
Pagi yang cerah membuatku semakin bersemangat untuk menjalani sesuatu perubahan dalam hidupku. Termasuk kebiasaanku setiap pagi dan aktifitasku yang lain.
Alhamdulillah pagi ini aku bangun lebih awal. Di mana ketika suara adzan subuh berkumandang, aku langsung beranjak ke kamar mandi dan mandi sekalian serta mengambil air wudhu. Setelahnya , aku menjalankan sholat subuh dan tak lupa juga belajar lagi membaca Al-Qur'an.
Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi, di mana bik Murni sudah selesai dalam menyiapkan sarapan pagi. Sebelum aku dipanggil untuk turun sama bik Murni, aku sudah turun terlebih dahulu menuju meja makan.
"Assalamu'alaikum selamat pagi semuanya!" Sapaku kepada papa, kak Maryam dan tak lupa dengan bik Murni yang ku dapatkan mereka sudah duduk di meja makan.
"Wa'alaikumsalam!" Ucap mereka serentak.
"Sini sayang, kita sarapan pagi bersama!" Ucap papa yang mengajakku untuk segera sarapan.
"Iya Aisyah, ayo!" Sahut kak Maryam.
"Baiklah, Aisyah juga sudah nggak sabar mau makan dengan lahabnya. Perut Aisyah sudah lapar sedari dari tadi!" Kataku dengan polosnya, sehingga membuat papa dan kak Maryam tertawa dengan serentak.
"Ya sudah, Papa baca do'a makan dulu!" Ucap papa yang akan memulai sarapan pagi.
Setelah beberapa menit kita sarapan, aku berpamitan terlebih dahulu. Karena, aku tak mungkin lupa dengan janjiku kepada bu Laila yang akan saling bertemu diantara kita.
"Emm..Pa, kak, Aisyah berangkat dulu ya!" Kataku yang beranjak dari kursi makan.
"Kok kamu berangkat sekarang Aisyah, bukannya jam kuliah kamu nanti jam 10 ya?" Tanya kak Maryam dengan rasa penasarannya.
"Iya sih kak, tapi Aisyah ada urusan dulu. Jadi, Aisyah harus berangkat pagi!" Jawabku menjelaskan.
"Oh *be*gitu, ya sudah kamu hati-hati!" Ucap papa yang mengijinkan.
"Ya sudah kalau begitu, Aisyah berangkat dulu ya Pa, kak!" Pamitku pada mereka dengan mencium tangan papa dan tak lupa mengucap salam tentunya.
Berangkatlah aku ke taman di mana tempat perjanjian antara aku dan bu Laila. Ku lajukan sepedaku dengan mengayuhnya secara pelan-pelan. Senada dengan cuaca dan suasana dipagi ini. Karena, cahaya matahari yang tidak terlalu memancarkan cahanya dan mendung yang tidak menutupi awan, sungguh menyejukkan.
Setelah sekitar 1 jam-an aku mengayuh sepeda, sampilah aku ditempat tujuan. Ku parkir sepedaku berjejer dengan sepeda lainnya. Dan ku pandangi disekeliling taman untuk mencari bu Laila berada.
__ADS_1
Dan akhirnya ku dapatkan keberadaan bu Laila. Beliau duduk disebuah kursi panjang dekat dengan beberapa bunga yang begitu indah.
"Assalamu'alaikum bu!" Sapaku yang mendekati beliau.
"Wa'alaikumsalam Aisyah, akhirnya kamu sudah datang. Sini duduk sama ibu!" Ucap beliau yang kurasa aneh. Kanapa kok aku berpikir seperti itu? Ya iyalah kita saja baru kenal, tapi ada urusan apa pula bu laila meminta untuk bertemu?
"Oh iya bu_tapi ada apa ya bu, kok Bu Laila ingin bertemu dengan saya?" Tanyaku penasaran.
"Entah kenapa ibu rasanya kangen sama kamu! Ibu pengen bertemu sama kamu. Apa kamu keberatan?" Jawabnya dengan wajah yang sedih dan harapan.
"Nggak kok bu, Aisyah juga nggak keberatan. Aisyah juga senang malahan bisa bertemu dengan bu Laila!" Kataku dengan senang hati.
Kami pun mengobrol bersama dengan diselingi canda gurau. Kami pun semakin akrab, seakan-akan kami sudah seperti anak dan ibu yang sedang berjalan-jalan di taman bersama. Hatiku merasa senang sekali, sosok ibu yang kurindukan kini hadir kembali.
Aku hampir lupa waktu saking asiknya mengobrol dengan bu Laila. Sebenarnya sih aku nggak mau momen ini terlewatkan begitu saja, tapi apalah dayaku_aku harus pergi untuk kuliah.
"Bu, Aisyah pergi kuliah dulu ya!" Kataku berpamitan.
"Ya sudah, kamu hati-hati ya dijalan!" Ucap bu Laila dengan penuh kasih sayang.
******
Aku kembali mengayuh sepedaku dengan pelan. Tetap kunikmati dalam setiap perjalanan yang telah kulewati. Aku semakin merasakan kenyamanan dalam setiap perubahanku. Rasanya penuh kedamaian dalam hatiku.
"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga!" Kataku dengan pelan.
Ku parkirkan sepedaku ditempat sepeda seperti biasa. Kudengarkan suara langkah kaki yang mendekatiku. Entahlah_siapa dia, karena aku masih sibuk dengan sepedaku dan belum bisa melihatnya.
"Assalamu'alaikum!" Suara seorang lelaki yang menyapaku.
"Wa'alaikumsalam!" Balasku memberi salam. Namun aku tidak mengenalinya.
"Apa kamu yang bernama Aisyah?" Tanyanya padaku dengan memiringkan kepalanya.
__ADS_1
"Emm...iya betul. Tapi kamu siapa ya?" Kataku dengan mengerutkan kening.
"Oh iya, aku Fadli. Anak dari bu Laila." Ucapnya yang memperkenalkan diri dengan begitu sopan.
"Oh...anak bu Laila!" Kataku dengan singkat. Karena aku ingin berubah menjadi yang lebih baik dan menjaga sikap sekaligus sifat, aku menundukkan kepalaku dan tidak berani memandang wajahnya. Ya_padahal sejujurnya aku penasaran juga dengan anaknya Bu Laila. Namun, aku tetap harus bisa beristiqomah.
"Emm iya, apa aku boleh mengenalmu Aisyah?" Tanyanya kembali.
"Maksudnya bagaimana ya?" Jawabku yang tak mengerti dengan pertanyaannya.
"Ah_lupakan saja kalau begitu. Anggap saja aku tak pernah mengucapkan hal itu. Ma'af aku sudah mengganggumu ." Katanya dengan ragu-ragu dan menjauhiku dengan langkah kaki yang pelan.
"Dasar aneh sekali dia. Tapi, ya sudahlah aku juga nggak mau tau dengan tingkahnya." Gumamku dalam batin.
Aku melangkahkan kakiku dan meninggalkan sepedaku ditempat parkiran. Tanpa ku sadari ternyata sedari tadi aku telah dipandangi oleh seisi kampus . Aku merasa aneh saja gitu!
"Aisyah!" Suara hangat yang memanggilku dari belakang.
"Iya!" Jawabku dengan membalikkan tubuhku.
Dan ternyata suara hangat itu adalah suara Yulian. Ada apa lagi dengannya. Padahal sudah ku peringatkan untuk tidak menemuiku.
"Oh kamu Yulian!" Kataku yang mengacuhkannya dan mengalihkan pandanganku.
"Masya Allah Aisyah, kamu cantik. Kamu jangan marah dulu ya, aku cuma mau menjadi teman kamu saja. Apakah boleh?" Tanyanya yang mengejutkanku.
"Apa? Teman? Kamu tidak salah mau berteman denganku Yulian? Tapi ma'af sajalah, kita bukan mukhrimnya jadi tidak baik juga kalau kita berteman. " Jawabku dengan nada yang lirih karena menahan emosi.
"Aku tahu, aku minta ma'af Aisyah!" Ucapnya dengan sedih dan wajah kecewa.
Tak lama kemudian, ada seorang gadis yang menghampiri Yulian dan memanggilnya dengan sebutan sayang. Sebenarnya apa yang terjadi? Permainan apa yang sedang disusun oleh seorang Yulian? Otakku terus berputar memikirkan hal ini, hingga sifat amarah yang aku tahan kini telah memuncak dan tak bisa aku tahan lagi. Ma'afkan aku ya Tuhanku...!
"Apa, sayang? Sebenarnya apa sih tujuan kamu Yulian? Apa kamu ingin menyakiti hatiku lagi? Aku tidak menyangka kalau kamu bisa berbuat seperti itu padaku! Aku benar-benar kecewa sama kamu." Kataku dengan penuh amarah yang meluap.
__ADS_1
Jujur saja aku masih berharap Yulian mengejarku dan memberikan cinta tulusnya untukku. Karena aku mencintainya. Namun aku salah besar. Harapanku bertolak belakang dengan kejadian sebenarnya. Yulian sudah memiliki kekasih baru.
Aku berlari meninggalkan Yulian dengan menetaskan air mata yang membasahi pipiku. Aku tak bisa menahan sakit ini. Aku terus belari tanpa arah tujuan yang pasti, hingga akhirnya aku terjatuh karena tabrakan dengan seseorang.