
Dan setelah kami menaiki mobil yang kami bawa untuk ke rumah sakit, Fadli menyetir dengan kecepatan tinggi. Itu bukan berarti Fadli tidak peduli tentang keamanan, tetapi ini keadaan darurat. Keadaan dimana membuat Fadli dan Maryam harus saling bertatapan satu sama lain.
πΏπΏπΏπΏ
Sudah 5 hari aku dirawat di Rumah Sakit. Alhamdulillah, sekarang sudah lebih baik. Dan sepertinya aku harus bersiap-siap kena omelan dari kekuargaku, apalagi kedua kakakku itu yang begitu mengkhawatirkanku.
"Ternyata, dia tidak mau tahu lagi tentangku. Padahal, aku berharap mendapatkan hadiah kecil darinya seperti yang dulu. Mungkin, sekarang dia sudah melupakanku." Ucapku dalam hati yang merasa sedikit kecewa.
Terbesit dalam pikiranku tentang seorwng lelaki yang sangat aku cintai. Namun, sekarang aku harus bisa belajar untuk menerima kenyataan dan berusaha mengikhlaskan dirinya untuk menikahi orang lain. Dan dia adalah sahabatku.
"Assalamu'alaikum Aisyah!" Sapa dari seseorang yang sedari tadi aku nantikan.
"Wa'alaikumsalam bu Dokter yang paling cantik." Ledekku kepada kak Maryam.
"Hmm, ternyata sudah berani ya ledek kakak lagi! Coba kakak periksa keadaan kamu dulu." Ucap kak Maryam yang siap bertugas dipagi hari.
Kak Maryam hari ini bertugas dipagi hari. Dan dia juga bertugas untuk memeriksa perkembangan kesehatanku. Apakah aku bisa pulang hari ini, atau entahlah! Karena aku sudah mulai bosan berada dirumah sakit yang sangat aku tidak sukai dengan bau obat-obatan. Namun aku bisa apa, aku hanya bisa pasrah sebagai pasien. Hohoho!
"Assalamu'alaikum!" Ucap seseorang dengan membuka pintu ruangan yang saat ini aku tempati.
"Wa'alaikumsalam!" Jawab kami dengan bersamaan.
"Eh, ternyata kak Fadli." Ucapku spontan setelah kak Fadli masuk ke dalam ruangan.
"Iya, bagaimana keadaan kamu hari ini?" Tanya kak Fadli kepadaku.
"Tuh, tanya saja sama bu dokternya langsung." Jawabku dengan melirik kak Maryam yang sedang berdiri disampingku.
Terlihat jelas mereka yang begitu canggung. Tanpa ada pembicaraan khusus atau sekedar sapa an dari mereka. Seketika suasana menjadi hening.
"Hmm... Malah pada diam-diaman sih!" Ucapku memecahkan suasana.
"Akh, iya. Aisyah boleh pulang hari ini. Dia sudah membaik, meskipun belum pulih secara total. Tapi, dia sudah boleh pulang hari ini." Jawab kak Maryam kemudian.
"Sungguh kak? Alhamdulillah kalau begitu. Tapi, kalian tidak memberi tahu orang tua kita kan tentang keadaanku ?" Tanyaku khawatir.
__ADS_1
"Tenang saja, aku tidak memberitahu ayah dan ibu tentang kejadian ini. Dan rencananya, nanti ayah dan ibu akan kakak pertemukan dengan pak Brian dan mama kamu. Bagaimana? Kan, lebih cepat lebih baik pula." Ucap Fadli memberitahu.
"Bagus kalau begitu kak. Oh iya, kak Maryam tidak memberitahukan ini semua kepada papa dan mama Maria kan? Aisyah tidak mau membuat mereka khawatir."
"Kamu tenang saja, kakak tidak memberitahu mereka. Asalakan, mulai hari ini kamu harus bisa menjaga diri kamu dengan baik-baik. Tidak seperti kemaren, yang membuat kakak begitu khawatir dengan keadaan kamu." Ucap Maryam.
Dalam ruangan itu terlihat betapa indahnya senyuman dari mereka. Senyuman yang tulus yang mampu menghiburku dari masalahku. Setidaknya, aku bisa melupakan kejadian kemaren.
ππππ
"Maryam, ini buat kamu." Ucap kak Fadli yang memberikan selembar kertas kepada kak Maryam. Entahlah apa itu, aku sendiri juga tak tahu pasti.
"Buat aku?" Balas kak Maryam dengan bahagia dan penasaran, karena terlihat begitu jelas dalam raut wajahnya yang bersinar.
Kak Maryam membuka kertas itu dan berusaha fokus dengan apa yang dituliskan di atas kertas itu. Aku sendiri juga ikut penasaran dengan apa yang dituliskan.
"Apakah kamu serius dengan tulisan ini?" Tanya kak Maryam kepada Fadli.
"Aku serius. Dan itu perwakilan dari perasaanku. Meski aku belum terlalu mengenalmu, aku yakin sekali bahwa kamu adalah bidadari surgaku. Apakah kamu mau menikah denganku?" Tanya kak Fadli kepada kak Maryam dengan tatapan yang begitu hangat. Dan sungguh, itu membuatku begitu terharu.
"Ma'af, aku belum bisa menjawabnya sekarang. Lebih baik, kamu tanyakan itu kepada yang berhak atas diriku."
"Baiklah, aku akan menemui kedua orang tuamu. Jangan lupa, seperti apa yang sudah saya jelaskan kepada Aisyah, bahwa malam ini aku akan mempertemukan kedua orang tuaku dengan kedua orang tua kalian juga. Dan kamu Maryam, jangan lupa nantikan aku dan khitbahku untukmu." Begitulah jawaban dari kak Fadli.
Wajah kak Maryam berubah menjadi berseri-seri dan ada rasa malu juga. Karena mendengar ucapan kak Fadli yang baru saja dilontarkan untuknya. Namun, rasa malu itu berubah menjadi ketegangan setelah salah seorang perawat masuk kedalam ruangan.
"Ma'af permisi dok, saya akan memberitahu bahwa pasien bernama Kamila di ruangan Flamboyan nomor 112 sedang drop lagi dok." Ucap suster itu.
"Baiklah, saya akan segera memeriksanya." Balas kak Maryam yang kemudian bergegas menuju ke ruangan itu.
"Kamila?" Ucapku dalam hati.
Aku berpikir dengan keras Kamila siapa yang dimaksud tadi. Apa mungkin, dia Kamila temanku? Aku harus memastikannya.
"Kamu mau kemana Aisyah?" Tanya kak Fadli yang melihatku beranjak dari kasur rumah sakit.
__ADS_1
"Aku, aku mau memastikan Kamila yang dimaksud tadi kak. Karena temanku yang bernama Kamila juga sedang sakit. Aku mau memastikan saja siapa dia." Jawabku yang berkata dengan jujur.
Aku pun berjalan untuk mencari ruangan itu yang ditemani dengan kak Fadli. Aku sedikit lelah belum bisa menemukannya. Namun, akhirnya kelelahanku terbayar sudah setelah aku melihat sosok lelaki yang berdiri di depan pintu sebuah ruangan.
"Yulian?" Ucapku dalam hati.
Aku berjalan secara pelan untuk menemui Yulian. Dan menanyakan bagaimana keadaan Kamila saat ini. Namun, entah kenapa langkah kaki ini lagi-lagi terasa berat untuk menemui Yulian.
"Aku harus kuat, aku hatmrus bisa melupakan kejadian kemaren. Aku pasti bisa." Ucapku dalam batin.
Aku memberanikan diri untuk menemuinya. Dan mencari tahu tentang Kamila.
"Assalamu'alaikum Yulian. " Ucapku dengan lembut.
"Wa'alaikumsalam!" Balas Yulian yang kemudian menatapku dengan raut wajah terkejut, mungkin karena melihatku bergandeng tangan dengan kak Fadli.
"Kamu, Aisyah!" Ucapnya canggung.
"Iya, aku mau tahu tentang keadaan Kamila saat ini. Bagaimana keadaannya sekarang?" Tanyaku dengan kecemasan.
"Dia, dia masih diperiksa sama dokter." Jawabnya dengan menatap ke dalam ruangan.
Tak lama kemudian, kak Maryam pun keluar dari ruangan tersebut. Dan nampak terlihat sedih dalam raut wajahnya. Ya_meskipun kak Maryam menggunakan cadar, aku tahu itu semua melalui tatapannya.
"Kak, bagaimana keadaan Kamila?" Tanyaku kepada kak Maryam.
"Dok, bagaimana keadaan Kamila?" Sahut Yulian ikut bertanya.
Namun, kak Maryam tidak menjawab dengan segera. Malah dia bertanya kepada kami. Itu membuatku semakin khawatir dengan keadaan Kamila.
"Aisyah, kenapa kamu ada di sini? Ada hubungan apa kamu dengan Kamila?" Tanya kak Maryam yang ditujukan kepadaku.
"Aku temannya Kamila kak." Jawabku dengan singkat.
"Dan kamu, bukankah kamu Yulian? Dan ada hubungan apa kamu dengan Kamila?" Tanya kak Maryam kepada Yulian dengan tatapan tajam. Entahlah, kenapa kak Maryam menatap Yulian yang bukan mukhrimnya dan dengan tatapan tajam pula. Seperti tatapan seekor harimau yang siap menerkam mangsanya. Ups, hahaha... Ma'af!
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Jangan lupa berikan like, komentar dan vote kalian ya teman-teman setia readers novel HCA sebagai dukungan kalian dalam cerita ini. Terimakasih.