HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Darah


__ADS_3

Hasil itu kembali kubaca untuk memastikan hasil yang akurat. Dan setelah kubaca yang kedua kalinya, hasil dari tes itu masih sama. Di mana hasil itu telah membuahkan kebahagiaan yang tiada tara bagiku dan juga yang lainnya, terutama bagi Arjuna dan juga Cahaya. Karena hasil itu menyatakan bahwa Cahaya benar-benar positif hamil.


"Selamat, sayang!"


Seketika aku memeluk Cahaya dan mengucapkan selamat kepadanya atas buah hati yang dinanti. Dan tidak terasa bahwa sebentar lagi aku akan menjadi seorang nenek. Begitupun dengan Yulian, ia akan menjadi seorang kakek. Bahkan papa Adhi, yang akan segera memiliki cicit pertamanya dari Arjuna dengan Cahaya. Saat bahagia masih aku rasakan bersama Cahaya, tiba-tiba Arjuna datang menghampiri kami.


"Selamat sayang, karena sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu dan aku akan menjadi seorang ayah." Arjuna memberikan setangkai bunga mawar merah kepada Cahaya.


"Terima kasih sayang, karena kamu mau menerimaku dengan ketulusan yang ada di hati kamu. Bahkan kamu begitu bahagia dengan kehadiran Dia di dalam perut ini." Cahaya mengusap pelan perutnya.


"Ehm. Ada Umi loh di sini! Masak iya Umi diacuhkan seperti ini?"


Aku pun menggoda sepasang suami istri ini saat melakukan hal romantis. Bukan bermaksud mengganggu ataupun merasa iri, tapi karena seorang ibu yang merasa ikut bahagia. Dan canda yang ku lontarkan membuat mereka tersipu malu, tetapi selepas itu mereka tertawa kecil yang membuatku ikut tertawa bersama bahagia yang menyelimuti keluarga kami.


Tiba-tiba ponselku yang berada di dalam tas berdering dan seketika itu aku merogoh tas untuk mencari ponselku itu. Dan ternyata tak lain adalah papa Adhi yang menunggu di rumah bersama bibik kesayangan. Lalu, aku pun menerima panggilan tersebut dan sejenak berbincang dengan beliau.


"Assalamu'alaikum, Pa."


"Waalaikumsalam, Aisyah. Bagaimana hasilnya? Kamu menemani Cahaya ke Rumah Saikt, bukan?"


Itulah kalimat pertama yang dilontarkan papa Adhi. Yang merasa penasaran dengan hasil tes Cahaya, bahkan seakan tidak sabar untuk mendengar jawabanku yang masih tersimpan di dalam hati. Dan berhubung rasa penasaran ituasih melekat dalam diri papa Adhi, akhirnya aku pun memberikan jawaban kepada beliau dengan hasil yang akurat. Yang sudah terlampir dalam selembar kertas putih dari analisis Dokter.


"Alhamdulillah! Akhirnya sebentar lagi aku akan menjadi seorang cicit." Senyum bahagia terlihat jelas dalam raut wajah beliau.

__ADS_1


Bahagia yang dirasakan papa Adhi membuatku tak henti untuk ikut tersenyum. Dan setelah mendengar kabar bahagia dariku, percakapan di antara kami pun berakhir. Setelah itu, tidak lupa ku pencet tombol angka yang berisi nomor Yulian. Lalu, ku pencet lagi tombol panggil untuk menghubungi Yulian dan memberikan kabar bahagia ini keoadanya.


"Assalamu'alaikum, Aisyah. Ada apa?"


"Waalaikumsalam, Mas. Aku hanya ingin memberitahukan kabar bahagia kepada kamu. Cahaya positif hamil!"


"Masyaa Allah! Allah telah berkehendak, Aisyah. Jaga baik-baik calon cucu kita di sana Aisyah!"


"Aku akan berusaha untuk menjaganya, Mas." Aku mengangguk pelan.


Bahagia itu seolah menggemparkan duniaku. Seakan dunia sedang membuat kisah yang indah bahkan terasa sempurna untukku. Dan rasanya tidak sabar menimang kembali bayi yang lucu. Namun, itu masih begitu lama untuk kulakukan, karena umur kandungan Cahaya masih dua minggu. Hanya bayangan yang masih begitu jauh dalam pelupuk mataku. Tapi tidak apa, aku akan terus berdoa agar semua akan baik-baik saja ke depannya sampai tiba saatnya bayi mungil keluar ke dunia.


Percakapan antara aku dan Yulian kini telah berakhir. Dan aku memutuskan untuk segera mengajak Cahaya kembali pulang agar bisa beristirahat yang cukup dalam usia kandungannya yang masih begitu rawam. Sedangkan Arjuna, ia harus tinggal di Rumah Sakit untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Tidak perlu, Umi. Nanti malah merepotkan Umi saja,"


"Astaghfirullah hal azim. Cahaya, bagaimana bisa kamu berpikir akan hal seperti itu? Tidak mungkin jika Umi merasa direpotkan sama anak sendiri. Kamu tidak perlu berpikiran seperti itu!"


Keputusanku sudah bulat, di mana aku akan tetap membelikan Cahaya susu ibu hamil agar kandungannya memiliki nutrisi yang membuat janinnya kuat. Setelah sampai di tempat parkir, kami pun memasuki mobil secara bergantian. Karena aku harus membantu Cahaya untuk turun dari kursi rodanya dan berpindah ke tempat duduk bagian depan. Lalu, aku menyalakan mesin mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang. Dan aku begitu berhati-hati saat mengendarai mobil dalam setiap perjalanan. Sampai akhirnya aku menghentikan mobil yang ku kendarai di depan supermarket. Lalu, aku masuk ke dalam sana untuk membeli apa yang menjadi tujuanku ke sana. Dan setelah selesai membayar di bagian kasir, aku segera kembali masuk ke dalam mobil lalu melanjutkan kembali perjalanan kami.


"Sebentar lagi kita akan sampai di rumah. Dan kamu Cahaya, kamu harus bersiap-siap untuk bertemu dengan Kakek kamu yang tidak sabar menunggu kehadiran kamu sedari tadi." aku melempar senyum kepada Cahaya.


Cahaya mengangguk seraya melukiskan senyum bahagia dari bibirnya. Dan tidak lama kemudian kami memasuki halaman rumah lalu langsung menuju ke garasi untuk memarkirkan mobil yang menjadi kendaraan kami.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum!"


Aku membuka pintu seraya mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam rumah. Begitipun dengan Cahaya, ia juga mengucapkan salam. Dan tidak lama kemudian papa Adhi dan bibik kesayangan kami menjawab salam dari dua sisi yang berbeda. Di mana papa Adhi dari halaman samping, sedangkan bibik dari arah dapur.


"Kakek senang mendengar kabar bahagia itu, Cahaya." Sambutan hangat yang melukiskan sebuah senyuman.


Bahagia itu benar-benar menyelimuti keluarga kami. Tetapi, ada seseorang yang masih belum mendengar kabar bahagia ini yaitu, Ahtar. Karena Dia tidak ada di tengah-tengah kebahagiaan yang melanda kami. Mungkin Dia masih ada kegiatan lain di sekolah, sehingga belum pulang meskipun jam sudah menunjukkan pukul satu siang.


"Cahaya, lebih baik sekarang Umi antar kamu pergi ke kamar untuk beristirahat. Setelah itu, Umi akan tinggalkan kamu untuk melakukan shalat dzuhur sebentar lalu, Umi akan kembali menemani kamu." Aku menatap Cahaya.


"Tidak, Umi. Sebelum Cahaya beristirahat, Cahaya ingin melakukan shalat dzuhur bersama Umi. Bolehkan, Umi?"


"Tentu boleh sayang. Justru itu sangat dicintai sama Allah. Kalau begitu kita ke ruang shalat terlebih dahulu, lalu setelah itu Umi akan antar kamu ke kamar." Aku mendorong kursi roda Cahaya.


Dan aku mengambil air wudhu terlebih dahulu, sedangkan Cahaya ia melakukan tayamum sebelum menjalankan shalat bersama. Empat rakaat di siang hari kini telah kamu jalankan bersama-sama dan setelah melakukan salam tidak lupa kami berdzikir lalu berdoa. Setelah itu, aku mengantarkan Cahaya ke kamarnya untuk beristirahat. Sedangkan aku, aku menuju ke kamarku setelah mengantar Cahaya.


"Aww." Aku kembali merasa pusing.


Saat memasuki kamar tiba-tiba kepalaku terasa pusing kembali bahkan aku menyeringai kesakitan, karena sakit kepala yang ku rasa saat itu melebihi rasa sakit kepala saat berada di Rumah Sakit tadi. Dan aku berusaha untuk kembali menahannya dengan merebahkan tubuhku sejenak di atas kasur. Namun, ketika aku hendak merebahkan tubuhku, tiba-tiba aku melihat darah yang menetes di kasur.


"Darah?"


Aku begitu terkejut dengan apa yang kulihat. Dan untuk memastikannya aku segera berdiri di depan cermin bening yang ada di kamarku. Setelah itu, aku melihat ada darah yang mengalir dari lubang hidungku. Sehingga aku segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkannya.

__ADS_1


__ADS_2