
🕊🕊🕊🕊
Bulan suci ramadhan hampir usai. Dan sudah sembilan bulan Yulian tidak bersamaku dan tidak bersama kami, keluarga besarnya. Begitupun dengan kehamilanku yang sudah sembilan bulan.
"Umi, nanti Juna boleh tidak buka bersama dengan teman-teman Juna?" Tanya Juna kepadaku yang lagi duduk di sofa.
"Boleh lah, mengapa tidak," jawabku dengan lembut.
"Tapi umi bagaimana?" Tanya Juna lagi.
"Umi kan bersama bibik, jadi Juna tidak perlu khawatir." Jawabku sambil memberikan senyum kepada Juna.
"Terimakasih ya umi, Juna sayang sama umi." Ucap Juna sambil mencium pipiku.
Aku cuma menggelengkan kepala dengan pelan untuk membalasnya. Membalas tingkah lakunya yang sedang manja kepadaku. Begitulah setiap hari-hariku tanpa kehadiran Yulian. Dibuat selalu tertawa dengan tingkah laku yang konyol dari Juna.
"Ya sudah umi, kalau begitu Juna berangkat ke sekolah dulu." Ucap Juna berpamitan.
Aku menganggukkan pelan kepalaku untuk mengiyakan. Dan tidak lupa sebelum berangkat ke sekolah Juna selalu mencium telapak tanganku serta mengucapkan salam.
"Nanti enaknya masak apa ya bik?" Tanyaku mendekati seorang wanita paruh baya yang setia menemaniku.
"Terserah ibu saja, nanti ibu mau dimasakin apa." Jawab bik Murni.
"Jangan begitu bik, soalnya Aisyah bingung mau masak apa. Lagi pula Juna nanti kan mau buka puasa bersama teman-temannya, jadi tidak usah masak terlalu banyak." Tuturku kepada bik Murni.
Ya, bik Murni lah yang selalu menemaniku dan menjagaku disaat aku hamil besar. Dan semenjak aku hamil 6 bulan, aku sudah tidak pernah lagi mengunjungi rumah orang tuaku. Apalagi rumah mertuaku, sudah lama sekali aku tidak berkunjung ke sana. Karena, mereka semua yang mendatangi rumahku dan mengunjungiku. Dan mereka pula yang selalu melarangku untuk mengunjungi mereka semua. Apa seperti ini ya rasanya menjadi ibu hamil yang usia kandungannya sudah semakin membesar. Hihihi...!
Setelah usai berunding dengan bik Murni untuk memasak apa nanti, aku kembali berselonjoran di depan tv. Sedangkan bik Murni, beliau kembali mengerjakan pekerjaan rumah.
*****
Bel jam istirahat sudah berbunyi. Karena di bulan suci ramadhan yang sedang berlangsung, kantin sekolah pun tutup untuk menghargai yang berpuasa.
Maka dari itu, kebanyakan murid-murid beraktivitas di dalam kelas. Kecuali Juna dan Karina. Karena didikan dari orang tuanya yang mematuhi agama, mereka selalu pergi ke masjid sekolah untuk sekedar sholat sunnah atau mengaji.
Setelah sekitar lima belas menit, bel masuk kelas kembali berbunyi. Semua murid-murid segera memasuki kelas. Begitupun dengan Juna dan Karina. Ya kini sudah menginjak kelas dua SMP. Di mana masa puber mereka semakin berkembang.
"Juna, nanti kita jadikan?" Tanya teman Juna.
"Jadi lah, aku juga sudah minta ijin sama umiku kok." Jawab Juna.
__ADS_1
"Ok, jangan lupa datang ke sekolah jam setengah lima sore." Pinta teman Juna.
"Ok siap." Balas Juna mengiyakan.
Mereka pun berjanjian untuk melakukan pertemuan sekaligus buka puasa bersama-sama. Berhubung besok sudah puasa terakhir, jadi Juna dan teman-temannya nanti malam akan melaksanakan berbuka puasa bersama-sama dengan anak yatim piatu yang berada di panti asuhan.
Sungguh mulia sekali hati mereka anak muda di jaman sekarang. Semoga di masa mendatang masih ada anak muda yang berhati mulia.
*****
"Halo assalamu'alaikum!" Suara dari sebrang.
"Wa'alaikumsalam Yulian." Jawab Joko.
"Mas, aku cuma mau bilang besok malam aku akan kembali ke Indonesia. Alhamdulillah pekerjaanku selesai lebih awal. Tapi, jangan beritahu siapa-siapa jika aku besok sudah kembali ke Indonesia. Termasuk juga Aisyah dan Juna. Karena aku ingin memberi mereka kejutan." Ucap Yulian.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu besok bisa berkumpul dengan kami lagi. Dan baik jika itu permintaanmu, aku akan merahasiakan itu dari mereka. Semoga saja Allah memberikanmu kelancaran." Balas Joko.
"Ya sudah mas, aku tutup dulu telfonnya. Ada yang masih harus aku urus dengan segera." Ucap Yulian menutup telfonnya.
Ternyata yang sedang menelfon Joko adalah Yulian. Dan hari esok Yulian akan kembali pulang ke Indonesia.
*****
"Wa'alaikumsalam!" Jawab bik Murni membalas salam.
Juna mencium telapak tangan bik Murni setelah bertemu dengan bik Murni yang kebetulan dari arah dapur.
"Dimana umi bik?" Tanya Juna penasaran.
Juna pun bertanya kepada bik Murni tentang keberadaan Aisyah yang sedari tadi tidak kelihatan di mata Juna.
"Ibuk tadi di kamarnya tuan, mungkin sedang istirahat." Jawab bik Murni.
"Baiklah bik, kalau begitu biarkan saja umi istirahat. Juna permisi dulu mau ke kamar." Juna berpamitan.
Bik Murni kembali menyelesaikan pekerjaannya di dapur. Sedangkan Juna, ia pergi menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya.
Juna pun berniat untuk berganti baju. Sebelum membuka almamater yang ia kenakan, Juna lebih dulu mengambil kaos oblong miliknya. Yang ia pakai sehari-hari di dalam rumah.
Begitu terlihat kulit putih Arjuna ketika ia sudah melepaskan baju yang ia kenakan tadi. Dan menggantinya dengan kaos oblong serta celana levis pendek miliknya.
__ADS_1
Sambil menanti jam yang sudah ditentukan untuk bertemu dengan teman-temannya, Juna lebih memilih membuka sebuah amplop yang di dalamnya berisi sebuah lembaran kertas.
Ya, sudah berulangkali Juna mendapatkan amplop yang berisikan tentang surat pengaguman kepada dirinya. Entahlah, siapa yang mengirimkan itu semua. Bahkan sampai saat ini Juna belum mengetahui siapa yang sudah mengirimnya.
*****
"Ma'afkanlah aku Juna, aku belum bisa mengatakan yang sejujurnya kepadamu. Insyaallah, jika waktunya sudah tepat aku akan mengatakannya kepadamu." Ucap seseorang.
******
Hari sudah sore, jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Di mana semua orang sudah disibukkan dengan acara masak memasak didapur. Termasuk juga dengan keluarga kecil Maryam dan Fadli.
"Bun, masak apa?" Tanya Karina kepada Maryam.
"Masak opor ayam sayang!" Jawab Maryam sambil memotongi ayam yang utuh.
"Ok, Karina siap membantu bunda didapur." Ucap Karina dengan penuh rasa semangat.
"Baiklah, tapi tumben sekali sesemangat itu?" Tanya Maryam.
"Tuh, disalahin lagi. Tidak semangat dimarahin, kalau semangat begini dibilang tumben. Bunda aneh!" Jawab Karina dengan ketus.
Maryam menghela nafas setelah mendengar gerutu putrinya. Tapi, Maryam selalu ingin dekat dengan kedua anak-anaknya. Dan menjadikan mereka yang paling utama.
*****
"Umi, Juna berangkat dulu ya! Assalamu'alaikum!" Ucap Juna berpamitan.
"Iya sayang, hati-hati dijalan. Dan jangan lupa untuk tidak pulang terlalu malam. Wa'alaikumsalam." Balasku kemudian.
Setelah berpamitan Juna bergegas melangkahkan kaki untuk segera menemui teman-temannya. Sedangkan aku, aku disibukkan dengan aktifitasku didapur bersama bik Murni.
*****
"Pa, bagaimana kalau besok kita kasih kejutan sama Aisyah dan Juna?" Ajak Joko.
"Kejutan apa sih memannya Joko?" Sahut bu Widia berbalik bertanya.
"Kita berbuka puasa dan merayakan malam takbir di sana. Kan kasihan mereka kesepian tanpa kehadiran Yulian." Jawab Joko menjelaskan.
Pak Nugraha, bu Widia serta istri Joko terdiam dengan sejenak. Dan setelah itu, mereka saling menyahut memberi persetujuan. Di mana mereka menyetujui ajakan Joko yang merayakan malam takbir bersama Aisyah dan Juna.
__ADS_1
MA'AF YA KALAU LAMA UPLOUDNYA. SOALNYA SINYAL DI SINI PAS SUSAH BANGET. DAN KEBETULAN HARI INI ALHAMDULILLAH LUMAYAN LANCAR. JADI, BISA UPLOUD LAGI DEH! SEMOGA KALIAN SUKA DENGAN CERITANYA! 🤗