HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Royal Mile (Edinburgh)


__ADS_3

Masih kurasakan kehangatan saat berada di dalam dekapan tubuh tegap Yulian. Pengertian dan perhatian selalu diberikan hanya untukku seorang. Dan aku memercayai bahwa istana yang kita bangun bersama bak surga yang begitu indah, di mana dalam istana itu hanya ada seorang ratu dan raja yang berkuasa untuk saling berbagi.


"Apakah kamu hanya ingin aku peluk saja di sini, Aisyah? Atau...." Bisik Yulian ditelingaku.


"No. Tentu aku tidak hanya ingin seperti ini ketika aku liburan di kota yang menjadi impianku, Mas! Dan pastinya ... aku menginginkan yang lebih indah, bersenang-senang, berkunjung ke suatu tempat yang ingin sekali aku tuju saat pertama kali aku tiba di sini." Aku pun membayangkan berapa indahnya tempat yang akan aku tuju nanti.


"Lalu, kamu mau kemana? Sekalian kita ajak Juna dan Cahaya untuk menikmati liburan bersama." Ucap Yulian seraya memutar kedua bila matanya.


"Emm ... aku ingin ke Royal Mile. Bagaimana Mas, apakah kamu setuju untuk pergi ke sana?"


"Aku setuju! Asalkan kamu bahagia untuk pergi ke tempat itu, aku akan mengiyakan." Jawab Yulian mengangguk pelan.


Seketika senyum yang mengembang telah terlukis di bibirku. Aku merasa bahagia jika akan pergi ke tempat itu. Tempat yang begitu lama ingin aku tuju setelah menjadi seorang desainer yang menciptakan beberapa gaun dan pakaian lainnya, terutama pakaian muslim. Setelah kuputuskan bersama Yulian tentang tempat yang pertama kali harus kita tuju, aku bergegas menuju ke kamar Arjuna untuk memgajaknya pergi bersama.


"Tok, tok, tok!"


Ku ketuk pelan pintu kamar Arjuna, dan tidak lama kemudian gagang pintu telah bergerak, lalu keluarlah Arjuna dari balik pintu kamar itu. Dan terlihat bahwa Arjuna baru saja bangun dari tidurnya. Aku rasa Arjuna masih terlalu lelah dengan keadaan dan waktu. Apalagi Arjuna harus bisa menjadi seorang suami yang bisa membantu istrinya dalam segala hal. Namun, tak kuurungkan niat untuk mengajaknya ke Royal Mile.


"Assalamu'alaikum, sayang!" sapaku hangat.


"Waalaikumsalam, Umi. Umi kenapa ada di sini? Apa Umi sedang membutuhkan bantuan Juna?"

__ADS_1


"Tidak, sayang. Umi hanya ingin menawarkan suatu tempat yang akan Umi dan Abi kamu tuju untuk hari ini. Apakah kamu dan Cahaya memiliki niatan untuk ikut bersama kami?"


"Sebentar Umi, Juna harus bertanya terlebih dahulu kepada Cahaya. Siapa tahu Dia masih lelah,"


Aku mengangguk pelan untuk mengiyakan. Setelah itu, Arjuna kembali masuk ke dalam ruangan yang cukup luas bagi kami. Sedangkan aku, aku masih setia menunggu kabar dari Arjuna di ujung pintu kamar itu. Dan ketika aku masih berada di sana, aku kembali melihat Bu Ratih yang menyapaku dengan senyum tipis dari bibir beliau. Rasa penasaran pun kembali menggoyahkan hatiku yang seakan ingin melontarkan pertanyaan kepada beliau.


"Permisi, Bu Ratih! Apakah kita bisa bicara sebentar?" tanyaku dengan nada rendah yang tidak mengurangi rasa sopan santunku.


"Bisa, nak Aisyah! Silahkan, bicaralah!"


"Tapi saya rasa tidak harus di sini. Apakah kita bisa bicara di sana?" tawar ku yang menunjuk ke lorong hotel.


Bu Ratih pun mengangguk pelan mengiyakan permintaanku. Lalu, kami pun melangkah pelan menuju ke lorong tersebut, karena di sana masih terlihat sepi dan sedikit gelap. Sehingga tak akan ada yang mendengar percakapan di antara kami. Dan setelah sampai di lorong hotel, sejenak aku menatap lekat wajah bu Ratih. Bibir pun tak mampu menahan lagi untuk segera melontarkan pertanyaan yang sedari tadi tersimpan di dalam benakku.


Sejenak bu Ratih terdiam tanpa sepatah kata pun. Bahkan terlihat dari balik wajah wanita paru baya ini tengah menyimpan kepedihan yang dalam. Namun, aku tak tahu pasti apa itu, karena aku juga tidak ingin terlalu ikut campur dan memasukkan diri ini dalam sebuah lubang yang gelap. Beberapa menit kemudian aku memutuskan untuk kembali ke kamarku, setelah aku mengetahui jawaban dari bu Ratih. Sedangkan bu Ratih, beliau sudah kembali terlebih dahulu ke kamarnya.


"Arjuna-Cahaya, ternyata mereka mau ikut!" gumamku dalam hati.


Terlihat Arjuna dan Cahaya sudah berpakaian rapi saat mereka berada di depan pintu kamarku. Dan aku memutuskan untuk segera menghampiri mereka, tetapi aku harus bisa melupakan permintaan bu Ratih kepadaku saat pertemuan di antara kami tadi. Kuhembuskan nafasku pelan untuk kembali menetralkan perasaan yang ada di dalam hati ini.


"Kalian ternyata mau ikut!"

__ADS_1


"Umi! Umi darimana? Juna pikir Umi kembali ke kamar, karena Juna dan Cahaya tidak melihat Umi di depan kamar kami." Tanya Arjuna menyelidik dan menatapku.


"Tidak. Tadi Umi ada keperluan sebentar, jadi Umi meninggalkan kamar kalian. Dan sekarang, Abi kalian apakah sudah tahu bahwa kalian menyetujui ajakan Umi?


Arjuna dan Cahaya mengangguk pelan, mengiyakan apa yang aku tanyakan. Bahkan Arjuna mengatakan bahwa Yulian tengah bersiap untuk segera berangkat ke Royal Mile. Dan rasanya aku tak sabar untuk segera pergi ke sana, menikmati segala suasana yang sudah aku bayangkan dengan indahnya. Akhirnya, tidak lama kemudian keluarlah Yulian dari dalam ruangan kami berdua, di mana ruangan itu yang memberikan kenyamanan saat melepas rasa lelah.


Ketika semuanya sudah merasa siap untuk pergi, aku baru menyadari bahwa kami tidak memiliki kendaraan bermesin untuk pergi ke Royal Mile. Namun, Yulian selalu mendapatkan solusi yang terbaik untuk kami. Sehingga kami bisa tetap melakukan apa yang kami inginkan bersama yaitu, mengunjungi Royal Mile.


Beberapa jam kemudian sebuah mobil berhenti tepat di hadapan kami yang berada di luar Scotsman hotel. Lalu, kami semua pun bergegas untuk segera masuk ke dalam mobil itu. Dan tidak lama kemudian mesin mobil pun telah dinyalakan.


"Brum, brum, brum!" suara mobil.


Setelah cukup lama menyalakan mesin, akhirnya mobil kami pun dilajukan dengan kecepatan sedang. Dan ketika masih berada di dalam mobil, setiap perjalanan kota di Edinburgh, aku selalu menikmati segala suasana di sana. Jalan Raya yang dipenuhi oleh banyak orang pejalan kaki seraya mengenakan jaket yang mampu menghangatkan tubuh mereka. Bahkan aku pun menjumpai beberapa gedung yang dibangun dengan ketinggian rata-rata. Yang membuatku cukup menarik untuk dikunjungi.


"Alhamdulillah, akhirnya kita sampai juga!" ujarku merasa lega.


Akhirnya kami sampai di Royal Mile. Kota tua, di mana jalan yang menghubungkan Edinburgh Castle dan Istana Holyroodhouse. Tempat yang kerap dikunjungi oleh beberapa masyarakat di sana, entah pendatang maupun asli orang yang berasal dari sana. Dan aku merasa bahagia ketika aku bisa mendatangi kota tua ini, yang dipenuhi dengan butik-butik cantik, toko souvenir, pub-pub tradisional Skotlandia, serta ada cafe juga di sana.


"Kalain mau mengunjungi tempat mana di Royal Mile?" tanyaku memastikan.


"Emm ... bagaimana kalau kita berpencar saja? Kalian bisa menikmati tempat yang kalian suka di Royal Mile ini. Jadi, pilihlah salah satu di antara mereka yang akan kalian tuju paling utama," sela Yulian.

__ADS_1


Dan akhirnya Arjuna bersama Cahaya memutuskan untuk ke toko souvenir terlebih dahulu sebagai tempat utama yang mereka tuju. Sedangkan aku, aku ingin berkunjung ke beberapa butik-butik cantik yang dibangun di Royal Mile. Dan aku pun ditemani oleh Yulian, yang selalu setia menemaniku kemanapun aku mau.


"Sampai detik ini aku merasa bahagia dan memercayai sebuah ikatan yang terjalin di atas pernikahan sakral. Di mana dalam hubungan itu aku memercayai seorang Yulian yang tak akan pernah membagi ratunya. Bahkan aku melihat tak ada yang lebih berharga daripada aku dalam hidup Yulian. Dan aku yakini ini semua akan kami bawa sampai ke surga nanti." Gumamku menatap Yulian.


__ADS_2