
Bik Murni pun melangkahkan kaki kembali untuk menuruni tangga dan bekerja lagi di dapur. Sedangkan kami, kami bersiap-untuk menemui keluarga Fadli.
"Kalian...?" Ucap papa setelah melihat ayah dan ibu Fadli.
Terlihat jelas wajah papa yang begitu terkejut dengan kehadiran pak Muchtar dan bu Laila.
🌿🌿🌿🌿
"Pak Brian, apa kabar pak?" Tanya pak Muchtar berbasa-basi.
"Iya ya, saya mengingat kalian. Alhamdulillah, saya baik-baik saja. Bagaimana kalian bisa ada dirumah saya?" Ucap Papa dengan tanda tanya.
"Mohon ma'af pa sebelumnya, Aisyah dan kak Fadli yang sudah merencanakan pertemuan ini. Dan Aisyah juga sudah tahu bahwa mereka adalah keluarga kandung Aisyah." Ucapku sedikit gugup, namun setelah tangan kak Maryam yang menggenggam tanganku aku jauh lebih tenang.
Semua terdiam karena merasa terkejut dengan apa yang aku nyatakan. Tapi, menurutku memang seharusnya itu yang terjadi. Bukan berarti aku sudah tidak mau lagi tinggal bersama papa Brian dan keluarganya, tapi aku juga perlu tahu dan mengenal siapa keluarga kandungku.
"Aisyah, jadi kamu sudah tahu?" Tanya papa kepadaku untuk memastikan.
"Iya Pa, ma'afkanlah Aisyah yang tidak jujur sama Papa bahwa selama ini Aisyah juga mencari tahu keluarga kandung Aisyah. Aisyah cuma tidak mau membuat Papa bersedih." Jawabku yang menjelaskan.
"Aisyah tidak perlu minta ma'af sama Papa. Papa lah yang bersalah selama ini. Seharusnya Papa yang menjelaskan kebenaran tentang kamu siapa, tapi kamu lebih dulu mengetahuinya. Ma'afkanlah Papa sayang, Papa sangat menyayangi kamu. Maka dari itu, Papa tidak mau berkata jujur sama kamu karena, Papa takut kehilangan kamu." Ucap papa menjelaskan apa maksud papa sebenarnya dengan air mata yang membasahi pipinya.
"Pa, Aisyah tahu bagaimana Papa yang begitu menyayangi Aisyah. Tapi Aisyah juga perlu mengenal mereka. Dan alhamdulillah, Allah memberikan pentunjuk dan jalan untuk Aisyah bisa bertemu dengan keluarga kandung Aisyah." Balasku mendekati papa dan memeluknya.
"Sudah, jangan sedih-sedih gitu ah! Malu tahu ada tamu. Masak tamu nya tidak disuruh duduk dulu!" Ucap kak Maryam yang mendekati kami.
"Hahahaha.... Iya ya, ma'afkan lah kami pak Muchtar. Mari pak-bu , silahkan duduk!" Ucap papa kemudian setelah melepaskan pelukanku.
Kami semua pun duduk bersama-sama diruang tamu. Banyak obrolan yang kita perbincangkan bersama. Termasuk bagaimana aku bisa menemukan mereka, keluarga kandungku. Dan lagi, siapa saja yang sudah merencanakan pertemuan ini, yang pasti aku, kak Maryam dan kak Fadli, dalang dari pertemuan ini.
"Pak Brian!" Suara kak Fadli yang memanggil papa.
__ADS_1
"Akh iya nak Fadli. Wah, kamu sudah besar ya sekarang! Padahal dulu masih kecil banget kamu, belum ingat soal adik kamu yang sekarang tumbuh dengan kebawelan." Ucap papa yang menyindirku.
"Apa sih papa, malu tahu Aisyah!" Ucapku merasa malu.
"Ya daripada Papa cerita sama mereka, betapa salahnya Papa mendidik kamu di waktu SMA. Kamu begitu bandel dan badung. Bahkan, pernah juga Papa ditegur secara langsung sama kepala sekolah kamu, gara-gara kamu bolos sekolah dan memilih balap liar." Ucap papa semakin menjadi-jadi dan tidak karuan.
"Yah Pa, itu namanya apa kalau gitu! Papa kan sudah ngomongin juga tentang Aisyah waktu dulu." Ucapku menggerutu.
"Hahaha...! Ya sudah ma'afkan Papa kalau gitu. Mungkin kedua orang tua kamu juga perlu tahu betapa bandelnya kamu." Ucap papa lagi sambil memandang Ayah dan Ibuku.
"Sudah Pa, Ayah dan Ibu itu kan tidak perlu tahu juga yang dulu! Biarkan mereka tahu Aisyah yang sekarang." Balasku dengan sedikit manja.
Akhirnya, kami merasakan berbahagia bersama dengan keluarga besar. Apalagi denganku, aku sangat bahagia dengan hadiah ini. Semoga sampai selamanya akan seperti ini, tidak terpecahkan kembali setelah sekian lama aku menanti.
"Ma'af permisi Pak Brian! Saya mau berbicara serius dengan Bapak." Ucap kak Fadli.
"Oh iya nak Fadli, silahkan! Bapak tidak akan keberatan." Balas papa dengan senyuman.
"Begini pak, sebenarnya saya datang kemari bukan hanya untuk mempertumakan bapak dengan keluarga saya, melainkan saya juga ada maksud lain. Dan maksud kedatangan saya kemari, saya ingin melamar dan mengkhitbah putri bapak, Maryam!" Ucap kak Fadli begitu lantang.
"Iya pak benar, saya serius dengan apa yang saya ucapkan." Jawab kak Fadli tegas dan penuh dengan keyakinan.
"Baiklah, saya terima jamuan kamu malam ini. Dan ma'af, saya sendiri juga tidak berhak menjawab apa yang kamu inginkan. Karena, yang berhak menjawab itu hanya Maryam. Tapi, sebelum kamu benar-benar yakin dengan keputusan kamu, kamu berhak melihat wajah dari putri saya Maryam. Dan itulah yang dianjurkan agama kita, Islam . Seandainya nanti setelah kamu mengetahui wajah anak kami, dan kamu tidak berkenan untuk melanjutkannya, kamu berhak memberikan keputusan itu." Ucap papa menjelaskan.
"Iya pak!" Balas kak Fadli dengan anggukan.
"Nah sekarang, giliran kamu Maryam. Kamu harus membuka cadar kamu!" Ucap papa yang meminta kak Maryam untuk membuka cadarnya.
Sungguh hatiku jadi berdebar sendiri. Apalagi dengan kak Maryam, sudah terlihat jelas dari bola matanya yang nampak tersipu malu.
"Baik Pa!" Ucap kak Maryam mengiyakan.
__ADS_1
Kak Maryam membuka cadarnya secara pelan-pelan. Dan itu membuat kak Fadli semakin penasaran.
"Ehm... Ehm...!" Aku yang berdehem dengan lirih.
Nampak berseri-seri nan cantik. Berkulit putih dan berhidung mancung yang dilengkapi senyuman manis dari bibir tipisnya. Itulah kak Maryam, tak kalah cantiknya dengan diriku. Hahaha...!
"Sekarang, terserah bagaimana keputusan kamu nak Fadli!" Ucap papa selanjutnya.
"Iya pak, saya tetap di jalan yang sama. Saya akan melanjutkan ke jenjang pernikahan. " Ucap kak Fadli dengan penuh keyakinannya.
"Alhamdulillah! Kalau benar itu keputusan kamu, kami sebagai orang tua kalian akan menindak lanjuti untuk menentukan hari dan tanggal pernikahan kalian. Bagaimana pak Muchtar, apakah bapak menyetujuinya?" Tanya papa.
"Itulah kewajiban kami pak Brian." Jawab ayahku dengan senyumannya.
Kami benar-benar bahagia malam ini. Malam yang dihiasi dengan penuh tawa. Apalagi, aku mendapat kabar baik pula dari bapak dosen yang ganteng.
"Oh iya_dan kamu Aisyah, kamu mendapatkan hadiah!" Ucap kak Fadli yang menyodorkan secarik kertas kepadaku.
"Hadiah?" Tanyaku dengan ekspresi wajah yang dipenuhi dengan rasa penasaran dan sebentar aku memutar bola mataku untuk berpikir hadiah apa yang dimaksud oleh kak Fadli.
"Iya, hadiah. Buka saja!" Ucap kak Fadli yang memintaku untuk membuka kertas itu.
Akhirnya dengan rasa penasaran aku pun membuka kertas itu secara perlahan. Setelah ku baca dengan seksama, aku terkejut dengan kebahagian yang kesekian kalinya.
"Bagaiman Aisyah?" Tanya kak Fadli.
"Emm... Aku bahagia banget kak! Alhamdulillah, akhirnya tahun ini aku benar-benar wisuda." Ucapku dengan senyuman melebar di balik cadarku.
"Alhamdulillah!" Ucap mereka yang hadir secara bersamaan.
Kami semua sangat bersyukur dengan acara malam ini. Selain pertemuan kedua keluarga karena perpisahan yang lama, ada juga pertemuan keluarga untuk menyatukan ke jenjang pernikahan. Ditambah lagi dengan aku yang akan segera diwisuda dan memulai lembar baru kembali.
__ADS_1
BERSAMBUNG....
SEMOGA BAHAGIA SELALU KEKUARGA AISYAH. JANGAN LUPA YA DUKUNG NOVEL INI DENGAN LIKE, KOMENTAR DAN VOTE KALIAN. TERIMAKASIH!