HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
BAB 42


__ADS_3

Dengan sedikit rasa kesal, aku pun naik ke atas tangga untuk menuju ke kamar. Dan aku juga merasakan kerinduan terhadap kamar tercintaku ini. Dan sejenak aku rebahkan tubuh ini untuk menghempaskan rasa lelah.


🕊🕊🕊🕊


Waktu sudah berlalu. Jam dinding berputar dengan cepatnya. Hari juga sudah semakin sore. Entah jam berapa tadi aku mulai tertidur dengan pulasnya.


"Non, apakah non sudah bangun?" Tanya bik Murni terdengar samar yang berada diluar kamarku.


"Iya bik, ada apa bik?" Ucap ku dengan membangunkan tubuhku dari atas kasur.


"Ma'af non, kalau bibik lancang!" Ucap bik Murni yang membuka pintu kamarku.


"Tak apa-apa kok bik, kan lebih baik juga bibik masuk dan bicara dengan aku. Daripada harus teriak-teriak karena berjarak dengan pintu, kan tidak baik juga dan tidak sopan lagi! Hehe...!" Ucapku dengan senyuman. Kali ini aku tidak memakai cadar, karena hanya ada aku yang ada dirumah.


"Oh iya non, tadi non Maryam berpesan sama bibik. Bahwa non Aisyah disuruh bersiap-siap untuk acara nanti malam. Tadi nya sih non Maryam sudah berusaha untuk menelfon non, tapi tidak di angkat. Jadi, non Maryam telfon ke rumah dan berpesan itu sama bibik." Ucap bik Murni yang menjelaskan.


"Baiklah bik! Terimakasih ya bik!" Ucapku menatap bik murni.


"Ya sudah non, kalau begitu bibik keluar dulu!" Ucap bik Murni yang meninggalkan kembaki sendiri di dalam kamar.


Disitulah aku mulai berpikir dan memutar kedua bola mataku untuk mengingat ada acara apa nanti. Kenapa kak Maryam memintaku untuk bersiap-siap? Sungguh, kenapa aku menjadi sulit untuk mengingat.


"Assalamu'alaikum kak Maryam! Aisyah mau tanya sama kakak, nanti ada acara apa ya kok kakak nyuruh aku untuk bersiap-siap?" Tanyaku kepada kak Maryam melalui telfon.


Ya_karena aku yang belum bisa mengingat, akhirnya aku berpikir untuk menelfon kak Maryam dan menanyakannya secara langsung.


"Wa'alaikumsalam Aisyah. Masak kamu lupa sih, kan nanti ada pertemuan keluarga besar. Bagaimana sih kamu?" Jawab kak Maryam memberitahu.


"Oh iya ya kak, kenapa Aisyah bisa lupa begini ya! Ma'afin Aisyah kak! Ya sudah kalau gitu kak, Aisyah bersiap-siap dulu." Ucapku dengan menepuk jidat.


Seperti biasa, aku menutup telfon dengan ucapan salam. Alhamdulillah, akhirnya aku mengetahui acara nanti malam. Aku semakin tidak sabar melihat ayah dan ibu kandungku. Apalagi, melihat kak Fadli melamar kak Maryam.


🌹🌹🌹🌹


"Assalamu'alaikum Aisyah!" Ucap salam dari luar rumah.


"Wa'alaikumsalam! Eh ibu, mari masuk bu!" Ucap bik Murni yang mempersilahkan masuk.


"Baiklah bik. Oh iya, Aisyah dimana bik?" Tanya Bu Maria.


"Ada bu, non Aisyah ada di kamarnya. Kalau mau saya akan panggilkan non Aisyah." Jawab bik Murni.


"Tidak usah bik, saya saja yang akan ke sana untuk menemui Aisyah." Balas bu Maria.

__ADS_1


Bu Maria melangkahkan kaki untuk menaiki tangga secara perlahan dan menuju ke kamar Aisyah.


"Aisyah! Apa kamu sedang berada di dalam nak?" Tanya Mama Maryam terdengar samar .


"Iya Ma, Aisyah ada di dalam. Masuk saja Ma, pintunya tidak Aisyah kunci kok." Jawabku sedikit berteriak.


Masuklah mama Maria ke dalam kamarku. Dan pastinya ku sambut dengan senyuman lebar. Dan tepat sekali saat mama Maria masuk ke dalam kamarku. Karena, setidaknya aku bisa meminta bantuan kepadanya.


"Kamu sedang apa Aisyah? Kenapa baju kamu ada di luar semua?" Tanya Mama Maria kepadaku yang merasa bingung.


"Oh itu Ma, ini Aisyah lagi bingung saja Ma. Aisyah kan mau ada acara, tapi Aisyah bingung mau pakai baju yang mana. Hehe, bantuin Aisyah ya Ma!" Jawabku yang sedikit merayu.


"Memangnya ada acara apa?" Tanya mama Maria penasaran.


"Acara spesial pokok nya Ma. Oh iya, ngomong-ngomong mama tadi sama siapa ke sininya?" Ucapku berbalik tanya kepada Mama Maria.


"Tadi sama papa kamu, tapi sekarang papa kamu pergi untuk menjemput kakak kamu." Jawab mama Maria yang menjelaskan.


"Oh begitu! Oh iya Ma, menurut Mama baju mana yang harus Aisyah pakai?" Tanyaku kembali.


"Terserah kamu saja Aisyah, yang penting baju yang kita pakai tidak terlalu mencolok bagi setiap yang memandang." Jawab mama Maria yang lagi-lagi menjelaskan.


Hingga akhirnya aku selesai memilih baju yang akan aku kenakan malam ini. Yaitu, gamis polos berwarna coklat susu dan satu set dengan jilbab dan cadarnya.


"Bagus kok!" Jawab Mama Maria dengan singkat.


Meski diantara kami belum bisa terlalu beradaptasi, setidaknya mama Maria nyaman untuk diajak mengobrol. Meskipun, hanya obrolan semata yang tidak penting.


💝💝💝💝


"Emm... Ternyata Mama sama kamu ada di sini toh, lagi asik ya ngobrolnya? Sampai-sampai tidak mendengar ucapan salam dari kita." Ucap kak Maryam yang tiba-tiba membuka pintu kamarku.


"Loh, kakak sama Papa sudah pulang? Kapan sampainya?" Balasku dengan memutar kedua bola mataku.


"Baru sih, iya kan Pa! Tapi, saat kami mengucap salam eh, malah nggak ada yang jawab dari kalian. Cuma bik Murni saja yang menjawab dan memberitahu kami kalau kalian ada dikamar sedari tadi." Ucap kak Maryam sedikut cemberut.


"Ma'af deh kak , Pa , Aisyah sama Mama kan tidak mendengar terlalu jelas." Ucapku merayu kak Maryam.


"Ok, tidak masalah kok! Kakak cuma bercanda saja." Ucap Kak Maryam dengan candaannya dan menampilkan senyumannya yang begitu manis.


"Ya sudah, mending kakak sekarang mandi dan bersiap-siap!" Balasku kemudian.


"Emm... Bilang saja ngusir, itu kan !" Ucap kak Maryam.

__ADS_1


Kini kak Maryam nampak serasi denganku. Kami memilih memakai baju yang sama-sama berwarna coklat dengan satu set jilbab dan cadarnya.


"Wah, masya Allah kalian cantik banget putri-putri Papa!" Ucap papa yang melihat kami dari atas sampai bawah.


"Alhamdulillah kalau begitu Ma!" Balasku dengan senyuman manis dibalik cadarku.


Kami bercanda gurau penuh dengan tawa renyah dan rasa bahagia. Aku pun bisa sejenak melupakan tentang Kamila dan Yulian.


🌹🌹🌹🌹


"Ting... Tong...!" Suara bel rumah berbunyi.


"Assalamu'alaikum!" Ucap Fadli dari luar bersamaan dengan ayah dan ibunya.


"Wa'alaikumsalam! Silahkan masuk?" Suara bik Murni yang sigap dalam bekerja untuk membukakan pintu depan.


"Mohon ma'af bik saya mau bertanya, apakah Aisyah dan keluarganya sedang berada dirumah?" Tanya Fadli.


"Oh, mereka ada semua kok den. Biar saya panggilkan kalau begitu." Ucap bik Murni yang bergegas menuju ke kamar Aisyah untuk memanggil semua anggota keluarganya.


"Permisi tuan, mohon ma'af sebelumnya. Saya di sini mau memberi kabar bahwa ada tamu dari keluarga den Fadli." Ucap bik Murni.


"Oh iya, kami akan segera turun kok!" Ucap Papa kepada bik Murni.


Bik Murni pun melangkahkan kaki kembali untuk menuruni tangga dan bekerja lagi di dapur. Sedangkan kami, kami bersiap-untuk menemui keluarga Fadli.


Terlihat wajah papa yang nampak bingung dan sepertinya beliau sedang memikirkan sesuatu hal. Dan saking penasarannya aku, aku oun memberanikan diri untuk bertanya kepada papa.


"Kenapa Papa seperti sedqng memikirkan sesuatu?" Tanyaku kepada papa.


"Bukan Aisyah, Papa cuma sedang bingung dengan naman Fadli, tamu yang sedang menunggu kita. Karena Papa belum pernah mengetahuinya." Jawab papa menjelaskan.


"Oh iya Fadli... Fadli adalah dosen di kampus Aisyah pa. Yang itu loh, pernah datang ke rumah kita." Jawabku spontan menjelaskan.


Papa menganggukkan pelan kepalanya. Seakan beliau mengerti apa yang aku jelaskan. Dan setelah kami serasa siap untuk menemui tamu, kami pun menuruni tangga dan menuju ke ruang tamu.


"Kalian...?" Ucap papa setelah melihat ayah dan ibu Fadli.


Terlihat jelas wajah papa yang begitu terkejut dengan kehadiran pak Muchtar dan bu Laila.


BERSAMBUNG...


JANGAN LUPA KASIH TANDA LIKE, KOMENTAR DAN VOYE KALIAN. MOHON MA'AF EPISODE MALAM INI DIBUAT DENGAN KONDISI SEDIKIT MENGANTUK. HAHAHA, MA'AF! 🙏

__ADS_1


__ADS_2