
Saat aku mencoba mengingat sepasang mata yang menatapku dengan tak biasa tiba-tiba ponselku berdering begitu saja, sehingga aku melupakan pemilik sepasang itu untuk mencari ponselku yang berada di dalam tas. Lalu, aku pun menerima panggilan itu yang tak lain dari Yulian. Entahlah, apakah Dia masih dalam perjalanan? Aku tidak tahu pasti akan hal itu.
"Assalamu'alaikum, Aisyah." Ucap salam Yulian saat aku baru menerima panggilannya.
"Wa'alaikumsalam, Mas. Ada apa? Apa Mas Yulian masih dalam perjalanan?"
"Aisyah, aku benar-benar meminta maaf kepadamu karena, kali ini aku tidak bisa menepati janjiku kepadamu. Aku masih harus tinggal di Surabaya satu hari lagi. Dan aku berjanji besok aku akan segera pulang setelah benar-benar selesai pekerjaanku di sini. Aku mohon jangan marah!"
Hatiku merasa kecewa walaupun itu hanya singgah sebentar di sana. Namun, aku harus tetap sabar dalam menjalani hidup yang kini masih belum berpihak kepadaku. Di mana jarak dan waktu masih memisahkan aku dengan Yulian. Dan jarak itupun tidak akan mengubah rasa cinta kepadaku untuk Yulian, tetapi tidak akan melebihi cintaku kepada-Nya.
"Tidak apa-apa, Mas. Kenapa harus dipermasalahkan dengan hal itu, aku jelas tidak akan marah dengan keadaan kita yang berjarak seperti ini. Sabar, adalah kunci utama kita sebagai umat yang ingin mendapatkan bahagia suatu hari kelak. Iya kan, Mas?"
"Kamu benar, Aisyah. Aku bangga memiliki istri sepertimu, bahkan rasa cintaku tidak berkurang sedikitpun untukmu. Tunggu aku dalam nyatamu, dalam pekerjaan yang sebentar lagi akan aku selesaikan." Yulian meyakinkan aku untuk mempercayainya.
Tidak berlangsung lama percakapan kami pun telah berakhir dengan Yulian mengucap salam dan aku memiliki kewajiban untuk menjawab salamnya itu. Setelah itu, Arjuna dan yang lain menghampiriku dan mengajakku untuk ikut pulang bersama mereka. Karena hari yang sudah mulai sore. Bahkan sebentar lagi senja sore akan tercipta dengan indah, karena jam sudah menunjukkan pukul 03.30.
"Umi, sudah sore. Ayo kita pulang saja dari sini!"
Arjuna sejenak melihat di sekeliling kami yang mulai nampak sepi tak berpenghuni. Setelah itu, aku pun berkata kepada Yulian, "Baiklah kalau begitu! Lagipula hari juga sudah sore, dan kita harus kembali pulang. Tapi, bagaimana dengan Arumi?"
__ADS_1
"Tante Arumi bisa pulang bersama kami. Pintu rumah kami akan terbuka lebar untuk Tante Arumi." Jawab Arjuna dengan kebijakannya.
"Terima kasih untuk kalian, karena sudah mengijinkan saya untuk tinggal di rumah kalian. Dan saya akan sangat senang hati bisa berkumpul dengan kalian lagi. Tapi sebelumnya, assalamu'alaikum Ahtar." Arumi menyapa Ahtar dengan senyuman.
Terlihat Ahtar yang merasa kebingungan dengan Arumi yang menyapanya hangat. Karena sejauh ini Ahtar todak mengenal Arumi atau bahkan mengobrol dengannya walaupun hanya melalui video call. Namun, dengan seiring waktu yang berjalan saat dalam perjalanan di kota Medan Ahtar mulai mengenal siapa itu Arumi, bahkan perbincangan di antara mereka saling menyambungi satu sama lain. Sehingga membuat mereka mudah akrab untuk saling mengenal bak anak terhadap ibunya.
"Oh iya, untuk kalian anak-anak dari Aisyah, bisa langsung panggil aku dengan sebutan Mama. Karena bagiku, anak Aisyah juga anakku. Bagaimana, apakah kalian setuju?"
"Sangat setuju. Karena itu bisa membuatku lebih akrab dengan Mama Arumi. Eits, tapi ibu kami tetaplah satu sampai kapanpun yaitu, Umi Aisyah." Jawab Ahtar dengan tersenyum sungging.
"Tidak masalah, Ahtar. Karena aku tahu bagaimana peran seorang ibu dalam Islam. Yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh anaknya." Arumi menatap Ahtar dan juga Arjuna.
Obrolan yang menemani kami dalam perjalanan sejenak harus terhenti, karena mobil yang kami kendarai telah memasuki area halaman rumahku dan kini langsung menuju ke garasi untuk diperkirakan kembali dengan rapi. Setelah itu, aku membantu Arumi untuk membawakan beberapa barang yang dibawanya selama tinggal di Indonesia. Dan aku juga mengantarnya ke kamar tamu untuk dijadikan tempat istirahatnya.
Saat berada di depan pintu kamar ruang tamu tiba-tiba Arumi menghentikan aku di sana untuk masuk ke dalam kamar itu. Bahkan ia menatapku dalam, seolah ia sedang menginginkan sesuatu dariku, tapi aku tidak tahu pasti itu apa. Sehingga aku melontarkan pertanyaanku untuk memastikan kepadanya, "Kamu mau meminta apa dariku, Arumi?" Aku menatap tajam sepasang mata yang berada dihadapanku.
"Emm ... ijinkan aku untuk tidur berdua dengan kamu malam ini saja ya! Aku janji, setelah Yulian pulang aku akan pindah di kamar ini, tapi untuk malam ini ijinkan aku ya, Aisyah. Aku mohon!"
Aku terkejut dan aku juga menahan tawaku, tetapi tawa itu pun terlepas begitu saja saat kembali mengingat Arumi yang memiliki keinginan hal konyol seperti itu. Tidur bersama? Yah, mungkin keinginan Arumi konyol saat usia di antara kami sudah tidak muda lagi. Akan tetapi, saat ini aku membutuhkan seorang sahabat rasa saudara seperti Arumi. Aku rasa Arumi mengetahui banyak hal tentang Khadijah, sehingga au pun mengiyakan permintaan Arumi itu.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum." Arumi mengucapkan salam. saat aku membuka pintu kamarku.
Sebagai umat islam aku pun wajib menjawab salam Arumi, lalu kami pun masuk dalam kamar bersama. Setelah itu, aku dan Arumi bergantian untuk membersihkan tubuh kami di kamar mandi. Dan saat Arumi berada di dalam kamar mandi, aku sibuk merapikan kamarku yang sedikit berantakan. Setelah itu, aku berkeinginan untuk membantu Arumi merapikan bajunya, tetapi di dalam tas kopernya aku mendapati sebuah foto yang dalam foto tersebut aku tidak mengenalnya. Sehingga aku meletakkan kembali foto itu, karena aku tidak ingin tahu banyak hal tentang privasi orang lain.
"Aisyah, apakah kamu sudah melihat foto itu?"
Pertanyaan yang terlontar dari Arumi seketika menghentikan aktivitas ku dalam merapikan pakaian Arumi. Mungkin sikap salah dalam memberikan jawaban kepada Arumi, tapi aku juga tidak ingin Arumi marah jika, tanpa sengaja aku melihat selembar foto yang berada di dalam kopernya. Sehingga aku membohongi Arumi atas jawaban yang aku berikan.
"Tidak, Arumi. Foto apa yang kamu maksud?"
"Aku tahu kamu sudah melihat foto itu, Aisyah. So, jangan bohongi aku! Lagipula aku tidak akan marah jika ku melihatnya, karena gambar dalam foto itu tak lain dari inti dari setiap perbincangan kita." Arumi menahan tanganku yang masih sibuk merapikan pakaiannya.
"Apa maksud kamu, Arumi?"
"Dia pemilik sepasang mata itu, Aisyah." Jawab Arumi menyodorkan selembar foto yang ku lihat tadi di hadapanku.
Seketika aku menatap foto itu kembali dan memastikan apa yang dimaksud oleh Arumi. Mungkinkah yang berada di dalam foto itu, Khadijah? Atau foto orang lain yang aku dan Arumi sedang cari? Aku tidak dapat memastikannya, karena aku tidak tahu bagaimana wajah mereka tanpa sehelai kain yang menutupi wajah mereka.
"Letakkan foto itu terlebih dahulu, Aisyah. Lanjutkan dengan ritualmu di kamar mandi, jaga kesehatanmu yang tidak baik-baik saja!"
__ADS_1
Aku pun mengikuti saran Arumi dengan mengangguk pelan. Dan aku juga menyadari bahwa aku tidak sedang baik-baik saja, bahkan aku juga belum meminum obat jalan yang biasa aku minum dari dokter Farhan. Dan mengingat akan hal itu, membuatku berpikir tentang bagaimana kisah asmara dokter Farhan dengan kekasihnya? Tetapi, aku akan mendoakan mereka dalam hal yang baik.
Aku pun segera menuju ke kamar mandi dan melakukan ritualku di dalam sana. Lalu, setelah usai mandi aku segera menjalankan sholat ashar. Dan tidak lupa untuk ku beriktikaf dengan berdzikir, sholawat dan membaca Al-Quran.