
Mobil mewah Lamborghini berwarna kuning telah melaju dengan kecepatan sedang untuk mengantarkan Arjuna ke tempat Cahaya berada, yang di dampingi oleh Ahtar di dalam sana. Sedangkan aku, aku mengiringi mobil mereka dengan kendaraan pribadiku bersama Yulian, yaitu mobil sedan sport berwarna hitam mengkilap.
"Aku kira kamu tidak akan menepati janjimu kepada kami, Mas. Tapi aku salah,"
"Buat apa aku berbohong dan tidak menepati sebuah janji yang ku buat sendiri kepada kalian. Kamu harus ingat sesuatu hal dalam seumur hidup kamu, bahwa aku tak akan pernah ingkar akan janjiku kepadamu, Aisyah." Tutur Yulian dengan lembut sembari menggenggam jemariku yang mungil dan runcing.
Percakapan ringan dan sejenak keromantisan di antara aku dengan Yulian telah menyelingi perjalanan kami saat menuju ke Gedung pernikahan, yaitu Balai Raya Aceh Sepakat. Yang berada di Jln. Mengkara No. 57, Petisah Tengah, Kec. Medan Petisah, kota Medan, Sumatera Utara 20112.
Balai Raya Aceh Sepakat adalah gedung pernikahan yang kami pilih sebagai tempat acara pernikahan Arjuna dengan Cahaya, karena bagi kami tempat itu cukup indah dan menarik. Bukan hanya itu saja, Gedung Balai Raya Aceh Sepakat adalah sebuah gedung yang bangunannya dekat dengan Masjid. Sehingga mempermudah bagi siapapun yang berkunjung untuk menunaikan sholat, termasuk semua orang yang memeluk agama Islam saat acara pernikahan Arjuna nanti.
"Aisyah, seperti apa Cahaya itu? Dan bagaimana gadis itu memikat Arjuna, putra kita? Karena Arjuna sama sekali tidak pernah menceritakan tentang seorang gadis mana pun denganku,"
Sejenak aku tersenyum tipis mendengar pertanyaan Yulian yang seolah sedang mengintrogasiku tentang Cahaya, calon menantu kami. Memang benar apa yang dikatakan Yulian, Arjuna tidak pernah bercerita tentang sosok Cahaya Maharani kepadanya, karena kesibukannya beberapa bulan terakhir membuat kontak kami terhalang. Hanya beberapa jam saja aku dan Yulian bisa berkomunikasi melalui telepon seluler. Sehingga aku tidak sempat bercerita tentang Cahaya, dan aku hanya mengatakan tentang pernikahan Arjuna yang diselenggarakan pada hati ini.
"Ayolah Aisyah, jangan hanya senyum-senyum saja!" ujar Yulian semakin penasaran.
"Kenapa sih kamu Mas? Begitu penasarannya kah kamu dengan Cahaya?" ejek ku kepada Yulian.
"Tentu aku penasaran dengan gadis itu_secantik apa Dia? Dan ... aku juga penasaran dengan latar belakang calon menantu kita itu," ujar Yulian kembali.
"Hmm, baiklah! Aku akan menceritakan kepadamu sayangku," balas ku.
Sebelum aku menceritakan tentang Cahaya kepada Yulian, sejenak aku menggenggam telapak tangannya dan aku juga mengusap lembut punggung tangannya. Bukan hanya itu saja, aku juga menyandarkan kepalaku di atas bahunya. Seolah kami tengah berpacaran dalam satu mobil dengan suasana romansa. Setelah ku nikmati sejenak kebersamaan dengan Yulian tanpa adanya ke dua putra kami, aku pun memulai bicara tentang Cahaya Mahatani kepada Yulian.
"Cahaya Maharani_itu lah nama menantu kita nanti, Mas. Dia gadis yang baik, cantik dan pintar, namun ada satu hal yang kurang darinya." ungkap ku.
__ADS_1
"Maksud kamu apa, Aisyah? Bukan kah setiap manusia itu dilahirkan dengan serba kekurangan, hanya satu yang memiliki kelebihan, yaitu Allah SWT." Gumam Yulian dengan menatapku.
"Kamu lihat saja nanti, pasti kamu akan ikut merasa iba dan sedih kepada Cahaya, Mas." Balas ku sembari tersenyum tipis.
Yulian mengerutkan keningnya, seolah ia penasaran dengan apa yang aku katakan kepadanya. Akan tetapi, rasa penasaran itu sejenak ia hilangkan dari dirinya karena, ia harus kembali fokus dengan jalanan kota Medan yang sudah mulai macet. Banyak kendaraan berlalu lalang melintas di hadapan mobil kami. Untung saja perjalanan kami tidak berlangsung lama untuk menuju ke Gedung Balai Raya Aceh Sepakat, cukup lima belas menit kami sampai di sana.
Mobil yang mengantarkan Arjuna akhirnya memasuki area Gedung, lalu melaju dan berhenti tepat di tempat parkir yang sudah disediakan. Begitupun dengan mobil yang aku kendarai bersama Yulian, memasuki area Gedung lalu memarkirkan nya dengan rapi. Setelah terparkir, kami semua berkumpul untuk bersama-sama menuju ke dalam Gedung.
"Arjuna, siapakan mental kamu. Jangan sampai gugup atau salah berucap saat ijab dan qabul nant!" pinta Yulian.
"Insyaa Allah, Bi." Balas Arjuna yang menghela nafasnya dengan pelan.
"Oh iya_ Umi mau menemui Cahaya terlebih dahulu, takutnya nanti Dia membutuhkan sesuatu dalam riasan pengantinnya. Kalau kalian mau masuk, masuk saja dulu!" ujarku berpamitan.
Aku pun memutuskan untuk menemui Cahaya yang mungkin saja masih berada di ruangan tata rias pengantin. Karena aku tahu bahwa Cahaya tidak memiliki kedua orang tua lagi, yang ada hanya pamannya, adik laki-laki dari ayahnya.
Aku menelusuri setiap sisi Gedung, hingga akhirnya aku menemukan tempat di mana Cahaya tengah di rias dengan beberapa pernak-pernik alat make up pengantin. Aku berjalan menghampiri Cahaya dan salah satu MUA, lalu aku menyapa mereka dengan sopan.
"Assalamu'alaikum," sapa ku.
"Wa'alaikumussalam. Bu Aisyah, Anda sudah datang ternyata," jawab dari MUA.
"Wa'alaikumsalam," jawab Cahaya lirih.
Sejenak aku memberikan senyumku kepada mereka untuk kembali menyapa. Setelah itu aku bertanya tentang hal apa saja yang belum selesai untuk riasan Cahaya kepada Nyonya Hanura, selaku MUA yang menghias Cahaya. Nyonya Hanura pun menjawab pertanyaanku dengan lembut, karena beliau adalah salah seorang yang begitu mengenalku tentang dunia fashion.
__ADS_1
"Bagaimana Nyonya Hanura, apa semuanya sudah selesai?"
"Sudah, Bu Aisyah. Semua sudah siap sesuai dengan yang Bu Aisyah sarankan kemaren." Jawab Nyonya Hanura sembari meneliti riasannya di wajah Cahaya.
Aku pun mengangguk pelan untuk mengiyakan. Setelah beberapa menit kemudian Cahaya akhirnya usai juga dirias. Dan acara akad nikah pun juga akan segera tiba pada waktunya. Akan tetapi, sekilas aku melihat dari wajah Cahaya yang tergambar tengah menyimpan rasa kesedihan. Dan aku pun memberanikan diri untuk bertanya kepadanya sekaligus memastikan apa yang tengah memenuhi pikirannya itu.
"Cahaya, maaf jika aku sudah lancang kepadamu. Tapi, aku melihat kamu sedang memikirkan sesuatu. Dan_apakah aku boleh tahu tentang itu?"
"Akh_tidak, Bu. Saya baik-baik saja,"
"Cahaya, tataplah aku! Kamu tidak sendiri di sini, ada aku yang akan menjadi ibu mertuamu. Dan insyaa Allah, aku siap mendengar keluh kesahmu saat ini, jadi lepaskanlah beban pikiran yang sudah mengganjal dalam diri kamu," tutur ku penuh pengertian.
Cahaya merasa terharu akan semua kata-kata ku, sehingga pelupuk matanya menyimpan air bening yang sewaktu-waktu siap akan tumpah membasahi pipinya. Akan tetapi, aku tak akan membiarkan hari yang membahagiakan ini menjadi kesedihan dalam seumur hidupnya, meskipun aku tahu bahwa diri ini pun tengah terluka. Karena kerinduan yang tersimpan tidak akan pernah terobati.
"Tidak, Bu. Saya hanya sedang merindukan kedua orang tua saya saja. Andai mereka ada di samping saya saat ini, pasti mereka akan bahagia melihat putri semata wayangnya ini dipersunting oleh lelaki yang tampan dan baik hati. Bahkan Bu Aisyah dan semua keluarga mampu menerima kekurangan saya." Cahaya pun menjelaskan seraya menundukkan kepalanya karena malu.
"Cahaya, kamu harus tahu satu hal sayang. Tidak ada manusia yang diciptakan dengan kesempurnaan, pasti ada kekurangan dalam setiap diri manusia itu. Jadi, jalani saja seperti air yang mengalir. Dan saya yakin, Arjuna mampu menerima semua yang ada pada diri kamu. Saya berjanji sama kamu, satu minggu setelah acara pernikahan kamu, saya akan mengantarkan kamu ke desa untuk berkunjung ke makam kedua orang tua kamu, jadi sekarang kamu jangan bersedih lagi!"
Aku berusaha untuk menghibur Cahaya agar tidak terus bersedih dengan mata yang berembun. Setelah cukup menata hati dan diri, aku kembali menata riasan Cahaya yang sedikit berantakan dan kurang akan sesuatu. Lalu, setelah itu aku membantu Cahaya untuk berdiri sejenak saat hendak memakai baju pengantin yang sudah aku desain sendiri khusus dalam acara pernikahan putraku dan calon menantuku.
Beberapa menit kemudian Cahaya pun telah siap untuk menuju ke meja pelaminan. Dan lagi-lagi aku kembali memberikan kekuatan dan ketangguhan kepada Cahaya untuk tetap tegar disaat hari bahagia tanpa adanya kedua orang tua yang ikut serta mendampinginya.
"Tuh kan, kamu itu gadis yang cantik, loh! Dan sekarang bagaimana? Apakah kamu sudah siap Cahaya?"
Cahaya mengangguk pelan dengan menyimpan rasa malu yang terlihat jelas dalam raut wajahnya. Setelah itu, aku pun mengajak Cahaya untuk menuju ke pusat acara pada hari itu.
__ADS_1