HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Rintihan Air Mataku


__ADS_3

Acara sarapan bersama kini telah usai tepat pukul 06.30 pagi. Setengah jam kami menikmati acara tersebut sebelum melakukan aktivitas masing-masing. Dan untuk satu hari penuh aku akan menemani Ahtar dalam acara purnawiata di sekolahnya setelah hari kelulusan telah diumumkan. Di mana acara itu diadakan di sebuah Gedung Serbaguna Universitas Medan, dan sebelum pergi ke sana Ahtar harus bersiap terlebih dahulu dengan pakaian bak seorang pemimpin. Mengenakan pakaian putih yang dipadukan dengan celana panjang berwarna hitam. Dan ia juga mengenakan jas hitam dengan dasi berwarna biru tua.


"Ahtar berangkat bersama dengan Umi, ya?"


"Tidak bisa sayang, Umi harus ke Aisyah Galery terlebih dahulu. Ahtar berangkat sendiri ya dengan naik motor. Emm ... atau pak sopir saja yang mengantar, bagaimana?"


"Baiklah, tidak masalah kok bagi Ahtar. Kalau begitu Ahtar berangkat sekarang ya! Assalamu'alaikum." Setelah mencium punggung tanganku Ahtar melangkah seraya mengucap salam untuk berpamitan.


Tidak lama kemudian terdengar suara motor Ahtar yang melaju dari ruang garasi. Dan aku sendiri masih berada di dalam kamar bersama Arumi tengah membahas tentang pencarian Khadijah dan satu keinginanku sebelum kematian siap menjemputku. Saat ku sebutkan keinginanku kepada Arumi, api kemarahan pun menyulut dari dalam diri Arumi. Seolah ia tidak menyetujui keinginanku itu. Bahkan ia menampik segala alasanku yang ingin tetap melakukan keinginanku itu.


"Maaf Aisyah, aku tetap tidak akan pernah setuju dengan apapun yang kamu mau itu. Dan aku yakin, Yulian bahkan anak-anak juga tidak akan menyetujuinya. Jadi, kamu jangan pernah memiliki pemikiran yang konyol seperti itu!"


Tanpa ucap salam dari bibirnya, Arumi meninggalkan kamarku begitu saja. Bahkan tidak lama kemudian aku mendengar suara mobil yang biasa dikendarainya melaju dengan kecepatan tinggi. Dan disaat itu keyakinanku pun semakin kuat, meskipun aku tahu resiko itu sangatlah besar. Aku juga merasa yakin Arumi akan membantuku meskipun api kemarahan masih belum padam.


"Tut ... tut ... tut!"


Disaat suasana yang genting seperti itu, Yulian tidak dapat dihubungi sama sekali. Entahlah, ada apa dengan Yulian sebenarnya? Hampir satu minggu ponselnya tidak dapat dihubungi sama sekali. Apakah kesibukannya masih belum usai? Hati dan pikiranku oun bertanya-tanya tentang keadaan itu, yang menurutku sedang tidak baik-baik saja. Namun, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu waktu sampai kita dipertemukan kembali, tetapi tidak tahu pasti kapan waktu itu akan tiba.


"Maafkan aku Arumi, mungkin kali ini aku akan benar-benar keras kepala." Aku melupakan amarah yang masih ada di dalam diri Arumi.


Jam sudah menunjukkan tepat pukul 08.00 pagi, di mana aku harus segera berangkat menuju ke lokasi acara purnawiata Ahtar. Yang sebentar lagi akan membuatnya menembus gelar lulus SMU. Dan itu membuatku bangga karena telah mendidiknya sampai di titik menengah. Entahlah, bisakah aku menemaninya sampai di titik awal kedewasaannya? Biasakah aku menemani anak-anak dan cucuku kelak? Hanya harapan semu yang berada di dalam angan sebelum kepastian.


Beberapa jam kemudian aku pun sampai di lokasi dengan diantar oleh pak sopir, yang biasa bekerja di rumahku. Dan sesampai di sana tidak lama kemudian acara pun dimulai dengan beberapa sambutan oleh pihak sekolah. Bahkan ada juga beberapa pentas seni yang menghibur kami para wali murid yang ikut menghadiri acara tersebut. Bukan hanya itu saja, beberapa puisi dari siswa dan siswi pun telah dibacakan dengan penuh penghayatan. Sampai rintihan air mataku pun membasahi pipi yang terbalut sehelai kain di wajahku saat kudengar puisi tentang seorang Ibu.


"Ibu ...

__ADS_1


Wanita yang tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun.


Dan lima jenis air darimu Ibu, tidak akan pernah tergantikan meskipun itu anak-anakmu.


Di mana lima air itu mengalir untukku, yang tak lain anakmu sendiri....


Air ketuban saat ibu mengandungku....


Air darah saat ibu melahirkanku....


Air susu saat ibu menyusuiku....


Air keringat saat ibu merawatku....


Air mata saat ibu mendoakanku....


Jika ku tahu senyummu tak kan lagi ku lihat sepanjang waktu.


Jika tubuhmu tak mampu mendekap untuk memberikan kehangatan.


Tak sanggup ibu ....


Hatiku pilu jika mendengar kematianmu.


Diri ini tersayat jika harus menerima kepedihan untuk merelakanmu.

__ADS_1


Tuhan ... hanya satu pintaku kepada-Mu.


Jagalah ibuku di mana pun berada ....


Karena aku menyayanginya ....


Ibu ... sayap untukku menuju surga-Mu."


Tak hentinya air mataku mengalir saat kudengar dan kurasakan penuh dengan penghayatan. Andai itu terjadi kepadaku, sanggupkah mereka menerimanya? Kematian? Yang entah itu kapan tiba untukku. Namun, seketika aku mneyerka air mataku setelah kulihat lelaki ku berdiri di atas panggung dengan begitu gagahnya. Lalu, kuberikan senyumku untuk menyemangatinya dalam penampilan yang akan dipentaskan. Dan rasanya aku tak sabar untuk melihat penampilannya.


Suara yang seketika membuat seisi gedung terasa hening. Mendengar ayat yang dilantunkan dengan merdu, membuatku terdiam membungkam dengan seribu kata ketika aku mengerti apa yang dimaksud ayat tersebut. Ku dengar dan terlihat dari mana banyaknya kata Ar-Rahman juga Ar-Rohim yang terulang sebanyak 114 kali dalam Al-Quran dan berasal dari satu akar kata yang sama yaitu, Rahim yang artinya cinta dan kasih sayang yang menggambarkan sosok perempuan. Dan aku merasa sangat bangga Ahtar telah menyayangiku dengan melantunkan surat itu.


Bukan hanya itu saja, seusai membaca surat tersebut, suara lantang dari Ahtar yang menyebutkan kedudukan seorang perempuan di mata Islam telah menggemparkan dunia seorang ibu. Suara tepuk tangan yang terdengar dari mereka semua seusai Ahtar membaca surat itu, seketika terhenti saat suara lentang terdengar.


"Femiliti is a super power. Surga berada di bawah telapak kaki Ibu yang berarti perempuan. Kepada siapa kami mengabdi Allah menyebut Ibumu sebanyak tiga kali baru setelah itu ayahmu. Dan surga yang kurindukan berada di bawah telapak kakimu, Ibu. Terima kasih, karena Kau telah mengandung, melahirkan dan merawatku dengan penuh kasih sayangmu. Sekian dari saya, Ahtar Abdullah. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Lalu, Ahtar menuruni anak tangga panggung itu.


Dan tidak lama kemudian suara tepuk tangan kembali terdengar di telingaku. Tepuk tangan kebanggaan dari mereka semua, terutama seorang ibu yang memeng menghayati peran mereka sebagai wanita yang hebat dan tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Dan aku bangga memiliki dua putra yang selalu mengutamakan wanita, terutama kepada seorang wanita yang usianya tidaklah rentan lagi.


"Ahtar menyayangi, Umi." Langkah kakinya menuju ke arahku lalu, serangkaian bunga ia berikan kepadaku.


"Umi juga menyayangi, Ahtar." Aku mengangguk pelan dan seketika kulayangkan pelukan untuknya.


Hatiku merasakan haru membiru ketika kudengar suara tepuk tangan kembali dilakukan oleh mereka saat pelukan di antara aku dan Ahtar berlangsung. Tatapan dari setiap mata telah tertuju kepada kami, tatapan karena rasa bangga terhadap Ahtar yang menyayangiku sebagai satu-satunya ibu dalam hidupnya. Dan air mataku tak mampu kubendung lagi sehingga terus mengalir membasahi pipi ku. Namun, sesekali Ahtar menyerkanya saat tatapan kami bertemu.


Beberapa menit kemudian Ahtar harus kembali ke tempatnya, karena acara harus segera dilanjutkan kembali agar usai tepat waktu. Setelah acara pementasan seni usai, acara dilanjutkan dengan pemanggilan nama-nama siswa-siswi yang sudah dinyatakan lulus untuk mendapatkan medali yang bertuliskan asal sekolah. Dan seruan tepuk tangan kembali terdengar untuk memberikan sambutan keoada setiap siswa-siswi yang menaiki anak tangga.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian acara tersebut telah usai dan berakhir dengan senyum bangga dari setiap siswa-siswi bahkan juga dari setiap para wali murid, termasuk aku sebagai seorang ibu. Dan untuk mengabadikan momen indah ini aku dan Ahtar mencari Foto Booth. Di mana itu jasa pemotretan yang bertuliskan nama sekolah dan berlatar belakang koleksi buku-buku besar bak di perpustakan. Saat aku dan Ahtar tengah mencari jasa foto yang cocok untuk kami, sekilas kami melihat sesuatu yang mengejutkan.


__ADS_2