HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Sebuah Pertemuan


__ADS_3

"Aisyah!"


Terdengar seseorang tengah memanggil namaku, tetapi aku tidak tahu pasti siapa pemilik suara itu. Karena aku merasa yakin bahwa aku tidak memiliki seseorang yang kukenal di Edinburgh, tepatnya saat aku berada di kota Royal Mile, hanya satu orang saja yang kukenal di Edinburgh, yaitu bu Ratih seorang. Begitupun dengan Yulian, ia tidak mengetahui siapa pemilik suara itu dan entah di mana ousat suara itu berasal.


"Sebenarnya siapa yang sudah memanggilku?" tanyaku dalam hati.


Aku terus berputar dan menyapu setiap orang yang berlalu lalang di sekitarku untuk mencari tahu pemilik suara itu. Akan tetapi hasilnya nihil, karena aku tidak mampu menemukan pemilik suara itu dalam ribuan orang yang berkunjung di Royal Mile. Dan itu sukses membuatku merasa penasaran dengan entah siapa orang itu.


"Hai!" Teriak seseorang.


Terlihat seorang wanita cantik yang berdarah biru tengah melambaikan tangannya kepadaku dan Yulian. Namun, aku tidak tahu pasti apakah wanita itu mengarahkan lambaian tangannya ke arahku atau hanya perasaanku saja. Karena aku pun tak mengenal wanita berambut pirang itu. Akan tetapi, langkah yang dilakukan wanita itu ditujukan kepada ku dan Yulian yang masih berdiri dalam kerumunan orang yang berkunjung di area Royal Mile.


"Hai! Emm, bukan kah, kalian ... Yulian dan Aisyah? Benar, kan?" tanya wanita itu memastikan.


"Iya, benar. Tapi ... sepertinya kami tidak mengenal Anda. Kalau boleh tahu Anda siapa ya?" jawab Yulian lalu berbalik bertanya.


"Iya, Anda siapa ya?" sambungku kemudian.

__ADS_1


Sejenak wanita itu melukiskan senyum yang mengembang dari bibirnya untuk kami. Seolah wanita itu begitu mengenal kami, tetapi berbeda dengan kami yang tidak tahu siapa wanita yang berada di hadapan kami saat ini. Namun, tidak lama kemudian wanita itu menyebut namanya dan menjelaskan tentang siapa dirinya kepada kami.


"Perkenalkan! Namaku, Arumi. Aku mengenal kalian meskipun aku tidak pernah bertemu dengan kalian dan baru kali ini aku bisa bertatap muka dengan kalian. Dan aku merasa begitu senang akan hal itu!" jawab wanita yang bernama Arumi.


Aku masih tidak mengenalnya bahkan namanya saja terdengar begitu asing di telingaku. Bukan hanya itu saja, wajahnya yang aku akui cantik jelita tidak pernah terlintas dalam pandanganku. Dan itu membuatku semakin penasaran dengan wanita yang masih berdiri dihadapanku ini.


"Tapi, aku merasa tidak mengenal Anda. Apakah sebelumnya kita pernah bertemu?" tanyaku memastikan.


"No. Kita sama sekali belum pernah bertemu, Aisyah. Tetapi ... aku selalu mengikuti sosial media kalian. Karena aku merasa kagum dengan hubungan kalian yang nyata tanpa berpura-pura. Dan aku merasa bangga dengan apa yang sudah kalian capai dalam bidang bisnis. Di mana kamu Aisyah, sudah menjadi desainer terkenal di mancanegara. Sedangkan Yulian, menjadi seorang CEO yang melejit akan ide-ide bagusnya dalam sebuah pembangunan, dan sebagainya. Kalian pasangan yang perfect!" sanjung seorang wanita yang bernama Arumi.


"Terima kasih atas apa yang Anda katakan kepada kami! Tapi ... kami masih belum mengerti kenapa Anda mengagumi kami sampai seperti itu? Yang membuat kami merasa aneh saja,"


"Tenang, Aisyah dan Yulian! Seperti apa yang sudah aku ucapkan kepada kalian. Ini faktanya, di mana aku merasa nyaman berada didekat kalian, terutama di dekat kamu, Aisyah. Sebenarnya sudah lama sekali aku ingin berkunjung ke Indonesia untuk bertemu kamu Aisyah, tapi hasilnya ... aku belum sempat untuk ke sana. Namun, takdir telah berkata lain, di mana kita kini telah dipertemukan saat kamu berkunjung di Royal Mile." Jelas Arumi, yang menatapku dengan tatapan rasa bahagia.


"Tunggu! Kalian jangan bicara apapun terlebih dahulu! Karena aku ingin mengajak kalian berbincang sebentar saja di restoran Tattu, Edinburgh. Apakah kalian mau?" sambungnya lagi.


Rasa bimbang sejenak menghampiri kami, karena kami tak mengenal siapa wanita yang memiliki nama Arumi ini. Ingin rasanya hati mengitakan, tetapi di sisi lain aku dan Yulian tidak mengenalnya. Namun, Arumi bersi kekeh mengajak kami ke restoran Tattu, Edinburgh, yang sebenarnya tidak jauh dengan lokasi Royal Mile. Sehingga kami pun mengiyakan ajakannya dengan anggukan pelan dan meninggalkan senyum tipis kepadanya.

__ADS_1


Aku, Yulian dan Arumi pun berjalan dengan gontai di I Mill yang sangat menyenangkan. Di mana kami berjalan dari Castle menyusuri Royal Mile ini, yang merupakan area pedestrian atau pejalan kaki yang besar. Sehingga tidak bercampur aduk dengan kendaraan bermesin sebagai kendaraan dari setiap insan. Dan aku merasa puas saat berjalan kaki menyusuri setiap keindahan Royal Mile.


"Apakah kamu yakin, Mas? Bahwa tidak akan terjadi apa-apa kalau kita mengikuti dan mengiyakan ajakan wanita ini?" bisik ku kepada Yulian.


"Sudahlah! Jangan merasa ada hal buruk saja!Kita berikan kesempatan kepadanya untuk mengobrol dengan kita, sesuai apa yang Dia mau. Kita harus bisa husnudzon daripada suudzon." Ujar Yulian seraya melukiskan senyum untuk meyakinkan aku.


Aku pun mengangguk pelan dan mengiyakan saran yang diberikan Yulian. Sehingga aku segera melepas rasa yang meragukan dalam hatiku tentang wanita ini. Dan perjalanan kami masih begitu panjang untuk menuju ke Restoran Tattu, tetapi aku menikmatinya. Seolah semua momen di Edinburgh sudah melekat di dalam pelupuk mataku. Saat perjalanan masih kami lalui, tiba-tiba ponselku berdering dari dalam tas yang aku bawa. Sehingga aku segera mengambil ponsel itu dan memastikan siapa yang sedang menelfonku.


"Assalamu'alaikum, Juna! Ada apa kamu menelfon Umi?"


"Waalaikumsalam. Sebenarnya tidak apa-apa sih Umi, tapi aku dan Cahaya merasa lapar ... jadi, sekalian kita mau memgajak Umi dan Abi untuk makan bersama. Bagaimana?"


"Boleh, Juna. Kamu dan Cahaya langsung pergi menuju ke restoran Tattu saja! Karena Umi dan Abi menuju ke sana." Jelasku, memberi titah.


Arjuna pun mengiyakan, lalu perbincangan antara aku dan Arjuna yang melalui telfon genggam kini telah dimatikan. Lalu, aku kembali fokus dengan langkah kakiku yang terus melaju mengikuti Arumi menuju ke restoran Tattu. Dan entah seperti apa serta bagaimana restoran yang cukup terkenal dengan suasana di dalam sana. Yang konon katanya begitu indah dan tidak akan menyesal jika mengabadikan momen di restoran Tattu ini.


Beberapa jam kemudian akhirnya aku, Yulian dan Arumi sampai juga di depan area restoran Tattu. Dan kami pun segera masuk untuk memilah tempat duduk yang terasa nyaman bagi kami dalam mengenyatkan pantat masing-masing. Dan sampai akhirnya, kami pun telah menemukan tempat yang nyaman untuk sebuah pertemuan tidak terduga ini.

__ADS_1


__ADS_2