HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Memberi Pengertian


__ADS_3

"Aku bangga dengan Abi dan Umi yang selalu harmonis dalam merajut cinta." Ujar Arjuna yang memandangiku dengan Yulian.


Pelukan dan kecupan yang dilakukan Yulian di keningku, selalu memberikan pengertian tersendiri bagi seorang istri. Dan aku menyukai akan hal itu dari Yulian, karena dengan itu Yulian mampu menenangkan diri ini dalam kekalutan, dalam kesedihan dan selalu menjadi penenang.


"Itu lah yang namanya rumah tangga, sayang. Harus berusaha saling menyayangi, mencintai dan mengasihi satu sama lain. Dan paling utama dalam rumah tangga yaitu saling adanya kepercayaan satu sama lain. Karena pondasi dalam rumah tangga yaitu saling percaya. Jika kepercayaan itu hilang atau bahkan tidak ada maka, hancurlah rumah tangga itu." Tutur Yulian lembut.


Aku benar-benar ternyuh dengan tutur kata Yulian. Dan itu membuat diri ini tak ada kata menyesal, karena sudah memilihnya sebagai tambatan hatiku. Jiwa pemimpin seorang imam dalam rumah tangga telah di milikinya. Dan itu semakin membuatku percaya cinta sejati itu ada.


"Ya sudah, bagaimana kalau kita tunda dulu acara bersenang-senang untuk malam ini? Karena Umi mendengar suara adzan magrib telah berkumandang, alangkah baiknya jika kita memenuhi panggilan-Nya terlebih dahulu,"


"Benar kata Umi, kalau begitu kita sholat berjama'ah saja di ruang tengah. Bagaimana?" Sambung Yulian.


Dan seperti biasa, tak ada kata penolakan dari ke dua putraku itu. Akan tetapi, aku melihat kesedihan dibalik wajah Cahaya. Seolah tengah menyimpan sesuatu hal dalam dirinya, tetapi telah ditutup rapat olehnya agar semua orang tak ada yang tahu termasuk Arjuna. Sehingga aku melangkah untuk menghamipirinya lalu berbisik dan bertanya.


"Aku akan mengambil air wudhu bersama Cahaya,"


"Eh_iya tentu, Umi. Sayang, kalau begitu kamu sama Umi terlebih dahulu ya!" ujar Arjuna.


Sejenak Arjuna melukiskan senyumnya sebelum meninggalkan Cahaya bersamaku. Dan ketika ke tiga lelaki yang menjadi penghuni rumah ini sudah beranjak pergi untuk mengambil air wudhu, aku pun mulai beraksi bersama Cahaya. Ku dorong pelan kursi roda Cahaya dan kami pun menuju ke kamar tamu.


"Cahaya, apa kamu perlu bantuan dari Umi?" tanyaku memastikan.


"Akh_tidak, Umi." Jawab Cahaya singkat sembari menundukkan kepalanya.


"Cahaya, tataplah wajah Umi ini!" pintaku.


Seolah Cahaya merasa enggan untuk menataoku dan Dia terus menundukkan kepalanya. Dan aku merasa yakin bahwa Dia tengah menyimpan sesuatu hal yang berusaha disimpannya rapat. Akan tetapi, aku mencoba memberikan pengertian kepadanya agar mampu terbuka denganku, meskipun aku bukanlah seorang ibu yang baik bagi putra-putraku.

__ADS_1


"Cahaya, ada apa denganmu? Kenapa kamu terlihat tengah menyimpan sesuatu hal yang membuatmu bersedih seperti ini?" tanyaku dengan nada yang masih sopan.


Aku berusaha untuk semakin dekat dengan Cahaya, agar Dia mau mencurahkan kepenatan di dalam jiwa yang membebani pikirnya itu. Dan aku berusaha untuk meluluhkan hatinya agar mau terbuka denganku. Namun, aku hanyalah manusia biasa yang tidak bisa memaksa kehendak orang lain untuk tetap mencurahkan segala kepenatan yang ada di dalam dirinya.


"Cahaya, Umi ini adalah Ibu kamu. Ya_walaupun hanya seorang Ibu mertua, tapi Umi akan berusaha untuk memberi pengertian, kasih sayang, cinta dan semuanya yang Umi bisa. Jadi, ceritakanlah apa yang masih mengganjal dalam pikiran kamu!"


Akhirnya Cahaya pun perlahan mendongakkan kepalanya lalu menatapku dengan tatapan tenang. Dan beberapa menit kemudian Cahaya mencoba untuk mencurahkan yang ada di dalam hatinya. Begitupun denganku, aku akan berusaha menjadi pendengar yang baik.


"Saya merasa malu, Umi. Saya merasa tidak pantas bersanding dengan Arjuna dan menjadi bagian dari keluarga ini. Arjuna terlalu sempurna menjadi suami saya, dan_kalian terlalu baik kepada saya. Sedangkan saya ... saya hanya wanita biasa yang lumpuh, yang bisa saja menjadi bahan olok di luar sana ketika mereka semua tahu bahwa saya cacat." Ungkap Cahaya seraya menitihkan air bening dari ujung pelupuk matanya.


Sejenak aku terdiam mencerna setiap kata ayang diungkapkan oleh Cahaya. Setelah memahaminya, aku melayangkan pelukan yang akan memberikan pengertian kepadanya. Berhubung waktu yang terus berjalan dan pastinya Yulian, Arjuna dan Ahtar juga sedang menunggu kami kembali ke ruang tengah untuk menjalankan sholat maghrib, aku pun memutuskan untuk mengajak Cahaya segera mengambil air wudhu.


"Cahaya ... mungkin saat ini hati kamu tengah terluka, diri yang menahan malu, menahan hal yang menurut kamu tidak lah pantas untuk Arjuna. Dan untuk menenangkan semua kegundahan, kegelisahan dan keraguan di sini, lebih baik kita segera mengambil air wudhu untuk menjalankan sholat lima waktu." Tutur ku sembari menunjuk hati Cahaya yang terluka.


"Hapuslah air mata kamu! Kalau kamu merasa sulit untuk melakukan wudhu, kamu bisa tayamum. Sungguh, Allah itu akan mempermudah untuk umat-Nya dalam menjalankan sholat lima waktu." Sambung ku sembari melukiskan senyum.


"Kalian kenapa lama sekali mengambil air wudhunya?" tanya Yulian menyelidik.


"Tapi kan, tidak telat Bi waktu sholatnya! Ya sudah, kita mulai saja sholatnya!"


Akhirnya sholat berjama'ah pun telah dijalankan. Akan tetapi, sebelumnya tidak lupa untuk Arjuna beriqomah terlebih dahulu. Setelah itu Yulian menjadi imam dalam memimpin jalannya sholat. Dan yang lain termasuk aku sebagai makmum yang mengikuti sholat.


Dan kurang lebih lima belas menit sudah akhirnya sholat yang kami jalankan telah usai dengan gerakan salam di akhir. Setelah itu, tak lupa bagi Yulian menunaikan bacaan dzikir sebagai pembersih hati yang dipenuhi kebencian, kekafiran, rasa iri dan dengki. Begitupun dengan kami yang sebagai makmum, mengikuti apa yang dibacakan seorang imam.


"Bagaimana, Cahaya? Apakah kamu sudah jauh lebih tenang sekarang?" tanyaku memastikan.


"Alhamdulillah! Saya sudah jauh lebih tenang, Umi. Terima kasih atas semua pengertian yang Umi berikan kepada saya. Dan saya_benar-benar beruntung berada di tengah-tengah keluarga yang selalu menghangatkan," jawab Cahaya merasa senang.

__ADS_1


"Alhamdulillah, syukur jika kamu sudah jauh lebih tenang dan tidak merasa bahwa kamu tidak pantas berada di keluarga ini sekaligus menjadi seorang istri dari putra Umi, Arjuna." Ujarku melukiskan senyum dibalik cadar ku.


Akhirnya sholat yang kami jalankan benar-benar usai. Dan kami pun kembali melanjutkan acara yang sempat tertunda, yaitu makan malam bersama. Di mana kami melangkah bersama-sama untuk menuju ke ruang makan. Dan malam ini adalah malam yang membahagiakan untuk ku meskipun serpihan luka masih terbayang di dalam pelupuk mata.


"Wah! Semua makanannya terlihat lezat nih!" ungkap Ahtar.


Ahtar seakan tidak sabar untuk segera menyantap makanan yang sudah dihidangkan di atas meja. Dan memang benar makanan yang sudah dipesan oleh Yulian semua tentang makanan kesukaan kami. Ada banyak pilihan di sana, kecuali udang. Karena kami sekeluarga menghindari udang yang akan menimbulkan masalah bagi Yulian sendiri jika memakannya.


"Ya sudah! Ahtar, kamu pimpin doa nya sekarang!" pinta Yulian.


Ahtar pun mengikuti permintaan Yulian, meskipun bukan anak kecil lagi tetapi, Ahtar di didik untuk menjadi anak yang disiplin. Sehingga suatu saat nanti Dia menjadi seorang pemimpin yang adil, berwibawa dan memiliki sifat rendah hati terhadap siapapun. Setelah Ahtar membacakan doa, kami pun siap menyantap makanan sesuai dengan selera kami. Dan tidak lupa dengan suasana rumah yang gelap, tanpa adanya cahaya lampu, hanya ada lilin sebagai penerang dalam. acara makan malam kami.


Seperti biasa, tidak ada suara apapun yang terdengar saat acara makan tengah berlangsung. Sehingga kami semua benar-benar menikmati makan malam yang direncanakan ini. Dan beberapa menit kamudian akhirnya acara makan malam kami pun telah usai.


"Umi, jangan melakukan apapun setelah ini! Dan yang membereskan ini semua biarlah bik Inem saja! Sekarang, kita semua ke ruang keluarga untuk menikmati acara kebersamaan kita setelah hadirnya Cahaya sebagai anggota keluarga baru." Ujar Yulian seraya menatap Cahaya dengan melukiskan senyum keramahan.


"Baiklah! Kalau tentang itu_Umi setuju dengan Abi." Seru ku yang mengiyakan.


"Arjuna juga setuju! Karena Arjuna ingin menikmati kebersamaan kita semua sebelum Arjuna kembali tempur di ruangan itu." Sambung Arjuna menyetujui seraya menatap lekat Cahaya.


"Baiklah! Kalau semua setuju_Aku juga setuju!"


Dan kami semua akhirnya menyetujui ajakan Yulian. Sehingga kami berpindah ke ruang keluarga dan mengobrol ringan yang sesekali diselingi dengan tawa riuh. Di mana obrolan kami hanya tentang Arjuna semasa kecil, sehingga membuatnya merasa malu dihadapan Cahaya. Begitupun dengan Cahaya yang merasa terhibur dengan canda tawa yang diciptakan oleh Yulian dan ke dua putranya.


Waktu terus berjalan dengan begitu cepat. Bahkan malam hampir melarut, sehingga kami mengakhiri keseruan di dalam kebersamaan kami. Dan kami semua memutuskan untuk menuju ke kamar masing-masing dan beristirahat sebelum pagi kembali menyambut kami.


"Mas, aku tidak menyangka kalau kamu merencakan ini semua dibelakang aku. Tapi sungguh, aku merasa bahagia dan terhibur malam ini. Terima kasih atas pengertian yang kamu berikan untuk ku_dan kita semua." Ucapku dengan rasa bahagia.

__ADS_1


"Aku melakukan ini semua karena aku tahu perasaan kamu seperti apa, Aisyah. Kita bukan hanya sebentar atau masih baru kemaren bersama, tapi kita sudah bertahun-tahun bersama. Jadi, aku sudah mengenal dirimu lebih dari siapapun." Balas Yulian lalu mendekapku dalam kehangatan.


__ADS_2