
Setelah ku nikmati makan malam yang indah dan terasa begitu istimewa, kini saatnya aku kembali menghadap Tuhan bersama Yulian dalam memenuhi kewajiban kami selama hidup di dunia. Yulian pun berdiri di depanku untuk melakukan tugasnya sebagai imam, sedangkan aku, aku berdiri di belakang Yulian, tepatnya di sebelah sisi kanan. Tidak lama kemudian Yulian menyerukan suara takbir, di mana shalat akan kami. lamgsungkan dengan se-kushu' mungkin.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Yulian mengucap salam seraya menoleh ke sisi kanan lalu, ke sisi kiri.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Aku pun mengikuti Yulian yang sebagai imam.
Setelah usai salam, tidak lupa kami menyerukan dzikir untuk menenangkan hati dan pikiran yang sejenak terasa terbebani. Dan lima belas menit pun sudah berlalu, setelah menyelesaikan shalat lima waktu kami memutuskan untuk melanjutkan kembali acara makan malam bersama di dalam kamar ini dengan beberapa hidangan hasil masakan restoran yang ada di hotel ini. Bisa dibilang momen ini menjadi momen yang tak bisa aku lupakan begitu saja. Di mana di sana, di atas langit terlihat namaku dan nama Yulian telah terukir dengan indah bersamaan dengan nyalanya kembang api.
"Bagaimana, apakah kamu suka dengan kejutan yang aku berikan, Aisyah?"
"Alhamdulillah, aku sangat menyukainya, Mas. Tapi, bagaimana bisa Mas Yulian melakukan itu semua?"
"Mungkin kamu tidak percaya dengan apa yang akan aku katakan ini. Tapi kamu harus tahu, bahwa aku dibantu oleh Tristan dan juga Arumi." Jawab Yulian menjelaskan lalu, ia mengembangkan bibirnya.
Seketika aku merasa terkejut, bagaimana bisa Tristan dan Arumi begitu mudah dalam membantu Yulian untuk menyiapkan keindahan di malam ini, di kota Edinburgh sebagai kota impianku. Dan untuk memastikannya kembali, aku melontarkan pertanyaan kepada Yulian agar Yulian menjelaskan kembali secara detail kepadaku. Karena aku masih penasaran akan kedatangan Yulian dengan Arumi.
"Apa, Tristan dan juga Arumi?"
"Iya, Aisyah. Awalnya aku hanya menghubungi Tristan untuk memintanya membantuku dalam masalah ini, dan saat aku berkomunikasi dengan Tristan melalui video call tiba- tiba di sana Arumi hadir begitu saja. Dan ternyata, Arumi tak lain adalah istri Tristan. Entah ini secara kebetulan atau bagaimana?"
"Maksud Mas Yulian, Tristan dan Arumi adalah pasangan suami istri?"
"Benar, Aisyah. Pasti kamu juga tidak percaya begitu saja, kan? Dan bagiku hidup ini itu sempit, kita di pertemukan dengan mereka yang ternyata pasangan suami istri." Yulian tertawa kecil.
Setelah mendengar cerita dari Yukian, yang tidak pernah aku duga sebelumnya, aku merasa benar-benar bersalah kepada Arumi atas tuduhan yang sudah ku lontarkan kepadanya. Mungkin jika orang lain yang berada di posisi ku pun juga merasakan hal yang sama. Memiliki rasa curiga yang membuat diri tak dapat menahan gejolak api cemburu yang membara. Namun, kesalahpahaman itu telah berakhir setelah hati berubah tidak mengeras, mata tidak buta dan bibir yang berkata santun.
__ADS_1
"Tapi, aku pikir-pikir mereka itu sangat cocok dan terlihat begitu serasi loh, Mas." Ungkap ku yang membayangkan Arumi dan juga Tristan dalam anganku.
"Itulah takdir dan jodoh. Kita tidak akan pernah tahu siapa dia, darimana datangnya dan semuanya tentang jodoh kita. Begitupun dengan kita, meskipun kita sudah mengikat janji yang suci, jika Allah berkehendak lain maka kita bukanlah jodoh. Namun, Allah selalu memihak kepada kita, selalu dipertemukan setelah melewati banyak sekali rintangan. Dan aku bersyukur sampai saat ini dan bahkan detik ini, kita masih bersama, Aisyah." Perlahan Yulian menggenggam jemariku yang runcing.
Yulian pun merangkulku dalam tubuh tegapnya, lalu kita memandang kembali langit yang dipenuhi dengan keindahan mekarnya kembang api. Dan ketika kita tengah menikmati suasana romatis tiba-tiba ponselku berdering, menandakan ada panggilan masuk ke dalam nomorku. Sehingga membuatku segera meninggalkan suasana yang menghanyutkan saat berada dalam pelukan Yulian.
"Ahtar?"
Ya, panggilan itu tak lain dari Ahtar, putra ke dua ku. Entahlah, mengapa Dia menelfon diwaktu yang tidak tepat? Namun, aku harus tetap mengangkat panggilannya, karena siapa tahu saja itu penting. Dan aku pun berucap salam setelah menerima panggilan Ahtar, "Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam, Umi." Ahtar pun tersenyum dengan sumringah.
"Ada apa kamu menelfon, sayang? Apa ada sesuatu hal yang penting?"
Tanpa ku sadari lampu di kamar hotel ini belum dinyalakan kembali oleh Yulian. Dan itu membuatku merasa kikuk ketika ingin menjawab pertanyaan Ahtar. Sehingga aku pun meminta Yulian untuk segera menyalakan lampu di kamar ini. Tidak lama kemudian lampu kamar ini pun menyala dengan begitu terangnya. Namun, kesalahan kembali terjadi saat Ahtar tanpa sengaja melihat beberapa tatanan dinner romantisku bersama Yulian.
"Tunggu-tunggu! Jangan bilang kalau Umi dan Abi sedang romantis-romantisan terus sengaja memadamkan lampunya saat ingin melakukan itu? Argh! Ahtar jadi pengganggu dong? Terus dedek bayinya belum jadi dong?"
Sejenak aku dan Yulian terdiam, lalu saling menatap seraya menahan tawa yang membuatku merasa geli atas sikap Ahtar yang seolah terus memojokkan kami. Namun, tidak lama kemudian Yulian bersua dan memberikan jawaban kepada Ahtar dari setiap ucapannya. Sedangkan aku hanya menjadi mendengar yang baik dan setia ketika mereka saling bercanda melalui telepon genggam.
"Itu tandanya, kakaknya sudah jahat. Karena hadir diwaktu yang tidak tepat,"
"Hahahaha! Maafin kakaknya ya, dek! Habis, kakaknya kangen banget sama Umi, Bi. Seperti sudah berabad-abad tidak bertemu dengan kalian, cuma kakek yang menemani Ahtar di rumah, kan tidak seru." Gerutu Ahtar seraya memanyunkan ujung bibirnya.
"Dek, tidak boleh seperti itu! Adek harus bisa mandiri, apalagi sebentar lagi hari kelulusan akan segera tiba. Di mana itu akan menjadi titik awal Adek untuk menjadi lelaki yang lebih dewasa lagi, seperti bang Juna." Tutur Yulian dengan lembut.
__ADS_1
"Iya, Bi. Insyaa Allah Ahtar akan mencoba untuk bersikap lebih dewasa lagi. Oh iya, bagaimana bang Juna sama kak Cahaya di sana?"
"Alhamdulillah, di sini semuanya baik. Bagaimana dengan kamu dan kakek di Medan?"
"Alhamdulillah, Ahtar dan Kakek juga baik kok, Bi. Tetapi, beberapa hari ini Medan di landa hujan, Bi." Ahtar pun memperlihatkan suasana kota Medan yang saat itu tengah hujan.
"Kamu dan Kakek harus bisa jaga kesehatan. Jangan sampai lalai untuk mengenakan masker di saat bepergian." Pinta Yulian yang mengingatkan Ahtar akan dunia yang sedang tidak baik-baik saja beberapa tahun lalu hingga saat ini yang masih harus diwaspadai.
Beberapa menit kemudian percakapan yang hanya melalui telepon genggam kini telah berakhir. Dan itu membuatku menyadari bahwa diri ini pun tengah merindukan kota Medan, kota kelahiran ke dua orang tua kandungku. Yang ku jadikan sebagai tempat singgah sampai di hari tuaku nanti, tepatnya rumah mewah di Griya Riatur Medan. Helvetia, Medan, Sumatera Utara.
"Mas, entah kenapa aku mulai merindukan kota Medan. Mulai dari suasana di sana, kebersamaan di sana, Aisyah Galery dan aktivitas lainnya di sana." Aku mengungkapkan kerinduanku tentang kota Medan kepada Yulian.
"Kamu tenang saja, Aisyah. Setelah kamu merasakan kepuasan di sini, maka kamu boleh memilih kapan kita akan kembali pulang." Yulian mengusap lembut pipiku.
Aku pun mengangguk pelan mengiyakan setiap turut kata lembut Yulian yang ditujukan kepadaku. Dan hal itu kembali terjadi, di mana Arjuna hadir di saat aku dan Yulian ingin saling memberikan kecupan di bibir. Sehingga aku pun harus segera membukakan pintu untuk Arjuna. Namun, sebelum itu aku lakukan tidak lupa untukku memakai kembali hijab syar'i serta cadar ku.
"Arjuna, ada apa?"
"Emm, Arjuna ingin mengajak Abi dan Umi ke lapangan golf. Bagaimana?"
"Wah, terdengar seru itu! Baiklah, Abi mau ke sana. Bagaimana, Umi?"
"Emm, Umi akan ikut saja dengan kalian." Jawabku seraya melihat ke arah Cahaya yang tengah menganggukkan kepalanya, seolah ia memintaku untuk ikut bersama dengan mereka.
Dan kini, kami berempat menuju bersama ke. lapangan golf yang sudah disediakan di hotel ini. Yang lokasinya juga tidak terlalu jauh dengan hotel ini. Sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk kami sampai di lapangan golf. Dan di lapangan tersebut kami semua melepas tawa bersama karena, melihat tingkah seorang ayah yang tidak mau kalah dengan putranya. Namun, tiba-tiba ponselku berbunyi. Menandakan ada pesan masuk, entah dari siapa itu?
__ADS_1