
🕊🕊🕊🕊
Kami menuju ke makam orang-orang yang kami rindukan yaitu, pemakaman umum di kota Bogor. Dan kebetulan banyak sekali orang-orang yang berdatangan ke pemakaman ini untuk mendo'akan kerabat mereka yang sudah pergi menghadap Allah SWT.
"Abi, dimana makam mereka?" Tanyaku sambil celingukan mencari-cari.
"Itu, di sana." Jawab Yulian sambil berjalan menuju ke arah makam Kamila, nyonya Kamila dan suaminya.
Setelah kami di depan makam Kamila, kami tidak lupa untuk mendo'akannya. Begitupun selanjutnya, kami melakukan hal yang sama ketika di depan makam kedua orang tua Juna.
💦💦💦💦
"Mas Fadli, entah kenapa ya rasanya Maryam mau deh liburan ke Cairo. Entah kenapa juga Maryam merindukan kota Arab." Ungkap Maryam saat mengobrol empat mata dengan Fadli.
"Bunda yakin mau pergi ke sana? Bagaimana kalau bunda kenapa-kenapa, kan bunda lagi hamil muda juga. Kasihan kalau bunda kecapean." Tutur Fadli dengan lembut.
"Insyaallah, bunda yakin ayah. Bunda tidak akan kecapean kok. Kalau ayah mengijinkan, Maryam akan mengurus surat cuti sementara. Bagaimana ayah?" Tanya Maryam.
"Terserah bunda saja. Kalau memang bunda kepengen pergi ke sana dan yakin kalau bunda akan baik-baik saja, ayah mengijinkan." Jawab Fadli dengan perhatian dan pengertiannya.
"Terimakasih ayah. Bunda sayang ayah. Emm... Kalau begitu, bunda urus dulu surat cutinya. Terus ayah nanti beli tiketnya." Ucap Maryam penuh dengan semangatnya.
Fadli begitu menyayangi istrinya, Maryam. Apapun permintaan Maryam dia selalu berusaha untuk memenuhinya agar Maryam selalu bahagia. Bukan hanya Maryam saja. Fadli juga selalu berusaha untuk membahagiakan putrinya, Karina. Karena menurutnya, keluarganya lah yang sangat penting baginya.
💝💝💝💝
Hari cepat berlalu dan silih berganti. Pagi ini Joko dan Humaira telah disibukkan dengan persiapan ke rumah keluarga Nugraha. Begitupun dengan keluarga Nugraha. Mereka juga disibukkan dengan acara penyambutan pengantin baru yaitu, pengantin putranya.
"Aku seperti mengenal baju pengantin ini." Gumamku saat membuka sebuah almari berwarna putih yang berada di dalam kamar suamiku. Lebih tepatnya kamar di rumah suamiku.
"Oh iya, bukankah ini adalah baju pengantin yang pernah aku desain untuk seseorang di luar negeri. Kenapa kok bisa di dalam almari Yulian?" Tanyaku dalam batin.
__ADS_1
Aku benar merasa kebingungan saat melihat baju pengantin itu dan mencoba memikirkannya sampai-sampai saat Yulian masuk ke dalam kamar pun aku tidak tahu.
"Kamu sedang apa sayang di depan almari? Bukannya bersiap-siap malah melamun." Ucap Yulian menegurku.
"Sayang, umi mau bertanya sesuatu. Kenapa baju pengantin ini ada di dalam almari kita?" Tanyaku pada akhirnya.
"Emm... Karena baju pengantin itu adalah milik kamu." Jawab Yulian sambil memelukku dari arah belakang dan itu sukses mengejutkanku.
"Maksudnya bagaimana?" Tanyaku lagi karena tidak mengerti.
"Kamu pasti mengingat seseorang yang meminta kamu untuk dibuatkan desain baju pengantin untuknya. Dan asal kamu tahu sayang, itu adalah pesuruh abi yang abi minta untuk memesan itu. Dan abi sengaja melakukan hal itu, karena abi ingin kamu mendesain baju itu untuk diri kamu sendiri sebagai pengantin abi. Dan pada akhirnya, kamu telah mendesain baju pengantin kamu sendiri." Ucap Yulian menjelaskan.
"Jadi, kamu sudah merencanakan sebelumnya?" Tanyaku memastikan.
"Iya. Dan aku sudah merencanakan semuanya sebelum aku pergi ke luar negeri." Jawabnya kemudian.
"Kamu ya...! Ternyata kamu melakukan itu semua untukku!" Ucapku merasa terharu.
Aku begitu bersyukur atas pemberian Allah SWT kepada kehidupanku. Menhadirkan dan menyandingkanku dengan lelaki baik pilihan-Nya.
"Abi... Umi...Ayo berangkat. Juna sudah siap!" Teriak Juna.
Dan seketika itu membuat kami terkejut, hingga kami melepaskan pelukan hangat yang kami lakukan di pagi ini.
"Iya sayang, sebentar ya abi dan umi siap-siap dulu." Balas Yulian menanggapi Juna.
Setelah Juna mengerti dan berlari menemui bik Inem, kami saling menatap dan tertawa kecil karena kejadian yang baru saja kami lakukan. Untung saja, kami tidak saling berciuman atau bahkan melakukan hal yang tidak seharusnya dilihat oleh Juna. Hohoho...!
Mobil yang akan kami kendarai sudah siap. Abi Yulian pun juga sudah nampak keren dengan jas hitam yang dikenakannya. Begitupun dengan Juna, dia juga tidak mau kalah keren dengan abinya itu. Sedangkan aku, aku ya biasa-biasa saja. Menggunakan gamis abu-abu, jilbab dan cadar yang senada juga dengan gamisku.
Kini mobil sedan hitam telah dilajukan dengan kecepatan sedang. Kami sekeluarga begitu menikmati perjalanan kota yang begitu indah dan pastinya tak luput dari keramaian.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum Pa-Ma!" Ucap salam dari aku dan Yulian saat menemui papa dan mama mertuaku.
"Wa'alaikumsalam sayang!" Balas mama Widia dengan begitu lembutnya.
"Wa'alaikumsalam!" Balas papa Nugraha.
"Eyang... Opa...!" Panggil Juna dengan berteriak.
"Cucu eyang ganteng dan keren sekali!" Ucap mama Widia memberi pujian.
Juna begitu senang saat berada di tengah-tengah acara dan ditemani oleh eyang serta opanya. Sedangkan aku, aku berbaur dengan keluarga Nugraha yang lain dan salah satunya yaitu, paman dan bibi Yulian dari luar negeri.
Dan beberapa menit kemudian, datanglah pengantin yang kami tunggu-tunggu sedari tadi. Pasangan yang begitu serasi. Dan kami menyambut kedatangan mereka dengan rasa bahagia.
Di momen berbahagia ini, kami tidak akan melupakan untuk mengabadikannya dengan berfoto. Kami semua benar-benar merasa bahagia dan bersyukur atas kelancaran acara kami hari ini.
Aku benar-benar merasa capek sekarang, seakan butuh waktu untuk beristitahat. Untung saja acaranya sudah selesai dan semua keluarga juga kembali pulang ke rumah masing-masing, termasuk juga keluarga Yulian yang dari luar negeri. Karena mereka lebih memilih untuk menginap di hotel daripada di kediaman keluarga Nugraha. Entah kenapa alasannya aku pun juga tidak tahu.
"Abi, umi mau istirahat saja ya!" Ijinku kepada suamiku.
"Ya sudah, abi juga mau beristirahat kalau begitu." Ucap suamiku.
Kami pun menuju kamar kami untuk beristirahat, karena hari yang sudah gelap. Begitupun dengan yang lain, mereka sudah pergi ke kamar mereka masing-masing sedari tadi, apalagi pengantin baru itu. Mungkin, mereka sedang bermesraan didalam kamar saat ini . Hihihi...! Sedangkan Juna, dia tidur bersama eyang dan opanya. Karena, opa dan eyangnya yang membiasakan itu setiap kali Juna menginap di sini.
"Umi, abi boleh minta sesuatu sama umi?" Tanya Yulian seakan berharap sesuatu.
"Memangnya abi mau minta apa sama umi?" Aku berbalik bertanya.
"Emm... Bagaimana kalau kita melakukan sunnah rasul malam ini? Kan bukan hanya pengantin baru saja yang melakukannya. Bagaiman, apa umi setuju?" Jawab Yulian kemudian.
Belum sempat aku menjawab, tiba-tiba saja tubuhku sudah ditarik olehnya dan terjatuh di atas badannya. Hingga akhirnya, kedua mata kami bertemu dan melakukan sedikit cumbuan yang menambah kehangatan dalam sebuah hubungan suami istri.
__ADS_1