HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Aisyah Galery


__ADS_3

"Kring!"


Nada dering ponselku telah berbunyi, menandakan bahwa ada panggilan masuk ke nomorku, tetapi aku tidak tahu pasti siapa yang tengah menelfonku. Sehingga aku pun segera mengambil ponselku yang berada di atas nakas. Dan setelah aku membuka slide ponselku, baru lah aku menyadari bahwa ada notes dalam ponselku, di mana hari itu aku harus bertemu dengan seseorang di butik.


"Astaghfirullah hal azim, kenapa aku bisa lupa sih!" gumamku dalam hati.


Telfon yang tadinya berdering sampai beberapa kali, ternyata tak ku dengar. Dan ketika aku mencoba untuk mengangkatnya, telfon dari butik pun mati. Sehingga aku mencoba menelfon kembali dari pihak butik untuk menanyakan sesuatu hal kepada staf di sana. Di mana ada tiga orang staf yang kerja di butik Aisyah Galery, mereka pun bekerja dengan sangat baik. Sehingga aku mampu memberikan kepercayaan penuh kepada mereka semua.


"Assalamu'alaikum," ucap salam Safira.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," balasku.


"Begini Bu Aisyah, saya hanya ingin memberitahukan kepada Ibu, bahwa Nyonya Emeli sudah tiba di Aisyah Galery dan sekarang sedang menunggu kedatangan Anda." Ujar Safira yang menjelaskan dengan nada sopan.


"Oh iya Safira, tolong kamu bilang saja sama beliau kalau saya akan segera datang,"


"Baik, Bu Aisyah. Assalamu'alaikum!"


Kami pun mengakhiri perbincangan kami yang hanya melalui telefon genggam. Setelah itu, aku segera mempersiapkan apa yang harus aku bawa ke Aisyah Galery, seperti tas, beberapa contoh desain gaun, dan lain sebagainya. Dan setelah aku usai mempersiapkan semuanya, aku pun melangkah untuk mencari suamiku tercinta dan berpamitan dengannya.


Sebuah ruang kerja yang tertata rapi, bersih dan nyaman. Di sana lah aku menemukan Yulian yang sedang merajuk dengan laptopnya. Entah pekerjaan apa yang membuatnya seserius itu. Akan tetapi, aku masih berlanjut ingin berpamitan dengan Yulian, sehingga aku tetap menghampirinya meskipun ia sedang dalam kesibukannya. Dan seperti biasa, aku selalu menjadi utama baginya. Di mana tak ada kata marah jika aku selalu mengganggunya.


"Mas,"


"Iya, sayang. Ada apa?"

__ADS_1


Yulian seketika menghentikan aktivitasnya yang sedari tadi merajuk dengan laptop di depan meja kerjanya. Lalu ia menatapku dalam, seraya melukiskan senyum yang manis, yang membuatku selalu terpana sedari dulu. Jatuh hati pada pandangan pertama ketika masih di bangku SMU. Begitu manis untuk dikenang, bahkan ingin rasanya aku mengulang di masa dulu.


"Begini ... aku harus pergi sebentar ke Galery, karena ada pertemuan dengan customer. Jadi, aku mau minta ijin sama Mas Yulian. Boleh, kan?"


"Boleh dong, sayang! Apa perlu diantar?"


"Emm ... aku rasa tidak deh, Mas. Soalnya aku berniat mau mengajak Cahaya ke Galery untuk memilih beberapa pakaian muslim sekaligus hijabnya. Lagipula, Mas sedang sibuk loh! Jadi, aku tidak mau mengganggu perkerjaan Mas Yulian." Jelas ku sembari menggenggam tangan Yulian.


"Ok. Kalau begitu ... kamu hati-hati di jalan! Jangan sampai menabrak orang dan jatuh hati kepadanya!"


Seketika aku terkekeh dengan apa yang dilontarkan oleh Yulian. Selalu asal-asalan kalau berbicara, yang membuatku kesal tetapi juga tertawa. Mungkin terlihat aneh, tapi Dia selalu menjadi yang paling mengerti aku, memanjakan dan selalu menjadikanku sebagai ratunya.


Setelah aku cukup geli dengan tingkah Yulian, aku pun berpamitan kepadanya. Dan tak lupa juga aku mencium punggung tangannya, begitupun dengan Yulian yang selalu mengecup keningku sebelum kami berpisah, meskipun beberapa jam saja.


"Ya sudah, Mas, aku berangkat dulu! Tapi, aku mau samperin Cahaya terlebih dahulu."


"Aku tahu Cahaya, kamu adalah wanita yang tepat untuk Arjuna. Dan aku yakin, Arjuna akan selalu membahagiakan kamu sampai nanti." Gumamku dalam hati yang memandangi mereka dari balik jendela.


Tak ingin rasanya aku mengganggu kebersamaan mereka yang masih di masa pengantin baru. Sehingga aku memutuskan untuk pergi sendiri ke Aisyah Galery, di mana butik yang cukup terkenal di kota Medan. Aku selalu bersyukur karena, aku sudah berada di titik tertinggi dalam dunia fashion. Akan tetapi, di balik kesuksesanku ada luka yang terpendam, yang tidak mudah terhapus begitu saja dalam sekejap mata.


"Umi! Umi mau kemana?" tanya Arjuna menyapa.


"Umi mau ke Aisyah Galery, Juna. Karena ada customer Umi yang sudah menunggu Umi sedari tadi. Umi pergi dulu, ya! Assalamu'alaikum,"


"Apa perlu Arjuna antar, Mi?"

__ADS_1


"Tidak, sayang. Umi bisa berangkat sendiri kok, kamu temani saja Cahaya!"


"Baiklah, Umi. Umi hati-hati di jalan!"


"Iya. Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam," jawab Arjuna dan Cahaya bersamaan.


Aku pun masuk ke dalam mobil BMW hitam, kendaraan yang selalu menemaniku kemanapun aku pergi. Dan kini aku menyalakan mesin mobil lalu, tidak lama kemudian aku pun melajukannya dengan kecepatan sedang. Siang itu perjalanan kota Medan tidak cukup ramai seperti biasanya. Entahlah, ada apa dengan hari itu di kota Medan. Akan tetapi, dengan perjalanan yang cukup sepi membuatku semakin cepat sampai di Aisyah Galery.


"Alhamdulillah, akhirnya aku sampai juga!"


Aku pun sampai di halaman depan Aisyah Galery, lalu aku memarkirkan mobilku di tempat parkir yang sudah aku sediakan. Cukup besar dan lebar untuk area parkir kendaraan customer yang sedang berkunjung di Aisyah Galery. Begitupun dengan gedung Aisyah Galery yang terlihat cukup besar ketika di luar ruangan.


"Assalamu'alaikum,"


Tak lupa aku mengucap salam ketika kubuka pintu depan Aisyah Galery untuk menyapa beberapa staf yang sedang bekerja di sana. Begitupun mereka yang seketika menjawab salamku dengan nada sopan dan rendah hati. Bahkan mereka juga melakukan semua itu ke setiap pelanggan atau pengunjung di Aisyah Galery seraya melukiskan senyum yang manis untuk berperilaku sopan. Karena aku selalu meminta mereka untuk menjadikan pembeli sebagai raja, yang harus dilayani dengan senang hati.


"Bu Aisyah, Nyonya Emeli sudah menunggu di ruangan Bu Aisyah. Jadi, Bu Aisyah bisa langsung ke ruangan." Tutur Safira seraya menunjuk ke arah ruanganku untuk mendesain dan mengerjakan banyak hal di dalam sana.


"Oh iya, Safira. Terima kasih karena kamu sudah meminta Nyonya Emeli untuk menunggu saya. Kerja bagus untuk kamu!"


"Iya, Bu. Terima kasih!"


Aku pun pergi meninggalkan Safira dan membiarkannya untuk bekerja kembali. Dan sebelum pergi, tak lupa untukku melukiskan senyum dibalik cadarku. Begitupun dengan Safira yang membalasku dengan senyum. Sehingga antara aku dengan Safira bak sahabat yang selalu bersama. Bukan hanya Safira saja aku melakukan hal itu, melainkan dengan staf yang lain aku pun melakukan hal yang sama. Dan keakraban serta kekompakan pun telah terjalin di antara kita semua.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum,"


Sapaku kepada Nyonya Emeli yang tengah duduk bersama dengan seorang gadis cantik, mungkin itu adalah putrinya yang hendak menikah. Terlihat begitu muda, cantik dan anggun. Yang membuatku tak sabar untuk segera memperkenalkan beberapa gaun kepadanya.


__ADS_2