
Suara ayam berkokok telah membangunkanku dari tidurku yang terasa nyenyak. Setelah kesadaranku benar-benar sudah penuh, aku mengambil ponselku yang berasa di atas nakas lalu, menyalakannya untuk melihat sudah pukul berapa ketika suara ayam berkokok dengan begitu keras. Dan pagi itu sudah menunjukkan pukul 04.00, yang sebentar lagi suara adzan akan dikumandangkan.
"Ada apa denganmu, Mas? Kenapa tidak ada notifikasi telepon atau pesan yang kamu kirimkan untukku? Dan ini tidak seperti biasanya,"
Aku bertanya-tanya tentang bagaimana kondisi Yulian yang tidak ada kabarnya sama sekali setelah ia mengatakan ingin pergi ke tempat penginapan. Apakah sesibuk itu dirinya di sana? Sehingga tidak sempat memberikan kabar walaupun hanya melalui pesan singkat yang dikirim ke nomorku. Dan ini membuatku merasa khawatir dengan keadaan Yulian di sana. Namun, apalah daya ini yang tidak bisa berbuat hal lain selain menunggu sampai Yulian menghibungiku kembali.
"Alhamdulillah, akhirnya sudah tiba waktunya untuk shalat subuh." Aku beranjak dari tempat tidurku.
Aku melangkahkan kakiku menuju ke kamar mandi dan membersihkan tubuhku di bawah air shower. Seperti biasa, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk melakukan ritual di dalam sana. Setelah itu, aku melakukan shalat dua rakaat di pagi hari sebelum matahari bersinar dan membuat kota Medan menguning karena cahayanya.
"Angudzubillaa himminas saitonirrjim...." Ku buka kitabku lalu, memulai membacanya sebelum melakukan aktivitasku.
Sekitar lima belas menit aku mengakhiri iktikafku dengan membaca Al-Quran. Setelah itu, aku berpakaian rapi dan tidak lupa memakai cadar hitamku untuk menjalankan sunnah Sayyidatina Fatimah Az-Zahra. Selain memakai cadar, aku juga tidak pernah memakai minyak wangi yang mengharumkan bajuku dalam sepanjang jalan. Karena hal itu akan mengundang fitnah bagi kaum adam yang menghirup baunya. Hanya pakaian sederhana yang aku pakai untuk pergi ke acara pernikahan Jesica.
"Bik, tolong siapkan sarapan pagi untuk semuanya! Dan bilang sama mereka kalau aku pergi ke suatu tempat. Oh iya, bilang sama Arjuna dan Cahaya kalau mereka harus menghadiri acara pernikahan Jesica." Aku menghampiri beliau yang sedang bekerja di depan mesin cuci.
"Baik, Bu Aisyah. Tapi, bagaimana untuk acara nanti malam, Bu?"
"Untuk acara nanti malam Bibik tidak perlu khawatir, karena aku sudah mengurus semuanya. Bibik santai saja, cukup siapkan sarapan pagi dan melakukan pekerjaan seperti biasanya." Aku menatap beliau.
Setelah memberi pesan kepada bik Inem, aku segera melanjutkan langkah yang sempat terhenti. Namun, sebelum aku meninggalkan bik Inem, tidak lupa aku mengucap salam kepada beliau. Dan tanpa menunggu lama aku segera menancap pedal gas untuk melajukan mobil yang menjadi kendaraanku menuju ke sebuah tempat.
Perjalanan masih begitu sepi, bahkan tidak ada banyak kendaraan bermesin yang melintas di setiap jalan. Sehingga aku segera sampai di tempat yang menjadi tujuan utamaku sebelum menghadiri pernikahan Jesica yang digelar dengan megah.
"Aku merindukan kalian! Sangat merindukan kalian." Aku menaburkan beberapa varian bunga di lautan yang luas.
__ADS_1
Ya, pagi itu yang menjadi tempat utama tujuanku tak lain adalah lautan yang luas. Karena aku ingin menaburkan beberapa varian bunga di atas luasnya lautan biru. Dan sejenak aku mengenang masa indah tentang kebersamaan kita semua untuk menghibur lara. Setelah itu, sekitar pukul delapan pagi aku beranjak dari tepi pantai yang membuatku sejenak merasa damai dan rasa rindu yang menguak jiwaku telah terobati.
"Aku akan ke sana dan bertemu dengannya." Putusku kemudian, lalu menekan pedal gas dan melajukan mobilnya.
Di setiap perjalanan aku mendengarkan qurotul Quran sebagai penyemangat pagi. Dan akhirnya aku sampai juga di tempat kedua yaitu, di tempat Arini. Di mana Dia adalah wanita yang menjadi sahabatku. Yang selalu membantuku dalam setiap acara pengajian yang aku gelar di kediaman ku. Bahkan aku juga memesan catering darinya untuk acara yang aku gelar. Sehingga Dia adalah wanita sekaligus teman yang bisa aku percayai.
"Assalamu'alaikum,"
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Terdengar jawaban dari dalam rumah.
Perlahan pintu pun telah dibuka dari dalam. Lalu, terlihat Arini dari balik pintu tersebut. Dan kehadiranku sepagi ini telah mengejutkannya, sehingga ia bertanya-tanya apa yang menjadi tujuanku menemuinya pagi itu. Begitipun denganku yang menjelaskannya seraya menyeduh segelas teh hangat yang berada di atas meja.
Ya, sebelum aku bercerita panjang lebar kepada Arini, ia mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam rumahnya yang sederhana. Dan kami pun duduk bersantai di sana seraya menceritakan tujuan utamaku bertamu di rumah Arini. Di mana aku memesan catering nya kembali dan juga meminta bantuannya untuk acara pengajian nanti malam.
"Aisyah, aku akan mengusahakan apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu. Tapi ... kenapa kamu datang sendirian? Dimana Yulian?"
"Mas Yulian sedang tugas di luar kota, sehingga Dia tidak bisa ikut denganku ke sini. Oh iya Arini, sepertinya aku harus pergi sekarang. Karena, aku harus bekerja di sebuah pernikahan customer aku." Aku berpamitan kepada Arini.
"Baiklah, Aisyah. Kalau begitu hati-hati di jalan dan jaga kesehatan kamu." Arini menatapku dalam.
Aku mengangguk pelan lalu mengucapkan salam sebelum pergi meninggalkan kediaman Arini. Setelah itu, aku kembali melanjutkan perjalananku dan menuju ke acara pernikahan Jesica. Dan untuk memastikan keadaan di sana, aku mencoba menghubungi Safira. Karena, hanya Safira yang mampu melakukan tugasnya dengan baik. Namun, belum sempat ku pencet nomor dengan nama Safira tiba-tiba ada panggilan masuk dari Arumi.
"Arumi? Mengapa Dia menelponku?"
Aku bertanya-tanya di dalam hati tentang Arumi yang tiba-tiba menelponku. Namun, aku segera menerima panggilannya daripada aku menyimpan pertanyaan yang memenuhi otakku. Sehingga aku memencet tombol terima dan menyapa Arumi dengan ucapan salam.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Arumi." Aku memasang headset di telingaku.
"Waalaikumsalam, Aisyah. Apakah kamu sedang sibuk hari ini?"
"Eee ... sebenarnya aku sedikit sibuk hari ini Arumi, bahkan saat ini aku masih dalam perjalanan. Tapi, ada apa?"
"Kalau kamu sibuk, aku akan menyampaikan kabar tentang wanita yang kamu maksud waktu itu nanti saja. Karena ... pagi ini aku mendapatkan kabar tentang wanita itu." Jawab Arumi yang seolah penuh dengan teka-teki, yang membuatku merasa penasaran.
"Maafkan aku Arumi, bukan aku bermaksud tidak menghargai kamu. Tapi, ini acara penting yang menyangkut Aisyah Galery, sehingga aku menunda percakapan kita. Kamu tidak marah kan, Arumi?"
"Tentu tidak Aisyah, santai saja denganku. Ya sudah, kamu lanjutkan pekerjaan kamu. Assalamu'alaikum,"
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Aku mengakhiri percakapan dengan Arumi.
Tidak lama kemudian aku sampai di acara pernikahan Jesica. Dan di sana sudah dilangsungkan akad nikah sesuai dengan adat Yahudi. Namun, bukan berarti aku mendukung atau bahkan ikut menyempurnakan adat Yahudi, tetapi bagiku inilah toleransi yang harus aku lakukan karena menjadi seorang desainer gaun pengantin dan mengurus segala hal dalam acara pernikahan.
"Arjuna-Cahaya,"
"Umi. Umi darimana saja? Dan kenapa Umi meminta kami untuk menghadiri acara pernikahan Jesica yang jelas berbeda dengan agama kita?"
Arjuna melontarkan pertanyaan kepadaku saat aku baru menghampirinya. Yang seakan membuatnya tidak menyukai apapun dalam acara pernikahan Jesica. Namun, aku berusaha menjawab dan memberikan pengertian kepada Arjuna sebagai warga Indonesia.
"Arjuna sayang, Umi ingin bicara sebentar sama kamu di sana, begitupun dengan Cahaya." Aku pun mendorong kursi roda Cahaya.
Arjuna berjalan di belakangku untuk mengikutiku. Setelah itu, aku berbincang sejenak dengan mereka di tempat yang cukup sepi dari keramaiannya orang yang menjadi tamu undangan Jesica dalam acara pernikahannya.
__ADS_1
"Arjuna-Cahaya, Umi tahu kalian mungkin tidak menyukai acara Jesica yang dilakukan sesuai dengan adat Yahudi. Tetapi Indonesia menanamkan Pancasila kepada kita, yang harus kita tanamkan di hati kita dan Indonesia juga meminta kita sebagai warganya untuk tidak membeda-bedakan ras dan sebagainya. Kita tetap menjadi satu dalam satu kesatuan. Jadi, kita harus menghargai Jesica dan bertoleransi dalam acaranya." Tuturku dengan lembut.
Akhirnya Arjuna dan Cahaya mampu mengerti dalam setiap tutur kata yang kukatakan kepada mereka. Bahkan mereka ikut bergabung kembali dalam acara pesta pernikahan Jesica. Dan setelah kulihat bahwa Safira mampu menjalankan tugasnya dengan sempurna, aku memutuskan untuk menghubungi kembali Arumi dan mendengar tentang wanita itu. Wanita yang bernama Khadijah. Dan entah kabar apa tentangnya?