
ππππ
"Sayang, kenapa kamu di sini?" Tanya Yulian kepadaku.
"A..A..Aku, aku hanya mencari keberadaan kamu sayang. Tadi kan kamu tidak ada dikamar, jadi aku mencari kamu dan tidak tahunya kamu berada di sini." Jawabku dengan rasa gugup.
"Oh iya, ma'afkan aku. Aku habis telfon papa dan mama, karena aku merindukan Juna. Tapi ternyata, Juna nya sudah tidur." Ucap Yulian menjelaskan.
"Oh begitu, tapi Juna baik-baik saja kan?" Tanyaku padanya.
Yulian hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan sambil melukiskan senyum dibibirnya yang tipis.
"Dan sekarang, waktunya kita yang beristirahat." Ucap Yulian yang tiba-tiba mengangkat tubuhku dan menggendongnya.
Kali ini, aku hanya terdiam dan tidak memberontak atas perlakuannya kepadaku. Ku tatap wajahnya dan kedua matanya dengan lekat. Sehingga kudapatkan wajah tampannya yang rupawan.
"Kenapa senyum-senyum seperti itu? Atau kamu batu nyadar ya kalau suamimu ini paling keren, paling ganteng, paling romantis, terus apa lagi ya?" Ucapnya sambil memikirkan sesuatu, seakan dia akan merangkai sejuta kata untuk menyombongkan dirinya.
"Jadi orang itu jangan suka menyombongkan diri, karena itu tidak baik. Lagian, siapa juga yang bilang kalau suamiku itu paling keren, paling baik dan semuanya." Balasku mwnggodanya.
"Ok, tidak akan aku ulangi lagi sayang. Tapi, apa suamimu ini tidak memiliki itu semuanya?" Tanyanya memastikan.
"Emm.... Sepertinya sih.... Bagaimana ya, jawab jujur apa tidak ya!" Jawabku sambil tersenyum.
"Hmm... Jadi bagaimana?" Tanyanya lagi sambil memgubah ekspresi wajahnya menjadi lesu.
"Iya, kamu memang keren, baik, romantis dan semuanya. Tapi, cukup kamu lakukan dengan istrimu saja. Ok!" Jawabku memujinya.
Seketika dia tersenyum dengan jawaban yang sudah aku berikan kepadanya sambil menganggukkan pelan kepalanya. Dan tidak terasa kami telah sampai didalam kamar. Begitupun dengan Yulian, dia meletakkan tubuhku di atas kasur empuk hotel Fairmont Nilw City dengan sangat pelan.
"Tidurlah untuk beristirahat." Ucapnya sambil membelai rambutku yang masih tertutupi oleh jilbabku.
"Kamu tidak tidur sayang?" Tanyaku sambil menahan lengannya.
Seketika Yulian membalik kan tubuhnya ke arahku sambil berkata.
__ADS_1
"Tidurlah terlebih dahulu, aku mau membersihkan tubuhku dan melakukan sholat. Dan kalau tidak capek, aku mau mengerjakan tugas kantor yang terbengkelai selama beberapa hari." Ucapnya sambil memdaratkan kecupan mesra dikeningku.
Yulian kini meninggalkanku didalam kamar sendirian, sedangkan dia menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya. Berhubung aku terlalu lelah, akhirnya aku memutuskan untuk memulai tidurku lebih awal.
πΏπΏπΏπΏ
Cahaya matahari telah menyapaku melalui pancarannya yang menerobos ke sela-sela jendela kamar. Sehingga aku terbangun dan ternyata, lagi-lagi aku mendapatkan kejutan.
"Selamat pagi sayang, bagaimana tidurnya? Pasti nyenyak ya! Ini ada makanan untuk kamu sarapan. Semoga kamu suka. I Love You istriku." Ucapnya dalam lembaran kertas putih.
Aku bahagia dan bersyukur memiliki suami yang begitu pengertian dan perhatian. Tapi, dimana ya kira-kira dia berada sekarang?
"Lebih baik, aku mandi saja dulu. Tidak enak juga kalau tidak mandi lagi." Ucapku sambil beranjak dari tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi.
Ya.. Awalnya sih aku sudah mandi sebelum adzan subuh di kumandangkan. Terus aku dan Yulian emm... Kami melakukan hubungan spesial kami yaitu, melakukan selayaknya suami istri dilakukan. Dan kami melakukan hubungan itu sampai kami merasa lelah, karena kami berusaha saling memuaskan satu sama lain. Setelah kami merasa lelah, barulah kami tertidur kembali.
****
Setelah usai melakukan ritual dikamar mandi, aku menyempurnakan busanaku dan setelah itu aku menyantap sarapan pagiku.
"Kenapa dia belum datang juga? Dimana dia sebenarnya?" Tanyaku dalam batin dengan ke khawatiranku.
"Assalamu'alaikum!" Ucapnya seraya membuka pintu.
"Wa'alaikumsalam." Balasku dengan singkat.
"Sudah sarapan?" Tanyanya kepadaku.
"Alhamdulillah sudah kok sayang. Oh iya, kamu darimana sayang?" Tanyaku kemudian.
"Aku habis bertemu sama mas Joko, Jihan dan suaminya. Jangan khawatir, kami hanya membicarakan tentang kantor." Jawabnya menjelaskan.
Aku pun menganggukkan pelan kepalaku untuk mengiyakan yang dia katakan. Tapi, memang benar bahwa suamiku tidak akan mungkin membohongiku karena, rasa cintanya lah yang membuatku percaya kepadanya.
"Sudah siap untuk jalan-jalan hari ini?" Tanya Yulian kepadaku dengan senyumannya yang selalu melelehkan hatiku.
__ADS_1
"Sudah kok. Kita akan jalan-jalan bersama-sama lagi kan sama mbak Humaira, mas Joko, kak Fadli dan kak Maryam?" Tanyaku memastikan.
"Tentu. Tapi, kita pakai mobil sendiri-sendiri. Karena, takutnya nanti kita akan berpencar atau bagaimana kita tidak tahu." Jawabnya menjelaskan.
Setelah kami selesai bersiap-siap, kami semua pun bertemu ditempat parkiran dan menaiki mobil kami sendiri-sendiri. Pagi ini kami memiliki jiwa yang begitu bersemangat untuk menjelajahi dunia di kota Kairo. Emm...pasti mwnyenangkan!
πΉπΉπΉπΉ
Akhirnya setelah perjalanan yang cukup lama, kita pun sampai ditempat tujuan kami yaitu, Piramida dan sphinx di Gaza.
Piramida dan sphinx di Gaza adalah tempat wisata tujuan utama ketika seseorang datang ke kota Kairo, termasuk kami. Karena, dunia memang mengenal Kairo dan Mesir dengan Piramida dan sphinx-nya.
Dan di area ini terdapat 3 Piramida utama, sekaligus ada juga Piramida-Piramida kecil di sekitarnya.
Kami melakukan benyak hal di sana dan salah satunya adalah berfoto. Ya.. Untuk mengabadikan momen kita selama di kota Kairo. Berhubung di area itu disediakan sebuah delman, jadi aku mengambil foto bersama mbak Humaira dan kak Maryam dengan menaiki delman tersebut. Sedangkan suami-suami kita masih setia dengan profesinya, yaitu menjadi fotografer kami. Hohoho...!
"Kalian begitu akrab ya!" Ucap mbak Humaira.
Aku dan kak Maryam hanya terdiam dan saling memandang satu sama lain, karena kita tidak mengerti apa yang dimakasud oleh perkataan mbak Humaira.
"Pasti menyenangkan ya punya saudara perempuan yang sama-sama memakai cadar." Ucap mbak Humaira lagi.
"Alhamdulillah, itu lebih dari menyenangkan." Balas kak Maryam dengan senyuman.
"Bolehkah aku dekat dengan kalian bak saudara kandung?" Tanyanya kemudian.
"Tentu. Bukankah kita sesama umat Allah harus bersikap selayaknya saudara. Jadi, kamu boleh menganggap kami saudara kandungmu." Jawab kak Maryam.
"Iya mbak Humaira. Mbak Humaira bisa menganggapku sebagai adik kandung mbak." Sambungku menimpali.
Setelah mendengar jawaban kami, mbak Humaira begitu bahagia. Dan aku tahu itu karena, wajah mbak Humaira melukiskannya. Sehingga kami pun saling berpelukan untuk mempererat persaudaraan kami.
"Emm... Bolehkah aku jika menanyakan tentang bagaimana bercadar itu?" Tanya mbak Humaira setelah melepas pelukan kami.
"Tentu boleh mbak, dan insyaallah kami akan menjawab sebisa kami." Jawabku.
__ADS_1
"Betul itu." Sambung kak Maryam dengan senyum dibalik cadarnya.
Dan lagi-lagi kami mengekspresikan kebahagiaan kami dengan berpelukan. Alhamdulillah dengan liburan kami bersama-sama ini bisa mempererat tali persaudaraan kami.