HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
BAB 33


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹


Kami pun menyantap makanan dengan lahab. Ya kami, bik Murni, kak Maryam dan aku. Kami makan secara bersamaan, karena kami tidak ingin membeda-bedakan status. Di mata kami, semuanya itu sama. Tidak ada perbedaan antara majikan atau pembantu.


"Wah Aisyah, kamu rakus juga ya ternyata!" Ucap Kak Maryam meledekku yang melirikan pandangannya ke arahku.


"Apa sih kak, aku kan cuma laper saja. Dan aku butuh stamina untuk mengisi energi di dalam tubuhku, makanya aku makan cukup banyak. Tidak salah kan!" Balasku dengan senyum dan tingkah yang sedikit nakal. Etss, tapi tidak nakal yang terlalu aneh-aneh begitu kok. Cuma sedikit bercanda doang.


Begitulah kami setelah selesai makan. Suasanq yang diselingi dengan sedikit bercanda gurau dengan satu sama lain. Kita pun juga bersama-sama dalam membersihkan sisa-sisa makanan dan semua barang-barang yang kotor.


"Wah, capeknya! Sepertinya tulang-tulangku pada remuk semua deh kak." Ucapku dengan sedikit meregangkan otot-otot ku yang terasa kaku di atas sofa ruang keluarga.


"Hmmm... Memangnya ada gitu tulang-tulang remuk, padahal kan kamu tidak ngapa-ngapain Aisyah!" Ucap kak Maryam yang menggelang-nggelengkan kepalanya.


"Issshhhh... Kakak sih tidak merasakan apa yang aku jalanin hari ini. Coba aja kalau kakak jadi aku, pasti kakak juga merasakan hal yang sama." Balasku denan tatapan yang tajam.


"Hmmm... Iya deh, iya. Memangnya kamu hari ini ngapain aja sih? Kan cuma mengerjakan tugas di rumahnya Aida." Tanya kak Maryam dengan tatapan curiga.


"Emm... Iya lah kak, tapi kan ya sama aja kak capek. Otak Aisyah terus berjalan ngerjain skripsi yang harus segera dikumpulkan. Jadi ya, Aisyah juga merasa capek dan lelah lah!" Jawabku yang menyembunyikan tentang kejadian sebenarnya hari ini.


"Ma'afkanlah Aisyah kak, Aisyah sebenarnya tidak bermaksud untuk membohongi atau menyembunyikan apa yang terjadi hari ini dari kak Maryam. Tapi, Aisyah hanya ingin tahu apa yang akan terjadi sebenarnya antara aku dan Fadli." Ucapku dalam hati kecilku.


"Kak, aku mau istirahat dulu aja ya! Mau menenagkan diri dulu sejenak didalam kamarku yang tercinta. Hahaha!" Candaku kepada kakak tercantikku.


"Mau istirahat atau mau mikirin Yulian Aisyah?" Ucap kak Maryam yang lagi-lagi meledekku.


"Apa-an sih kak! Kita itu tidak boleh loh kak mikirin cowok yang bukan mukhrimnya." Ucapku sok tau. Tapi memang iya juga sih yang dikatakan kak Maryam. Hohoho!

__ADS_1


"Insyaallah boleh Aisyah. Asalkan kita bisa menjaga pandangan, diri kita serta perilaku kita. Kita bisa memikirkan lelaki yang kita sayangi. Namun, kita tidak boleh melewati batas. Dalam arti, kalau kita menyukai seorang lelaki kita harus menjaga cinta itu. Kita bisa menjaganya dengan do'a. Kita do'akan agar dia baik-baik saja dan tetap di jalan yang benar. Kita bisa memandangnya dengan jarak yang jauh, setidaknya kita bisa menjaga pandangan dengan cinta diam kita. Dan jika dia jodoh kita, kita harus bisa menjaga cinta masing-masing dengan cara ber-hijrah dalam cinta. Jadi, hubungan yang sudah mengikat diantara kita, insyaallah selalu kuat dalam keadaan apapun." Ya_bukan ceramah dari kak Maryam yang ku dapatkan, melainkan penjelasan yang begitu berarti untukku.


"Emm... Makasih ya kak atas penjelasan dari kakak. Semoga saja, Fadli jodoh kakak!" ledekku kemudian.


"Apa sih Aisyah, kok ujung-ujungnya Fadli sih! Tidak ada sangkut pautnya loh!" Ucapnya sedikit mengelak.


"Sudah deh, kakak mengaku saja sama Aisyah. Sudah tergambar dengan jelaskan dari pandangan kak Maryam yang membayangkan sosok Fadli. Dan terlihat tuh, dari kedua pipi kak Maryam yang memerah." Ucapku dengan menunjuk ke arah pipi kak Maryam.


Tanpa ada respon dari kak Maryam. Namun, tergambar jelas dari wajahnya bahwa ia benar-benar jatuh cinta dengan Fadli. Kini aku berlari menuju kamarku dan meninggalkan kak Maryam yang masih duduk di sofa ruang keluarga sambil tersenyum tersipu malu dan memegangi kedua pipinya. Bagiku, menggoda kak Maryam itu lucu. Hohoho, mungkin menurut kalian aku gadis jail kan!


💦💦💦💦


"Ayah, aku mau bertanya tentang seseorang. Apakah Ayah mengenal pak Brian? Dan benarkah bahwa beliaulah yang mengasuh adik kandung Fadli?" Tanya Fadli kepada Ayah dan Ibunya tanpa basa-basi.


Dalam waktu yang bersamaan saat Aisyah dan Maryam sedang bercanda, kini suasana sedikit tegang sedang dialami keluarga Fadli.


"Sudahlah, jawab saja pertanyaan Fadli ini ayah, Ibu!" Tanya Fadli yang terus mendesak.


"Iya, memang benar kalau adik kamu di asuh sama pak Brian setelah ibu berhasil melahirkannya ke dunia. Belum sempat juga Ibu dan Ayah kamu memberikan nama kepada putri kecil kami, dia sudah diambil oleh pasangan suami istri yang kehilangan putri kandungnya." Jawab bu Laila dengan mengingat masalalunya tentang putri kecilnya.


"Alhamdulillah, kalau begitu Ayah-Ibu!" Ucap Fadli dalam hatinya merasa bersyukur bahwa kenyataannya Aisyah adalah adik kandungnya.


"Tapi, kenapa tiba-tiba kamu menanyakan hal itu nak? Apa kamu tahu dimana mereka sekarang?" Tanya bu Laila.


"Ayah-Ibu, adik Fadli dia begitu cantik saat ini. Dia sholehah. Dia tumbuh menjadi gadis yang baik." Ucap Fadli dengan senyuman lebar.


"Maksud kamu apa Fadli? Apakah kamu tahu dimana keberadaan keluarga pak Brian saat ini?" Serasa teka-teki bagi pak Muchtar.

__ADS_1


"Iya nak. Jika kamu tahu dimana mereka, kasih tahu kami. Ayah dan Ibu begitu sangat merindukan adik kamu." Sambung bu Laila.


"Dia dekat dengan kita Ayah-Ibu. Ibu juga sering bertemu dengannya." Jawab Fadli dengan membayangkan Aisyah.


"Apa maksud kamu Fadli? Siapa dia?" Tanya bu Laila penasaran.


"Dia ....A...A...Aisyah bu!" Jawab Fadli dengan terbata-bata.


"Apa? Benarkah kamu? Yakinkah kamu dengan ucapan kamu barusan Fadli?" Tanya bu Laila seakan tidak percaya.


"Iya bu, dia Aisyah. Dan perasaan yang kita alami selama ini, itu tentang ikatan keluarga bu." Jawab Fadli memperkuat keyakinannya.


"Hus, jangan mengada-ngada kamu Fadli. Tidak baik jika kita nanti mengaku-ngaku bahwa kita keluarga kandungnya." Ucap pak Muchtar belum percaya.


"Benar ayah, Fadli berkata jujur. Kalau kalian tidak percaya, kita berkunjung ke rumahnya agar kita bisa tahu keluarga Aisyah." Ajak Fadli.


"Baiklah, temukanlah Ibu dengan keluarganya. Terutama dengan papa angkatnya." Ucap Bu Laila dengan senyum tipis.


"Baiklah, aku akan menghubungi Aisyah." Akhirnya, Fadli mengiyakan.


🕊🕊🕊🕊


Suasana malam begitu tenang. Banyak bintang yang saling berlomba-lomba untuk memancarkan cahayanya. Dan ingin sekali aku menggapai bintang itu, lalu menggenggamnya dengan erat.


"Ma, apakah bintang yang Aisyah pandang dengan begitu terangnya itu adalah Mama? Jika itu benar Mama, Aisyah ingin menggapainya dan memeluknya dengan erat . Aisyah begitu merindukan Mama." Ucapku lirih dengan memandang bintang dan memejamkan ke dua mataku untuk merasakan ketenangan didalam hati ini.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


Assalamu'alaikum sahabatku yang baik hati. Terimakasih masih setia dengan cerita HCA. Semoga dengan dukungan dati kalian, like, komentar dan vote kalian, aku bisa terus bersemangat juga dalam membuat ceritanya tambah menarik lagi. Terimakasih kawan!


__ADS_2