HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Aisyah Galery


__ADS_3

Suasana bahagia begitu menyelimuti kami. sekeluarga, terutama bagi kedua mempelai yang dijadikan sebagai raja dan ratu, meskipun hanya satu hari satu malam. Dan puncak acara pun telah tiba, di mana pesta pernikahan yang di namakan resepsi. Semua rekan kerja Yulian, semua teman kerja Arjuna dan juga beberapa perempuan yang menjadi sahabatku selama aku tinggal di kota ini, Medan, Sumatera Utara, telah menikmati pesta bersama-sama.


"Yulian, aku tidak menyangka jika pak Yulian saat ini sudah menjadi seorang mertua." Ungkap salah seorang teman Yulian sembari tersenyum.


"Benar Pak, saya sendiri juga tidak pernah menyangka bahwa saya akan segera memiliki seorang menantu yang cantik, hebat dan tentunya baik." Balas Yulian dengan tersenyum.


"Yang pasti saya doakan semoga putra bapak bahagia dan sakinah mawadah warohmah dalam rumah tangganya,"


"Terima kasih, Pak!"


Silih berganti tamu yang hadir pun telah meninggalkan gedung ini dengan mengucapkan kata selamat dan doa baik untuk Arjuna dengan Cahaya kepada kami, selaku kedua orang tua Arjuna. Begitupun dengan aku dan Yulian, membalas mereka semua dengan rasa syukur atas kehadiran mereka dalam acara pernikahan ini.


"Yulian!" teriak Bagas dari ujung pintu gedung.


Ya, Bagas adalah sahabat Yulian dalam dunia bisnis. Aku tak begitu mengenalnya, karena bagiku itu bukanlah hal yang harus aku ketahui tentang kehidupan seseorang yang bukan mahramnya. Hanya saja, aku mengenal dan bahkan sangat mengenal Suci, tak lain adalah istri Bagas. Bagas waktu itu datang bersama Suci, sehingga aku melambaikan tanganku saat berjumpa dengannya.


"Mas, kita sebaiknya menghampiri mereka," ajak ku kepada Yulian.


"Baiklah, ayo!"


Yulian pun mengiyakan, lalu kita melangkah bersama untuk menghampiri Bagas dan Suci yang masih berada di ujung pintu gedung. Aku dan Yulian menyambut kehadiran mereka dengan penuh kehangatan, karena kami sudah menganggap mereka bak saudara yang selalu ada untuk kami.


"Assalamu'alaikum, Aisyah!" ucap salam Suci menyapaku.

__ADS_1


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Suci. Oh iya Suci, aku itu rindu banget sama kamu, loh!"


Aku pun sontak mengungkapkan rasa rinduku kepada Suci. Dan untuk melupakan rasa rindu itu aku memeluk tubuh Suci serta menggenggam erat tangannya. Begitupun Suci yang melakukan hal sama denganku, bahkan ia juga sempat cipika cipiki denganku. Namun, tidak dengan Bagas, hanya senyum sapa biasa tanpa berjabat tangan dengannya. Setelah kami mengobrol untuk mengungkapkan rasa rindu yang sama-sama telah dirasakan, aku dan Yulian kini mengajak mereka untuk menikmati pesta seraya kembali berlanjut dengan urusan kami masing-masing, di mana aku bersama Suci, sedangkan Bagas bersama Yulian.


"Aisyah, aku yakin pasti kamu juga yang mendesain gaun pengantin itu dan juga jas yang dipakai sama Arjuna. Benar, kan?"


"Akh itu ... kamu memang benar Suci, karena aku ingin penampilan putraku dan juga putriku itu keren, bagus dan pastinya terlihat serasi, kan!"


Jawabanku sontak membuat Suci terkekeh, entahlah apa yang menurutnya lucu dari perkataanku itu. Akan tetapi, aku tidak berhenti bertanya kepada Suci tentang yang membuatnya tertawa seperti itu. Dan akhirnya Suci pun menjawab seraya menggodaku. Yang membuatku merasa malu, tetapi untung saja tidak sampai menyimpan pipi yang kemerahan dibalik cadar yang aku kenakan.


"Kata serasi yang kamu ucapkan dengan manja Aisyah, itu lah yang membuatku terkekeh. Aku tahu, kamu pasti setelah ini juga ingin serasi dengan Yulian, kan? Beradu?" ungkap Suci seraya menyatukan kedua telapak tangannya, seolah membentuk burung yang tengah beradu.


"Astaghfirullah hal azim, Suci. Tidak mungkinlah kalau seperti itu, aku tahu kalau aku dan Mas Yulian itu sudah sama-sama tua." Elak ku yang menatap Suci.


Sontak aku membelalakkan ke dua mataku setelah mendengar ungkapan Suci yang fulgar. Bukan hanya itu saja, aku juga membungkam mulut Suci dengan telapak tanganku, dan itu aku lakukan sampai Suci pun berkata tidak akan mengulang kata-kata itu lagi. Setelah itu kami berganti topik ke dunia fashion, setelah Suci menatap tajam Cahaya yang tidak bisa berjalan dengan selayaknya manusia lain.


"Aisyah, aku tidak salah melihat kan? Apa istri Arjuna itu lumpuh?"


Aku mengangguk pelan untuk mengiyakan. Bahkan aku menjelaskan kepada Suci tentang siapa Cahaya. Latar belakang, pekerjaan dan tempat tinggal Cahaya sebelumnya. Bahkan sampai titik pertama di mana aku diperkenalkan oleh Arjuna dengan Cahaya. Yang mampu memikat hati Arjuna saat pada pandangan pertama, seperti yang terjadi saat aku dan Yulian dulu.


"Awalnya_Cahaya itu bekerja sebagai penjaga perpustakan umum di sekitar butik aku, Aisyah Galery. Dan aku pernah datang ke tempat itu untuk sekedar mengisi waktu luangku saja, tapi aku tidak tahu jika Arjuna berada di sana juga. Karena kamu pasti tahu sendiri kesibukan Arjuna itu seperti apa. Dan mulai dari pertemuan itu lah Arjuna mencoba bertanya-tanya kepadaku bahkan memintaku untuk memperkenalkannya dengan Cahaya. Sehingga akhirnya aku mengetahui tentang Cahaya." Jelasku sembari menatap Cahaya.


"Tapi aku bangga sama kamu dan Yulian, Aisyah. Kamu mengajarkan Arjuna yang mencintai seorang wanita tanpa memandang fisik. Dan tentunya aku juga bangga sama kamu dengan hasil desain kamu yang satu ini. Benar-benar terlihat keren!" sanjung Suci kepadaku.

__ADS_1


"Syukurlah kalau kamu mengatakan hal itu, Suci. Karena aku mendesain secara khusus untuk mereka, kesayangan aku." Balas ku yang tersenyum bangga.


Memang semua orang mengatakan bahwa Aisyah Galery selalu menciptakan fashion yang bagus, keren dan selalu menjadi kepercayaan bagi setiap orang dan juga calon pengantin yang hendak melangsungkan pernikahan. Dan gaun yang aku desain secara khusus untuk Cahaya terlihat berbeda dengan yang aku desain sebelumnya. Di mana aku desain dengan penuh renda. Sehingga menampilkan siluet A-line yang klasik. Model gaun pengantin muslimah yang begitu primadona di kalangan saat ini, karena selalu mampu menghadirkan kesan yang fineless.


"Assalamu'alaikum, Tante Suci!" sapa Arjuna.


Arjuna menghampiri aku dan Suci yang masih duduk bersama. Dan Arjuna juga menyapa Suci dengan mengucap salam, bukan hanya Arjuna saja tetapi juga Cahaya ikut bersamanya. Sehingga kami sejenak berbincang bersama-sama dalam satu meja. Dan tidak lama kemudian Yulian datang bersama Bagas dan juga Ahtar. Canda tawa pun kita lakukan bersama disaat pertemuan masih terjadi. Karena mungkin saja setelah acara ini usai dan benar-benar usai, perpisahan akan kembali terjadi antara aku dengan Suci.


"Hei Arjuna, kamu pasti bangga memiliki kedua orang tua seperti Abi dan Umi kamu ini! Coba lihat, Aisyah sudah memberikan segalanya untuk kamu seperti gaun ini! Dan pastinya ini dibuat dengan kasih sayang," ujar Bagas.


"Pasti dong, Om. Arjuna sangat bangga kepada Abi dan Umi_tanpa mereka Arjuna bukan lah siapa-siapa." Balas Arjuna seraya menatapku dan Yulian.


"Dan iya_Arjuna, Tante pesan sama kamu, bahwa kamu harus memiliki sifat seperti Abi kamu, Yulian. Tetap sabar, setia dengan pasangan kamu dan kalian harus saling ada setelah janji suci mengikat kalian." Tutur Suci lembut sembari menatap lembut Cahaya yang tengah duduk di sampingnya.


"Insyaa Allah, Tante. Arjuna akan berusaha untuk selalu menjaga Cahaya, sabar dan setia. Tante doakan yang baik kepada kami dalam rumah tangga yang kami jalani. Karena doa baik dari orang yang baik, insyaa Allah akan tetap terjaga,"


Suci mengangguk pelan mengiyakan. Dan setelah cukup lama kami berbincang tidak lama kemudian Suci dan Bagas berpamitan kepada kami sekeluarga. Bukan hanya dengan kami saja, tetapi dengan Paman Cahaya yang masih setia berada di tempat pesta pernikahan. Namun, tidak lama kemudian Paman Cahaya pun ikut berpamitan yang ingin segera meninggalkan tempat ini.


"Permisi, Pak-Bu! Saya rasa cukup sampai disini pertemuan di antara kita. Dan sebelum saya berpamitan, saya ingin menyerahkan Cahaya sepenuhnya kepada kalian, selaku keluarga nak Arjuna. Maaf atas kekurangan Cahaya sebagai seorang wanita yang mungkin saja masih kurang berkenan dalam keluarga Bapak dan Ibu." Ujar Paman Cahaya dengan begitu sopan.


"Penyerahan Anda kami Terima dengan tangan terbuka, Pak. Kami sekeluarga tidak akan mempermasalahkan kekurangan apapun yang dimiliki oleh Cahaya. Karena setiap manusia memiliki banyak kekurangan." Balas Yulian tersenyum tipis.


"Iya, Pak. Pak Hasan tidak perlu khawatir tentang Cahaya, karena kami akan merawat dan menyayangi Cahaya seperti putri kami sendiri," imbuhku kemudian.

__ADS_1


Pak Hasan terlihat bahagia setelah mendengar penuturan kami tentang Cahaya yang akan kami anggap sebagai putri kami sendiri. Dan setelah itu, Pak Hasan pun meninggalkan ruang gedung dengan langkah cepat. Sedangkan aku dan yang lainnya masih berada di ruang gedung untuk melakukan sesi berpose. Mengabadikan kembali momen yang terindah bersama keluarga kecilku.


__ADS_2