HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Apa Yang Terjadi?


__ADS_3

Akhirnya aku sampai di juga di Aisyah Galery. Dan setelah ku parkir kan mobilku, segeralah aku bergegas menuju ke sebuah ruangan yang menjadi tempat pertemuan ku dengan Jesica. Saat menuju ke ruangan itu, tidak lupa aku menyapa semua staf yang bekerja di Aisyah Galery bahkan, aku juga memberikan beberapa bingkisan untuk mereka sebagai tanda buah tangan dari Edinburgh.


"Terima kasih, Bu Aisyah!"


"Sama-sama semuanya. Oh iya, Nona Jesica belum datang, kan?"


"Belum, Bu. Mungkin sebentar lagi." Jawab Safira yang menundukkan punggungnya.


"Ya sudah, kalau begitu saya ke ruangan dulu! Nanti jika, Nona Jesica sudah datang tolong minta Dia untuk menemui saya di ruangan!"


Safira mengangguk pelan mengiyakan permintaanku. Setelah itu, aku lagsung menuju ke ruangan ku. Sesampai di dalam sana aku segera mengenyatkan pantatku lalu, melihat kembali semua data dari Jesica dan memastikan bahwa tidak ada yang slaah dari data tersebut. Dan ketika aku masih sibuk dengan tugasku, tiba-tiba ponselku yang berada di atas nakas berdering begitu saja, menandakan ada telfon masuk ke dalam nomorku.


"Assalamu'alaikum." Ucap salam dari seberang.


"Waalaikumsalam" Balas ku kemudian.


"Aisyah, aku baru saja sampai di Bandara Internasional Juanda, Surabaya. Bagaimana keadaan Cahaya?"


"Alhamdulillah, kalau mas Yulian sudah sampai tujuan dengan selamat. Dan tentang Cahaya ... aku belum tahu pasti bagaimana keadaannya sekarang, Mas. Karena aku masih berada di Aisyah Galery, baru juga sampai di sini, Mas." Jelasku dan masih menunggu Jesica.


"Baiklah kalau begitu! Ya sudah, aku mau melanjutkan lagi perjalananku ke tempat penginapan. Kamu hati-hati, Aisyah!"


"Insyaa Allah Mas, aku akan selalu berusaha untuk menjaga diri. Mas Yulian juga hati-hati di sana!"


"Insyaa Allah. Assalamu'alaikum,"


"Waalaikumslaam." Tidak lama kemudian kami saling mematikan telepon.

__ADS_1


Percakapan antara aku dan Yulian yang hanya sebentar, setidaknya menenangkan hatiku setelah mendapat kabar tentangnya yang baik-baik saja. Dan di ruangan ini aku masih setia menunggu kehadiran Jesica yang tak kunjung datang juga. Entahlah! Apa yang sebenarnya terjadi dengannya? Sehingga membuatnya terlambat untuk bertemu denganku di Aisyah Galery. Meskipun sudah kucoba menghubungi nomornya, tetapi tidak ada jawaban pasti darinya. Atau mungkin Dia sedang sibuk dengan pasien yang ada di Rumah Sakit.


Sudah hampir pukul setengah dua belas, tetapi Jesica masih belum kunjung datang juga. Dan ingin sekali rasanya aku segera meninggalkan Aisyah Galery untuk segera menuju ke Rumah Sakit dan menemani Cahaya. Namun, janji adalah janji yang harus di penuhi, sehingga aku masihencoba menunggu Jesica, siapa tahu sebentar lagi Dia akan datang ke sini.


Dan beberapa menit kemudian terdengar suara dari luar tengah mengetuk pintu ruang kerja ini. Lalu, orang tersebut masuk ke dalam ruangan ku setelah aku mempersilahkannya untuk segera masuk. Dan ternyata itu Dia, Jesica. Yang sudah kutunggu sedari tadi akan kedatangannya.


"Hai, Umi Aisyah. I'am so sorry, kali ini aku benar-benar terlambat untuk bertemu denganmu." Jesica menatapku lalu, permintaan maaf pun terlontar dari bibirnya.


"Tidak apa-apa, Jesica. Kalau begitu kita mulai saja!"


Bagiku tidak membutuhkan waktu yang lama lagi untuk sekedar berbasa-basi dengan Jesica, sehingga aku memutuskan untuk segera memulai apa yang perlu dibahas dengannya dalam pertemuan kali ini. Setelah cukup lama aku menjelaskan tentang gedung, rias dan gaunnya, akhirnya pertemuan di antara kami membuahkan hasil yang sempurna. Jesica seketika menyetujui apa yang sudah kurangkai untuk acara pernikahannya yang akan dilangsungkan esok hari.


"Thank you so much, Umi. Aku percayakan semuanya kepada Umi Aisyah. Karena, aku yakin pasti semuanya akan lancar." Bibir tipisnya melukiskan senyum merekah yang indah.


"Alhamdulillah kalau kamu menyukainya, Jesica. Semoga akan dilancarkan besok!"


"Assalamu'alaikum, Cahaya. Bagaimana? Apa kamu sudah melakukan pemeriksaannya?"


"Waalaikumslaam, Umi. Belum Umi, masih ada beberapa antrian lagi sebelum Cahaya. Bagaimana dengan Umi sendiri, lancar pertemuannya dengan Jesica?"


"Alhamdulillah, sayang. Ya sudah kalau begitu, Umi akan segera sampai di sana."


"Iya, Umi. Umi hati-hati di jalan!"


"Insyaa Allah, assalamu'alaikum." Aku pun mematikan telepon setelah Cahaya menjawab salamku.


Tidak membutuhkan waktu yang lama untukku menuju ke Rumah Sakit. Sekitar lima menit lagi aku pun akan sampai di sana. Dan akhirnya aku sudah berada di depan Rumah Sakit lalu, memarkirkan mobilku dengan segera di tempat parkir yang sudah disediakan. Kemudian, aku melangkahkan kaki dengan cepat untuk menuju ke ruang dokter kandungan.

__ADS_1


Aku berjalan menelusuri setiap lorong Rumah Sakit yang saat itu cukup ramai dengan orang yang berlalu lalang melintas di sana. Bahkan aku sempat bertabrakan dengan seorang lelaki, sehingga membuatku sedikit merasa sakit di bahuku. Namun, aku tidak mempermasalahkan atas rasa sakit yang tengah aku rasakan. Dan tidak lupa juga untukku mengucapkan kata maaf kepada lelaki itu. Lelaki yang jauh lebih muda daripada Yulian, sekitar seumuran dengan Arjuna.


"Maaf, saya tidak sengaja!"


Dia melontarkan kata yang sama denganku, yang meminta maaf atas kesalahannya. Dan dengan adanya pertemuan di antara kami, akhirnya aku mengetahui beberapa hal tentang dirinya. Bahkan aku berpikir untuk mengajak Cahaya menjalani terapi jalan dengan Dokter muda, seperti Dokter Yudha. Namun, pertemuan di antara kami tidak berlangsung lama. Karena aku harus segera menemui Cahaya. Akan tetapi, ketika aku hendak melangkah kembali tiba-tiba aku merasa sedikit pusing dan sedikit merasa nyeri di perutku.


"Astaghfirullah hal azim. Tidak, aku harus bisa melupakan tentang ini. Mungkin ini sakit yang biasa saja, yang bisa aku tahan sampai pulang nanti." Aku kembali melanjutkan langkahku yang sempat terhenti.


Sejenak rasa pusing dan nyeri itu menghilang dengan seiringnya waktu. Dan akhirnya aku bertemu dengan Cahaya, di mana waktu itu hampir gilirannya untuk masuk ke ruangan Arjuna. Ketika melihatnya sedikit gugup, seketika aku menghampiri untuk menemaninya masuk ke dalam ruangan Dokter.


"Jangan takut! Ada Umi di sini." Aku mendorong kursi roda Cahaya.


Aku dan Cahaya masuk ke dalam ruangan Arjuna. Setelah itu kami menyapa layaknya pasien terhadap Dokter yang hendak memeriksa. Begitupun dengan Arjuna yang bekerja secara profesional. Tidak mengutamakan istri ataupun kerabatnya saat sedang bertugas.


Arujuna memberikan titah kepada Cahaya untuk melakukan step by step dalam setiap pemeriksaan. Dan Cahaya mengikuti apa yang dianjurkan Dokter, melakukan pemeriksaan untuk memastikan tentang hasil yang pasti. Setelah melakukan semua anjuran Dokter, kini aku dan Cahaya harus menunggu di ruang tunggu untuk menantikan hasil tersebut.


"Mi, Cahaya khawatir." Wajahnya putih memucat.


"Kamu tenang ya, Cahaya. Ingat kata Umi sebelumnya." Sejenak aku menggenggam tangan Cahaya untuk memberikan keyakinan kepadanya.


Cahaya mengangguk pelan dan berusaha untuk menenangkan kembali dirinya dari rasa khawatir. Berhubung hasil tes masih belum keluar, aku berpamitan kepada Cahaya untuk pergi ke kantin Rumah Sakit dan membeli minuman untuk kami sembari menunggu. Dan aku kembali menelusuri lorong Rumah Sakit. Lagi dan lagi aku merasakan ada yang aneh di dalam tubuhku, seolah pusing ingin tinggal di kepalaku. Namun, aku berusaha untuk menahannya.


"Aisyah, kamu pasti kuat menahan rasa pusing di kepalamu ini. Jangan terjatuh di sini dan membuat kehebohan di Rumah Sakit tempat Arjuna bekerja." Aku berusaha kembali melangkah.


Dengan langkah perlahan akhirnya aku sampai juga di kantin Rimah Sakit ini. Setelah itu aku memesan teh hangat dan dua botol air kepada penjaga kantin. Dan tidak lama kemudian penjaga kantin menyodorkan segelas teh hangat di atas meja, di mana aku duduk di sana. Sejenak aku beristirahat sembari menyeduh teh hangat untuk memberikan tenagaku yang sempat merasa lemas karena pusing yang melanda kepalaku dan rasa nyeri di perutku.


"Semoga dengan aku meminum teh hangat ini tubuhku jauh labih baik." Aku kembali menyeduh teh hangat yang ada di tanganku.

__ADS_1


Setelah usai beristirahat dan minum teh hangat di kantin, aku memutuskan untuk segera kembali ke ruang tunggu. Dan kehadiranku bertepatan dengan hasil tes Cahaya yang diberikan oleh suster. Dengan hati yang berdebar kami pun membuka pelan selembar kertas yang dilipat rapi. Dan kami membaca dengan begitu teliti, bahkan setiap kata kami melihatnya dengan jelas. Hingga akhirnya kami menemukan jawaban atas kondisi tibuh Cahaya.


__ADS_2