HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Apakah Itu Khadijah?


__ADS_3

Ingin rasanya tidak ikut campur dengan urusan beberapa orang yang berlarian di hadapan kami siang itu. Namun, rasa penasaran tidak dapat dipungkiri dari masing-masing kami, sehingga kami pun bertanya tentang apa yang sedang terjadi kepada salah seorang yang saat itu ikut berlari di hadapan kami. Akan tetapi, jawaban dari orang itu membuat kami bertanya-tanya?


"Kami berlari karena ada yang bilang bahwa seorang perempuan hamil tua sedang berdiri di atas gedung. Maaf, saya harus ikut melihatnya juga." Orang itu kembali berlari.


Aku masih bertanya-tanya dengan siapa perempuan yang melakukan itu? Dan apa yang hendak dilakukannya di atas sana? Mungkinkah ada sesuatu hal yang menjadi tujuan utamanya? Karena aku begitu merasa penasaran, akhirnya aku ikut berlari melihat perempuan itu, lalu aku diikuti oleh Arumi dan juga Arjuna seraya mendorong Cahaya yang duduk di atas kursi rodanya.


Siang itu matahari bersinar begitu terang, sehingga membuatku merasa silau saat ingin melihat wajah perempuan yang berdiri di atas sana. Sehingga aku tidak dapat memastikan aku mengenalnya atau tidak. Dan rasa penasaran itu masih memenuhi pikiranku, bahkan aku bertanya salah seorang yang ikut melihat di bawah gedung Rumah Sakit.


"Maaf, permisi! Memangnya apa yang terjadi terhadap perempuan itu? Mengapa Dia berdiri di atas sana?


" Aisyah Fadillah? Benarkan, Anda adalah Aisyah Fadillah?"


"Iya, benar. Saya adalah Aisyah Fadillah. Apakah Anda mengenal saya?"


"Tentu. Saya memgagumi Anda, pemilik Aisyah Galery. Oh iya, bolehkah saya berfoto dengan Anda?"


Sejenak aku terdiam, memahami keadaan yang benar-benar genting dan tidak. Karena aku merasa heran dengan perempuan yang saat ini berdiri dihadapanku. Bagaimana bisa Dia meminta foto denganku sedangkan suasana dan keadaan saat ini begitu berbeda? Ada seorang perempuan yang tidak dikenal tengah hamil tua dan ingin mengakhiri hidupnya, tetapi di sisi lain ada seorang perempuan yang ingin berfoto denganku. Apakah perempuan dihadapanku ini tidak bisa mengurungkan niatnya itu?


"Boleh sih, Mbak. Tapi, keadaannya berbeda, ada seorang perempuan yang ingin mengakhiri hidupnya di atas sana. Bisakah, Mbak menundanya? Saya janji, saya akan melakukan apa yang Mbak mau tapi, sesudah keadaannya jauh lebih baik. Bagaimana?"

__ADS_1


"Saya setuju. Dan ini yang membuat saya kagum dengan Anda. Sikap dan sifat lembut dari dalam diri Anda membuat saya percaya bahwa perempuan yang bercadar memiliki hati yang baik." Perempuan itu tersenyum kepadaku.


Aku pun membalas senyumnya yang membuat perempuan itu semakin mempesona. Setelah itu, aku ingin berjalan tepat di bawah perempuan itu berdiri di atas sana agar aku bisa melihatnya tanpa adanya cahaya matahari yang menyilaukan mataku. Namun, saat aku hendak melangkah tiba-tiba ponselku berdering, sehingga aku mengurungkan langkahku itu untuk memastikan siapa yang tengah menelponku saat itu.


"Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam. Aisyah, kamu dimana sekarang? Kenapa belum juga kembali pulang? Cahaya dan Arjuna juga belum pulang? Apakah kamu bersama mereka?"


"E...." Terdiam.


Aku merasa kebingungan untuk menjawab pertanyaan yang bertubi-tubi dari Yulian. Karena di sisi lain aku ingin segera membantu meluluhkan hati perempuan itu agar mengurungkan niatnya untuk mengakhiri hidupnya. Tetapi, aku juga harus menjelaskan hal yang tidak bisa aku rahasiakan kepada Yulian. Namun, pada akhirnya aku menjelaskan semuanya kepada Yulian bahkan sampai saat ini kenapa aku, Arumi, Cahaya dan Arjuna belum kunjung pulang juga.


"Aaa ... jangan lompat!"


"Bagaimana jika, perempuan itu nekat dan melompat?"


"Umi tidak perlu khawatir, karena pihak Rumah Sakit sudah meminta bantuan dari Tim Pemadam Kebakaran. Mungkin sebentar lagi bantuannya akan datang." Jawab Arjuna yang masih menatap ke arah di mana perempuan itu berdiri.


Aku mengangguk pelan mengiyakan. Lalu, aku kembali melihat keadaan di atas sana. Dan terlihat perempuan itu semakin berdiri di ujung atap gedung, seakan siap untuk melomoat dengan segera. Akan tetapi, sekilas aku dapat melihatnya saat cahaya matahari sejenak meredup. Dan apa yang aku lihat membuatku semakin penasaran bahkan, aku terus memutar otakku dan menerka-nerka siapa Dia?

__ADS_1


"Wanita bertudung?"


"Siapa Dia?"


"Tidak.Tidak mungkin jika itu...." Aku berusaha mengingat tudung yang dikenakan perempuan itu.


Saat daya ingatku masih terus belum bisa mengingatnya, aku tidak bisa berhenti memikirkan siapa perempuan itu. Namun, dengan kasat mata aku dapat melihat tatapan dari sepasang matanya. Akan tetapi, aku juga tidak merasa yakin bahwa itu Dia. Karena aku merasa tidak mungkin jika Dia melakukan hal itu, sedangkan Dia tahu bagaimana hukumnya melakukan hal itu bagi seorang Muslim.


Entah kenapa perasaanku masih merasa khawatir jika itu adalah Khadijah. Dan untuk memastikannya aku harus pergi ke atap itu agar aku bisa melihat secara langsung siapa Dia. Sehingga akhirnya aku pun memutuskan untuk berlari menuju ke atap gedung. Karena aku takut, jika benar itu Khadijah, lalu bagaimana dengan amanah dan keinginanku yang belum aku sampaikan?


"Arumi, aku akan naik ke atas untuk memastikan siapa Dia. Karena aku khawatir jika perempuan itu adalah Khadijah." Aku berbisik kepada Arumi.


Dan tanpa mendengar jawaban dari Arumi aku pun langsung berlari menuju tangga lift untuk segera sampai di lantai paling atas. Namun, saat aku sampai di depan lift, aku melihat selembar kertas menempel di sana dengan catatan yang memberitahukan bahwa lift sedang rusak dan dalam masa perbaikan. Dan tanpa berpikir panjang aku langsung berlari menaiki anak tangga yang sangat panjang.


"Kuat, Aisyah. Kamu harus kuat sebelum itu terjadi." Aku kembali berlari menaiki anak tangga.


Sejenak aku merasa kelelahan bahkan tubuhku seakan merasa lemah. Dan aku merasa takut jika kematian akan datang saat itu juga sebelum aku menyampaikan amanah serta keinginanku kepada Khadijah. Sehingga aku berusaha menguatkan diri ini agar terus berlari hingga sampai di atas sana. Antusiasku begitu tinggi untuk bertemu dengan Khadijah bersama dengan amanah yang aku bawa dan juga keinginanku. Dan sampai pada akhirnya aku pun sampai juga di atas sana, di mana perempuan bertudung itu masih berdiri di tepi gedung.


Perasaanku tiba-tiba di ambang rasa tidak keyakinan. Namun, yang pasti aku harus bisa membujuk perempuan itu biarpun bukan Khadijah. Sehingga aku menyapa dan memintanya untuk tidak melakukan hal bodoh sebagai umat Allah dengan nada lembut. Yang seketika membuat perempuan itu membalikkan tubuhnya lalu, menghadap ke arahku.

__ADS_1


"Jangan lakukan itu!"


Perempuan itu terdiam menatapku dengan tatapan yang tajam. Dan itu membuatku takut jika, Dia akan semakin memberanikan diri untuk terjun ke bawah. Sehingga aku harus kembali berhati-hati dalam menjaga sikap dan juga perkataan yang akan ku lontarkan.


__ADS_2