
Rasa canggung dan tidak enak hati masih terbesit dalam diriku dan juga Yulian. Karena di antara kami tidak merasa nyaman dengan kehadiran Arumi, meskipun hatiku meyakini bahwa Dia adalah wanita yang memiliki sifat baik. Akan tetapi, aku lebih merasa ada sesuatu yang mengganjal di hati ini ketika sesekali Arumi menatap Yulian dengan tatapan yang berbeda. Namun, aku tidak ingin memiliki sikap yang seakan tengah berprasangka buruk terhadapnya. Sehingga aku berusaha untuk menepiskan segala prasangka buruk dari dalam diri ini.
"Bagaimana, Aisyah-Yulian? Apakah kalian berdua merasa nyaman dan menikmati tempat ini?"
Arumi kembali membuka suaranya dengan lembut untuk mengawali pembicaraan denganku dan juga Yulian. Dan tidak lupa juga Arumi selalu menebarkan senyum yang sempurna bak model yang begitu cantik. Yang membuatku merasa benar-benar tidak nyaman berada disampingnya. Namun, aku selalu membalasnya dengan senyum dari bibirku yang tertutupi dengan cadar, tetapi masih tetap terlihatterlihat ketika bibir ini mengembang.
"Aku rasa tempat ini indah dengan adanya beberapa hiasan yang menakjubkan seperti ini. So, aku dan Aisyah tentu merasa nyaman di sini. Iya kan, Aisyah?" sahut Yulian.
"Ah ... emm ... iya, benar." Jawabku sembari mengangguk pelan.
"It's ok. Kalau begitu aku akan panggilkan pelayan agar kita bisa memesan beberapa hidangan yang menarik di sini!"
Arumi pun melambaikan tangan seraya memanggil seorang waiters di restoran Tattu Edinburgh yang saat ini kami tempati bersama. Dan tidak lama kemudian setelah salah satu seorang waiters melihat lambaian tangan Arumi, seketika itu waiter melangkahkan kaki dan menuju ke arah meja kami berada. Setelah sampai dihadapan kami waiter itu menyodorkan selembar kertas yang berisikan daftar menu di restoran Tattu.
"Silahkan kalian pilih makanan yang kalian suka! Dan jangan pikirkan tentang biaya di sini!" ucap Arumi.
"Bagaimana bisa Anda mengatakan hal itu kepada kami? Dan saya rasa ... saya mampu membiayai apapun yang diinginkan istri beserta anak-anak saya ketika makan di restoran ini. But, i'm so sorry, saya sama sekali tidak bermaksud sombong di hadapan Anda." Yulian pun melontarkan kata dengan tegas seraya menatap Arumi.
"Saya rasa apa yang dikatakan suami saya itu benar. Karena kami merasa tidak enak hati jika, Anda melakukan hal yang tidak seharusnya Anda lakukan. Lagipula, sebentar lagi anak-anak kami akan datang ke sini dan ikut bergabung dengan kita. Apakah ... Anda akan keberatan?"
"Aku tidak keberatan jika anak kalian akan ikut bergabung bersama kita. Tapi aku mohon, jangan menolak apa yang ingin aku berikan kepada kalian!"
__ADS_1
Sejenak aku dan Yulian terdiam setelah mendengar rengekan dari Arumi. Dan tidak lama kemudian aku pun memutuskan untuk menerima kebaikan Arumi tanpa berunding dengan Yulian. Akan tetapi, Yulian juga tidak marah denganku setelah aku menerima kebaikan yang Arumi berikan kepada kami. Setelah aku menerimanya, sontak Arumi merasa riang kembali, seolah ia tengah mendapatkan kesempatan kedua dalam suatu perlombaan dan sejenisnya.
"Assalamu'alaikum,"
Datanglah Arjuna bersama Cahaya seraya mengucap salam kepada kami untuk menyapa. Lalu, Arumi meminta Arjuna dan Cahaya untuk segera mengambil duduk sekaligus memesan makanan yang diinginkan oleh mereka. Begitupun denganku dan juga Yulian yang memesan menu makanan secara bergantian. Dan disaat kami tengah sibuk memilah menu makanan yang kami inginkan, sekilas aku kembali melihat tatapan yang tidak biasa dari sepasang mata bermanik biru milik Arumi. Tetapi, seketika aku mengalihkan pandanganku agar tidak kembali menaruh rasa curiga apapun terhadap Arumi.
"Seperti apa yang sudah aku katakan, bahwa kalian semua tidak akan menanggung biaya apapun selama menikmati makanan yang ada di sini." Arumi kembali mengingatkan akan hal yang menjadi keinginannya.
"E ... saya rasa, saya ingin berbicara berdua dengan Anda. Apakah Anda bersedia?" tanyaku.
"Sure! Aku bersedia, Aisyah." Jawab Arumi mengiyakan seraya menganggukkan pelan kepalanya.
Seketika aku beranjak dari kursi ternyamanku dan meninggalkan Yulian, Arjuna serta Cahaya yang masih menikmati hidangan di atas meja makan. Sedangkan Arumi, ia berjalan di belakangku dan mengikuti langkah yang kulajukan menuju ke koridor restoran Tattu. Dan di koridor itulah aku menanyakan hal yang membuat hatiku mengganjal.
"It's okay, Aisyah. No problem, jika itu membuatmu merasa nyaman dan tenang. Tapi ... aku rasa kamu tidak perlu berbicara terlalu formal kepadaku. Tidak perlu mengatakan saya ataupun Anda, cukup aku dan panggil saja namaku!"
Sejenak aku terdiam, menarik nafasku yang terasa berat untuk kuhembuskan kembali. Tetapi, risalah hati terus terbayang akan tatapan yang tidak aku harapkan dari sepasang mata biru itu. Sehingga aku benar-benar memutuskan untuk bertanya kepada Arumi tentang perasaannya terhadap Yulian, meskipun itu terlihat tidaklah sopan.
"Baiklah! Langsung saja aku akan bertanya kepada kamu, Arumi. Apa sebenarnya tujuan kamu berbaik hati kepada kami? Apa kamu memiliki tujuan tertentu kepada kami terutama, Mas Yulian?"
Tanpa berbasa-basi lagi aku berceletuk dan melontarkan pertanyaan kepada Arumi. Namun, di sana Arumi justru tertawa kecil atas pertanyaan yang sudah ku lontarkan kepadanya. Dan itu sukses membuatku semakin tidak mengerti apa tujuan Arumi yang bersikap baik kepadaku dan keluargaku.
__ADS_1
"Aisyah, please don't worry! Pertama ... aku tidak memiliki maksud ataupun tujuan tertentu atas apa yang aku lakukan kepadamu dan juga keluargamu. Ke dua ... aku cukup mengerti atas pertanyaanmu itu. Kamu jangan khawatir, aku tidak memiliki perasaan apapun terhadap Yulian. Karena bagiku Yulian hanyalah milik kamu, Aisyah. So, jangan khawatir tentang semua itu!"
Arumi menatapku lekat seraya menggenggam jemariku, bahkan sepasang matanya yang biru seolah tengah meyakinkanku untuk mempercayai setiap perkataan yang dilontarkannya. Begitupun denganku, seakan aku telah tersihir begitu saja yang membuat hatiku luluh dan mempercayai setiap perkataan Arumi. Karena di sana aku melihat tatapan yang tulus dan jujur, sehingga seketika aku merasa lega. Dan setelah berdamai tanpa adanya rasa curiga yang membelenggu, akhirnya aku dan Arumi saling berpelukan. Lalu, kami memutuskan untuk segera kembali ke meja makan.
"Mi-Bi, setelah ini kita kembali ke hotel saja ya? Cahaya terlihat kelelahan, takutnya membuat kesehatannya kurang baik," pinta Arjuna.
"Iya, tidak masalah! Kesehatan itu jauh lebih penting untuk dijaga, iya kan, Mi?"
"E ... tentu, Bi. Umi setuju jika kita balik lagi ke hotel,"
Setelah mengiyakan ajakan Arjuna, tidak lama kemudian kami segera meninggalkan restoran Tattu Edinburgh. Meskipun sebenarnya diri ini masih berat hati untuk meninggalkan tempat yang menakjubkan dengan dekorasi yang indah. Banyak bunga-bunga sakura yang anggun, oasis mekar yang benar-benar membuatku merasa terkesan dan menakjubkan. Bahkan menu yang ada di restoran Tattu terkenal dengan menu Internasional Kontemporer, masakan Cina dan Asia.
"Thank you so much, Arumi. Aku bersyukur bisa mengenal orang baik sepertimu di kota ini. Dan aku berharap, kita bisa dipertemukan kembali suatu hari nanti," ungkapku.
"Semoga, Aisyah. Dan kamu harus ingat dengan apa yang aku katakan kepadamu!"
Aku mengangguk pelan mengiyakan Arumi. Dan sebelum pergi, Yulian dan kedua anakku mengucapkan rasa banyak terima kasih kepada Arumi. Bukan hanya itu saja, pertemuan di antara kami pada hari ini sudah berhasil membangun jiwa kekeluargaan yang erat, bak saudara kandung. Dan kami juga saling bertukar nomor ponsel untuk disimpan ke dalam kontak personal di ponsel kami masing-masing. Pertemuan dan perpisahan pun kini telah terjadi. Namun, tidak lupa bagi kami untuk mengucapkan salam sebelum meninggalkan Arumi di restoran Tattu, Edinburgh.
Mobil pun telah dilajukan dengan kecepatan sedang. Dan kami kembali menikmati jalanan di kota Edinburgh yang banyak sekali dengan pejalan kaki yang tengah berkerumunan di persimpangan jalan untuk melihat dan menikmati salah seorang yang memainkan alat musik biola. Dan itu membuatku merasa damai meskipun hanya sementara.
"Sudah hampir memasuki sholat dzuhur, bagaimana jika kita mencari masjid atau mushola terdekat?" ujar Yulian.
__ADS_1
"Baiklah, Bi!" sahutku bersamaan dengan Arjuna dan Cahaya.
Akhirnya kami memutuskan untuk mencari sebuah tempat yang bisa kami jadikan untuk bersembahyang, menunaikan perintah Allah dengan ikhlas hati. Dan tidak lama kemudian kami pun menemukan tempat yang kami tuju. Begitu terlihat megah dan indah.