HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Hanya Berdua


__ADS_3

"Sayang, kenapa lama sekali?"


Terdengar Yulian tengah berteriak dari sisi luar kamar mandi. Yang seketika membuatku merasa gugup untuk menjawab pertanyaannya. Dan aku merasa takut jika, Yulian melihat luka di pipi ku ini, yang akan membuatnya bertanya kenapa dan bagaimana bisa itu terjadi kepadaku. Ketika aku hendak menjawab pertanyaannya, tiba-tiba pintu kamar mandi yang lupa aku kunci telah terbuka begitu saja. Entah itu Yulian atau memang terbuka sendiri?


"Sayang, ada apa dengan kamu? Tidak biasanya kamu lama berada di dalam sini?"


Tiba-tiba Yulian muncul begitu saja di hadapanku tanpa persetujuan dari ku. Dan itu membuatku tidak mampu menutupi luka yang sudah melebam di pipiku. Begitu terlihat dan sakit saat merasakannya. Dengan penuh ketelitiannya, akhirnya Yulian mengetahui luka itu. Lalu ia berkata, "Ada apa dengan pipi kamu, Aisyah? Bibir kamu ... terluka?"


Sejenak aku terdiam dengan seribu kebisuan. Berpikir tentang mulai darimana aku akan menjawab pertanyaan Yulian, yang tidak mungkin aku jawab hanya sembarangan. Karena bagiku, menyimpan suatu kebohongan hanyalah akan mempersulit sebuah hubungan bahkan itupun juga akan membuat kerenggangan dan ke-tidakpercayaan dari masing-masing pemilik hati.


"Emm, begini ... Mas! Aku akan menceritakan semuanya, tapi biarkan aku mandi terlebih dahulu! Karena aku belum mandi." Untuk menghilangkan rasa khawatir Yulian, aku pun tersenyum menyeringai.


"Itu tidak lucu, Aisyah. Aku sedang khawatir dengan pipi kamu dan bibir kamu yang terluka. Ok, aku akan memberikan kamu waktu lima belas menit seperti biasa, setelah itu aku ingin mendengar jawaban kamu yang sejujurnya." Yulian pun menutup pintunya setelah aku mengangguk pelan.


Setelah pintu kamar mandi tertutup kembali, aku pun segera membuka bajuku dan semua kain yang menutupi tubuhku. Lalu, kunyalakan shower air hangat untuk menghangatkan tubuhku yang merasa dingin. Dan secara kebetulan malam ini di kota Edinburgh terasa begitu dingin. Entah cuaca yang akan berubah atau dingin karena angin yang berhembus kencang.


Lima belas menit akhirnya sudah berlalu begitu saja. Aku pun juga sudah menyelesaikan ritual ku di dalam ruangan persegi itu. Setelah itu, aku keluar tanpa mengenakan jilbab dan juga cadar yang menutupi mahkota terindahku. Terlihat di sana, di bibir kasur Yulian tengah duduk yang setia menungguku. Sejenak, ku hempaskan nafasku yang tiba-tiba terasa berat. Lalu, aku melangkah pelan untuk menghampiri Yulian.


"Mas Yulian mau mandi dulu atau bagaimana?"

__ADS_1


Seketika Yulian mendongakkan kepalanya lalu, beranjak dari duduk ternyamannya dan menatapku dalam. Yang membuatku tidak bisa berkutik sedikitpun. Bukan merasa terpesona yang membuatku membungkam seribu kata, melainkan aku merasa takut jika apa yang sudah kulakukan tadi telah salah dalam pemikirannya. Dan bahkan aku merasa takut jika, Yulian akan marah kepadaku. Namun, bagaimana pun juga itu sudah menjadi resiko untukku karena, sudah mengambil keputusan begitu saja tanpa berpikir panjang.


"Huft! Tidak, Aisyah. Aku ingin mendengar penjelasan kamu tentang semua ini. Jelaskan lah apa yang sebenarnya sudah terjadi!"


"Sebenarnya...." Aku menatap lekat wajah yang selalu memikat hatiku seraya menceritakan semuanya kepada Yulian.


Malam itu, Yulianenjadi pendengar yang baik saat duniaku merasa di penuhi dengan keraguan, rasa takut dan semua rasa yang tengah beradu menjadi satu dalam diriku. Dan satu yang membuatku menyesal yaitu, tak sempat menanyakan siapa nama Dia dan dimana Dia tinggal?


"Aku tidak akan marah sama kamu, Aisyah. Justru aku mendukung apa yang kamu lakukan di atas keberanian kamu. Bukankah, keturunan Nabi kita adalah wanita yang kuat? Wanita yang dijadikan pemimpin untuk menuju surga? Jadi, buat apa aku marah kepadamu. Tetapi, keberanian kamu itu akan beresiko besar jika wanita itu masih bersama kamu." Tutur Yulian sembari mengobati lukaku.


"Aku tahu semua itu. Tapi, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi setelah Dia menghilang begitu saja. Dan aku juga tidak bisa mencarinya, sedangkan aku tidak tahu pasti dimana Dia tinggal, Mas. Tapi ... ya sudahlah! Kita harus melepas masalah di negeri orang. Lebih baik sekarang kita lupakan semua ini. Semoga Dia baik-baik saja di mana pun berada." Aku selalu mendoakan dan berharap Allah akan selalu menjaganya.


"Ok, kalau begitu aku mau mandi dulu! Sebentar lagi shalat isya, aku ingin kita shalat berjamaah di sini." Pinta Yulian seraya mengambil handuk yang masih tergeletak di muka kasur.


"Allahumma sholiaala sayyidina Muhammad, waala ali sayyidina Muhammad. Masyaa Allah, ciptaan-Mu begitu indah Ya Allah! Dan kini aku tengah menikmati keindahan itu." Dari balik jendela aku pun menatap ramainya kota Edinburgh malam itu.


Lima belas menit telah berlalu, dan selama Yulian masih berada di dalam sana, aku menatap keindahan alam semesta di kita Edinburgh saat malam hari. Yang mungkin saja tidak akan bisa kulihat kembali walaupun hanya sekedar ingin berkunjung saja. Ketika aku menikmati indahnya lampu yang saling kemerlip bak bintang di langit, tiba-tiba aku merasakannya.


"Sedang apa kamu di sini, Aisyah?"

__ADS_1


Suara lembut telah berbisik di telingaku. Namun, aku tak berbalik menatap sepasang mata elangnya yang tajam. Karena aku masih ingin menikmati malam yang terasa begitu indah dengan hadirnya alunan musik biola di bawah sana. Tiba-tiba suasana terasa begitu romantis setelah biola itu dimainkan dengan lihainya.


"Aku sedang menikmati indahnya dunia malam ini di kota Edinburgh, Mas. Coba lihat di sana! Banyak sekali orang yang menikmati alunan musik biolanya." Ku tujukan jemariku ke arah di mana seseorang tengah memainkan biolanya.


"Kamu benar, Aisyah. Aku tidak menyangka, bahwa akhirnya kita sampai di sini juga. Dan momen ini mengingatkanku di masa kita tengah berdua di tempat itu. Apakah kamu juga masih mengingatnya?"


"Jelas aku mengingatnya, Mas. Ketika kita berada di atas gedung restoran dan di saat itu kamu melamar ku, memutuskan untuk berhijrah dalam sebuah hubungan percintaan. Dan surga yang kamu gambarkan selama ini terasa begitu indah bagiku, Mas. Kita melangkah bersama untuk menuju ke surga itu." Aku pun mengingat momen itu.


Aku mengenang momen itu kembali di mana hanya kita berdua saat menikmati indahnya malam yang dipenuhi dengan kerlipan bintang di langit sebagai saksi hijrah cinta yang kita pilih bersama untuk menjadi pasangan yang lebih baik. Meskipun sebelum atau bahkan sesudah kita mengikat janji suci, banyak sekali rintangan hidup yang berliku singgah dalam kehidupan kita. Yang harus kita hadapi bersama dengan hati yang sabar.


Yulian membalikkan tubuhku, sehingga kami pun saling bertatap muka. Lalu, ia pun berkata, "Aku menciptakan momen yang romantis malam ini untuk kita berdua. Aku memiliki kejutan untuk kamu, Aisyah."


Aku menatapnya dengan penuh tanda tanya. Bahkan ku putar kedua bola mataku untuk berpikir kejutan apa yang akan diberikan Yulian kepadaku malam ini. Saat aku masih berpikir panjang, tiba-tiba pintu kamar tengah diketuk pelan dari luar. Dan Yulian memintaku untuk tetap berada di posisi ternyaman ku, sedangkan ia membuka pintu untuk melihat siapa yang tengah hadir di tengah masa hanya berdua.


"Thank you so much!"


"You are welcome,"


Terdengar lirih suara Yulian mengucapkan rasa banyak terima kasih kepada entah siapa yang berada di luar sana. Yang membuatku merasa penasaran, tetapi aku seolah tidak rela meninggalkan malam yang terlihat begitu indah sebagai pelipur lara setelah kejadian yang menghantam ku begutu keras. Dan sejenaka ku ingin melepaskan ingatanku tentang Dia.

__ADS_1


"Loh, kok mati sih lampunya? Mas!"


Aku terkejut ketika lampu yang menyala begitu terang tiba-tiba padam begitu saja, sedangkan yang kulihat lampu yang lain tengah menyala memamerkan cahayanya yang terang. Namun, tiba-tiba aku mendapatkan sebuah kejutan yang tak terduga dari suami tercinta. Dan sejenak aku mampu melupakan segela rasa yang bergejolak di dalam hati.


__ADS_2