
Setelah memasuki kamar tercintaku, aku segera mengambil handuk lalu menuju ke kamar mandi untuk melakukan ritual di dalam sana. Dan seperti biasanya, hanya membutuhkan waktu lima belas menit untuk menjalankan ritual itu. Setelah itu, aku hanya berpakaian gamis tanpa mengenakan hijab ataupun cadar yang menempel di wajahku.
"Mas, mandi sana gih!"
Aku meminta Yulian untuk segera membersihkan tubuhnya. Setelah itu, aku menanti adzan magrib seraya menatap sunset dari atas balkon. Terlihat begitu indah yang mampu memberikan warna kota Medan di sore itu. Dan setengah jam akhirnya sudah berlalu, dan tidak lama kemudian aku mendengar seruan adzan telah dikumandangkan dengan merdu. Seketika itu, aku masuk kembali ke dalam kamar dan menutup semua jendela serta korden yang menghiasi setiap jendela.
"Aisyah, jika kamu masih memeliki wudhu lebih baik kita segera melakukan sholat maghrib." Ajak Yulian seraya membentangkan sajadah di lantai.
"Iya, Mas. Aku masih memiliki wudhu." Jawabku dengan lembut, lalu aku segera mengambil sajadah beserta mukena.
Sholat maghrib pun aku jalankan bersama dengan Yulian. Dan setelah tiga rakaat kami. jalankan bersama, tidak lupa untuk kami beriktikaf dengan membaca dzikir lalu dilanjutkan dengan membaca Al-Quran. Dan aku merasa, surga dalam istanaku telah tercipta dengan sempurna. Sosok suami yang membimbingku dalam menuju surga yang sesungguhnya.
"Shodakallaahulazim." Aku pun mengakhiri bacaan ku.
Setelah itu, aku menutup Al-Quran yang suci. Lalu, aku mencium punggung tangan Yulian layaknya sebagai seorang istri yang menjaga kepatuhan terhadap suaminya. Begitupun dengan Yulian, ia mengecup keningku selayaknya suami yang melakukan kewajiban menjaga istrinya. Seketika kurasakan kehangatan itu telah kembali.
"Apa yang kamu lakukan setelah ini, Aisyah? Tidak mungkin kan, kalau kamu mau masak?"
"Ya tidaklah, Mas. Emm, tapi enaknya mau ngapain ya?"
Aku memutar kedua bola mataku untuk berpikir, dan setelah cukup lama aku pun mengingat sesuatu hal. Sehingga aku meminta ijin kepada Yulian untuk bertemu dengan Arumi yang berada di kamar tamu. Begitupun dengan Yulian yang mengijinkan permintaanku itu. Dan sebelum pergi menemui Arumi, tidak lupa aku memakai hijab syar'i ku beserta cadarnya. Lalu, tanpa persetujuan dari Yulian aku memberikan kecupan di pipinya, yang membuatnya sontak merasa terkejut. Karena ia terlalu fokus dengan ponselnya.
__ADS_1
Dan dari ujung pintu yang belum aku tutup dengan rapat terlihat Yulian tengah tersenyum, bahkan ia mengelus-elus pipinya yang kuberikan kecupan tadi. Setelah itu, aku menutup pintu itu dengan rapat dan segera menemui Arumi yang berada di kamarnya.
"Tok, tok, tok." Aku mengetuk pintu dengan pelan.
Tidak lama kemudian dari balik pintu Arumi membukakannya untukku. Dan seketika ia memintaku untuk segera masuk ke dalam kamarnya. Banyak hal yang kita bahas bersama, dan itu masih meliput tentang Khadijah. Yang ingin sekali aku dipertemukan dengan segera dengannya. Namun, saat ini waktu belum memihak kepadaku. Sehingga aku harus bersabar untuk menunggu sampai waktu itu tiba.
"Aisyah, apa kamu tidak merasa takut dengan apa yang menjadi keputusanmu itu? Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan Yulian?"
"Arumi, banyak hal yang aku takutkan jika aku tidak melakukan semua itu. Aku hanya tidak mau kesedihan akan berlarut dalam kehidupan Yulian ... dan juga anak-anak ku. Tolong, mengertilah!"
"Aku akan berusaha mengerti, Aisyah. Aku hanya bisa mendoakan kamu, semoga kamu mampu melewati semua ini." Arumi menatapku lekat lalu, memberikan pelukan sebagai penguatku.
Aku pun melangkah kan kakiku dan mendekati Yulian tanpa terdengar suara langkah tersebut. Lalu, ku tatap wajahnya yang lelah dan merasa letih. Yang seketika membuat ku berpikir kembali tentang pertanyaan Arumi mengenai rasa takutku setelah keputusan yang kubuat itu.
"Kamu benar, Arumi. Rasa takut itu tiba-tiba menyelimuti ku, di mana aku merasa takut jika aku harus melihatnya dengan yang lain. Apalagi merasakan cinta utuhnya untukku, lalu harus dibagi dengan wanita lain. Rasanya aku tidak sanggup." Aku menatap wajah Yulian.
Malam itu rasa takut benar-benar menyelimuti ku. Bahkan aku takut, lebih dulu kematianku daripada melihatnya bahagia dengan wanita lain. Dan perasaan itu bercampur menjadi satu dalam diriku. Ingin sekali rasanya aku berteriak dan memohon kepada Allah agar tidak mengirimkan malaikat maut untukku sebelum melihat Yulian bahagia.
Air mata yang kubendung serasa tidak dapat kutahan lagi. Sehingga aku meluapkannya di dalam kamar mandi. Tangisku pun menderu, ingatan ku pun tentang masa indah saat bersama Yulian dan juga bersama dengan anak-anak yang aku sayangi.
"Aisyah, apakah kamu berada di dalam?"
__ADS_1
Tiba-tiba kudengar suara Yulian memanggil namaku. Seketika itu aku menyerka air mataku, agar Yulian tidak melihatnya, mataku yang terlihat sayu segera ku segarkan dengan membasuh nya. Sehingga tidak terlalu terlihat akan perubahan dalam diriku. Dan dengan suara sedikit serak aku pun menjawab.
"Iya, Mas." Teriakku.
Tidak lama kemudian aku pun membuka pintu itu dan bertemu dengan Yulian, karena ia masih berada di depan kamar mandi seraya berdiri mematung. Yang membuatku merasa terkejut dengan apa yang dilakukannya di sana.
"Mas Yulian, mau ngapain?"
"Aku menunggu kamu keluar. Karena, aku mau ngobrol sebentar sama kamu. Kamu belum megantuk, kan?"
"Belum kok, Mas." Aku menggelengkan kepalaku.
Yulian pun menarik ku lalu, ia memintaku untuk merebahkan tubuh ku di atas ranjang. Dan ia pun mengikutiku, lalu memulai obrolan kecil denganku seraya mendekapku dalam pelukannya. Dan itu membuatku merasa nyaman di dalam kehangatan yang mungkin suatu saat nanti tidak bisa aku rasakan lagi.
"Andai saja keadaan bisa ku rubah dengan mudah, seperti mudahnya membalikkan telapak tangan. Pasti akan aku lakukan saat ini juga, agar aku tetap merasakan hangatnya dekapanmu, bisa mengobrol dengamu mulai dari hal yang paling kecil dan masih ada banyak hal yang ingin aku lakukan bersamamu, Yulian. Tapi, kenyataannya aku tidak bisa merubah keadaan yang saat ini aku rasakan." Kataku dalam hati seraya menatap Yulian dari bawah naungannya.
"Aku rasa sudah larut malam, kamu harus tidur dan beristirahat." Yulian mengusap lembut ujung ubun-ubunku.
"Emm ... bolehkah aku tidur dalam dekapanmu seperti ini, Mas?"
Yulian pun menatapku seraya mengekspresikan wajahnya dengan mengerutkan kening, seolah ia menyimpan pertanyaan atas keinginanku ini. Tapi, ia tidak mempertanyakan apapun, dan ia jiga mengiyakan permintaan ku. Dan malam itu, rasa takut dalam diriku sejenak dapat kutepiskan. Hingga akhirnya aku tertidur dengan pulas.
__ADS_1