HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
BAB 25


__ADS_3

"Tapi, aku merasa bersyukur lo Aisyah dengan perubahan kamu. Semoga kamu bisa menjadi wanita sholehah dan istiqomah." Lagi-lagi Aida mengagumiku.


Akh_rasanya aku ingin terbang setinggi langit dan bisa melihat keberadaan Yulian. Tapi, ngomong-ngomong kamu dimana sekarang Yulian? Aku merasa rindu dengan setiap surat yang kamu tuliskan untukku.


Aku serasa kehilangan akan cinta sejatiku saat tidak pernah mendengar kabar lagi tentang Yulian. Di mana Yulian lah yang menjadi kekasih impianku dan pernah singgah dihatiku.


*****


Aku dan Aida mengobrol dengan asiknya. Kami begitu menikmati pertemuan ini, karena kami ingin melepas rindu yang membelenggu dihati kami masing-masing. Dan kami mengobrolkan tentang banyak hal, termasuk


juga dengan rumah tangga Aida.


"Aida, bagaimana hubungan kamu sama Fahri?" Tanyaku kepadanya karena merasa penasaran saja.


"Alhamdulillah, kami baik-baik saja. Aisyah kamu tahu tidak, aku tuh merasa beruntung sekali bisa menikah dengan Fahri. Dia mampu menjagaku, menghormatiku dan pokoknya begitu deh!" Ucap Aida dengan senyum bangga.


"Alhamdulillah ya kalau begitu. Kamu beruntung Aida." Balasku dengan senyum lebar.


"Emm...Aisyah, bagaimana hubungan kamu dengan Yulian ?" Tanyanya yang memandangku dengan tatapan tajam.


"Panjang ceritanya. Aku sendiri juga tidak tahu dia ada dimana sekarang. Selama dirumah sakit, dia hanya mengirimkan sebuah surat dan beberapa hadiah untukku. Dan terakhir, setelah aku pulang dari rumah sakit dia hanya mengirimkan surat dan kado yang menurutku itu membuatku terharu, karena hadiah itu berbentuk cincin. Setelah itu, dia menghilang entah dimana." Jawabku dengan menundukkan kepalaku, karena aku tak mampu menatap wajah Aida dan berbohong kepadanya bahwa aku merasa kehilangan.


"Sabar Aisyah, aku yakin dia lelaki yang baik. Percayalah, dia akan kembali menemuimu." Ucap Aida yang meyakinkanku.


"Entahlah, aku hanya manusia biasa Aida. Aku tidak tahu dia akan kembali atau menghilang selamanya." Balasku yang berusaha tegar.


"Yakinkan lah hatimu Aisyah, dan jagalah kepercayaan Yulian. Karena aku tahu dia ada dimana." Ucap Aida yang membuatku penasaran.

__ADS_1


"Maksud kamu apa?" Tanyaku yang menatap wajah Aida dengan tajam.


"Baiklah, aku akan menceritakan pertemuanku dengan Yulian beberapa hari yang lalu. Meskipun, Yulian sudah melarangku."


Flash back on


"Beberapa hari yang lalu, Yulian mengirim pesan kepada Aida. Dia ingin menemui Aida dan mereka pun bertemu disebuah cafe dekat toko bunga ibu Aida. Yulian pun bilang sama Aida dengan begitu seriusnya. Ya_hanya Aida dan Yulian saat itu, tanpa ada orang lain termasuk suami Aida sendiri.


"Ma'af kalau aku mengganggu waktumu Aida. Aku hanya mau minta tolong kepadamu untuk selalu menjaga Aisyah dan mendampinginya sebagai sahabat sejati. Dan tolong, kamu jadilah sahabat Aisyah yang selalu ada untuknya. Karena, aku sendiri belum bisa menemuinya secara langsung. Dan kini aku harus pergi untuk sementara waktu. Di mana aku ingin memperbaiki diriku untuk menjadi orang yang lebih baik lagi. Dan aku harus pergi ke sebuah pondok pesantren di perkampungan desa. Karena, aku ingin menjadi seorang imam yang mampu menjaga segala hawa nafsu dan bisa memimpin sekaligus imam yang baik untuk Aisyah kelak. Itupun kalau Allah menghendaki.


Dan ma'af kalau aku sudah membuatmu repot. Aku hanya mau kamu memberikan ini untuk Aisyah. Aku harap, kamu jangan bilang kepadanya kalau aku pergi ke tempat itu." Ucap Yulian dengan penuh keseriusan.


Begitulah percakapan antara Aida dengan Yulian. Sudah terlihat begitu jelas, bahwa Yulian sangat serius dengan Aisyah. Dia begitu mencintai Aisyah dengan sepenuh hatinya, sampai-sampai dia tidak memperdulikan kesehatannya.


Flas back off


"Ya Allah, kenapa hatiku sekeras batu waktu itu! Aku begitu bersalah dengan Yulian." Ucapku dalam hati dan berusaha menutupi kesedihanku.


"Aida, ma'af aku harus pergi ke kelas. Nanti kita sambung lagi ya!" Imbuhku kemudian yang memberi alasan kepada Aida, karena air mata tak mampu ku bendung lagi.


Tanpa basa-basi lagi aku melangkahkan kaki dan meninggalkan Aida, tapi tak lupa juga aku mengucapkan salam kepadanya.


💖💖💖💖


"Aisyah? Kenapa dia terlihat begitu sedih?" Tanya Fadli dalam batinnya yang melihat Aisyah sedang duduk sendiri di depan kelas.


"Assalamu'alaikum Aisyah. Ma'af kalau aku mengganggu waktumu." Ucap Fadli yang menghampiri Aisyah.

__ADS_1


"Wavalaikumsalam. Tak apa kok!" Jawabku singkat dan yang jelas tanpa memandang wajahnya, karena aku tahu batasan. Toh dia juga bukan mukhrimku, jadi aku hanya ingin menjaga pandangan saja.


"Apa aku boleh duduk di sebelah sini?" Tanyanya sambil menunjukkan tempat duduk yang kosong namun tidak terlalu dekat denganku.


"Boleh, itu kan tempat duduk umum. Jadi, ya siapa saja boleh duduk di situ." Jawabku acuh.


"Terimakasih. Aku tahu, aku dan kamu tidak ada hubungan apa-apa. Dan mungkin itu yang menjadi alasan bagimu untuk menghindariku dan tak mau memandangku. Aku menyadari itu, dan aku juga menghormati setiap perilaku mu yang hanya ingin menjaga pandangan dari setiap kaum lelaki. Jujur saja, aku merasa bersedih jika melihatmu bersedih. Entah kenapa dan apa alasannya, aku pun tak tahu pasti. Ma'af kalau aku memiliki perasaan aneh ini kepadamu." Ucap Fadli yang begitu terang-terangan dan itu membuatku terkejut.


"Sebelumnya terimakasih atas pengertiannya, tapi apa maksud dari perkataan kamu tadi?" Tanyaku kepada Fadli dengan rasa penasaran yang berlebih.


"Oh Tuhan, tidak mungkin kan kalau Fadli menyukaiku? Akh_jangan sampailah!" Ungkapku dalam hati.


Fadli hanya terdiam, dia belum bisa menjawab pertanyaanku. Sedangkan aku, aku masih dengan rasa yang sama yaitu rasa penasaran. Aku merasa gugup dengan jawaban apa yang akan diucapkan oleh Fadli.


"Emm...Aku juga tak tahu pasti perasaan apa yang aku rasakan. Entah cinta atau apa, yang jelas aku ingin dekat dengamu." Jawab Fadli setelah beberapa menit terdiam.


"Ma'af kalau aku salah dengan ucapkanku. Anggap saja aku tidak pernah mengucapkan apapun kepadamu. Ma'af aku harus pergi." Imbuh Fadli sebelum aku sempat membalas setiap perkataannya.


Jauh Fadli melangkahkan kakinya meninggalkanku yang masih duduk termenung. mencoba mencerna setiap perkataan yang diucapkan oleh Fadli kepadaku. Berharap itu semua hanya sebuah mimpi.


"Tit..Tit...Tit...!" Suara bel berbunyi. Menandakan bahwa jam kelas akan dimulai. Semua mahasiswi dan mahasiswa berdatangan memasuki kelas. Dan kebetulan juga hari ini adalah mata kuliah yang begitu aku favoritkan. yaitu desainer. Namun, entah kenapa aku merasa tidak konsentrasi dengan setiap penjelasan dosen yang berdiri di depan.


"Akh_ayolah Aisyah, jangan pikirkan itu dulu. Kamu harus fokus kuliah dulu, harus!" Ucapku dalam hati yang memberi ketegasan untuk diriku sendiri. Namun, alhasil aku tak mampu menghilangkan perkataan yang di ungkapkan Fadli. Seorang lelaki muda yang tampan, berbadan pokok dan berkulit putih itu.


Bersambung.....


Ehem....bagaimana nih, kok melempem sih? Masak yang baca saja banyak, yang like kok cuma sedikit? Ayolah bantu semangat aku ya! Kasih like, komentar dan vote kalian, please! Terimakasih!

__ADS_1


__ADS_2