HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
BAB 89


__ADS_3

"Uwek... Uwek...!"


"Kamu kenapa Humaira?" Tanya Maryam.


"Iya, mbak Humaira kenapa? Mbak Humaira sakit?" Ucapku ikut bertanya.


Karena tiba-tiba saja mbak Humaira mual-mual dan wajahnya terlihat begitu pucat. Entah apa yang dirasakan mbak Humaira sekarang, yang pasti kegiatan jalan-jalan hari ini harus kami sudahi dan kembali ke Hotel untuk beristirahat.


Kami menghampiri suami kami masing-masing yang kebetulan mereka masih setia menunggu kami selama kami menaiki delman di Piramida.


"Mas Fadli dan semuanya, kita harap sekarang kita harus kembali ke hotel. Karena, wajah Humaira terlihat begitu pucat dan tadi juga dia mual-mual." Ucap kak Maryam.


"Baiklah, kita akan segera kembali." Balas kak Fadli menyetujui.


Kami pun sesegara mungkin untuk kembali ke hotel. Dan kak Maryam juga sudah siap siaga untuk segera memeriksa keadaan mbak Humaira.


"Kamu kenapa?" Tanya Yulian sambil tetap memfokuskan mengemudi.


"Ah, umi cuma merasa khawatir saja dengan keadaan mbak Humaira." Jawabku sambil sesekali menggigit bibir bawahku. Untung saja Yulian tidak melihatku, karena tertutupi oleh cadarku.


"Sudahlah, jangan merasa khawatir seperti itu. Yakinlah bahwa mbak Humaira akan baik-baik saja." Ucap Yulian sambil menggenggam telapak tanganku.


"Iya, semoga saja mbak Humaira hanya kecapean saja." Balasku dengan berusaha tersenyum.


Sela beberapa jam kemudian, tiba lah kami di hotel. Mbak Humaira turun dari mobil dan terlihat bahwa dia masih bisa berjalan sendiri, tanpa harus dibopong oleh mas Joko.


Setelah sampai di dalam kamar, kak Maryam sesegera mungkin memeriksa keadaan mbak Humaira. Kita yang duduk di sofa hotel merasa khawatir tentang apa yang terjadi dengan mbak Humaira.


Sesekali mas Joko berdiri, sesekali juga dia duduk dan sesekali juga dia mondar-mandir tidak jelas. Hingga akhirnya Yulian memghampiri mas Joko dan mengatakan sesuatu hal yang kini mamompu membuat mas Joko jauh lebih tenang.


"Selamat, kamu sebentar lagi akan menjadi seorang ayah." Ucap kak Maryam menghampiri kami.


"Alhamdulillah!" Ucap kami semua bersamaan.

__ADS_1


"Usia kandungan Humaira masih 2 mingguan. Jadi, usahakan dia jangan terlalu capek." Sambung kak Maryam kembali.


Mas Joko memgangguk pelan seakan dia mengintruksi bahwa dia menyetujui apa yang dikatakan kak Maryam.


Alhamdulillah, untung saja ada kak Maryam. Jadi, kita bisa tahu bagaimana keadaan mbak Humaira yang sebenarnya.


Setelah usai memeriksa mbak Humaira, kami semua memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing dan beristirahat.


💝💝💝💝


"Umi kenapa masih terlihat bersedih seperti itu? Umi sakit?" Tanya Yulian yang melihatku nampak murung.


"Umi hanya bersedih saja abi." Jawabku dengan lesu.


"Sedih kenapa memangnya?" Tanya Yulian penasaran.


"Umi sedih bi, kak Maryam lagi hamil anak keduanya dan sekarang kehamilannya memasuki 4 bulan. Begitupun dengan mbak Humaira, dia juga sedang hamil muda. Sedangkan umi, umi belum menampakkan bahwa umi sedang hamil." Ungkapku atas kesedihanku.


"Umi, tatap mata abi sekarang. Umi janganlah bersedih seperti itu. Mungkin Allah sudah siap menitipkan janin didalam rahim kak Maryam dan mbak Humaira. Sedangkan ke umi, Allah masih menguji kesabaran kita dalam menghadapi semua ini. Jadi, janganlah bersikap iri kepada mereka. Insyaallah kalau Allah sudah merasa yakin kepada umi, Allah akan menitipkan janin didalam rahim umi." Tutur Yulian dengan penuh kelembutan.


Setelah aku mengerti apa yang harus aku lakukan dan memberikan senyuman yang indah kepada suamiku, lagi-lagi kecupan mesra melayang di atas keningku. Pelukan hangat dari suamiku kini juga tengah aku rasakan.


"Ya sudah, sekarang umi mandi dan ambil air wudhu. Karena waktu ashar sudah tiba." Ucap Yulian setelah melepas pelukannya.


Aku pun mengangguk pelan untuk mengiyakan perintahnya. Kini aku beranjak dari muka kasur yang aku duduki sedari tadi bersama Yulian. Sedangkan Yulian, dia memberikan senyuman mempesonanya untukku sebelum aku masuk ke dalam kamar mandi.


💦💦💦💦


"Alhamdulillah ya mas, sekarang bukan hanya Maryam saja yang sedang hamil. Melainkan Humaira juga sedang hamil." Ucap Maryam bahagia.


"Iya dek, mas juga merasa senang dengan kabar ini." Balas Fadli.


Maryam dan juga Fadli merasa ikut bahagia dengan kehamilan Humaira. Apalagi dengan Maryam, dia merasa ada teman yang sama-sama hamil sepertinya.

__ADS_1


"Bunda kenapa, kok mukanya berubah seperti itu?" Tanya Fadli sambil menyatukan kedua alisnya.


"Bunda merasa khawatir dengan Aisyah ayah. Karena, dia juga belum hamil. Bunda merasa khawatir kalau dia merasa bersedih atau minder kepada kami yang sama-sama sedang hamil." Jawab Maryam sambil menatap wajah suaminya.


Fadli hanya terdiam dan tidak berkata satu kata patahpun. Fadli berpikir dan merasa takut dengan apa yang dikatakan istrinya jika itu benar. Namun, lamunan Fadli terbuyarkan oleh ketukan pintu dari luar.


"Assalamu'alaikum! Boleh Aisyah masuk?" Ucap Aisyah ketika pintu kamar hotel yang dihuni Maryam dan Fadli terbuka.


"Boleh, silahkan!" Balas Fadli.


Sebenarnya Fadli merasa begitu terkejut ketika melihat sosok perempuan yang di khawatirkannya berada di depan matanya. Tapi, dia bersikap biasa-biasa saja untuk menutupi ke khawatirannya.


"Kak, Aisyah mau bertanya sama kalian. Kalian kan termasuknya sudah mengenal kota Kairo. Di Kairo tempat paling romantis itu dimana? Aisyah mau pergi kesana." Tanyaku sedikit malu.


Namun apa yang ku dapat tidak segera dijawab oleh ke dua kakakku itu. Malahan, mereka hanya terdiam dan saling menatap satu sama lain. Sehingga itu membuatku sukses merasa malu dan tidak enak.


"Kenapa kamu tidak bertanya saja sama suami kamu? Kan suami kamu juga pernah tinggal di Kairo, jadi ya pasti dia tahu tempat mana yang paling romantis di Kairo." Jawab kak Fadli.


"Iya Aisyah, lebih baik kamu bertanya kepada suami kamu." Sambung kak Maryam.


"Tadinya sih Aisyah mau memberi kajutan sama Yulian kak, makanya Aisyah bertanya sama kalian. Eh, malah kalian bilang seperti itu." Balasku sedikit kecewa.


"Oh seperti itu niat kamu. Seharusnya kamu bilang sama kami dari awal. Menurut kakak sih ada tempat romantis di Kairo, tapi agak jauh dari hotel ini." Jawab kak Fadli.


"Dimana itu memangnya kak?" Tanyaku penasaran.


"Itu berada di kawasan Gezira atau pulau kecil di tengah Nil. Namanya Cairo Tower, yang memiliki ketinggian gedung setinggi 187 meter. Di sana bisa melihat pemandangan sungai Nil yang melegenda membelah kota dengan deretan hutan beton mengengelilinginya. Dan waktu terbaik untuk naik ke tower adalah sore menjelang senja hingga malam. Jadi, kamu dan Yulian bisa mengabadikan matahari yang perlahan tenggelam lalu berganti gemerlap lampu kota yang begitu cantik." Jawab kak Fadli menjelaskan.


"Tapi kakak rasa kalau waktunya sekarang tidak tepat, karena waktu sudah terlalu sore. Nanti takutnya kamu malah tidak keburu mengabadikan matahari yang perlahan tenggelam. Tapi tidak apa-apa juga kalau kamu sekarang bersiap kesana. Kamu bisa menikmati suasana malam di sana. Lagian, di sana juga ada restaurant di atas tower." Sambung kak Maryam memberi saran.


Aku terdiam, mencoba mengerti apa yang sudah dijelaskan oleh kak Fadli dan kak Maryam. Dan ku rasa, aku harus pergi kesana bersama Yulian untuk mengabadikan liburan kami paling romantis di Kairo. Sekaligus aku ingin melihat seperti apa tempat itu, sebegitu indah dan romantiskah?


Ku pikir mungkin memang romantis, karena ketika kedua kakakku menjelaskan tempat itu, mereka membayangkan begitu indahnya tempat itudan seakan mereka sedang menikmati tempat itu. Kini aku menjadi semakin penasaran dengan Cairo Tower. Aku pastikan aku bisa kesana bersama suamiku.

__ADS_1


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN YA! SENANG BISA MENYAPA KALIAN!


"


__ADS_2