HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Akad Nikah


__ADS_3

Gedung Balai Raya Aceh Sepakat pada hari itu telah di dekorasi dengan tema gold white, yang memadukan dua warna yakni emas dan putih. Dan semua itu telah diputuskan oleh Arjuna, karena menurutnya warna emas sangat identik dengan kemewahan sedangkan warna putih sebagai lambang kesucian dan sakral. Sehingga sangat cocok untuk nuansa pernikahan yang akan dilaksanakannya dengan sang pujaan hati.


Meja dan kursi pun diberi kelambu dengan warna putih, Moms menjadikan latar backdroup berwarna putih sedangkan furniture dan hiasan yang digunakan diberi warna emas. Bukan hanya itu saja yang mampu memberikan kemewahan dan keindahan, tetapi terdapat juga bunga segar seperti mawar merah, melati putih dan juga bunga dahlia sebagai hiasan bunga segar. Yang mampu memberikan keharuman khas bunga bak. di taman.


"Tuk, tuk, tuk!"


Aku berjalan di atas karpet yang memanjang untuk menuju di mana meja akad nikah berada. Aku berjalan bersama dengan Cahaya, tetapi sayangnya Cahaya hanya bisa duduk di atas kursi roda. Namun, keanggunan masih terlihat dan terjaga di dalam dirinya, meskipun ia tak bisa menampakkan kaki dan berjalan normal bak model.


"Jangan pernah ragu dan jangan takut! Kamu masih terlihat cantik dan anggun," bisikku di telinga Cahaya.


Cahaya pun mengangguk pelan mengiyakan perkataanku kepadanya. Setelah itu, tidak lama kemudian pak Penghulu pun datang dan melangkahkan kakinya dengan cepat, tepat dan keras. Entahlah, seolah pak Penghulu tengah terburu-buru untuk melakukan tugasnya. Namun, Yulian tiba-tiba menghampiri pak Penghulu itu, yang membuat beliau kembali tenang.


"Kamu tunggu di sini, Cahaya! Karena kamu masih belum diperbolehkan untuk bertemu dan berada di samping Arjuna sebelum kata SAH telah terucap." Tutur ku yang menghentikan kursi roda Cahaya di balik kelambu remang berwarna putih.


Cahaya kembali mengangguk pelan untuk mengiyakan. Setelah itu, aku meninggalkan Cahaya di sana dan hanya Nyonya Hanura yang menemaninya. Karena aku harus bertemu dengan Yulian dan juga Arjuna sebelum akad nikah dilangsungkan. Namun, sebelum bertemu dengan mereka aku harus mempersiapkan kembali mas kawin sebagai mahar pernikahan Arjuna dengan Cahaya yang masih berada di dalam mobil.


"Alhamdulillah, aku rasa sekarang semuanya sudah siap. Ya Allah Ya Robb, lancarkanlah urusan kami di dunia!" doa ku dengan lirih.


"Tuk, tuk, tuk!"


Aku berjalan dan menghampiri Yulian dengan membawa sebuah mas kawin yang terhias dengan indah, bak burung merak dengan pernak-pernik pita kecil berwarna biru. Sehingga terlihat begitu cantik dan indah jika di pandang. Dan lagi-lagi itu membuat hatiku terenyuh, rasa bahagia dan sedih seolah tengah beradu padu di dalam jiwa.


"Aku tahu hatimu tengah bersedih, tapi aku mohon jangan perlihatkan semua itu di depan Juna dan semuanya. Aku yakin kamu wanita kuat, Aisyah." Bisik Yulian yang menggenggam jemariku dengan kuat.

__ADS_1


Sejenak aku menatap wajahnya, sepasang mata yang memberikan kekuatan kepadaku mampu membuat diri ini menepiskan segala rasa yang bergejolak. Aku pun mengangguk dan juga memberikan senyuman dari bibirku kepadanya. Begitupun dengannya yang membalasku dengan senyuman.


Inilah hijrah cinta kami menuju surga-Nya, saling ada dan saling menguatkan satu sama lain dalam keadaan apapun adalah tujuan rumah tangga kami yang harus kami jaga sampai nanti. Dan aku percaya bahwa aku dan Yulian mampu melewati bersama-sama entah apapun itu.


"Bagaimana pak Yulian, apakah sudah siap untuk melangsungkan acara ijab dan qabul nya sekarang?" tanya pak Penghulu.


"Silahkan, Pak! Arjuna, duduklah di depan pak Penghulu!" jawab Yulian.


"Baik, Abi." Balas Arjuna kemudian, lalu melangkah dan duduk di depan pak Penghulu.


Hal yang sama pun dilakukan oleh pak Penghulu dan juga Paman dari Cahaya. Dan suasana sejenak berubah menjadi tegang, hati yang berdebar untuk menantikan kata SAH dalam setiap bibir yang berucap. Dan momen ini, begitu membuatku teringat kembali beberapa tahun lalu saat aku dan Yulian berada di jenjang yang sama. Pilihan yang tidak akan menjadi salah dalam hidup kami, meskipun aku tahu banyak sekali rintangan sebelum hari pernikahan telah tiba.


"Sayang, apakah kamu masih mengingat tentang kita dulu?" tanyaku lirih.


Yulian seolah bertanya-tanya dengan ekspresi wajah yang ia lakukan saat ini. Mengerutkan kening sembari menatapku karena merasa heran. Dan itu membuatku begitu malu, menyimpan pipi kemerahan di balik cadar yang aku kenakan. Sehingga sejenak aku tertunduk dengan menyimpan senyum bahagia. Namun, tiba-tiba jari telunjuk Yulian mengangkat dagu ku, sehingga aku menatap wajahnya yang tengah tersenyum manis menatapku.


"Tentu aku mengingat semuanya, bidadariku. Kita sudah melewati semuanya, tidak mungkin jika aku lupa begitu saja tentang perjuangan kita menuju kemenangan. Namamu sudah terukir di atas bintang-bintang dan hanya namamu yang akan tetap bercahaya di sana, bahkan di hatiku." Jelas Yulian lalu mengecup keningku.


Aku terbuai akan kata-kata Yulian yang melelehkan hatiku. Bagiku, hanyalah Dia yang mampu memberikan kekuatan di saat aku benar-benar merasa kehilangan semua keluargaku. Dan kini, hanyalah Yulian, Arjuna dan Ahtar keluarga yang aku miliki. Meskipun begitu berat rasanya melepas kepergeian mereka semua secara bersama-sama yang meninggalkan aku dengan becibun kenangan indah yang tersisa. Akh sudahlah, bukan waktunya untuk aku terus mengingat kesedihan dan serpihan kisah kelam atas rasa kehilangan.


"Bagaimana Mas Arjuna? Apakah sudah siap?" tanya pak Penghulu memastikan.


Sejenak Arjuna menatap Yulian dan juga aku, seolah ia sedang meminta persetujuan dari kami sebagai kedua orang tuanya. Dan Yulian pun dengan sigap mengangguk pelan mengiyakan, menyakinkan Arjuna untuk segera melakukan ijab dan qabul saat itu juga. Begitupun dengan Arjuna yang menganggukkan kepalanya dengan rasa penuh keyakinan dalam dirinya, sehingga ijab dan qabul pun dilakukan.

__ADS_1


"Mari Pak, selaku wali dari mempelai wanita saya persilahkan untuk memimpin ijab dan qabulnya!" pinta pak Penghulu kepada paman Cahaya.


"Baik, Pak! Sebelumnya saudara Arjuna, apakah Anda sudah siap?"


"Insyaa Allah saya siap, Pak!"


"Baiklah, kalau begitu saya akan memulainya!"


Paman dari Cahaya pun berjabat tangan dengan tangan Arjuna. Setelah itu paman Cahaya mengucapkan ijab dan qabul dengan satu tarikan nafas dan juga dengan suara yang amat sangat lantang. Begitupun dengan Arjuna, yang mengikuti ijab dan qabul untuk membalas sebagaimana apa yang harus dijawab oleh Arjuna dengan satu tarikan nafas dan juga dengan suara yang lantang, penuh kemantapan.


"Aku nikahkan engkau dan aku kawinkan engkau dengan pinanganmu, putriku Cahaya Maharani dengan seperangkat alat sholat dan emas berupa cincin dibayar tunai." Ujar paman Cahaya dengan tatapan tak berkedip.


"Saya terima nikah dan kawinnya dengan mahar yang telah disebutkan, dan saya rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugerah." Jawab Arjuna dengan tatapan tajam.


Selang beberap menit kemudian akhirnya kata SAH telah terucap dari bibir setiap insan. Setelah itu, tak lupa pak Penghulu mengiringi dengan lantunan doa agar rumah tangga yang hendak dijalani dapat terjaga dengan sakinah mawadah warohmah. Lalu, pak Penghulu meminta Arjuna untuk menemui Cahaya agar Arjuna menyematkan sebuah cincin di jari manis Cahaya. Bukan hanya itu saja, hal yang wajib pun dilakukan oleh sepasang pasutri yang baru saja melangsungkan pernikahan, yaitu mencium punggung tangan suami dan juga mencium kening istri.


"Aku bahagia setelah Arjuna mendapatkan tambatan hati untuk yang pertama dan semoga sampai akhir nanti, seperti aku dan Yulian." Gumamku seraua melirik kan pandanganku ke wajah Yulian yang masih berdiri tegap disampingku.


Setelah acara penyematan cincin, acara selanjutnya ialah menaiki dekor pengantin bersama keluarga untuk mengabadikan sebuah momen yang tak akan pernah terlupakan. Apalagi ketika Arjuna menggendong Cahaya dengan keromantisan yang ada di dalam dirinya. Yang membuatku tidak pernah percaya jika Arjuna memiliki hati yang begitu lembut selembut sutera terhadap wanita.


Acara demi acara telah berlangsung dengan sempurna, yang membuat kebahagiaan dalam setiap insan yang merasakannya, termasuk semua tamu hadirin beserta tamu undangan dari pihak Rumah Sakit, Kantor dan juga rekan kerjaku serta kerabat terdekat.


"Andai kalian semua ada di sini, pasti kebahagiaan ini akan terasa begitu lengkap. Namun sayang, itu hanyalah harapan semu dalam bayanganku saja." Gumamku yang mengingat tentang keluarga besarku.

__ADS_1


Memori tentang kenangan itu begitu menyisakan luka yang dalam di hidupku. Bahkan jika mengingatnya dadaku terasa begitu sesak, pelupuk mataku menyimpan beribu air bening yang siap mengalir. Tapi hati dan diri ini harus kuat menghadapi kenyataan sepahit apapun itu, termasuk jatuhnya pesawat yang membawa seluruh keluargaku ke surga.


__ADS_2