HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
BAB 22


__ADS_3

HAI🤗 TEMAN-TEMAN READERS, MA'AF BARU BISA UP KE EPISODE SELANJUTNYA 🙏 SEMOGA CERITA KALI INI LEBIH MENARIK YA! SELAMAT MEMBACA 📖


💝💝💝💝


Aku dan kak Maryam kini merebahkan tubuh kami diatas kasur empuk. Namun, mata kami belum terpejam di jam sekian. Kami masih berbincang, mengobrol tentang banyak hal. Dan mengutarakan isi hati sesama perempuan, terutama hal cinta.


"Kak_tadi kakak masih ingat apa tidak, tentang papa yang mengucapkan bahwa ibu kandungku adalah bu Laila dan kakak ku adalah Fadli?" Tanyaku kepada kak Maryam dengan wajah serius.


"Iya, kakak ingat kok dek. Terus kenapa?" Ucap kak Maryam yang balik menanyaiku dengan nada penuh curiga.


"Emm... Apa mungkin iya yang dimaksud papa adalah bu Laila yang kita kenal kak?" Tanyaku menerka-nerka.


"Aneh kamu dek, ya tidak mungkinlah. Mungkin namanya saja yang kebetulan sama." Jawab kak Maryam dengan terkekeh.


"Yah kakak ini, siapa tahu aja gitu!" Ungkapku dengan perasaan sedih dan menundukkan kepalaku.


"Kenapa? Ma'af kalau kakak sudah membuatmu bersedih." Ucap kak Maryam yang mendekatiku dan menatapku dengan penuh kelembutan.


"Emm...tidak apa-apa kok kak, Aisyah hanya berharap saja kalau mereka keluarga kandung Aisyah. Aisyah hanya merasa rindu dan ingin tahu seperti apa keluarga kandung Aisyah." Ungkapku dengan senyum tipis.


"Ya sudah, dari pada kamu bersedih seperti itu lebih baik kamu istirahat. Toh, kondisi kamu masih perlu dijaga loh! Jangan sampai kamu jatuh sakit lagi! Kalau kamu sakit, kamu tidak bisa mencari tahu dimana keluarga kandung kamu." Kata kak Maryam sambil memelukku.


"Iya ka ." Balasku singkat dengan ekspresi datar.


"Kakak janji sama kamu dek, kakak akan bantu kamu mencari tahu keberadaan keluarga kandung kamu." Lagi-lagi kak Maryam menguatkanku dan membantuku.


Kami mulai mencoba untuk memejamkan mata ini. Secara perlahan kak Maryam sudah tertidur dengan pulas, sedangkan diriku berbeda. Aku masih belum bisa memejamkan kedua mata ini. Terasa sulit aku menghilangkan beban yang ku hadapi saat ini, namun aku harus kuat. Karena aku tidak sendirian, ada keluarga angkatku yang selalu menguatkanku dan mendukungku.


Jam sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB, namun aku masih dalam keadaan yang sama. Lagi-lagi terasa sulit untuk memejamkan mata ini. Hingga tersadar dengan kado tadi siang. Aku begitu penasaran dan berantusias ingin membuka kado itu malam ini juga.

__ADS_1


"Apa ya isinya?" Tanyaku dalam batin dengan memegang kado itu.


Ku coba membukanya secara perlahan agar kak Maryam tidak mendengar dan merasa terganggu. Hingga akhirnya aku menemukan jawaban dari rasa penasaranku itu.


"Cincin?" Kataku dalam batin sambil memegang sebuah cincin isi dari kotak kecil tadi.


Aku bingung apa maksud dari semua itu. Mungkinkah seorang Yulian yang mengirimkannya lagi?


"Assalamu'alaikum Aisyah! Selamat ya, akhirnya kamu sudah kembali ke rumahmu dengan keadaan yang sehat. Ma'af, lagi-lagi hanya kata ma'af yang bisa aku ucapkan untukmu. Ma'af kalau aku tak bisa ikut untuk menjemputmu, karena kesibukanku yang tak bisa aku jelaskan sekarang kepadamu.


Aisyah, kuberikan cincin ini untukmu dengan sepenuh hatiku. Ma'af, kalau cincin ini tidak mahal. Namun, itu tanda cintaku yang begitu tulus untukmu.


Aisyah, mungkin ini kado terakhir yang kuberikan untukmu. Karena, aku harus pergi jauh dari dirimu untuk sementara waktu. Janganlah marah, bersedih ataupun kecewa. Apalagi berpikir bahwa aku sudah menduakanmu atwu melupakanmu. Aku berjanji kepadamu, aku pasti akan kembali kepadamu dan menemuimu untuk melamarmu.


Dengan diamku aku mencintaimu Aisyah. Tunggu aku kembali.


Tiba-tiba air mata ini membasahi kertas yang berisikan surat cinta dari Yulian. Ternyata memang benar kalau itu adalah Yulian, dan memang selama ini yang mengirimkan semua itu adalah Yulian.


"Sebenarnya apa maksud kamu berkata seperti itu Yulian? Kamu mau pergi kemana? Dan jika kamu tidak menduakanku, kenapa kamu tidak berusaha unyuk menemuiku secara langsung dan menjelaskan semuanya?" Ungkapku dalam lubuk hatiku yang paling dalam.


Ku raih ponselku dengan cepatnya. Ku coba menghubungi nomor yang bertuliskan nama Yulian. Namun, lagi-lagi hanya suara operator yang menjawabnya. Aku semakin dibuat bingung oleh tingkah lakunya.


Jam sudah menunjukkan pukul 00.30 malam. Kedua mataku sudah mulai mengantuk karena terlalu banyak air mata yang sudah aku keluarkan sedari tadi. Namun, aku tidak langsung merebahkan tubuhku diatas kasur. Aku beranjak berdiri ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, tapi bukan berarti aku akam melakukan sholat, melainkan aku hanya ingin tidurku nyaman saja.


"Alhamdulillah!" Ucapku sehabis berwudhu, lalu selepasnya aku lanjutkan dengan merebahkan tubuhku yang terasa begitu lelah diatas kasur.


💦💦💦💦


"Ma'afkanlah aku Aisyah, aku belum bisa menemuimu. Aku harus pergi, pergi untuk berhijrah. Aku ingin menjadi orang yang lebih baik lagi. Dan setelah itu, aku berjanji aku akan menemuimu dan melamarmu." Ungkap Yulian.

__ADS_1


Ya, Yulian pergi untuk memperbaiki dirinya menjadi orang yang lebih baik lagi. Dia memutuskan untuk pindah ke sebuah Desa di mana itu adalah tempat para santri. Yang mungkin bisa dibilang itu adalah sebuah pondok pesantren. Karena, dia menyadari kalau masih banyak yang perlu diperbaiki dalam hijrahnya menuju yang lebih baik dan dalam hijrah cintanya menuju jannah.


🕊🕊🕊🕊


Jam menunjukkan pukul 00.30. Fadli terbangun dari tidurnya untuk melakukan sholat sunnah tahajudnya. Secara bersamaan, Aisyah sudah mulai memejamkan kedua matanya.


"Ya Allah Ya Robbi, aku tak tahu perasaan apa yang sedang bergejolak di dalam hatiku. Aku hanya merasa nyaman dan bahagia saat memandang wajahnya. Wajah yang tertutupi dengan kain cadarnya. Aku merasa bimbang dengan perasaan ini. Ya Allah Ya Robbi, tunjukkanlah jalan untukku dalam memilih sesuatu hal yang sulit ini. Amin..!" Do'a Fadli yang di ucapkan setelah menjalankan sholat sunnah istikharah, di mana ia lakukan setelah menjalankan sholat tahajud.


Entahlah, siapa yang sudah membuat hatinya penuh dengan kebimbangan. Aisyah atau Maryam?


🌧🌧🌧🌧


Adzan subuh sudah berkumandang, meski terdengar dengan samar-samar. Kak Maryam membangunkanku dengan memanggil namaku dan menyentuh tubuhku secara perlahan.


"Aisyah, bangun dek. Sudah subuh loh, jangan tidur melulu!" Ucap kak Maryam dengan nada lirih.


"Emm...Huaaammmm! Iya kak, Aisyah bangun." Ku usap-usap kedua mataku secara perlahan dan ku buka sedikit demi sedikit, meski terasa berat karena masih mengantuk.


Suara langkah kaki kak Maryam yang terdengar samar, telah jauh meninggalkanku. Sedangkan aku, masih mencoba mengondisikan keadaanku yang masih begitu mengantuk.


Setelah beberapa menit aku membersihkan tubuhku dan menjalankan sholat subuh, aku memutuskan untuk pergi ke kamar lagi. Bukan berarti aku mau balik tidur lagi ya, ya kali!


Aku pergi ke kamar untuk membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an sejenak, sebelum terbitnya fajar. Begitupun kak Maryam, dia melakukan hal yang sama denganku. Kami saling menyimak dan bergantian untuk membaca Al-Qur'an.


Bersambung...


HAI TEMAN-TEMAN READERS, GIMANA DENGAN EPISODE KALI INI? MA'AF YA AKU MAIN TEBAK-TEBAKAN DULU ANTARA MARYAM ATAU AISYAH YANG SEDANG MELANDA HATI FADLI? HEHE...!


JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR KALIAN YA PLEASE, AGAR AKU SEMAKIN SEMANGAT DALAM MEBUAT EPISODE SELANJUTNYA. SEKALIAN KASIH VOTE, LIKE DAN PENCET GAMBAR LOVE UNTUK MENJADIKAN NOVEL INI SEBAGAI NOVEL FAVORIT KALIAN YA! DAN ITU JUGA MEMPERMUDAH KALIAN UNTUK MELANJUTKAN SETIAP EPISODE SELANJUTNYA. TERIMAKASIH!

__ADS_1


__ADS_2