholat subuh. Begitupun dengan Yulian, seketika ia beranjak dari muka kasur lalu melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi. Ketika Yulian masih berada di dalam sana, aku menyibukkan diri dengan membereskan kasur dan selimut yang berantakan akibat perbuatan kami semalam. Karena sudah terbiasa akan semua hal itu, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk merapikan kembali seperti sedia kala.
__ADS_1
"Aisyah, tolong ambilkan handuk dan siapkan baju koko serta sarungnya!" teriak Yulian.
"Iya, Mas." Balas ku kemudian, lalu melangkah unti mengambilkan handuk dan menyiapkan apa yang diminta oleh Yulian.
Setelah usai menyiapkan semua itu aku menuliskan sebuah surat di atas kertas sebagai sebuah pesan yang kutinggalkan untuk Yulian. Di mana dalam selembar kertas itu kutuliskan bahwa aku hendak pergi keluar sebentar, karena ada kepentingan mendesak yang harus aku lakukan.
Kaki terus melangkah menelusuri koridor hotel yang saat itu terasa sepi. Entahlah mengapa suasana hotel di sana saat itu terasa sepi, atau mungkin karena kebanyakan orang yang menginap di sana tengah melakukan aktivitas di luar, sehingga tak banyak orang berlalu lalang di sana. Ketika aku sampai di lobi, aku melihat penjaga di bagian resepsionis masih bertugas dengan rajin, lalu aku yang melihatnya pun menghampiri resepsionis itu untuk menanyakan sesuatu kepadanya.
"Permisi! Di sekitar area hotel apakah ada sebuah warung?"
Resepsionis itu pun menjawab pertanyaanku dengan sopan, bahkan ia memberikan titah untukku menuju ke warung yang kebetulan buka di siang itu. Aku mengangguk pelan setelah aku mengerti perkataan resepsionis itu, dan sebelum pergi tak lupa aku ucapkan rasa banyak terima kasih kepadanya. Setelah itu, aku mencoba mengingat pentunjuk yang diberikan resepsionis itu.
Kulihat dari seberang ada sebuah minimarket yang menjual kebutuhan pokok serta beberapa barang lainnya. Dan tanpa menunggu lama aku bergegas menuju ke minimarket itu untuk membeli apa yang aku perlukan. Sesampai di sana aku mencari apa yang aku butuhkan dan beberapa wanita pada umumnya. Rasa syukur pun terucap dari dalam hati setelah aku menemukan barang yang aku perlukan. Dan setelah mendapatkan barang tersebut tak lupa aku segera menuju ke kasir untuk membayarnya lalu, aku segera kembali menuju ke kamar hotel, tempatku menginap selama beberapa hari kedepan.
"Suara apa itu?"
Aku begitu merasa penasaran dengan suara yang kudengar. Di mana aku mendengar suara teriakan dari seorang perempuan karena merasa terancam atau semacamnya. Namun, sejenak terlintas dipikiranku bahwa aku tak layak untuk ikut campur dalam urusan orang lain. Begitupun denganku yang menyadari akan kedatanganku yang baru saja tiba, sehingga aku memutuskan untuk segera meninggalkan kamar yang membuatku merasa penasaran.
"Bu Ratih?" ucapku lirih.
__ADS_1
Terlihat bu Ratih tengah berdiri mematung dan bersandar di tembok. Dan itu membuatku untuk segera menghampiri beliau serta menanyakan tentang apa yang tengah dilakukan beliau di sana. Langkahku pun terhenti ketika aku mendengar isak tangis dari bu Ratih. Yang membuatku kembali merasa penasaran dan bertanya-tanya tentang apa yang terjadi kepada beliau. Namun, aku merasa ragu untuk menepuk pelan bahu bu Ratih dan bertanya. Sehingga aku hanya berdiri mematung di belakang tubuh rapuhnya.
"Haruskah aku bertanya untuk mengetahui masalah yang terjadi? Tetapi, itu tidaklah wajib untukku mengatahui masalahnya. Akh, lebih baik aku pergi saja! Ku doakan semoga masalah beliau segera usai!"
Kuputuskan untuk meninggalkan bu Ratih sendiri yang tengah merajuk dan berlarut dalam kesedihan. Dan aku juga mencoba menghilangkan rasa penasaran yang mengganjal dihatiku dengan menarik nafas dalam dan kuhembuskan pelan. Tepat di depan pintu kamar hotel yang ku tempati, sempat terhenti dan ragu untuk masuk kembali ke dalam sana. Namun, aku juga tidak ingin membuat Yulian merasa khawatir terhadapku yang tak kunjung kembali. Sehingga kupegang gagang pintu dengan pelan lalu membuka pintu seraya mengucap salam.
"Assalamu'alaikum,"
"Waalaikumsalam. Kamu darimana saja, Aisyah? Kamu kan baru sampai di sini, dan sebelumnya juga tidak mengenal kota ini, jadi jangan kemana-mana tanpa aku." Yulian pun bertanya seraya menatapku.
"Aku habis dari minimarket depan, Mas. Beli sesuatu!"
Aku pun nunjukkan benda yang kubeli kepada Yulian. Yang membuat Yulian seketika tercengang dengan apa yang baru saja aku tunjukkan. Namun, tidak terlalu lama ia melukiskan senyum merekah dari bibirnya, lalu ia berjalan dan menghampiriku yang masih berdiri di ujung pintu. Tepat dihadapanku Yulian meraih ke dua tanganku dan menggenggamnya dengan erat.
"Biarpun kamu sedang berhalangan untuk berhubungan tidak apa, Aisyah. Yang pasti kamu akan tetap menjadi wanitaku. Satu-satunya wanita yang ada di dalam hidupku, seperti janji yang sudah terucap dulu. Dan aku tidak akan pernah lelah untuk membahagiakanmu." Yulian mengecup keningku dengan kelembutan.
"Terima kasih atas pengertianmu, Mas. Yang tidak marah ataupun menuntutku untuk tetap melayani segala keinginanmu. Dan aku juga akan mengingat janji yang sudah kamu ucapkan dulu. Janji yang setia sampai mati dan hanya satu harapan dalam hidup, yaitu dipersatukan kembali di surga-Nya." Aku pun menikmati kecupan itu seraya mengenang di masa lalu ketika Yulian pernah mengucapkan janji untukku.
Pelukan itu membuatku merasa hangat. Bahkan ketika mengingat janji itu, seolah aku adalah pemenang yang sudah mendapatkan hati Yulian sampai akhir nanti. Dan ini yang membuatku memercayai akan sebuah takdir dalam hidupku. Disatukan dengan lelaki yang sedari dulu menjadi belahan jiwaku.
__ADS_1